
"Benarkah?" ucap Aileen tak percaya. "Ya, ampun, Tom! Kau masih nakal seperti dulu." Wanita berambut pirang itu tertawa.
"Hey! Aku tidak nakal. Kupikir itu adalah hal yang tepat," protes Thomas.
Betapa bencinya Jane pada kebohongan hingga dia mencoba mendebat Prince Thomas. "Lalu, kenapa aku tinggal di Fadar Palace, bukan di Alcaz Palace?" tanyanya frontal.
"Apa kau lupa? Aku yang memberikanmu kepada Phillip karena kulihat kau menyukainya."
"Kau? Memberikan aku?" Napas Jane mulai tercekat. Dia segera berdiri dari kursinya. "Kau kira aku barang yang bisa seenaknya kau letakkan di mana pun?" Sungguh aliran darah di dalam tubuhnya bertambah deras sampai ke ubun-ubun.
"Jane, sabar," kata Aileen menenangkan. "Kami tidak menginginkan keributan di sini. Aku akan merasa tidak enak kepada Al nantinya." Tersirat kekhawatiran di wajahnya.
Seketika Jane tersadar. Dia menarik napas dalam-dalam, juga memejamkan kedua matanya agar dirinya lebih tenang. Lalu, dia duduk kembali. "Well, aku masih tidak terima jika dia bilang telah memberikan aku kepada Phillip. Akulah yang pergi dari istanamu, Tom," kata Jane.
"Terserah padamu mau berkata apa, Jane. Aku yakin Aileen lebih percaya padaku," ujar Thomas tak mau kalah.
"Aku tak peduli Aileen mau percaya pada siapa. Mentang-mentang kau seorang pangeran, jadi kau bersikap seenaknya. Huh..." Jane masih menggerutu dalam hati, tetapi dia menghargai Aileen sebagai pemilik acara sarapan pagi itu.
"Yang membuatku heran adalah, mengapa kau lebih menyukai Phillip daripada aku? Coba kau sebutkan, apa saja kekuranganku?"
Tak percaya Jane dibuatnya. Baru kali ini wanita itu bertemu dengan orang yang tingkat kesombongannya lebih tinggi dari langit. "Aku tidak perlu menjawab pertanyaan tidak bermutu seperti itu," katanya.
Thomas tertawa.
"Sudahlah, Tom. Jangan lagi menggodanya," Aileen mencoba mengingatkan. Dia tahu Thomas suka mempermainkan orang dengan kata-kata.
"Oops... Ini salahku. Aku minta maaf. Aku lupa kita ke sini hanya untuk sarapan. Maafkan aku, Jane," ucap Thomas.
Jane tahu Thomas tidak bersungguh-sungguh, sehingga dia menganggukkan kepala hanya agar pembicaraan itu tidak diperpanjang. Dia malas meladeni pria itu dalam keadaan perut kosong.
"Jadi, apa sarapan yang kau pesankan untuk kami?" tanya Thomas kepada Aileen.
Tepat sebelum Aileen membuka mulut, pintu ruang VIP dibuka dari luar. Terlihat Al masuk, diikuti oleh 3 orang pelayan wanita. "Pesanan Anda sudah siap, Miss Durrant," katanya sopan. "Hati-hati meletakannya," pesannya kepada para pelayan yang masing-masing membawa baki berisi sepiring sarapan untuk dibagikan di atas meja makan.
"Wow!" seru Jane begitu melihat piring lebarnya. Bacon, telur mata sapi, sosis, jamur, kacang, dan tomat panggang, serta roti bakar memenuhi piring itu. Benar-benar sarapan yang hebat. Kedua mata Jane sudah dikenyangkan oleh penyajian cantiknya. Dia dibuat tidak berkedip oleh warna-warni makanan tersebut.
"Apa yang kita tunggu? Shall we?" ajak Aileen setelah masing-masing piring tersaji di depan mereka semua.
"Ini enak sekali!" Jane tak dapat menahan diri untuk tidak berkomentar. Dia baru saja mencicipi kacang panggangnya dan segera menyukainya. "Rasanya manis tapi tidak terlalu manis. Aku suka ini."
"Glad to hear that," balas Aileen seraya tersenyum.
__ADS_1
Jane boleh lega karena sarapan yang disuguhkan sangatlah enak. Suasana hatinya berangsur membaik.
Tiba-tiba, ponsel Aileen berbunyi. "Siapa yang menggangguku saat sarapan?" gerutunya sambil merogoh ke dalam tas untuk mengambil benda pintar itu. Dia membaca nama yang tertera di layar, lalu berkata, "It's my mom. Sorry, I have to take this," pamitnya kepada Jane dan Thomas. Wanita cantik itu pun beranjak ke luar ruang VIP.
Tinggallah Thomas dan Jane yang masih diam-diaman. Mereka tetap menikmati santapan ala Inggris di meja. Sesekali Jane minum jus jeruk untuk melancarkan kerongkongannya karena, secara tidak sadar, dia mengunyah terlalu cepat.
Thomas mengetahui hal itu, sehingga dia senyum-senyum sendiri. Baginya, tingkah Jane bagaikan lawakan di pagi hari. "Apa kau terbiasa makan dengan cepat?" tanyanya.
