Mahakarya Syefani

Mahakarya Syefani
Perkara Tulisan


__ADS_3

“Nenek, ayah belum pulang?” tanya Syefani berjalan dari arah kamarnya menuju ruang makan.


“Ayahmu udah pulang, tapi dia pergi ke minimarket beli peralatan apa gitu, Nenek lupa.”


Nurisyah, nenek Syefani dari ayahnya ini yang telah merawat gadis itu sejak kecil.


“Oh gitu, nenek masak apa nih? Syefa bantu ya?” tawarnya dengan melirik nenek yang bolak-balik ke arah dapur untuk menyajikan makan malam.


“Ga usah, kamu duduk aja. Lagian ini udah selesai kok, buruan makan.” Syefani tersenyum manis, ia memundurkan kursi makannya lalu menempatkan posisi terbaik di kursi itu.


Aroma bumbu masakan tercium menusuk hidung saat Syefani melirik masakan yang kini dihadapannya. Pasalnya, ia membayangkan seperti tumisan bawang putih, bawang merah, cabai yang menyatu sempurna sehingga membuat perut gadis itu semakin keroncongan.


“Kakek, mana? Kok ga kelihatan dari tadi?” Wajahnya celingak-celinguk ke arah seisi rumah, ia tak mendapati kakeknya.


Tiba-tiba saja seorang pria paruh baya umur 60 tahun datang berada di ambang pintu belakang rumah. “Hayo, siapa yang cariin kakek barusan?”


“Kakek? Dari mana aja? Kok arahnya dari kebun sih?” tanya cucunya itu dengan tatapan terkejut.


“Biasalah kakekmu berkebun tidak kenal waktu, udah Nenek bilangin kalo habis maghrib jangan ke kebun tapi kakekmu super ngeyel.” Nenek telah siap di meja makan.


“Assalamu’alaikum,” sapa seorang pria dengan membawa dua kantong plastik berlogo minimarket di ambang pintu utama. Ia menuju arah ruang makan, meletakkan kantong plastik itu di atas ubin keramik, kemudian beliau ikut makan malam bersama keluarganya.


Ryu Dante, kerap disapa Pak Dante—ayah kandung dari Syefani. Memiliki pribadi yang ramah dan dermawan. Profesi sehari-harinya adalah seorang arsitektur handal di beberapa perusahaan. Kepribadiannya yang rajin, ulet, dan konsisten membuat klien-nya semakin menghargai karya-karyanya.


“Wa’alaikumsalam..” jawab kompak Syefani, kakek, dan nenek.


Fyi, Syefani sudah lama tinggal di rumah kakek neneknya yang letaknya berdampingan dengan rumah asli Syefani dan ayahnya. Karena Dante kini sibuk bekerja, sehingga ia tak tega jika putrinya harus tinggal seorang diri. Maka dari itu, ia ingin agar Syefani tinggal di rumah ayah ibunya dan ada yang menjaga serta merawat putri semata wayangnya.


“Ayah, beli apa? Kok lama banget, Syefa kira malah Ayah belum pulang.” Gumamnya disertai protes.


Dante terkekeh kecil, ia mengelus pelan rambut cantik putrinya dan berkata, “Ayah ambil cuti hari ini, Ayah juga belikan sesuatu untukmu. Nanti setelah makan, Ayah berikan padamu.”


Dante dan yang lain melanjutkan makan malam bersama di ruang makan yang cukup sederhana. Rumah nenek Syefani memang sangat berbeda dan berbanding jauh dengan rumah milik Dante. Bisa dibilang, rumah pasangan Nurisyah dan Mada ini bermodelkan seperti rumah di desa-desa pada umumnya. Walaupun sudah tinggal di kota, tetap saja mereka menolak untuk merenovasinya.


Siapa sangka dengan bentuk model rumah seperti itu, kakek nenek Syefani memiliki pekarangan kebun yang luas ditanami banyak bunga-bunga dan tumbuhan tradisional. Tak heran jika tetangga menyebut dua insan ini sebagai pecinta tanaman.


