
“Veehan, besok kita jalan yuk! Terserah deh mau ke mana, yang penting kita jalan. Kan aku pacar kamu, boleh ya? Please.” ajak Monica, salah satu dari sekian pacar Veehan.
“Gue ada urusan, ga bisa. Kapan-kapan aja, ya?”
“Urusan apa? Sok sibuk banget,” sindirnya dengan nada halus.
“Gaya lo bilang urusan-urusan. Iya, urusan tebar pesona ke cewek lain, nambah target.” bisik Zero tepat di telinga Veehan yang sedang memikirkan alasan menolak sang pacar.
“Diam lo, bacot!” bentak Veehan yang membuat sekelilingnya merasa terkejut.
Monica yang merasa Veehan telah membentaknya, ia memanyunkan bibir merah seraya menundukkan kepala.
“Kalo lo ga mau, bilang aja. Jangan bentak gue kayak gini,”
Cewek itu berlari kencang ke arah kelasnya. Meninggalkan Veehan yang masih kaku dengan segala alasannya.
Melihat sang pacar menangis, Veehan berusaha mengejar tapi dihentikan oleh Zero.
“Monic, tungguin gue. Ayo deh, kita jalan. Gue tadi ga bentak lo, tapi bentak si Zero. Monic!” teriak Veehan yang suaranya mungkin tidak terdengar lagi oleh Monica.
“Udah ayo balik, ngapain dikejar? Besok juga balik lagi ama lo, ribet!”
“Veehannnnn....” teriak seorang cewek dari ujung koridor sekolah.
Refleks Veehan menoleh ke belakang merasa namanya terpanggil. Ia memicingkan matanya, berusaha melihat siapa wajah cewek yang berdiri di ujung koridor.
“Siapa lagi itu wahai bintang playboy?” tanya Zero semakin geram dengan ulah sahabatnya.
Veehan bergeming, tak menyapa balik cewek itu. Roseanne, cewek posesif yang baru satu minggu jadian sama Veehan itu berlari menghampiri sang pacar.
“Rose? Ada apa sayang?”
“Gue mau ngomong berdua aja, tanpa orang ketiga!” Rose menyindir seseorang yang tengah berdiri di samping Veehan. Lirikan matanya tertuju pada Zero.
“Ga usah nyindir nyai blorong, gue juga mau pergi. Bosan gue lihat drama rumah tangga kayak lo pada, bye!” Zero beranjak pergi ke kantin meninggalkan dua manusia bucin yang ga ada arahnya.
***
"Alju, ke mana? Dia ga kelihatan dari tadi, di kantin juga ga ada.” tanya Zero pada Evander yang sedang bermain game favoritnya.
“Dia ke pilih ikut FLCO, lomba olahraga itu lo masa kagak tau. Kebangetan!”
“Lomba olahraga apa?”
“Badminton. Masa kesukaan olahraga temen sendiri lupa, emang dasar lo pelupa!” ejek Evander dengan mulut ceplas-ceplos tanpa menatap Zero sama sekali dan fokus pada game-nya.
Zero meminta sedikit kopi Evander yang tersedia di meja kantin Mak Tuti. “Gue minta kopi,”
Evander tidak merespon, ia hanya fokus pada layar ponselnya. Secangkir kopi yang ia pesan sama sekali belum diseruput. Ahhh.. enak banget.
“Gue cabut dulu, mau lihat Alju latihan.” Perkataan Zero bahkan tidak digubris oleh leader satu ini. Lama-lama gue copot tuh mata!
Kurang lebih 30 menit setelah puas bermain game, Evander meregangkan kedua tangannya. Menderakkan leher berulang-ulang yang terasa pegal-pegal.
“Minum kopi dulu ah,”
Baru saja mengangkat secangkir kopi, ia sadar jika itu cangkir kopi itu tidak ada isinya melainkan telah lenyap seketika. Ck!
“Anjing! Ini pasti ulah anak curut, ga tau diri banget.” ucapnya kesal seraya membuang air liur yang terasa pahit setelah menelan ampas kopi.
“Hai, mau gue temenin ga?” sapa Salma dari arah kantin yang sama. Ia langsung memposisikan duduk di samping Evander.
