
"APA?"
Tanpa sadar bokong Anastasia sudah berdiri dari kursi sambil menatap Ferdinand dengan raut wajah tidak percaya. Ferdinand tahu jika ucapannya sekarang pasti akan membuat Anastasia terkejut ataupun marah, tapi dia tetap akan melakukannya. Karna menurutnya, ini demi kebaikan bersama.
"Aku tahu An kau pasti terkejut tapi, dengan mendebutkan Elsa, memperkenalkannya pada kalangan ton akan membuatnya di lirik, dengan harapan akan ada seorang gentleman yang melamarnya?"
"Dia bukan bangsawan Ferdinand!"
Ferdinand menarik nafas dalam sejenak, lalu menatap Anastasia dengan pandangan memohon
"Karna itu aku ingin kau yang menjadi pendamping untuk debutnya"
Rasanya belum cukup rasa terkejut Anastasia akan kegilaan mendebutkan Elsa yang bukan keturunan bangsawan, sekarang Ferdinand menjual dirinya untuk memuluskan jalan Elsa?
"Kau gila? Bangsawan memiliki aturan, tidak! tidak! ini bukan hanya aturan..." Kepala Anastasia menggeleng kuat. "Ini bukan hanya aturan, ini adalah martabat bangsawan Ferdinand. Jika seorang rakyat biasa debut di kalangan ton, itu sama saja dengan kau meludahi ego kalangan ton. Kau ingin namaku ada di balik kipas-kipas para Lady? atau bahkan nama istana? dan yang terparah nama His Majesty?"
Kembali, Ferdinand menarik nafas. Dia harus tenang dan yakin. Karna itu sekali lagi, Ferdinand menatap Anatasia dengan pandangan memohon.
"Kita bisa membuat statusnya menjadi keturunan bangsawan walaupun tanpa gelar resmi"
Anastasia yang masih berdiri dari kursinya menatap Ferdinand penuh selidik.
"Apa maksutnya Ferdinand?"
Tanpa ragu dan tanpa gentar, Ferdinand mentap Anstasia sengan tegas sambil menjawab tegas
"Aku mohon Ana, kita bisa membuatnya menjadi saudarimu yang berasal dari Trancia"
BRAKK!
Bokong Anastasia terjatuh, kembali mencium kursi dengan keras. Tidak pernah terbayangkan di dalam benak Anastasia jika Ferdinand benar-benar luar biasa super sinting. Bagaimana bisa Ferdinand mengatakan itu setelah semua kerusakan rumah tangga mereka yang salah satu punyebabnya adalah karna kakak gadis yang sedang mereka bahas sekarang? Bagaimana bisa Ferdinand meminta hal itu dengan yakin di depan wajah Anastasia? Bagaimana bisa Ferdinand memohon seperti itu pada istrinya, istrinya yang belum juga sembuh dari luka-luka yang di berikannya baik perasaan maupun fisik? Tidakkah Ferdinand sedikit saja menganggapnya sebagai istri? sebagai wanita yang memiliki harga diri dan rasa amarah?
"K-kau...."
Anastasia sudah kehilangan kata-kata, mulutnya terasa beku. Banyak sekali kata-kata di dalam benakknya yang ingin dia teriakan tapi, tidak ada yang bisa sampai ke tenggorokannya. Semua terlalu banyak hingga rasanya Anastasia ingin membalik meja di depannya.
Arah pandang Ferdinand masih menatap Anatasia, kali ini raut wajahnya sudah berubah memelas dengan penuh permohonan. Dirinya mengabaikan guratan-guratan kemarahan yang tampak jelas tercetak di wajah Anastasia, istrinya yang selama ini selalu berwajah lembut dan tidak pernah menunjukkan kemarahan, kali ini sedang berwajah penuh amarah dan memandangnya dengan tatapan tidak percaya.
"Tolong Ana... Ini adalah salah satu jalan keluar untuk memenuhi janji ku pada mereka. Jika Elsa menikah dengan baik dan di keluarga yang baik, maka-"
"Enough...." Mulut Ferdinand terkatup saat Anastasia sudah mengangkat tangannya sambil menyambar ucapannya. Kedua mata Anstasia terpejam, nafasnya tertarik dalam, giginya menggigit pipi dalamnya dengan kuat. Ya Tuhan... Anstasia benar-benar ingin mengamuk tapi, dengan sekuat nyawa Anastasia menahan semuannya, menelan semuanya. "Aku akan menganggap jika kau tidak pernah membicarakan ini Ferdinand"
Setelah berucap, Anastasia segera kembali berdiri dari kursi lalu melangkah. Ferdinand yang melihat pergerakan Anastasia ikut berdiri dari kursinya sambil menatap Anastasia dengan bingung.
