Loss In Love

Loss In Love
Bab 7. Hari sibuk


__ADS_3

Rabu ini, Ayu membawa barang-barangnya di kost karena jam delapan nanti adalah hari pertamanya masuk bekerja. Danu mengatakan jika pria yang dia sebut 'Bapak' itu akan datang Sabtu besok.


Membuatnya harus segera membereskan rumah yang akan di tempati beliau sebab untuk itulah ia di pekerjakan. Apalagi, Danu yang menjabat sebagai supervisor di sana ingin rumah yang bakal di tempati Bapak, harus selesai di bersihkan sebelum hari H.


Pak Yan yang mengetahui hal itu merasa sangat senang karena Ayu akhirnya mau menerima pekerjaan sulit ini.


Ya, Pak Yan menggolongkan pekerjaan ini sebagai pekerjaan sulit bukan tanpa alasan. Sebab yang bakal di urus nanti adalah orang yang cenderung memiliki tipikal ruwet dan serba tidak benar.


" Bapak tidak suka ruangannya kotor Yu. Beliau suka ada bunga hidup di kamarnya setiap hari. Beliau suka masakan rumahan. Tapi beliau tak suka ada kucing berkeliaran di sekitar tempatnya. Bisa alergi beliau!"


Ayu mencatat baik-baik informasi penting yang di sampaikan Pak Yan guna meminimalisir kesalahan.


" Tapi Pak, kenapa harus tanda tanda tangan kontrak segala ya?" tanya Ayu saat mereka berada di jalan.


" Formalitas. Semua juga begitu. Kita harus bayar denda kalau belum habis kontrak setahun. Jaga-jaga biar kita lebih tanggung jawab saja kalau kerja!"


" Memangnya ada yang gak tanggung jawab?"


" Ada Yu. Habis terima upah, gak pernah kelihatan batang hidungnya. Pekerja disini kan banyak. Makanya Pak Frans sering bolak balik ngecek absensi dan nerapin aturan baru itu!"


Ayu mendadak terhenyak saat mendengar satu nama yang di sebut. Seperti pernah mendengar dan menyeretnya ke masalalu suram. Tapi kalau di pikir lagi...Ah ya sudahlah, toh di dunia ini kan nama sama pun bebas di gunakan.


Ia tiba di gerbang perkebunan terkenal itu tepat waktu. Ternyata ada beberapa orang baru seperti dirinya yang masuk. Kesemuanya kebanyakan wanita paruh baya.


" Baru juga?" tanya seorang ibu-ibu kala Ayu merapatkan posisi.


" Iya Bu!"


" Panas disini. Kok mau kerja di sini?" tanyanya dengan nada heran.


" Butuh kerjaan Bu!"


" Belum menikah?"

__ADS_1


Ayu kembali terdiam. Kenapa dari segala macam pertanyaan ia harus kembali bertemu dengan pertanyaan itu.


" Belum!"


" Wah sayang sekali. Kamu cantik padahal. Kalau dilihat, kamu bukan orang sini asli ya?"


" Kalian semua masuk!"


Pak Yan yang tahu perubahan wajah Ayu yang terlihat tak nyaman langsung berteriak. Membuat beberapa kerumunan buyar.


Mereka kini di kumpulkan dalam satu aula. Diberikan pembekalan sekaligus surat pernyataan kembali sebelum mereka akan mulai bertugas.


" Surat pernyataan lagi?" batin Ayu tak habis pikir.


" Semua ini harus kalian tanda tangani. Jika dalam bulan pertama, kedua dan ketiga kalian tak bekerja sesuai harapan, kalian harus mengembalikan dua kali lipat gaji yang sudah tertera di kontrak dan membayar denda!"


Ayu melihat semua orang langsung menandatangani begitu saja. Apa mereka tak mau membaca dulu? Atau karena mereka terlalu membutuhkan pekerjaan ini sehingga tak mungkin hal seperti itu bakal terjadi?


" Kamu yang belakang, ayo cepat. Setelah ini harus ada sesi lain!" teriak Danu kepada Ayu yang masih diam melamun.


Ternyata, Ayu tak sendirian di rumah itu. Ia bersama seorang perempuan lagi yang kini di bawa ke sebuah rumah besar dengan arsitektur khas pedesaan yang view-nya menghadap langsung ke arah perkebunan anggur yang membentang luas. Nampak sangat menyenangkan.


" Kalian sudah saling kenal?" tanya Danu.


