MAFIA'S BRIDE (Pengantin Mafia)

MAFIA'S BRIDE (Pengantin Mafia)
Bab 22: Tubuh Anti Peluru


__ADS_3

Tubuh Anti Peluru


Dengan wajah bersungut-sungut (dan terkesan negatif) Paulo berjalan menuju halaman belakang kastel membawa sebuah koper berwarna hitam. Di halaman itu sudah ada Meryn, yang baru dua hari lalu lepas dari infus, sedang melakukan pemanasan di atas rerumputan halaman yang hijau.


Dukk.


Hentakan koper terdengar ketika lelaki empat puluh tahun itu meletakkannya ke atas meja kayu yang telah disiapkan di halaman belakang. Ia membaringkan koper itu di atas meja, lalu menatap tajam ke arah Meryn yang tak begitu memedulikannya.


“Apa yang sudah Anda lakukan pada Bos Besar?” tanya Paulo tajam.


“Aku? Aku nggak melakukan apa-apa.” Meryn menjawab tak acuh sambil menghentikan kegiatan pemanasannya. Ia berjalan mendekati meja. Membuka koper hitam itu yang terisi dua perangkat pistol dari Milan. “Aku hanya melakukan tugasku sebagai pengantinnya. Ada yang salah?” lanjut Meryn sambil menaikkan matanya menatap Paulo.


Paulo terdiam. Meryn pun mengembalikan pandangnya pada salah satu pistol berwarna hitam yang ia ambil dari koper. Mengamatinya dengan detil.


“Apa yang Anda rencanakan dengan bulan madu mengelilingi laut Eropa, lalu berlabuh di Milan dan menjalankan bisnis dengan Bos Besar?” Paulo memperingatkan.


“Itu yang dia inginkan, Paulo. Dia terobsesi padaku dan berkata mencintaiku setengah mati. Aku mengizinkan dia menikahiku, dan aku ingin bulan madu. Apa ada sesuatu yang salah? Kalau pun kalian tidak menghancurkan pernikahanku hari itu, aku pasti sudah merasakan indahnya bulan madu di atas kapal pesiar.” Meryn menegaskan.


“Lantas, bagaimana dengan bisnis itu? Anda ingin ‘membantu’ Bos Besar menjalankan bisnisnya?” lanjut Paulo bertanya.


“Buat apa aku membantu kalian kalau tanpa aku pun bisnis kalian sudah berjalan lancar?” tukas Meryn.


Paulo memicingkan kedua matanya.


“Apa mau Anda?” sinisnya.


Meryn tersenyum tipis. Ia berjalan mendekat ke arah Paulo.


“Uang. Sebagai pengantin mafia, bukannya aku juga punya bagian?” lirih Meryn di dekat wajah Paulo.


“Bukan uang yang Anda inginkan mendatangi Milan, Nyonya.” Paulo, yang seolah tahu apa isi pikiran Meryn, berkata dengan tegas.


“Lalu apa yang aku ingin kalau bukan uang?”


“Kebebasan.”


Meryn terdiam. Sial. Bagaimana lelaki itu bisa tahu apa yang ia pikirkan? Orlando bisa Meyrn kelabuhi dengan seluruh tubuh dan juga kata-kata manisnya. Tapi, bagaimana dengan Paulo yang sepertinya sudah mati rasa itu? Lelaki itu tidak akan tergoda dengan dirinya atau bahkan wanita mana pun. Jadi bagaimana Meryn bisa mengelabuhi Paulo? Lelaki itu bisa jadi akan menggagalkan rencananya!


Sambil mencibirkan bibir, Meryn menurunkan pandangan. Ia memain-mainkan pistol itu dengan jari telunjuknya sambil mendesus lirih.


“Kebebasan ...? Memangnya aku masih punya kemungkinan buat bebas dari kalian? Sampai ke ujung dunia pun Orlando pasti akan mengejarku. Jadi aku mau bertanya, apa aku masih punya kesempatan buat merasakan kebebasan?” gumam Meryn, lalu perlahan pandangannya menaik.


“Anda tidak tulus mencintai Bos Besar.” Paulo menanggapi setelah beberapa saat.


