
Kesepakatan Pernikahan
“Ayahku tergila-gila dengan seorang wanita hingga melakukan apa pun yang wanita itu inginkan, bahkan membangun pulau pribadi untuknya. Dan wanita itu berkhianat pada akhirnya, yang membuat ayahku marah besar hingga buta oleh segala hal.”
Rupanya hal itu yang ingin Orlando ceritakan sampai membawa Meryn ke tanjung ini. Wajahnya tampak sendu, kedua matanya terasa sayu. Tapi ada sesuatu yang terasa aneh.
“Kenapa kamu ceritakan ini padaku?” tanya Meryn penasaran.
“Tidak ada alasan khusus. Aku hanya ingin kamu tau saja.”
Meryn masih merasa belum puas mendengar jawaban itu. Pasti ada alasan Orlando menceritakan kisah tentang ayahnya. Untuk saat ini, Meryn akan tetap mengikuti alurnya. Ia akan pura-pura tidak peduli.
“Bagaimana ayahmu meninggal?” Meryn lanjut bertanya.
“Ledakan pesawat.”
“Siapa ... yang melakukannya?”
“Ayah angkatmu.”
Wanita itu seketika terdiam. Kalau benar ayahnya dan ayah Orlando dibunuh oleh John Patrizia, berarti mereka memiliki musuh yang sama, dendam yang sama.
“Aku dengar ayahku juga dibunuh oleh ayah angkatku.” Meryn kemudian menolehkan kepala. “Berarti kita memiliki musuh yang sama?”
“Tidak lagi. Aku sudah membunuh ayah angkatmu,” kata Orlando.
Meryn tersenyum miring. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Orlando. Membelai wajah itu sambil berbicara, “Tapi semua harta peninggalan Patrizia masih ada. Kita bisa rebut semuanya sampai tak tersisa.
Orlando ikut tersenyum miring. “Jadi itu yang kamu rencanakan ketika kembali ke Milan? Merebut semua warisan ayah angkatmu?”
“Toh itu semua adalah milikku. Aku anak tunggal John Patrizia, sudah seharusnya aku mendapatkan semuanya. Dan kalau benar ayahku Luca dibunuh John Patrizia, kemungkinan besar harta milik ayah kandungku dirampas keluarga Patrizia. Semua kekayaan orang itu seharusnya menjadi milikku. Ya kan?” jelas Meryn.
Kedua mata Orlando memicing. “Sifatmu sangat mirip dengan Luca. Sama-sama serakah dan tidak bisa dihentikan.”
“Aku ingin menikah denganmu, Orlando Dominic. Aku juga ingin menjadi seorang mafia sepertimu.” Meryn berkata penuh tekad. Ia menatap tajam kedua mata Orlando.
“Apa tujuanmu?” desus Orlando.
__ADS_1
“Aku ingin menggunakan kekuatanmu untuk merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku ingin merebut semua warisan Patrizia ... dengan kekuatanmu.” Meryn menjawab terus terang.
Orlando tersenyum puas. Inilah yang ia inginkan. Pengakuan Meryn. Dengan begitu mereka akan menikah untuk tujuan masing-masing. Orlando untuk obsesi dan rasa cintanya kepada Meryn. Dan meryn menikah untuk mendapatkan kekuatan besar dari organisasi mafia yang Orlando pimpin. Mereka sama-sama untung.
“Aku tidak masalah apa pun alasanmu ingin menikah denganku. Asalkan aku bisa menikah denganmu, apa pun bisa kulakukan.”
Sambil memicingkan mata Meryn menatap Orlando keheranan.
“Kau sungguh budak cinta,” desus Meryn pelan.
“Aku sudah memiliki semuanya, kecuali satu hal. Cinta, yang bahkan tidak pernah aku dapat dari wanita yang sudah melahirkanku.”
“Aku bisa memberikanmu cinta seperti yang kamu inginkan. Dan kamu bisa memberiku kekuasaan, seperti yang aku inginkan. Bagaimana?” Meryn menawarkan.
*
Gemercik air hangat dari keran mengisi bak mandi hingga lebih dari separuh. Kelopak mawar yang merebak di dalamnya mengambang, berbaur dengan busa berwarna putih. Tubuh Meryn tenggelam di dalam air bercampur susu, kelopak mawar, dan sabun zaitun. Lantas ia mematikan keran setelah ia merasa air dalam bak mandinya sudah cukup.
Esok adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Hari pernikahannya dengan Orlando Dominic. Ia tak bisa menebak akan seperti apa pernikahan seorang mafia. Akankah sama seperti pernikahan yang beberapa bulan lalu sempat Meryn laksanakan di Katredal Milano? Ataukah pernikahan mafia akan terasa lebih gelap dan sadis seperti yang ia lihat di dalam film? Ia tidak yakin akan seperti apa pernikahannya esok. Dan ia juga tidak yakin apakah hatinya sedang gembira, sedih, atau takut.
Suara Orlando menyahut di belakang punggung Meryn. Lelaki itu mengecup pundak Meryn lalu menggosoknya dengan kelopak bunga mawar.