"Ana?"
Anastasia mengabaikan Ferdinand, langkahnya terus bergerak hingga sampai di depan pintu keluar kamarnya. Tanpa ragu, tangan Anastasia langsung membuka pintu keluar, lalu menatap Ferdiand dengan datar.
"Saya sangat lelah dan mengantuk Your Highness. Tolong biarkan saya tidur"
Kedua mata Ferdinand melotot, wajahnya menatap Anastasia dengan tidak terima.
"Kau mengusirku?"
"Saya hanya meminta sedikit pengertian anda, tolong...."
Tersinggung? jelas Ferdinand tersinggung di perlakukan seperti itu. Dirinya ingin sekali mengeluarkan kata-kata keras atau bahkan mengumpat tapi, saat melihat wajah Anastasia yang memang tampak lelah, akhirnya nafas pasrah Ferdinand berhembus.
"Baiklah"
Setelah Ferdinand menjawabnya, tanpa ingin melihat Ferdinand lagi, langkah Anastasia segera menuju ke nakas. Dirinya mengabaikan Ferdinand yang sedang berjalan ke arah pintu keluar sambil terus menoleh padanya.
Anastasia tidak peduli, karna lonceng yang ada di tangannya sekarang lebih penting. Anastasia menggerakkan tangannya untuk membunyikan lonceng memanggil Ruth, bersamaan dengan suara Ferdinand yang terdengar
"Selamat malam Ana"
Dengan sopan Anastasia membalas tanpa menoleh lagi
"Selamat malam"
Pintu di tutup, dan tidak lama pintu di ketuk. Ruth sudah datang, dan dia butuh obatnya agar bisa terlelap. Terlelap pulas untuk meredakan dan menyimpan segala perasaan kesalnya, seperti biasa.
--000--
__ADS_1
Seperti biasa, pagi ini setelah sarapan pagi, Anastasia kembali menjankan salah satu hal yang paling di bencinya, yaitu mengantar Ferdinand yang akan pergi bekerja, bersama gundik suaminya.
"Aku pergi Ana"
Sambil memasang senyum terbaiknya, Anastasia mengangguk singkat. Ferdinand terlihat masih ingin mengatakan sesuatu dan mendekat pada Anastasia tapi, semua niatnya batal saat Kenna berucap
"Aku akan menunggumu Dinand, jangan lupa makan siangmu jika kau tidak sempat pulang kesini. Jangan terlalu keras saat memegang senjata, aku tidak ingin melihatmu terluka"
Kenna berucap lembut sambil mengelus perutnya. Ferdinand tersenyum, hatinya menghangat saat Kenna sangat memperhatikannya, selalu mengobati perasaan terabaikannya saat Anastasia semakin dingin padanya.
"Sepertinya aku memang tidak bisa kembali siang ini, hari ini jadwal untuk melatih para kesatria"
Masih dengan senyum lembut yang tercetak di bibirnya, kepala Kenna mengangguk pengertian sambil mengangkat tangannya menuju wajah Ferdinand.
"Hati-hati"
Senyum Ferdinand tidak pernah luntur, tangannya dengan lembut memegang tangan kecil yang masih berada di sebelah wajahnya. Lalu turun mengusap lembut perut Kenna yang masih datar. Kenna terus tersenyum sambil menumpukan tangannya pada tangan Ferdinand sehingga dengan seirama, tangan mereka membelai perut Kenna bersamaan.
Setiap setiap kali, setiap hari, setiap pagi, semenjak kedatangan Kenna ke castle, pemandangan memuakkan itu selalu Anastasia lihat. Dirinya selalu menjadi penonton kebahagiaan dan keromantisan suami dan simpan suaminya, di depan matanya! Senyum terbaik di bibir Anastasia, senyum lembut dan anggunnya selalu menyimpan senyum miris yang tidak pernah bisa, dan mungkin memang tidak ingin di anggap penting oleh Ferdinand
Solar yang juga selalu melihat pemandangan di sana saat menunggu tuannya sebelum keberangkatan, hanya bisa menatap Anastasia dengan prihatin.
"How pathetic the wife is....."
Tapi Solar bisa apa? dirinya siapa? Bahkan Carl, salah satu anjing terbaik Raja saja hanya bisa diam di sudut halaman sambil menatap ke arah depan dengan wajah datar. Carl terlihat benar-benar menghindari pemandangan menjijikkan itu.
Ruth yang selalu berdiri di belakang nyonyannya dengan setia, dalam diam selalu mengepalkan tangan saat dirinya selalu bisa melihat senyum miris dan tatapan penuh luka nyonyannya.