Evander masih kesal dengan ulah Zero yang telah menghabiskan kopinya. Cangkir kopi itu dibawa Salma, lalu ia memesannya kembali untuk cowok itu.
“Makasih, Mak Tuti.” Salma memberikan uang untuk membayar kopi. Ia membawa secangkir kopi dan mengulurkannya pada Evander.
“Kenapa lo yang pesan? Gue juga ada uang kali,”
“Udah jangan banyak ngomong, minum aja nih.” suruh Salma bersikeras.
__ADS_1
Evander menyeruput secangkir kopi panas dengan aroma caramel—rasa manis seperti permen kapas. Ahhh.
***
Pulang sekolah, geng Gazero berkumpul di samping gerbang sekolah. Mereka berdiskusi soal kegiatan sosial yang akan dilaksanakan hari itu juga. Hanya saja, Alju tidak bisa ikut karena harus ekstra latihan dalam rangka FLCO, cabang olahraga terbesar tingkat provinsi.
“Vee, uang nya udah terkumpul berapa? Cukup ga kalo kita adakan kegiatan itu sekarang?” tanya Dhien.
Veehan membuka resleting tasnya, lalu mengeluarkan buku kas geng Gazero. Ia fokus pada tabungan kas terakhir yang sudah terkumpul sebesar Rp3.050.000,00. Mereka telah melakukan tabungan kegiatan sosial sejak kelas 9 jenjang SMP. Jadi, dapat diperkirakan mereka sudah 1 tahun mengumpulkan uang itu, terhitung setiap harinya Gazero Boy’s menyisihkan Rp50.000,00 untuk dimasukkan ke tabungan kegiatan sosial.
“Udah lebih dari cukup, kita beli sembako yang paling utama. Kebutuhan lain kita pikirin lagi nanti, sekarang kita berangkat.” ajak Dhien pada teman-temannya.
Geng Gazero menyalakan mesin motor masing-masing, mereka beranjak dari pintu gerbang samping menuju target. Gebra berhenti di trotoar, ia mengusulkan untuk target pertama adalah anak-anak jalanan yang sedang mengamen di sudut-sudut lalu lintas.
“Gimana, mau ga? Ini kasus pertama yang kita lihat, loh.” tanya Gebra mengajukan persetujuan.
“Gue setuju,” cicit Zero dan Veehan bersamaan.
“Ngikut deh, setuju juga.” ungkap Dhien.
“Eh anak mamah, lo setuju ga?” tanya lagi Gebra pada Evander yang enggan membuka helm-nya.
“Ngapain sih kok anak-anak jalanan? Apa ga warga sekitar aja?”
Gebra sampai menggelengkan kepala berkali-kali mendengar respon Evander. “Lo, ga ingat perjanjian dulu? Kegiatan sosial itu ga mandang muda, tua, kakek, nenek, apapun itu. Selagi mereka benar-benar butuh dan mereka juga mau usaha, ya jelas kita bantu.” Gebra agak mengeraskan suaranya di tengah keramaian lalu lintas.
Evander terpaksa mengiyakan. “Ya udah deh, ayo!”
Mereka berlima memakirkan motor di warung pinggir jalan. Setelahnya, mereka menyebrang jalan dan menghampiri anak-anak jalanan yang sedang beristirahat di bawah pohon besar. Terlihat anak-anak itu sedang menghitung uang yang didapatkan selama jadi pengamen cilik.
“Hai, semua. Boleh kakak duduk di sini?” sapa Dhien pada salah satu anak laki-laki, badannya agak kurusan, bajunya compang-camping, dan wajahnya sangat lesu bahkan tercoreng beberapa asap kendaraan.
“Boleh, kak.”
“Nama kamu siapa?” tanya Zero.
“Azam kak,”
Ada sepuluh anak jalanan termasuk Azam. Waktu menunjukkan pukul 17.00 WIB, Azam berpamitan untuk melanjutkan aktivitasnya lagi.
“Udah sore, apa kalian ngga pulang aja? Besok kan masih bisa dilanjutin,” ucap Dhien.