“Sini, ikut ayah.” Syefani mengikuti langkah ayahnya dari belakang menuju ruang khusus, di mana ruang itu tempat bersantai.


Setelah menyuruh anak gadisnya duduk di sofa, Dante yang duduk di samping Syefani mengeluarkan 5 snack kuaci dan 5 snack sari gandum. Dua makanan favorit Syefani telah mendarat di depan mata, terpancar cahaya bola matanya mengarungi kebahagiaan yang selama ini sudah jarang didapatnya.


“Ayah, ini banyak banget. Beli satu aja cukup bagi Syefa, yah.”


“Sekali-kali ya, kan? Kamu lama ga makan cemilan-cemilan kayak gitu, Ayah pikir akan belikan yang banyak. Kamu simpan ini ya, kalo sari gandum kamu bawa ke sekolah, kalo lapar tinggal makan itu deh.”


Dante memasukkan snack-snack itu ke dalam kantong plastik dan mengulurkannya ke tangan Syefani untuk disimpan di dalam kamar. Gadis itu beranjak dari sofa, lalu menuju ke kamarnya untuk menyimpan beberapa snack di dalam laci khusus cemilan.


Setelah menyimpannya dengan baik, ia pergi menghampiri Dante kembali yang masih terlihat membuka-buka barang di depan televisi.


“Ayah, itu apaan kok besar banget? Kayak figura ya?” tanya Syefani dari arah kamarnya.


“Oh ini, iya figura. Ayah baru pesan satu minggu yang lalu dan baru dikirim hari ini. Mau lihat?”


Gadis itu menganggukkan kepalanya. Ia duduk kembali di sofa samping Ayah Dante. Dante membuka figura besar ukuran 16rs 40x60 cm yang kini ada di pangkuannya. Pria itu mulai membuka lapisan kardus demi kardus yang menyelimuti seluruh sisi. Syefani turut membantu sang ayah dalam membuka paket yang berisi figura.


Satu demi satu berhasil dilepas, figura cantik nan indah dipandang terpampang jelas wajah dari keluarga kecil bermarga Elberth, yang terdiri dari Ryu Dante Elberth, Maysha Oliv Elbertha, dan Syefani Elbertha Qalesha.


Dalam foto bertiga itu, Syefani masih kecil berusia kurang lebih satu tahun. Dante mengusap wajah mendiang sang istri difigura itu. Hatinya kini terasa teriris belati tajam, ia mengingat masa di mana ada orang yang merenggut nyawa istri tercinta.

__ADS_1


Jemari Syefani turut gemetaran. Perlahan ia mengangkat jari jemarinya ke arah figura, lalu mendaratkannya ke wajah sang bunda.


“Bunda, Syefani ka.. ngen..” ucapnya dalam hati dengan nada yang tertatih-tatih.


“Bunda cantik sekali ya, Yah. Andai bunda masih di sini, Syefa akan menjadi orang pertama yang tidak bosan memandangi wajah bunda.”


Sementara Dante tak sadar jika ia meneteskan air matanya tepat di mata mendiang istrinya. Sadar akan hal itu, Dante refleks langsung mengusap air mata yang jatuh di figura itu.


Syefani mengelus punggung sang ayah. “Ayah, yang kuat ya. Kita simpan figura ini di rumah kita ya?”


“Jangan di rumah kita, karena nantinya ga ada yang lihat. Kamu akan tinggal di rumah nenek, Ayah juga bekerja. Jadi, kita pasang di ruang ini aja bagaimana?”


“Iya, kalian pasang di sini aja. Sekalian ibu bisa melihat menantu walaupun hanya dalam bentuk figura, setidaknya bisa mengobati rasa rindu Ibu padanya.” sahut nenek yang datang dari arah dapur.


Dante dan Syefani tersenyum bahagia. Mereka bersama-sama memasang figura itu di sekeliling ruang yang dianggap sunyi dan tenang.


***


Komplotan geng Gazero sudah memasuki gerbang sekolah, tapi bukannya masuk kelas mereka justru berhenti di kantin sembari memesan kopi. Waktu menunjukkan pukul 06.45 WIB, bagi mereka itu masih lama untuk mencapai pukul 07.00 WIB.


