Mahakarya Syefani

Mahakarya Syefani
Terpicu Emosi


__ADS_3

“Ayo buruan ke kantin!”


“Sok-sokan ngerjain lagi, santai aja kali. Lagian kita masuk IPA juga bukan keinginan sendiri kan, bisa-bisanya satu geng masuk IPA semua padahal wajah aja ga ada mirip-miripnya anak sains, apalagi ga kelihatan muka-muka ambis! ****!” gumam Evander kesal dengan keputusan pihak sekolah.


“Van, lo juga bego sih. Udah tau pas bel istirahat tadi gue ajak ke kantin lo nolak, sekarang kurang lima menit kita masuk, eh lo ngajak ke kantin. Capek gue lama-lama.” protes Veehan dengan menyandarkan diri di dinding kelasnya.


“Setiap hari mesti kayak gini tuh bocah,” cicit Gebra seraya menepuk jidatnya.


“Udah, ini takdir kita berenam untuk menjadi anak IPA. Lebih tepatnya, IPA jalur rehabilitasi, bukan jalur prestasi.” gerutu Evander dengan cekikikan tanpa rasa bersalah.


Evander bersama Gazero’s team menuju kantin yang tampaknya kini sudah sepi. Tanpa ragu, mereka berenam memesan makanan dan minuman sekadar untuk mengistirahatkan pikiran yang amburadul karena terus-terusan disuruh menghitung.


“Mak Tutttt... nasi pecel 6 piring ya sama es jeruk lima, es teh satu.” seru Zero dengan suara melengkingnya.


“Ok, Mas Zero. Ditunggu ya,” sahut Mak Tuti.


“Gue masih penasaran, kenapa kita bisa masuk IPA ya? Padahal jelas-jelas kita isi formulir jurusan IPS, dan tes nya juga materi IPS kok.”


“Lah, bukannya random ya? Setahu gue, soal-soal tes itu random, IPA sama IPS. Jadi, otak kita diadu, lebih sopan ke mana, IPA atau IPS. Eh ternyata, otak kita semua lebih sopan ke IPA.”


Dhien mulai memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak penting untuk dipikirkan. Ia salah satu anggota Gazero yang lebih paham akan sesuatu disekitarnya dibanding anggota lainnya.


“Tau ah gue mah, males mikir! Takdir kali, kita masuk IPA. Bokap gue aja sampai sekarang masih ragu kalo anaknya masuk IPA. Dua abang gue aja dulunya masuk IPS semua, hebat bener deh gue!” curhat Zero dengan bergaya membenarkan kerah bajunya.


“Udah jangan kebanyakan bacot kalo hidup, udah untung lo semua satu kelas sama gue,” ucap Evander terkekeh pelan.


Baru saja menyambut makanan yang dibawa Mak Tuti, bel masuk sudah bergaung keras di telinga. Evander dan teman-temannya tidak peduli, mereka menganggap bel masuk itu bagaikan debu yang terseret angin.


“Mas Evander, itu bel masuk loh. Nanti diomelin lagi sama Pak Heru,” kata Mak Tuti yang panik sendiri.


“Pak Heru ada rapat mak, jadi beliau libur katanya.”


Dhien berdesah pelan, “Ya ampun, nih bocah berulah lagi.”


Tetap saja tidak dihiraukan perkataan Mak Tuti. Mereka asik makan bersama sembari bermain game kesukaan masing-masing. Belum sempat menghabiskan makanan, ada suara teriakan melengking yang tak asing didengar.


“Hei, kalian semua! Cepat masuk, ngapain masih di kantin?” Pak Heru sudah siap dengan senjatanya yaitu sapu seraya melingkarkan kedua tangannya di pinggang.


Bola mata mereka tertuju pada sosok pria paruh baya, dengan kacamata besar, membawa sapu, agak gemuk, dan tatapan yang sangat tajam.


Mereka berdiri dan beranjak menuju panggilan Pak Heru, tak lupa Evander meninggalkan uang selembaran seratus ribu rupiah di meja kantin milik Mak Tuti.


“Ayo, cepat masuk!”