“Iya bener tuh, Zam. Nanti kalo Twinkle marah gimana?” sahut salah satu teman Azam yang bernama Raihan.
“Twinkle? Siapa itu? Apa dia yang udah nyuruh kalian jadi pengamen?”
Azam dan teman-temannya saling berpandangan. “LARI! AWAS ADA PENJAHAT!”
“Kalian mau ke mana? Kami bukan penjahat, kami justru mau bantuin kalian. Hei!” teriak Zero sampai meneguk saliva berkali-kali.
Anak-anak itu berlarian ketakutan ketika Dhien menanyakan soal Twinkle. Padahal, ia ingin mengajak bicara baik-baik mengapa mereka bisa menjadi pengamen di usia belia seperti ini, sedangkan seusia mereka harusnya sedang mengenyam pendidikan.
“Anak jalanan ga tau diri emang, ditanya baik-baik malah kabur. Ngira kita penjahat lagi, stres tuh bocah!” ejek Evander yang sedari tadi tidak ikut nimbrung dan hanya duduk di atas motornya.
“LO KALO GA SUKA, MENDING DIEM! JANGAN NGOMEL MULU! MEREKA RESPECT TAKUT, KARENA BARU PERTAMA KALI KETEMU, BEGO!” omel Dhien pada Evander yang suka menilai orang dari luarnya saja.
“Tau ah, males gue di sini. Gue cabut duluan aja, bye!” Cowok itu berjalan menyebrang jalan dan menuju ke warung penitipan motornya. Ekspresi nya sangat kesal dan tidak nyaman ketika berada di sekeliling anak-anak jalanan.
“Evander, tunggu dulu. Hei! Kapan solidnya kalo lo kayak gini terus?” teriak Gebra dari seberang jalan.
Evander menyalakan mesin motornya, kecepatan spidometer terlihat 80 km/jam.
Dhien hanya bisa pasrah melihat tingkah ketuanya yang masih belum berubah. “Kapan lo berubahnya sih, Evander?”
“Sabar, bro. Ya udah, kita balik aja. Besok kita ke sini lagi, bicara baik-baik sama mereka.”
Dhien, Veehan, Zero, dan Gebra menyebrangi lalu lintas yang masih ramai. Mereka mengambil motor masing-masing dan bergegas pulang.
***
__ADS_1
Assalamu’alaikum, Mah, Pah. Evan pulang nih,”
“Wa’alaikumsalam, Den. Bapak sama Ibu masih di rumah sakit, soalnya ibu dari tadi siang merasa mual-mual. Jadi, bapak antar ibu ke ruma sakit sekitar jam setengah 4.” jawab Bibi Minah, pembantu di rumah Evander yang sudah bekerja kurang lebih 15 tahun lamanya.
“Kok mamah sama papah ga bilang? Ya udah, makasih bi. Evan ke kamar dulu ya,”
“Baik, Den. Kalo mau makan, sudah siap semua.”
Hampir menjelang maghrib, orang tua Evander belum ada tanda-tanda pulang. Pesan singkat cowok itu pun tidak dibalas sang papah.
“Apa mereka lupa jalan pulang, ya? Haha, ya kali lupa.” ucapnya terkekeh kecil.
“Den Evan makan dulu aja, mungkin sebentar lagi bapak sama ibu pulang.”
Evander paling tidak suka menunggu lama-lama, ia pikir akan bermain game saja di kamarnya. Belum sampai lima langkah menuju kamarnya, tiba-tiba ada telepon rumah berbunyi sangat nyaring.
Telepon rumah itu bergetar sangat keras di sudut pojok ruang tamu. Entah kemasukan makhluk astral apa yang membuat cowok itu mengangkat telepon rumah. Padahal seumur-umur, ia paling benci mengangkat telepon rumah karena baginya itu mengganggu aktivitas.
“Halo, dengan siapa ya?”
“Kami dari ELBERTH BAKERY, ingin konfirmasi jika pesanan roti atas nama Ibu Raline Indadari besok sudah siap. Mau diantar atau diambil sendiri ya?”
“Maaf sebelumnya, mamah saya masih keluar. Nanti saja kalo beliau sudah pulang akan dikabari lebih lanjut.”