“Aku tidak yakin,” jawab Meryn sambil membasahi tubuh bagian atasnya dengan air susu. “Kamu tau, ada banyak perasaan yang tidak bisa dideskripsikan. Sekarang aku pun begitu. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan.”
Terdengar suara Orlando terkekeh di belakang kepala Meryn. Membuat Meryn seketika menoleh ke tubuh Orlando yang juga telanjang sepertinya.
“Aku suka kejujuranmu,” ucap Orlando.
“Kamu tidak berharap aku akan bahagia dengan pernikahan ini kan?” tanya Meryn.
Dengan begitu ringan Orlando menggelengkan kepala.
“Aku hanya ingin memilikimu secara utuh lewat pernikahan ini. Tentu, aku berharap kamu akan bahagia. Kalau pun kamu tidak bahagia, yang penting kamu tetap jadi milikku. Bagiku itu sudah cukup.”
Meryn mengembalikan pandangnya ke delan saat mendengar Orlando menjelaskan begitu. Ada satu hal tentang dirinya yang tidak lelaki itu tahu. Yaitu, Meryn adalah tipe wanita yang mudah jatuh cinta pada seseorang. Semudah itulah dulu ia jatuh cinta pada Henry hingga memutuskan menikah dengan lelaki itu tanpa tahu rencana busuk apa yang sebenarnya Henry miliki.
Meryn mengingat kembali momen saat ia jatuh cinta pada Henry. Ia merasa sangat bodoh dan konyol saat ini.
__ADS_1
“Aku khawatir suatu saat aku akan jatuh cinta padamu.” Meryn bergumam pelan. Terkadang ia kesulitan menyimpan sesuatu di kepalanya, dan lebih senang meluapkannya seperti ini.
Terasa kedua tangan Orlando yang mendekap tubuh Meryn dari belakang. Telapak tangan lelaki itu meremas dada dan perut Meryn. Membuat Meryn langsung mengeliat sebelum menjatuhkan tubuhnya ke belakang, bersandar pada tubuh Orlando yang basah oleh air susu.
“Aku menunggu itu terjadi, Sayang.” Orlando berbisik sensual di telinga Meryn.
Kedua mata Meryn terpejam.
“Aku takut mencintai lagi. Aku nyaris dihancurkan oleh lelaki yang sangat aku cintai. Aku khawatir itu akan terjadi lagi padaku.” Meryn bercerita lirih sambil menikmati rangsangan Orlando di dalam air. Tangan lelaki itu merayap sampai bagian bawah tubuh Meryn. Membuat kaki Meryn bergerak-gerak tak karuan.
“Di antara kita berdua, yang memiliki potensi lebih besar untuk menghancurkan adalah kamu, Meryn. Tau kan alasannya?” desus Orlando.
Meryn spontan membuka matanya. Ia menarik tangan Orlando keluar dari air. Lalu berbalik mengharap tubuh lelaki itu.
“Kenapa aku ingin menghancurkanmu?” cetus Meryn. Matanya memicing waspada.
“Aku hanya berbicara soal kemungkinan.”
“Kenapa aku berpotensi menghancurkanmu?”
“Seseorang yang mudah dihancurkan adalah ia yang memiliki rasa cinta melebihi yang lain.” Orlando menjawab. “Di antara kita berdua, siapa yang memiliki rasa cinta melebihi yang lain?” lanjutnya.
Itu memang masuk akal. Tapi prediksi Orlando belum tentu akan terjadi. Meryn bahkan tidak yakin secepat apa ia akan jatuh cinta pada lelaki itu, di saat sekarang saja hatinya mulai bergetar. Sejak hari penculikan Javer itu, Meryn telah menumbuhkan rasa yang tidak wajar kepada Orlando. Melihat betapa lelaki itu menyayanginya hingga rela menyerahkan bisnis kasinonya hanya untuk memastikan Meryn selamat, membuat hati Meryn mulai melunak.
Kalau saja Meryn masih melihat Orlando dengan cara yang sama seperti saat ia pertama kali datang ke kastel\, tidak mungkin Meryn akan begitu menikmati setiap sesi bercintanya dengan lelaki itu. Bagi seorang wanita\, merasakan org*sme tidak semudah lelaki. Meryn tidak akan bisa merasakan org*sme kalau ia tidak nyaman dengan Orlando. Sementara kenyamanan itu sendiri adalah deteksi awal rasa cinta yang akan muncul dalam hatinya.
Meryn menatap Orlando cukup lama sambil memikirkan semua itu. Lalu ia mendekati wajah lelaki itu, berbisik di telinganya.
“Aku ingin merasakan guncanganmu lagi.
Orlando memandangi wajah Meryn yang sedang menginginkan sesuatu darinya. Lelaki itu tersenyum sambil membelai bibir Meryn dengan ibu jarinya.
“Baiklah. Tapi setelah itu kita harus membahas kontrak,” ucap Orlando.
“Kontrak?”
*
__ADS_1