“Anjir! Gue lupa ga bawa buku kimia, mampus lo!” kata Evander yang baru sadar ketika mengecek buku kimianya tidak ada di dalam tas.


“Nah loh, padahal dia sendiri yang kemarin bilang kalo hari ini waktunya kimia Pak Heru.” sahut Alju terkekeh pelan.


“Zer, lo lupa juga, kan? Kan lo pelupa,” ejeknya semakin percaya diri.


“Oh no, no! Gue lupa juga kagak tiap hari, lo kira gue pikun selamanya? Ya enggaklah, untung aja si Gebra ngingetin jadwal pelajaran hari ini. Mampus lo, Van!” Zero berlagak menantang Evander dengan melirik Gebra dengan tatapan puas sekali.


“Ngapain panik? Biasanya lo punya seribu alasan buat ngelak, coba aja nanti.” ketus Veehan dengan gelak tawanya.


“Panik? Gue ga panik, cuma cemas dikit.” Evander kembali menutup resleting tasnya, kemudian ia lanjut menyeruput secangkir kopi buatan Mak Tuti yang tiada tanding.


Bel masuk telah berbunyi. Komplotan geng Gazero secara kompak mengedikkan bahu masing-masing seraya menutup telinga. Mereka sangat malas mendengar bel masuk rasanya seperti tawon madu yang menusuk gendang telinga. Lain lagi dengan bel istirahat, bel itu yang paling dinantikan geng satu ini. Kalian juga gitu ga sih?


“Good morning student!” sapa Pak Heru dengan membawa tas gendong di punggungnya. Pak Heru segera memposisikan dirinya di kursi guru. Ia menaruh tasnya, lalu beranjak menuju depan murid-murid kelas 10 IPA 7.


“Good morning, sir!” jawab kompak seisi kelas 10 IPA 7.


“Padahal guru kimia, tapi sapanya kayak guru bahasa Inggris. Harusnya jangan pake sapaan itu,” bisik Evander pada Gebra—teman sebangkunya.


“Pake apaan dong?”


“Gini, ‘Selamat, bom anda telah disetujui untuk diledakkan!’ gitu seharusnya.” ucapnya bisik-bisik menahan gelak tawa di meja paling belakang.


Gebra tidak bisa menahan gelak tawa akibat perkataan Evander. Ia tertawa terbahak-bahak sampai seisi kelas menatapnya dengan tatapan aneh.


“Hei, kamu kenapa itu? Ga punya sopan santun, baru masuk udah bikin ribut! Ada apa?” omel Pak Heru menghampiri meja Gebra dan Evander.


Dua tersangka itu tidak berani menatap bola mata Pak Heru, mereka hanya bisa menundukkan kepala. Eits, menundukkan kepala bukan berarti mereka kapok ya, justru mereka masih menahan tawa yang ditahannya mentah-mentah tanpa diketahui gurunya itu.


Bruk!


Gebrakan keras dari tangan Pak Heru membuat dua tersangka itu bergeming seperti dikelilingi gembok yang terkunci.


“Kami minta maaf, Pak.” seru dua tersangka itu mengaku bersalah dengan nada pelan.


“Fokus semua hari ini. Kita mulai pelajaran kimianya. Buka LKS halaman 4 materi pertama tentang atom. Bapak akan sedikit menjelaskan intinya saja,”

__ADS_1


“Atom itu merupakan partikel terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Atom sendiri juga terdapat teori-teori yang mencetuskan tentang perkembangan atom dari asal mulanya. Di LKS disebutkan jika ada lima teori atom, dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Tugas kalian adalah memahami tokoh-tokoh teori atom dan bagaimana pendapat mereka masing-masing tentang atom. Dicatat di buku tulis, intinya saja sesuai bahasa kalian sendiri. Paham?” Pak Heru memperjelas maksud tugas yang diberikannya.


“Paham, Pak.” sahut mereka kompak.


“Gue kagak ngerti maksudnya gimana? gerutu Veehan sembari membolak-balikkan lembar LKS kimia yang sedang ia pegang.