Jane tidak mau menjawab. Dia hanya memicingkan mata menatap Thomas karena pasti pria itu ingin meledeknya lagi.
"Lihatlah! Piringku masih setengah, sedangkan kau hampir menghabiskan seluruh makananmu tanpa sisa."
Bola mata Jane mengarah ke piring Thomas. Benar saja. Dia merasa seperti wanita paling rakus di meja itu. "Kami, orang New York, tak bisa membuang waktu cuma untuk sarapan," katanya beralasan.
"Oh, begitu ya," Thomas berkata seolah-olah terkejut akan hal itu.
Pintu ruangan dibuka dari luar. Aileen sudah selesai dengan teleponnya. "Ugh!" serunya kesal. Dia duduk begitu saja di kursinya tanpa mempedulikan sopan santun.
"What's wrong?" tanya Thomas.
"Orangtuaku baru saja sampai di bandara."
"Dari London?"
"Apa tidak bisa menunggu sampai selesai sarapan?" tanya Jane.
"Sayangnya tidak. Mereka tak suka menunggu. I'm so sorry, Jane. Akan kuminta Al membungkus makananku. I'm so sorry, Tom. Aku akan meneleponmu nanti," katanya berpamitan dengan mencium pipi Thomas. "Sampai jumpa, Jane."
"Yeah," sahut Jane seraya mengangguk.
Setelah pelayan mengambil piring Aileen, Thomas dan Jane kembali ke makanan masing-masing.
"Siapa yang akan membayar semua ini?" tanya Thomas bercanda, disambut tawa Jane.
🥪🥪🥪🥪🥪
"Come on, Jane! Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian. Apa yang akan kukatakan pada Phillip nanti?" ajak Thomas. Dia sudah bertengger di dalam mobilnya, yang telah diambilkan oleh petugas vallet, sambil menurunkan kaca penumpang.
Jane menimbang-nimbang hingga akhirnya setuju. Ya, dia memang tidak mungkin jalan kaki sejauh 5 kilometer ke Fadar Palace. Bisa-bisa sistem pencernaannya bekerja dengan cepat dan segera membakar makanan enak yang baru saja disantapnya.
"Apa kau sudah tidak marah?" tanya Thomas sambil menyetir. Dia hanya melirik Jane di sebelahnya.
"Aku tidak pernah marah," jawab Jane tidak mau mengaku.
__ADS_1
Thomas tertawa. "I believe you," ujarnya. "Kau sudah resmi berpacaran dengan Phillip?"
"Wha-? How do you know?" Jane tak percaya Thomas mengetahuinya. Padahal, baru tadi malam dirinya menerima Phillip sebagai kekasih.
Thomas mengangkat bahu. "Aku tahu cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Kau masih ingat kata-kataku waktu di peternakan, bukan?"
Jane terdiam. "Ya, aku ingat. Phillip bukanlah seperti orang yang kau pikirkan."
"I know, I know," Thomas mengangguk mengerti. "Aku hanya mencoba memperingatkanmu agar berhati-hati karena kau bukan berasal dari keluarga bangsawan. Apalagi, ditambah kedatangan keluarga Aileen ke Vlada."
Mata Jane menyipit. "Jadi kau pikir kalian akan mem-bully aku seperti cerita di opera sabun? Itu tidak akan terjadi," katanya penuh percaya diri.
Thomas tersenyum, lalu menoleh ke arah Jane yang sedang mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Inginnya dia mencubit kedua pipi wanita itu karena gemas. "Listen, Jane. Jika kau butuh dukungan, aku siap membantumu."
"Aku menghargai ucapanmu, Tom, tapi kurasa saat ini aku belum membutuhkannya. Terima kasih."
Thomas mengangguk lagi. Dia membelokkan mobilnya ke pintu gerbang Fadar Palace.
Penjaga istana sudah mengenali mobil itu dari kejauhan, sehingga mereka langsung mempersilakannya masuk setelah menerima lambaian tangan dari Prince Thomas.
Saat memarkirkan mobil di lapangan sebelah gedung istana, Thomas menyadari adanya mobil lain di sana yang bukan mobil Phillip. "Ada Uncle Neil dan Aunt Beatrice. Tumben sekali mereka kemari," katanya.
"Orangtua Phillip?" tanya Jane. Anggukan Thomas membuat jantungnya berdegup lebih cepat. Wanita cantik itu menebak-nebak maksud kedatangan mereka. "Apakah mereka akan mengusirku?"
Thomas tertawa. "Tidak akan, Jane. Tenanglah," ujarnya. "Ayo kita turun."
Degup jantung Jane semakin cepat, seiring dengan langkah kedua kakinya menuju pintu masuk gedung istana.
Penjaga pintu bersuara, "Prince Thomas and Jane Watson have arrived."
🥕🥕🥕🥕🥕
Bersambung ke chapter selanjutnya!
Udah 2 bulanan ya aku gak update hahaha..maafkan saya yg malas inihh 🙏🙏🙏
Semoga chapter ini bisa mengobati kerinduan kalian terhadap duo pangeran ganteng dan si cantik Jane Watson 😂
Aku masih nulis lanjutannya. Tenang saja, ini pasti tamat cepat atau lambat (maaf, gak ada jaminan) wkwkwk~
See ya...
24AUGUST2020
__ADS_1