“Mangga, Pak.” sapa Evander seraya membungkukkan badannya ketika melewati Pak Heru.


“Pagi, Pak.” sapa Dhien tersenyum paksa.


“Siang, Pak.” sapa Alju terkekeh kecil.


“Sore, Pak.” sapa Veehan


“Malam, Pak.” sapa Gebra seraya menyugar rambutnya yang super tebal itu. Emang dasar, biadab anak-anak itu!


Pak Heru melebarkan bola matanya, “Hei, kalian mau ke mana itu?”


Alju membalikkan badannya dan menatap Pak Heru, “Katanya suruh masuk kelas, ya kita mau masuk lah.”


Pak Heru melangkahkan kaki menuju arah Evander dan teman-temannya. “Kelas kalian loh mana? Ini kelas IPA, ngapain ke sini?”


Veehan memberanikan diri untuk mendekati Pak Heru dan memposisikan dirinya tepat di samping guru itu. “Mohon maaf, Pak. Kami berenam ini anak IPA, lebih tepatnya 10 IPA 7. Jadi, arah kami pulang, eh maksudnya arah kami masuk ya ke kelas IPA.” Veehan melembutkan suaranya.

__ADS_1


“Jadi, kalian anak IPA? Tampangnya kayak anak IPS saya kira tadi,” jawab Pak Heru dengan raut wajah yang semakin tidak percaya.


“Wah, bapak jangan asal bicara seperti itu. Kami memang murni anak IPA, kalo tidak percaya, saya kasih pertanyaan deh. Pak Heru guru kimia, kan? Dan besok jadwalnya ngajar di kelas 10 IPA 7 juga, kan?” tanya Evander seraya menaikkan alis kirinya.


“Tumben, nih anak baru bener omongannya. Syukur deh kalo ada kemajuan sedikit,” ucap Dhien dalam hati seraya mengelus dadanya pelan.


“Benar juga ya kamu, ya sudah bapak percaya walaupun masih setengah-setengah. Kita akan bertemu besok, hati-hati! Sudah sana masuk!” perintah Pak Heru mendesak agar murid-muridnya itu segera memasuki ruang kelas.


***


“Baik, semuanya saja. Hari ini kita latihan di hari pertama setelah bel pulang berbunyi. Sebelum latihan, kita lakukan pemanasan yang akan dipimpin Ghazan.” Pak Tirta mengkondisikan suasana untuk membuat anak didiknya semangat walaupun seharian sudah lelah lantaran aktivitas belajar mengajar.


Ghazan memimpin pemanasan di lapangan basket. Syefani tampak ikut latihan bersama teman-temannya. Kurang lebih 15 menit pemanasan, Pak Tirta meminta anak didiknya untuk menyebar sesuai cabang olahraga yang diikuti.


“Syefani, kamu masuk ganda campuran ya. Kamu berpasangan sama Lion, kamu siap?” tanya Pak Tirta menatap datar Syefani.


“Baik, Pak. Saya siap,”


Lion dan Syefani memulai latihan badminton bersama lawan mainnya yaitu Edric dan Jessie yang merupakan alumni atlet badminton SMA Laskar Titanium.


Di babak pertama mereka bermain,dengan skor 21-15, sementara pada babak kedua skor terakhir mereka adalah 21-16. Pasangan Edric dan Jessie yang telah mengawali kemenangan itu.


Lion sebenarnya tau apa alasan ketidakseimbangan ini. Ia menoleh ke arah Syefani, melihat reaksi wajahnya memang tidak nyaman. Tapi, gadis itu tidak mengatakan apapun dan tetap diam termenung menatap instruksi seniornya.


“Gue harus bicarakan soal ini ke Pak Tirta. Gue emang kurang dekat sama dia waktu SMP, tapi gue tau kalo dia lebih suka bermain secara individu. Bahkan dulu dia juara terus jadi atlet tunggal putri.” Batin Lion dengan menghela napas panjang.


Waktu latihan sudah berakhir yang menunjukkan pukul 16.30 WIB. Pak Tirta memberikan instruksi pada anak didiknya untuk mengakhiri latihan dan segera pulang. Tampak Jessie dan Edric menghampiri Syefani yang sedang latihan secara otodidak.


