
Lima tahun kemudian.
Siang ini Ayu akan menjalani interview di sebuah perkebunan anggur yang memiliki tempat produksi wine yang mendunia. Pasca bercerai dari Alan, ia memutuskan untuk merantau dan memulai hidup yang baru. Meninggalkan segala sakit serta masalalunya yang buruk. Meski Alan masih kerap menghubunginya dan memintanya rujuk, tapi hari Ayu sudah terlanjur sakit. She loss in Love.
Sejak kehilangan cintanya (Doni), ia merasa enggan berhubungan dengan siapapun. Ia juga tak lagi tertarik dengan pria manapun. Hatinya bagai mati. Karena jika di tanya hal apa yang tidak ingin kamu lakukan jika kembali ke masa lalu adalah 'tidak menikah'.
Apalagi, ia yang pernah bercinta semalam dengan pria kaya semakin membuatnya merasa jika pria itu memanglah orang jahat. Mungkin dia lebih baik sendiri. Menjalani hari dengan sikap dan cara yang apa adanya.
Selama itu pula, Ayu terhitung telah berganti pekerjaan selama enam kali untuk menyambung hidupnya.
Ia pernah menjadi kasir di restoran cepat saji tapi ia tak tahan dengan bos genit yang malah membuatnya di benci teman-temannya. Ia juga pernah bekerja sebagai sales namun ia tak cocok sebab terlalu sering kasihan dengan orang tua yang merayunya yang ujung-ujungnya malah membuatnya nombok. Ia juga pernah berjualan makanan, tapi langsung gulung tikar hanya dalam waktu beberapa bulan saja lantaran sikapnya yang kerap tak tegaan.
Begitulah hidup, orang yang mudah tak enak hati, malah selalu di pertemukan dengan orang yang tidak tahu diri.
Ia juga sempat bertemu Nuris dan menawarkan dirinya untuk kembali bergabung di dunia malam namun ia kontan menolak. Ayu menolak baik-baik tawaran tersebut dan memilih untuk pergi dari kota Y. Nuris paham jika Ayu tentu tak akan mau. Ayu memang orang yang baik sejak dulu.
Ia kini memangkas pendek rambutnya. Membuat tampilannya lebih manis juga cantik. Ia juga memoles wajahnya seolah ingin mengikuti kiat-kiat sukses menjalani interview.
" Psssttt! Psssttt!"
Ayu celingak-celinguk saat desisan mampir ke telinga nya.
" Kiew kieww!" kata orang itu lagi yang membuat Ayu ingin tertawa. Mirip suara yang sedang viral di salah satu platform hiburan saja.
Rupanya suara itu berasal dari arah selatan persis di sebelah tangga. Suara yang berasal dari seorang pria kurus berambut gondrong.
" Anda yang bernama Ayu?" tukas pria itu.
Ayu mengangguk. " Betul Pak!"
" Pak Yan sedang ngurus ternak bos yang baru datang. Mbak Ayu masuk saja, yang lain sudah menunggu!" kata Candra dengan logatnya yang halus mlipis.
Ayu dan Pak Yan tak sengaja bertemu saat mereka berada di jalan yang sama. Waktu itu Pak Yan bingung saat di tanya oleh warga negara asing karena keterbatasan bahasa. Ayu yang melihat kebingungan seorang yang tua itu langsung menolong. Ya meski tak mahir-mahir amat, tapi Ayu lumayan bisa. Dari hal itu, pak Yan sangat berterima kasih kepada Ayu karena sudah membantunya. Dari sanalah pula lah, yang menjadi cikal bakal Pak Yan menawari Ayu pekerjaan di perkebunan. Lagipula, Pak Yan memang sedang membutuhkan tenaga kerja baru.
__ADS_1
" Ayu Pratiwi!" panggil seseorang begitu gilirannya tiba.
Begitu namanya di panggil, ia langsung maju ke meja tepat dimana pria paruh baya sedang duduk. Ruangan itu terlihat berkelas. Siapa yang menyangka jika bangunan yang terkesan tua di muka, malah menyimpan ruangan dengan desain futuristik seperti ini.
" Perkenalkan diri kamu!"
Ayu mungkin tak kesulitan dalam melewati tahap ini. Jangan tanya, ini sudah kali ke tujuh ia melakukan interview. Pria berkumis itu terlihat manggut-manggut kala ia berbicara. Seperti sedang menyimak baik-baik kata demi kata yang terucap.
" Jadi kamu sudah pernah menikah? Janda?" tanya si pewawancara dengan menaikkan sebelah alis.
Ayu yang di tanya seperti itu sedikit kesal lantaran si penanya terkesan menyudutkan.
Kalau dia marah, ia pasti akan gugur. Aduh bagiamana ini? Di sangat butuh pekerjaan ini. Sebab ia butuh makan dan hidup.
" Benar Pak!" sahutnya sedikit kesal.
" Anak?"
Pria itu tahu Ayu sedikit tersinggung. Tapi ia harus memastikan.
" Maaf. Tapi yang kami butuhkan sekarang ini adalah orang yang tidak hanya bekerja di kebun, tapi mau mengurus kediaman bos kami yang sebentar lagi akan pindah kemari. Kalau kamu tidak ada tanggungan anak, artinya kamu bisa fokus!"
" Maksudnya, saya merangkap menjadi ART?" kali ini raut Ayu berubah menjadi ingin tahu.
Pria itu mengangguk. " Pak Yan tidak mengatakan itu kepada kamu?"
Ayu menggeleng. " Tidak Pak!"
" Semua yang bekerja di sini kebanyakan ibu-ibu rumah tangga. Mereka tidak ada yang mau menedobel tugas karena masih harus mengurus keluarga mereka. Sementara kalau anak-anak bujang, mana ada yang mau. Menurut saya, kamu yang masuk kategori ini!"
Ayu terdiam dengan isi kepala yang riuh. Jadi singkat cerita ia akan bekerja menjadi ART?
" Anak saya sudah meninggal."
__ADS_1
Danu langsung terhenyak menatap seraut redup yang tampak tertunduk sedih.
" Maaf. Bukan maksud saya..."
" Tidak masalah pak. Saya siap bekerja menjadi apapun. Saya butuh pekerjaan ini!"
Danu terlihat tersenyum lega. Ia sudah berhari-hari mencari orang yang mau bekerja menjadi ART di perkebunan ini. Sulitnya sikap bos untuk bisa di pahami membuat beberapa orang mundur lebih awal.
" Sepertinya perempuan ini orang jauh. Karena kalau orang sini, pasti tak akan mau. Bapak kan sedikit ribet orangnya!"
" Selamat Ayu, kamu di terima!" kata Danu mengulurkan tangan.
" Langsung aja ini Pak?" sambung Ayu terlolong kaget.
Danu mengangguk. " Jun! Jun!"
Yang di panggil langsung terlihat berlari dengan wajah monyong. " Jeni Pak. Kok Jun sih!" protes Jun.
" Lah nama kamu kan memang Junaedi!"
Jun mendengkus. " Ada apa?"
" Kita sudah dapat yang ngurus tempat tinggal Bapak. Nanti tolong kamu arahin ya. lusa dia mulai bekerja!"
Jun terlihat sumringah. " Hay, aku Jeni. Selamat bergabung ya?"
Ayu sedikit merinding saat melihat pria bertubuh besar seperti Gatotkaca tapi tingkahnya seperti Minion. Membuatnya teringat pada sosok Tania.
" Hey malah bengong. Siapa nama kamu?"
" Oh, aku Ayu!" ucap Ayu geragapan.
" Selamat datang Yu. Semoga kamu betah ya?"
__ADS_1