“Baiklah, terima kasih.”
Evander mengakhiri percakapan dengan penjual roti. Langkah kaki yang hampir saja memasuki kamarnya, tiba-tiba saja ada suara mesin mobil yang baru saja datang. Mobil putih terparkir sempurna di garasi rumah Evander.
“Assalamu’alaikum, Evander.”
“Wa’alaikumsalam. Mamah kenapa? Mamah baik-baik aja, kan? Kata bibi, mamah mual-mual ya, kata Dokter gimana kondisinya?” tanya Evander tanpa titik koma sehingga membuat Raline semakin gemas akan kekhawatiran yang ditunjukkan putranya itu.
“Kamu ini gimana sih, baru datang ya disuruh duduk dulu, ambil napas pelan-pelan. Eh ini udah ditanyain aneh-aneh lagi, bahkan beruntun pertanyaannya.” ucap Ragnar sembari membawa resep dari rumah sakit.
Evander pun menitah mamahnya pelan-pelan untuk duduk di sofa. “Mamah ga apa-apa kok, bahkan sehat-sehat aja. Mamah kecapekan aja dan harus istirahat sementara.”
Ragnar dan Raline saling bertatapan dengan rasa bahagia. Seperti ada sesuatu yang ingin mereka ungkapkan kepada anak pertamanya itu. Ragnar pun memberi kode pada sang istri dengan menganggukkan kepalanya.
“Kenapa sih tatapannya gitu banget? Ada apa? Anak sendiri masa ga dikasih tau?” sahut Evander dengan menunjukkan ekspresi buncah dan tersuntuk.
“Ada kabar menghebohkan hari ini, mau tau ga? Masih bocil eh ga boleh tau.” ejek Ragnar.
“Apa? Mah, apa? Nanya sama papah bakalan dijulidin terus, ayo mah cerita.”
“Oke-oke. Evander sayang, sebentar lagi saudara kita pulang ke sini, Nak. Kamu ga akan kesepian lagi, intinya kamu akan betah di rumah terus.”
Evander semakin tercengang. “Lah, saudara yang mana? Saudara kita kan rata-rata ada di Kalimantan, mereka mau ke sini? Terus ini hasil cek rontgen siapa?”
“Terus ini hasil cek rontgen siapa? Penyakit mamah kambuh?”
“Kalo ngomong disaring dulu, kebiasaan ocehan kamu main ceplas-ceplos aja.”
Cowok itu semakin tertekan, seperti melakukan cerdas cermat bahasa isyarat. Menunjukkan ekspresi pasrah, Raline merasa kasihan dengan anak itu yang tidak bisa mengerti maksud ucapannya.
“Begini Evander, anak Papah yang paling ganteng. Mamah kamu kedatangan tamu dari jauh ujung sana.” tunjuk Ragnar seraya mendongak ke atas menatap langit-langit atap rumahnya.
“Ada apaan di atas? Pah, jangan bikin Evan tambah pusing. Di sekolah ngitung, di rumah masa harus mikir lagi? Ayolah, Pah, Mah.”
Evander beranjak untuk berdiri, ia benar-benar lelah mendengar bahasa-bahasa aneh yang ditujukan untuknya. Wajah melasnya sudah terlihat layaknya orang yang tidak makan dua hari. Capek.
“Ya ampun, ni anak belum paham-paham juga ternyata? Gimana nasih pelajaran di sekolahnya kalo dia kayak gini, Mah?”
“Evander, sini duduk lagi.” suruh Raline yang menarik tangan putranya untuk duduk kembali di sofa. Cowok itu dengan segala kepasrahannya hanya bisa menatap lesu wajah sang mamah dan papah.
“Maksud perkataan mamah tadi,” matanya terlukis haru sekaligus bahagia, “Mamah sedang hamil, sayangku.”
Seketika wajah Evander menunjukkan ekspresi wajah yang terbentuk oleh tertariknya otot-otot di sudut mulut. Bola matanya melebar, mulut mengkerut dengan rahang ternganga.
“Beneran, Mah? Artinya, Evan mau punya dede bayi?”
__ADS_1
***