Spontan Meryn tersenyum pahit. “Cinta? Bagaimana aku bisa mencintai orang yang sudah menculikku dan membuatku menyaksikan peristiwa mengerikan di hari pernikahanku? Kalian pikir aku bisa memaafkan kalian?” sinis Meryn.

__ADS_1


Paulo tampak tersentak mendengar pernyataan Meryn. Lelaki itu melihat kemarahan yang masih bersarang dalam diri Meryn. Dan merasa tidak bisa membiarkan itu semua terjadi.


“Tinggalkan Bos Besar sekarang juga, saya akan bantu Anda kabur dari pulau ini dengan mempertaruhkan nyawa saya.”


Meryn mencerna rasa takut sekaligus kahwatir yang terpancar di wajah Paulo. Baginya sangat aneh. Lelaki yang selalu datar, bahkan tidak bernafsu itu, tampak ketakutan sampai-sampai menawari Meryn untuk kabur dari Orlando. Apa yang sebenarnya terjadi?


Saat Meryn masih bertanya-tanya dalam benak, Paulo kembali melanjutkan, “Kalau Anda ingin kembali ke Milan untuk menghancurkan Bos Besar dan bisnisnya hanya untuk mendapatkan kebebasan, saya bisa bantu Anda kabur sekarang juga,”  dengan tergesa-gesa dan semakin mencurigakan.


Kening Meryn mengernyit. “Kenapa kamu berpikir aku ingin menghancurkan Orlando?” tanya sinis Meryn.


Memang benar ia tidak mencintai Orlando, tapi bukan berarti juga ia ingin menghancurkan lelaki yang telah membuatnya tahu siapa jati dirinya yang sebenarnya. Kebencian yang Meryn tunjukkan di depan mata Paulo tak benar-benar nyata. Meryn tidak membenci Orlando, tapi juga tidak mencintainya seperti lelaki itu terobsesi padanya. Tapi, melihat sikap Paulo ini Meryn merasa ada yang benar-benar aneh.


“Anda bilang, Anda tidak akan memaafkan kami,” jawab Paulo.


Pandangan Meyrn seketika melengos. Ia menatap jauh ke depan, ke arah papan tembak yang berdiri beberapa puluh meter darinya.


“Aku tidak berniat kabur dari Orlando. Aku ingin kembali ke Milan untuk alasan lain, tidak seperti yang kamu bayangkan.” Meryn berkata tegas.


“Untuk alasan apa?”


“Seorang consigliere tidak perlu tahu urusan privat bosnya, kan?” tegas Meryn.


Meryn sibuk mempersiapkan diri untuk latihan menembaknya hari ini. Di waktu itulah Paulo pergi meninggalkan halaman belakang. Ia menjumpai Orlando yang baru saja turun dari lantai dua dan hendak pergi ke halaman belakang.


“Pistolnya sudah datang?” tanya Orlando sambil merapikan lengan bajunya.


“Kenapa?” tanya spontan Orlando.


“Kita tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran seorang wanita.”


“Itulah yang menarik dari wanita, Paulo. Misterius, dan penuh teka-teki.” Orlando bergumam.


“Bisa jadi dia memiliki niat buruk kepada Anda, Bos,” nasihat Paulo.


Orlando tersenyum. Seorang yang sedang dimabuk cinta tak akan mendengarkan nasihat-nasihat yang demikian.


“Jangan khawatir. Pikiran buruk dan pikiran baik datang silih berganti di otak wanita, Paulo. Sama ketika cemburu wanita seolah-olah bisa membunuh pasangannya, tapi sebenarnya tidak. Terkadang wanita memang mengekspresikan cintanya dengan cara yang unik.” Orlando yang masih buta oleh tipu daya Meryn, berkata penuh percaya diri. Ia menepuk pundak Paulo dan bergumam, “Jangan khawatir. Aku bisa tangani Meryn dengan baik.”


“Tapi, Bos. Belum ada tanda-tanda Nyonya Meryn mencintai Anda,” sergah Paulo.


“Aku akan membuatnya segera jatuh cinta. Kamu tidak usah khawatir.”


Setelah meyakinkan Paulo, Orlando meneruskan perjalanannya menuju halaman belakang. Terlihat Meryn yang memakai dress berwarna merah, yang sedang sibuk dengan pistolnya.