“Dik, kamu sama Lion itu punya potensi yang bagus. Kakak lihat kalian punya ciri khas masing-masing dalam beradu badminton.”


“Iya betul. Latihan terus, jangan canggung kalo bertanding. Kalo ada masalah, langsung speak up jangan diam aja. Di sini kalian belajar tanggung jawab dengan apa yang diberikan Pak Tirta, apalagi kalian bertanding membawa nama almamater.” ujar Edric tegas.


Lion melirik ke arah Syefani, lalu menatap ke bawah sembari mendengarkan nasihat dari kakak seniornya.


Setelah dua kakak senior itu beranjak pergi dari lapangan, Lion menantang Syefani untuk beradu badminton tunggal. Gadis itu dengan semangat mengiyakan tantangan Lion.


Lion dan Syefani mulai bermain badminton satu lawan satu. Tampak mereka sangat seimbang dalam bermain, terlebih dengan smash-an Syefani yang begitu cantik dan mendarat dengan sempurna sehingga Lion kewalahan.


“Baru kali ini gue lihat dia ketawa sumringah. Padahal pertandingan awal, dia banyak diam dan kelihatan ga nyaman. Gue semakin bingung sama sifat asli dia, emang ya perempuan sulit dimengerti.” Batin Lion dengan menggelengkan kepalanya.


“Eh, ngapain lo bengong?” tanya Syefani tiba-tiba yang melihat Lion senyum-senyum sendiri dengan memandangi kok yang dipegangnya.


Lion segera sadar dari lamunannya itu dan mulai bermain lagi dengan taktik yang sempurna. Pukulannya membuat fokus Syefani terhalang, tapi gadis itu sungguh cerdik dalam menerima umpanan lawan.


Tepat kok itu hampir mendarat di lantai lapangan, Syefani dengan sigap mengambil alih. Sekujur tubuhnya terangkat ke atas demi menerima umpanan kok itu, lalu ia smash dengan hentakan keras. Namun, kali ini arah kok itu tidak mengarah ke lawan, melainkan salah sasaran mengenai seseorang yang tengah berjalan ke arah parkiran.


Puk!


Pantulannya begitu keras mendarat sempurna di bagian kepala laki-laki berkacamata hitam, memakai jaket jeans, dan dasi yang terikat di dahinya. Sialan!


Bola mata Syefani melebar, terjengkit ketika arah pukulannya salah sasaran. Ia refleks membungkam mulutnya, lalu berjalan ke arah korban sasarannya itu.


“Gue minta maaf ya, ga sengaja. Lo gapapa, kan?” tanya gadis itu cemas.


Laki-laki itu membungkukkan badan untuk mengambil kok yang tergeletak di samping sepatunya. Ia mendongak ke arah gadis yang kini berdiri di hadapannya. Gadis cantik, putih, berseragam olahraga, bersepatu biru putih, dan genggaman raket di tangan kirinya.


“Oh jadi lo yang nimpuk kok ini ke gue?”


“Iya,” jawabnya singkat.


“Kenapa ga minta maaf?” tanya lagi laki-laki itu dengan tatapan sinis.

__ADS_1


“Lo budek apa sengaja ngebuat persepsi kalo gue salah, hah?”


“Nama gue Evander, enak aja panggil lo, lo, lo,” ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Syefani merotasikan bola matanya malas. “Sick! Gue ga tanya nama lo, intinya gue udah minta maaf. Sini, kok nya kembaliin.” Gadis itu merebut kok yang digenggam Evander, lalu menepis kasar tangan si cowok.


Evander mengernyitkan dahi seraya menaikkan alis kirinya setelah melihat sikap aneh gadis yang satu sekolah dengannya. Itu cewek keturunan mana sih? Mirip jelmaan, begitu curahan hati seorang makhluk gengsi tingkat meganthropus.


Bunyi ponsel nyaring bergetar di saku celana cowok itu. Baru saja ia ingin membalas perbuatan gadis songong itu, tiba-tiba saja ada yang meneleponnya.


“Halo, Mah. Ada apa?”