Tidakkan ada orang yang bisa melihat nyonyanya!!! Tolong lihat perasaan nyonnyanya!!! Tolong hargai nyonyanya!!
Setiap kali, setiap waktu, Ruth sangat ingin berteriak seperti itu. Dan setelah berteriak, dirinya akan langsung mendorong Ferdinand lalu menendang gundiknya. Tapi, Ruth hanya bisa diam sambil menahan segala kemarahan dan keinginannya. Dia tidak ingin mari sia-sia.
Setelah Ferdinand naik ke atas kudanya dan berlalu pergi, Anastasia segera berbalik untuk masuk tapi,
"Bisa kita bicara Your Highness?"
Ruth yang mendengar itu langsung maju menghadang tubuh Kenna.
Satu alis Kenna terangkat saat melihat dan mendengar Ruth yang sudah berdiri di depannya. Lalu kembali menatap Anastasia sambil berucap
"Pelayan anda sungguh lancang, Your Highness"
"KAU!-"
"Ruth...."
Teguran Anastasia membuat Ruth langsung berbalik sambil menunduk dalam pada Anastasia
"Maaf Your Highness"
Sambil memutar kembali tubuhnya, Anastasia kembali bersuara
"Siapkan teh di taman"
Seorang pelayan yang ada di dekat pintu segera mengangguk paham
"Baik Your Highness"
Senyum kemenangan Kenna terbit sambil menatap Ruth yang hanya bisa menatap nyonyanya dengan wajah tidak percaya.
Langkah Anastasia langsung menuju ke taman castle dengan di ikuti Kenna dan Ruth. Ruth tersenyum kecut, setidaknya Kenna mengerti jika dia harus berjalan di belakang Anastasia. Karna jika tidak, Ruth bisa menjadikan alasan itu untuk menampar wajah Kenna.
Langakah mereka terus bergerak hingga sampai di taman. Setelah berada di meja taman, dengan anggun Anastasia langsung mendaratkan bokongnya di kursi yang sudah di tarik Ruth. Dengan mengikuti gerak gerik anggun Anastasia, Kenna ikut mendaratkan bokongnya di kursi yang dia tarik sendiri.
Keheningan menyelimuti suasana di taman, hanya suara-suara pergerakan pelayan yang sedang mengisi meja yang menjadi pengisi suara di sana. Hingga semua selesai terhidang, Anastasia mulai membuka suaranya
"Ada apa?"
Kenna tersenyum lembut sambil kembali, dirinya kembali mengikuti cara Anastasia yang dengan anggun menautkan kedua tangan di depan perut.
"Tawaran saya tentang pertemanan kita masih berlaku, Your Highness"
Satu alis Anastasia menukik tinggi
__ADS_1
"Dan jawaban saya tentang itu masih sama"
Dengan anggun, tangan Anastasia mulai bergerak untuk memegangi cangkir tehnya. Kekehan halus meluncur dari mulut Kenna, lalu tangannya kembali mengikuti pergerakan tangan Anastasia
"Bukankah mulai sekarang kita harus mulai dekat Your Highness? Karna suka tidak suka, anda akan menjadi ibu sambung anak kami"
Tangan Anastasia yang sedang memutar-mutar gelas terhenti. Arah pandangnya kembali menatap Kenna
"Ibu sambung?"
Dengan yakin Kenna mengangguk
"Benar. Anda akan menjadi ibu sambung anak kami. Bukankah Dinand, oh maaf... maksut saya bukankah His Highness sudah pernah mengatakannya pada anda?"
Tangan Anastasia yang ada di atas meja kembali turun ke depan perutnya. Kedua tangannya sudah saling mencengkam kuat. Sambil memasang senyum terbaiknya, Anastasia berucap lembut.
"Apa anda tidak masalah dengan itu?"
Kembali, dengan yakin kepala Kenna mengangguk.
"Tentu saja Your Highness. Ini keputusan 'suami' anda"
WANITA SUNDAL!
Dalam setiap sel di dalam darahnya, Ruth berteriak sekuat tenanga di dalam hatinya. Lalu melirik Anastasia yang hanya diam sambil menatap Kenna dengan dingin
"Jadi ini perintah His Highness? dan anda setuju jika anak anda nanti bersama saya?"
Untuk yang kesekian kalinya, kepala Kenna kembali mengangguk yakin
"Tentu saja, Your Highness. Anak kami butuh perlindungan, kenyamanan, nama, dan juga.... gelar"
Carl yang tadinya terus tidak peduli hampir tersedak ludahnya saat Kenna dengan yakin mengatakan isi kepalanya.