Ayu mengangguk. Perempuan yang usianya lebih tua darinya itu bernama Maria.


" Bagus kalau begitu. Hari ini kalian harus mulai membereskan rumah Bapak. Rumah ini dulunya adalah kantor sementara kalau Bapak kesini. Bapak akan sering berada di sini mulai Sabtu besok sehingga tempat ini akan di jadikan rumah beliau!"


Ayu dan Maria memperhatikan betul-betul apa yang di sampaikan oleh Danu.


" Bapak suka dengan masakan rumahan. Bapak tidak suka dengan keadaan ruangan yang kotor, apalagi kucing. Saya harap kalian bisa mencatat hal ini baik-baik!"


Ayu mencatat hal itu dalam buku sakunya. Dan semua yang dikatakan Danu sama persis dengan yang di katakan oleh Pak Yan.

__ADS_1


Tapi masalahnya, mereka ternyata tidak selalu bersama. Maria rupanya spesialis memasak sementara Ayu di fokuskan untuk bersih-bersih dan bertanggungjawab mengurus pakaian Bapak. Membuat mereka kini harus berpisah dan segera melakukan tugasnya dengan baik.


Ayu bahkan sampai semalaman menata kamar beliau sebab seprei kuning dengan motif daun yang semula terpasang rapih, dinilai kurang memenuhi sarat oleh Danu.


" Kau ganti saja Yu. Jangan sampai bapak baru masuk langsung protes. Ganti yang polos saja!"


Ayu akhirnya membongkar lagi. Kasur itu besar dan berat. Bahkan seumur-umur Ayu yang sudah pernah menikah dengan Alan tak sampai bisa membeli kasur seluas itu.


Sebenarnya seperti apa sih sosok Bapak itu? Mengapa urusan seprei saja harus sedetail ini? Tak berhenti sampai disitu, Ayu juga diminta merombak tatanan sofa ruang tamu yang di bantu oleh beberapa pekerja pria. Danu menata jika semakin efisien penataan ruangan, maka Bapak akan semakin suka.


Jun juga datang membawa beberapa lukisan yang ia pasang di dinding. Kamis paginya mereka sibuk memasang gorden setinggi gapura serta aksesoris tambahan juga mengisi beberapa aquarium ikan. Sungguh, semua ini benar-benar menguras tenaga Ayu.


Hari Jum'at mereka merapihkan isi lemari serta beberapa perabotan pribadi di kamar beliau. Ayu bahkan sampai terheran-heran, apakah yang akan pindah satu rumah? Ia bahkan belum sempat membereskan kamar tinggalnya di belakang karena tiga hari ini waktunya habis untuk beres-beres.


" Maaf Jun, aku mau tanya!"


Tapi yang di tanya langsung melirik sebal sebab sepertinya Ayu memanggilnya dengan panggilan yang salah.


" Jun Jun! Jen!"


Ayu langsung meringis kikuk. " Iya maaf Jen. Apa yang pindah kemari satu keluarga?"


" Keluarga? Keluarga apa? Bapak kan masih single?" jawab Jen sembari membantu Ayu memasang sarung bantal sofa.


" Semacam bujang lapuk?"


Jun langsung shock.


" Heh ngawur aja! Bapak itu masih muda. Sama mas Danu aja masih tuaan mas Danu!"


" Hah?"


" Memang kamu pikir apa? Beliau itu menurut ku masih muda. Orang masih 37 tahun. Cuman orangnya memang agak sulit sih. Sekali tidak ya tidak. Tapi sekali ingin, ya harus dapat. Semoga aja dia cocok sama kamu Yu. Soalnya sekali gak cocok, dia minta mendepak orang itu!"

__ADS_1


Ayu menelan ludah gugup. Jangan sampai ia dikeluarkan. Ia sangat butuh pekerjaan ini. Mungkin karena pernah menjadi istri Alan, ia merasa sangat cocok dengan pekerjaan bersih-bersih ini. Selain sudah terbiasa, ia tak perlu memusingkan tempat tinggal. Di tambah lagi, ia mulai nyaman dengan kebaikan Pak Yan yang sudah ia anggap seperti orang tuanya.


" Udah cepat sana istirahat kamu. Besok pagi Bapak datang pagi. Kita gak boleh terlambat. Kalau terlambat kita pasti..." menunjukkan gerakan memotong leher yang membuat Ayu menelan ludah.


__ADS_2