“Evan di mana? Ayo pulang, keburu sore. Papah bentar lagi juga pulang loh,”


“Iya, ini Evan mau pulang. Lima belas menit lagi sampai, tenang aja. Dah, Mah.”


Segera, Evander menyalakan mesin motornya. Sebelum beranjak pergi, ia menyempatkan melengos ke arah gadis yang tengah asik bermain badminton. Lirikan mata yang begitu tajam, kalo tidak disuruh cepat-cepat pulang, Evander sudah melayangkan tangannya untuk membalas kelakuan gadis itu. Awas aja, tunggu gue.


Fyi, geng persekutuannya yang lain sudah pulang sejak awal bel pulang sekolah. Sedangkan, Evander sendiri harus menghadap Bu Widji, selaku ketua pengelola BP/BK. Ia harus menandatangani surat pelanggaran tata tertib, karena sudah tiga kali telat masuk saat jam pelajaran, untuk makhluk persekutuan yang lain baru dua kali melanggar, so masih aman.


“Apes bener hari ini gue, mana anak-anak tengu pada balik duluan.” cicitnya beradu kesal saat menaiki motor vespa milik papahnya.


***


Evander memasuki perumahan tempat tinggalnya. Ia memakirkan motor kesayangan papahnya di garasi khusus kumpulan motor vespa lainnya. Berjalan dari garasi menuju lantai rumahnya, mengetuk bel, dan berdiri di ambang pintu utama.


“Mah, Evan pulang.” panggilnya dengan auman kencang.


“Hei, ngapain teriak-teriak gitu? Bukannya salam, malah teriak ga jelas!” Panggilan cowok itu disahut oleh Ragnar, Papah Evander.


Ragnar muncul dari arah kamarnya, diikuti Raline—Mamah Evander yang turut mengikuti langkah suaminya.


“Papah, udah pulang ternyata. Tumben, biasanya-”


Ragnar memotong perkataan putranya. “Biasanya pulang malam. Itu kan yang kamu maksud?” Evander hanya tersenyum malu seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak terasa gatal.


Ragnar menyuruh Evander untuk ke luar rumah, lalu kembali dengan mengucapkan salam yang harus dibiasakan. “Cepat!”


Cowok itu mengedikkan bahunya malas, tangannya mengulurkan tas di atas sofa. Tubuh kekar Evander berbalik arah ke luar rumah. Menutup pintu pelan.


Dari luar pintu, ia kembali menyapakan salam. “Assalamu’alaikum. Mah, Pah, Evan pulang.” tegasnya.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Ragnar dan Raline kompak.


Evander mencium punggung tangan orang tuanya, lalu mengambil tas yang tergeletak di sofa. Ga di sekolah, di rumah, gue sial mulu heran deh.


Ragnar Goldziher, seorang Direktur Utama PT. Alam Goldmehr yang berkontribusi di bidang pertambangan dan perminyakan. Pria berusia 39 tahun itu terkenal karena sosok yang religius, ramah, dan sangat tegas. Tidak heran, jika Evander putra semata wayangnya dididik untuk disiplin sejak kecil. Tapi, nyatanya Evander terkadang masih terkena bantaian amarah Ragnar akibat tindakannya yang ceroboh.


“Setelah mandi dan bersih-bersih, kita sholat maghrib berjamaah. Dengar kamu, Evan?!”


“Iya dengar, Pah.” Cowok itu melangkah menuju kerajaan favoritnya dengan lemah lesu. Tangan kirinya kini menyeret tas mungil nan ringan itu di atas ubin.


Mulai merebahkan tubuhnya di pulau kapuk usai menaruh sepatu di rak dan menggeletakkan tas di samping tong sampah begitu saja.


Matanya terpejam sunyi. Lo budek apa sengaja ngebuat persepsi kalo gue salah, hah?


Tiba-tiba, cowok itu mengedipkan mata setelah mengingat perkataan gadis yang ditemuinya di lapangan sepulang sekolah. ****! Gue baru tau, ada cewek kayak gitu di sekolah.


“Evan sayang, mandinya udah belum?”


Waduh! Mampus lo!

__ADS_1


***


__ADS_2