Perlindungan? Tentu... karna dia bersama Ferdinand. Kenyamanan? jangan di ragukan... Karna Ferdinand pasti memberikannya. Nama? Baiklah.... itu memang bisa. Tapi gelar? Apakah Kenna tidak tahu jika gelar hanya bisa dapatkan karna lahir dengan takdir dan karna tulisan tangan yang di stempel Raja?
"Siapa yang mengatakan hal itu pada anda nona Kenna? maksut saya, yang mengatakan tentang semua hal yang bisa anak itu dapatkan nanti?"
Kenna tertengun beberapa saat, matanya melirik sekitar, pada Carl dan Ruth yang ada di sekitar mereka. Arah pandang Kenna menyadari itu, jika dua orang lain yang ada di sekitar mereka di sana sedang menahan senyum, dan pemandangan itu membuat Kenna mencengkan gaunnya dengan kuat sambil bersuara
"Saya akan meminta itu semua pada His Highness, dan saya yakin, jika itu juga yang akan di berikan His Highness pada anak kami kelak"
Tepat setelah Kenna berucap, Anastasia langsung terkekeh sambil kembali memainkan gelasnya. Hingga kekehannya terhenti, arah pandang Anastasia kembali menatap Kenna.
"Sebenarnya nona Kenna, jujur saja pada awalnya saya sangat iri pada keberanian dan kepercayaan diri yang anda punya. Tapi hari ini, rasa iri saya berubah menjadi rasa prihatin"
"Apa maksut anda Your Highness?!!" Dengan acuh dan tanpa ingin menjawab, Anastasia mulai mengangkat cangkirnya. Kenna yang melihat itu mulai kesal dan kembali berucap. "Bukankah yang memprihatinkan itu anda?"
Tangan Anastasia terhenti sejenak, lalu kembali menyesap tehnya, setelah itu dengan anggun meletakkan kembali cangkir ke atas meja
"Saya beri tahu sesuatu nona Kenna-" Anastasia menjedah, arah pandangnya menatap Kenna dengan datar sambil kembali berucap. "Saya adalah salah satu wanita yang lahir dari keluarga darah terhormat. Dari kami lahir, di setiap inci isi kepala kami sudah di tanamkan jika kehormatan dan harga diri seorang wanita itu adalah nyawa dan jiwa kami. Jadi itulah alasannya kenapa kehormatan seorang perempuan bangsawan harus mereka pertahankan hingga pernikahan mereka terjadi karna, itu adalah nyawa kami. Dan satu lagi, harga diri. Harga diri adalah jiwa kami, jadi kami akan terus selamanya menjadi wanita berbahagia saat kami bisa hidup dengan kebanggaan, kebanggaan dengan tidak hidup sebagai wanita simpanan pria misalnya-" Anstasia kembali menjedah, kali ini senyumnya terbit saat melihat wajah Kenna yang sudah merah membara. "Saya tahu jika anda sedang mempelajari dan berusaha menjadi wanita terhormat jadi, ini sedikit pelajaran lagi untuk anda, ingatlah itu baik-baik nona Kenna. Dan ingatlah juga siapa di antara kita yang menjadi wanita memprihatinkan yang sebenarnya"
Siulan nyaring Carl semakin membuat wajah Kenna seakan terbakar. Ruth sudah menatap Kenna dengan menyeringai dan dagu terangkat. Sedangkan Anastasia, dengan santai memakan biskuitnya
Keheningan kembali menyelimuti taman. Kenna hanya bisa bungkam karna menahan malu dan kesal. Dalam diam, Carl dengan santai sudah kembali menatap ke depan. Ruth terus bediri di belakang kursi Anastasia dalam keheningan.
Melihat keadaan yang terus berlangsung seperti itu, Anastasia yang mulai muak akhirnya membuang nafas panjang dan sudah bersiap untuk pergi tapi,
"Kenna! guru etiketku akan datang hari ini!"
Suara teriakan Elsa yang tiba-tiba menyusup di keheningan mereka membuat semua kepala menoleh untuk menatap Elsa
"Baiklah kalau begitu Your Highness. Saya pamit untuk undur diri untuk mempersiapkan diri menyambut tamu"
Tanpa ingin menunggu jawaban Anastasia, Kenna segera pergi bersama Elsa. Mengabaikan wajah Anastasia yang menatapnya dengan raut wajah tidak terbaca.
Anastasia belum menjawab apapun tentang debut itu, dan bahkan harusnya Ferdinand bisa melihat dengan jelas, bagaimana raut wajah penolakan Anastasia untuk debut Elsa saat dirinya mengatakan hal itu pada Anastasia semalam. Dan sekarang, guru etiket?
Apa ini maksutnya Ferdinand?!!!
\=\=\=💚💚💚💚
Silahkan jejaknya....
__ADS_1