Gimana mau paham, Veehan saja dari awal bermain ponsel untuk membalas pesan cewek-ceweknya yang mau aja diberi harapan palsu. ****!


“Nih, gue udah selesai nulisnya. Boleh lo pinjam, kalo mau sih.” Flora—cewek cantik berlesung pipi, agak mungil dengan rambut kepang satu yang terukir sangat indah.


Dari awal masuk, dia cewek yang selalu membantu geng Gazero jika mengalami kesulitan pelajaran. Tunggu dulu, tapi dia lebih care sama Dhien ya.


Flora menyodorkan buku tulisnya ke arah Dhien yang duduk di belakang cewek itu. Dhien menerima buku tulis Flora dengan ekspresi datar, tanpa senyum juga tanpa kecewa. Sulit menebak sikap dan ekspresi seorang Dhien.


“Kalo Dhien ga mau, sini gue contek tulisan lo daripada salah tingkah lo pada,” gertak Alju agak kesal.


Alju berusaha merebut paksa buku Flora dari tangan Dhien, tapi Flora dengan cepat mencegah tangan usil Alju dan menepisnya secara kasar.


“Aduh, sakit banget tabokan lo!” Alju mengayunkan jemarinya yang terasa ngilu akibat hantaman dari Flora.


Sepertinya, Flora memang menaruh harapan pada Dhien, tapi cowok ini pada dasarnya memang tidak peka meskipun berkali-kali dikode. Sabar ya mbak!


Dhien fokus menulis di bukunya, sedikit demi sedikit tulisan tangan itu mulai terlihat menumpuk.


“Terima kasih ya, nih gue balikin. Tulisan lo rapi banget kayak rak perpustakaan,” puji Dhien pada tulisan Flora seraya menyodorkan kembali buku itu ke tangan pemiliknya.


Selesai menulis, buku Dhien langsung dicopet kawan-kawan biadabnya. Ibarat buaya-buaya yang sedang menunggu mangsa, begitu datang langsung dikeroyok.


“En, ini tulisan apa gelombang air laut sih? Naik turun, naik turun, gimana gue bisa baca?” kesal Evander seraya melototkan matanya ke arah tulisan Dhien.


“Kalo ga mau ya udah, gitu-gitu tulisan gue yang paling bersejarah selama gue sekolah. Maksudnya paling cakep, biasanya tambah parah daripada itu. Nikmatin aja,”


***


Hari kedua latihan, Syefani menerima pengumuman jika ia akan dipasangkan sebagai ganda putri bersama Keyza, anak kelas 10 IPA 1. Hari itu juga, mereka dipertemukan dan mulai bertanding sesuai kemampuan masing-masing.


“Lo Syefani itu, kan? Yang dulu sempat masuk IPA 1 juga?” tanya Keyza saat break sebentar.


“Iya, gue Syefani. Lo kenal gue?”


“Kenal lah, lo kan dulu pernah masuk kelas gue juga dan akhirnya pindah ke IPS. Kenapa sih? Padahal nilai sains lo paling tinggi satu sekolahan, kenapa jadi milih IPS?”


“Permintaan ayah gue,”


Keyza mengangguk-angguk. “Nyesel ga masuk IPS?”


“Sama sekali enggak. Justru gue bersyukur masuk IPS, anaknya seru-seru dan enjoy every moment!”


“Syefani, Keyza, ayo latihan lagi. Udah kan istirahatnya?” panggil Pak Tirta dari arah lapangan basket.


Keduanya memulai pertandingan lagi, kini terlihat sangat sempurna dalam bermain. Dari arah yang berbeda, Lion memperhatikan setiap gerak Syefani dan kenyamanannya dalam bertanding dengan pasangan baru.


Memang Lion yang sudah mendiskusikan soal penggantian pasangan dengan Syefani. Pak Tirta merespon baik sikap bijak Lion, sehingga tidak terjadi perselisihan.


“Semangat!”


“Ingat, lo udah punya. Jangan serakah!” Dentuman suara batin yang harus dijaga dengan baik oleh Lion.

__ADS_1


***


__ADS_2