“Bukan begitu caranya pegang pistol.” Orlando yang baru tiba itu langsung menceletuk melihat cara Meryn memegang pistol. Menyadari keberadaan Orlando, Meryn langsung memutar tubuhnya dan menodongkan pistol tepat di depan wajah Orlando. Lengkap dengan tatapan tajam Meryn ke arah Orlando.

__ADS_1


Dengan santai Orlando memegang tangan Meryn dan menurunkannya.


“Pelurunya belum kamu isi,” ucap Orlando.


Meryn terkejut dan langsung melepaskan pistol yang digenggamnya ke tangan Orlando. Wajar saja. Ini adalah pertama kali ia memegang pistol.


“Di mana pelurunya?” tanya Meryn.


Orlando meletakkan pistol itu ke atas meja. Lalu membalik koper dan memperlihatkan peralatan yang harus Meryn pakai untuk berlatih menembak. Salah satunya adalah kacamata anti peluru, yang pertama diambil dari koper oleh Orlando dan memakaikannya ke wajah Meryn. Dan yang kedua adalah peredam suara. Orlando mengambil itu, memakaikannya di telinga Meryn sambil bergumam.


“Telingamu akan sakit waktu pertama latihan menembak. Jadi kamu perlu pakai ini.”


Selesai memasangkan alat itu di telinga Meryn, Orlando mengambil wadah peluru dan mengisi salah kedua pistol di atas meja itu dengan pelurunya. Setelah pistol itu terisi peluru, Orlando mengulurkannya pada Meryn.


Seperti sebelumnya, Meryn menodongkan senjata yang telah terisi peluru itu di depan wajah Orlando. Orlando sekali lagi menghela napas ringan.


“Bukan begitu cara pegang pistol,” kata Orlando. Ia menggenggam tangan Meryn dan memutarnya ke arah papan tembak. Orlando berdiri tepat di belakang tubuh Meryn, memegangi kedua tangannya sambil membenarkan posisi genggaman Meryn.


“Lemaskan bahumu,” bisik Orlando yang merasa kedua bahu Meryn terlalu kaku.


“Ehm.” Meryn pun melemaskan bahunya.


“Jangan tegang,” lanjut Orlando berbisik. “Tarik pelatuknya. Lepaskan!”


DOR.


Peluru pertama pun melayang dan menembus papan tembak yang jaraknya sekitar dua puluh meter di depan Meryn. Orlando melepaskan cengkeramannya pada kedua tangan Meryn, dan berdiri di sampingnya.


“Kenapa aku harus latihan menembak?” tanya Meryn beberapa detik kemudian. Ia mendongakkan wajahnya menatap Orlando yang tampak serius mengajarinya menembak.


“Untuk melindungi diri saat kamu sedang terancam.”


“Bagaimana kalau dirimu yang mengancam?” lanjut Meryn mencetus.


Orlando menurunkan wajahnya tepat di depan wajah Meryn.


“Tembak saja aku kalau kamu mau.” Orlando berkata, seperti meremehkan. “Aku bukan seseorang yang akan mati hanya dengan satu tembakan, Sayang. Apalagi oleh penembak amatiran sepertimu.”


Meryn terdiam. Sial. Lelaki itu benar juga!


Lalu Meryn teringat sesuatu.


“Jadi, luka-luka bekas tembak di tubuhmu itu semuanya asli?” tanya Meryn. Beberapa kali ia melihat lelaki itu telanjang. Dan yang selalu menarik memicu rasa penasaran di otaknya adalah beberapa bekas luka tembakan yang tersebar di seluruh tubuh Orlando.


“Kamu pikir itu palsu? Seperti di film-film laga?” cetus Orlando dengan angkuh. Ia tampak bangga dengan semua bekas tembakan di tubuhnya. “Percaya atau tidak, tubuhku ini anti peluru. Jadi percuma saja kamu ingin membunuhku dengan cara menembakmu yang amatiran itu. Aku sudah kebal.” Orlando lanjut memamerkan kekebalan tubuhnya.

__ADS_1


“Tcih, dasar sombong. Aku juga punya satu! Di perut!”


*


__ADS_2