MAFIA'S BRIDE (Pengantin Mafia)

MAFIA'S BRIDE (Pengantin Mafia)
Bab 21: Sensasi Malam


__ADS_3

Sensasi Malam


“I want you to kiss my lips.”


Ekspresi wajah Orlando seketika berubah mendengar ucapan Meryn. Lelaki itu menatap serius wajah Meryn. Mempertimbangkan apakah Meryn serius dengan permintaan itu, atau hanya ingin mempermainkannya.


Perlahan Orlando menurunkan wajahnya, sambil terus menatap wajah Meryn. Tidak terdeteksi di sana adanya tanda-tanda penolakan. Meryn serius dengan permintaan itu. Tanpa menunggu lama lagi, Orlando pun segera mencium bibir Meryn yang telah bersiap untuk dikecup.


Ciuman sepasang manusia dewasa, terlebih yang dilakukan di atas ranjang, tidak akan berakhir sebatas ciuman. Gelora panas yang membekap tubuh Meryn membuat si wanita kehilangan kendali. Begitu pula Orlando yang tak akan menahan diri lagi untuk mencumbu tubuh Meryn dan merasakan bagian terdalamnya.


Mereka bercinta malam itu. Dengan hati-hati. Sebab, di tangan kiri Meryn masih terdapat selang yang mengalirkan cairan infus untuk tubuh Meryn yang belum sepenuhnya pulih. Orlando cukup berhati-hati melakukannya, tanpa mengurangi sedikit pun gairah dan sensasi nikmat dari penyatuan mereka.


*


“Katakan alasanmu.”


Suara lirih Orlando memecah keheningan malam. Sepuluh menit yang lalu mereka telah mencapai puncak bersama. Dan tiba-tiba suasana menjadi amat hening. Orlando membaringkan tubuhnya menghadap langit ruang dengan keringat yang masih bersimbah. Tubuhnya telanjang, begitu pula wanita yang memejamkan mata di sebelahnya. Lapisan euforia dari hasil persetubuhan mereka masih membalut tubuh masing-masing dengan kesenangan. Orlando mengatur napas, sementara Meryn masih menikmati letupan-letupan kecil di dalam perutnya.


“Alasan apa?” Meryn menyahut dengan matanya yang masih terpejam.


“Alasan kau mau bercinta denganku,” jawab Orlando.


Meryn membuka matanya. Lantas menoleh ke arah Orlando.


“Rasanya seperti kamu bertanya ‘kenapa kamu melakukan cinta satu malam?’ kan?”


Orlando ikut menoleh. Keningnya mengernyit.


“Kamu hanya menganggap ini cinta satu malam?” ketusnya.


“Tidak cuman laki-laki yang punya nafsu, Tuan Orlando. Wanita juga bernafsu kalau ada lelaki ada di atas ranjang yang sama dengannya,” jawab Meryn dengan matanya yang kembali terpejam.


“Jadi, hanya karena kau sedang bernafsu?” tanya Orlando.


“Lantas?”


“Aku melakukannya karena aku mencintaimu.”

__ADS_1


Perkataan Orlando kembali membuat Meryn membelalakkan matanya. Ia menoleh ke arah Orlando yang menghindari tatapannya dengan memandang langit ruang. Meryn tersentak. Ia otomatis mengangkat kepalanya dan bergeser mendekati tubuh Orlando. Menatap wajah tampan pria itu yang mengisyaratkan rasa terluka.


“Kamu mencintaiku?” tanya Meryn sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Orlando.


“Sangat.”


“Bagaimana kamu mendefinisikan cinta?” lanjut Meryn menanyai.


Orlando tak dapat lagi menghindari tatapan Meryn. Mereka bertatapan.


“Saat aku merasa tidak bisa hidup tanpanya.” Orlando menjawab lugas.


Meryn terdiam menatapi sorot mata Orlando yang terasa kelam.


“Kenapa kamu mencintaiku?” sekali lagi Meryn bertanya.


“Tanpamu, aku sudah mati, Meryn.”


“Kamu yakin itu cinta? Bukan rasa terima kasih atau keinginan untuk balas budi?”


Meyrn yang terus saja melontarkan pertanyaan keraguan seperti itu membuat Orlando merasa kesal. Ia mencengkeram kedua bahu Meryn, dan membuat wanita itu kembali terbaring. Posisi mereka berbalik saat ini. Orlando menjulurkan kepalanya tepat di atas wajah Meryn. Mereka bertatapan lekat.


Beberapa menit Meryn terdiam mencerna semua kata yang Orlando ucap.


“Cinta bukan alasan kau memperlakukan aku seperti ini, Orlando Dominic.” Meryn balas berbicara dengan tegas.


“Apa salahnya dengan semua perlakuanku?”


“Kamu menculikku. Mengunciku di tempat ini tanpa satu orang pun—”


“Ada aku,” sela Orlando.


“Kamu tetap menculikku. Kamu membawaku ke sini tanpa persetujuanku. Dan sudah dua kali,” ketus Meryn.


“Aku melakukan ini semua untukmu, Meryn—”


“Bukan untukku, tapi untukmu! Supaya hatimu tenang.”

__ADS_1


Orlando terdiam. Ia melepaskan bahu Meryn. Duduk di atas ranjang itu dengan tatapan kosong ke arah pintu. Ia berpikir keras untuk beberapa saat.


“Kamu bisa mati di tangan Javer,” gumamnya pelan beberapa waktu kemudian.


Meryn ikut duduk bersama Orlando.


“Kamu tidak akan membiarkanku mati kan?” desus lirih Meryn. Ia memeluk tubuh Orlando yang masih dibalut keringat. Menyandarkan kepalanya di dada bidang lelaki itu. Menggodanya untuk mengelabuhinya sesuatu. “Aku setuju untuk menikah denganmu,” ucap Meryn.


Tersentak, pandangan Orlando langsung jatuh ke puncak kepala Meryn yang sedang memeluk dadanya. Ia melihat wanita itu yang sedang mengusapkan wajah di dada Orlando, bahkan menciuminya dengan lembut. Lelaki itu mulai luluh. Ia luluh oleh perlakuan Meryn ini.


“Kamu serius ingin menikah denganku?” tanya pelan Orlando sambil mengatur pernapasannya. Ia merasakan nikmat yang mulai menjalar dari bibir Meryn yang membelai dada hingga ke perutnya.


“Dengan syarat.”


“Katakan syaratnya ... ahh.”


Meryn mengangkat kepala. Mendongak menatap Orlando yang mulai terbuai oleh godaannya.


“Aku ingin bulan madu mengelilingi Eropa. Lalu berhenti di Milan, dan menjalankan bisnis mafia bersamamu.” Meryn memosisikan tubuhnya untuk duduk di atas paha Orlando. Memeluk kepala lelaki itu dan menempelkannya di dada hingga lehernya. Lantas Meryn berbisik, “Aku ingin menjadi mafia sepertimu, Tuan Orlando Dominic yang perkasa.”


Tarikan napas panjang Orlando menyalurkan gairahnya yang kembali terpancing. Tepat di depan wajahnya ia melihat tubuh telanjang Meryn yang sedang menggodanya dengan lihai. Dan dua gundukan yang merupakan benda kesayangannya, yang mulai meremang karena gairah. Orlando yang kembali terpancing tidak bisa menghindar dari rasa inginnya untuk mengecup dan menghisap benda kenyal itu. Ia pun kembali memanjakan mulutnya dengan sensasi tubuh Meryn. Menghisapi benda itu sambil meremas punggung Meryn.


“Ahh.”


“Aku akan turuti semua maumu. Asalkan kamu mau menikah denganku tanpa keterpaksaan,” desah Orlando di sela-sela menyesap bagian kesayangannya.


“Kamu janji?” balas Meryn sambil tersenyum miring.


“Aku janji.”


“Kapan? Kapan kita akan menikah dan bercinta di atas kapal pesiar mengarungi lautan Eropa?” lanjut Meryn bertanya sambil mendesah.


“Kamu harus sembuh dulu ... ergh. Tubuhmu perlu sembuh dulu. Lalu ... hmgh ... aku akan melatihmu bertahan hidup, berhadapan dengan mafia lain, dan menggunakan senjata,” jawab Orlando dengan erangannya yang makin keras.


“Hahh, aku ingin belajar menggunakan senjata.” Meryn membalas dengan erangan yang sama.


“Jangan khawatir, aku akan mengajarimu. Ergh!”

__ADS_1


Senyuman miring Meryn semakin lebar. Toh dirinya sudah tidak bisa mengelak lagi dari pernikahan itu. Pertama-tama, ia sudah berjanji kepada Orlando untuk menikah dengannya jika lelaki itu mengizinkannya ikut ke Milan. Dan yang kedua adalah yang paling penting, yaitu Orlando sudah mengincarnya sejak lama. Barang siapa yang sudah menjadi incaran mafia dalam waktu lama, ia tidak akan bisa menghindar. Ke mana pun Meryn pergi, ia akan selalu kembali kepada Orlando, di pulau ini. Tidak ada alasannya lagi untuk mengelak dari pernikahan itu. Maka yang bisa Meryn lakukan adalah menggunakan pernikahan itu sebaik mungkin, sampai ia menemukan apa yang ia cari: kebenaran tentang kematian ayahnya beserta semua keganjilan yang ada, dan mengambil kembali semua harta yang ayahnya punya, yang kini sudah jatuh di tangan keluarga Patrizia. Untuk melakukan semua itu, Meryn harus kembali ke Milan. Apa pun risikonya!


*


__ADS_2