Marrying The Prince

Marrying The Prince
90


__ADS_3

Francesca kembali melirik wajah yang ada di depannya, wajah cantik yang dengan sangat hati-hati sedang merawat luka di sebelah itu lehernya, bahkan pergerakan tangannya terlalu berhati-hati dengan berlebihan. Dari ekor matanya, Francesca juga kembali melirik, melirik kembarannya yang terus merengut sebal sambil sesekali meringis saat tangan Bernadeth mengusap pelan luka di sebelah perutnya.


"Selesai Frans"


Anastasia berucap pelan dengan suara tertahan, suara yang terkesan sedang menahan sesuatu. Sesuatu yang pasti sangat besar sedang di simpan Anastasia.


Hingga tangan Anastasia selesai membereskan alat-alatnya, sambil membuang nafas panjang, Anastasia kembali menatap wajah Francesca yang sudah di tutupi perban kecil di sebelah pipinya. Tangan Anastasia kembali terangkat merapikan rambut Francesca yang berterbangan karna angin, dan perbutan serta gerak gerik mengganjal Anstasia itu, akhirnya membuat Francesca dengan malas membuka percakapan


"Dia baik-baik saja. Goresan pedang seperti itu tidak akan membuatnya mati An"


Senyum di bibir Anastasia tersungging, arah pandangnya manatap Francesca dengan kedua mata yang jadi mulai menggenang


"Iya... aku tidak sekhawatir itu"


Dengan malas Francesca hanya diam sambil memainkan bordiran usang pada gaun yang di pinjamnya. Gaun sangat usang dan sederhana yang di pinjamkan Anastasia untuknya, karna tidak mungkin Francesca memakai gaunnya. Gaun-gaunnya pasti akan sangat terlihat mencolok di keadaan sangat sederhana yang sedang di tumpanginya.


"Sudah selesai Your Highness"


Dengan sopan Bernadeth berucap, lalu mulai merapikan alat-alatnya. Ferdinand meringis saat kakinya akan bergerak, dan pemandangan itu langsung membuat Bernadeth menghentikan gerakan tangannya pada alat, dan langsung berpindah untuk memegangi Ferdinand


"Anda butuh sesuatu, Your Highness?"


"Ck! aku ingin istriku!"


Dengan sengaja Ferdinand meninggikan suaranya, dan dengan wajah cemberut Ferdinand terus menatap Anastasia.


Anastasia bukannya tidak tahu jika suaminya itu terus menatapnya dengan cemberut. Di mulai saat Anastasia yang menolak untuk merawat luka Ferdinand dan lebih memilih untuk merawat Francesca. Akhirnya, Anastasia menbuang nafas panjang dan mulai mendekat pada ranjang Ferdinand.


Raut wajah Ferdinand yang terus cemberut akhirnya sedikit berubah saat istrinya sudah duduk di sebelah ranjangnya. Bernadeth yang melihat itu hanya bisa tersenyum geli sambio medorong trolly-nya. Bernadeth menatap Fracesca dan Ferdinand bergantian


"Saya pamit undur diri, Your Highness"


Francesca mengangguk singkat pada Bernadeth, sedangkan Ferdinand menagbaikan semua hal dan hanya menatap istrinya yang terus menatap perban di sebelah perutnya.


"Aku baik-baik saja An"


Ucapan Ferdinand lagi-lagi membuat Anastasia hanya bisa membuang nafas panjang, hingga suara Francesca membuat mereka berdua menatap Francesca


"Kapan luka Ferdinand bisa membuatnya untuk kembali berpergian?"


Anastasia tampak berpikir sejenak, lalu dengan yakin menjawab


"Hanya empat atau lima hari, Frans"


Kepala Francesca mengangguk yakin, lalu kembali menatap Anastasia.


"Kita harus kembali An"


"Frans-"


"Kau harus kembali"


Inilah... inilah yang membuat Anastasia merasa tidak nyaman dan terus ketakutan. Di satu sisi dia sangat senang saat bisa kembali bertemu saudari iparnya, tapi di sisi lain dirinya juga pasti harus menghadapi masalah ini. Anastasia menatap Francesca dengan lekat lalu menarik nafas dalam sebelum berucap


"Aku tidak bisa kembali Frans, Maaf"


Dengan wajah datar, dan tatapan datar tidak terbaca, Francesca kembali berucap dingin


"Sebenarnya aku tidak ingin memberi tahukan ini, tapi aku harus An-" Francesca menjedah, lalu semakin menatap Anastasia dengan lekat saat melihat raut wajah Anastasia yang sudah terlihat penasaran. "Ini tentang George. George sakit keras dan mungkin waktunya sudah tidak lama lagi"


Tidak hanya Anastasia yang langsung terkejut, raut wajah Ferdinandpun sudah berubah terkejut hingga ikut membuaka mulutnya

__ADS_1


"Tidak mungkin Frans, gapa selama-"


"George terjatuh dari kuda dan kepalanya terbentur kuat. Gapa sekarang sudah tidak bisa melakukan apapun. Tubuhnya hanya bisa terbaring di atas ranjang" Arah pandang Francesca menatap Anastasia. "Gapa sering menanyakanmu. Mungkin George memang sedang menunggumu agar bisa pergi dengan tenang. Kau menantu kesayangannya Ana"


Perasaan Anastasia langsung menjadi sangat kalut, dadanya sudah penuh dengan rasa takut dan khawatir hingga kedua matanya mulai berkaca-kaca.


"A-apa itu benar Frans?"


Dengan wajah datar yang sangat datar tidak terbaca, Francesca menatap Anastasia dan Ferdinand bergantian.


"Kita harus segera kembali secepatnya" Francesca kembali menatap Anastasia dengan lekat. "Aku tidak akan memaksamu An, itu hakmu untuk kembali atau tidak. Karna kebahagiaanmu yang terpenting. Kami akan memghormati apapun keputusanmu. Jangan terbebani dengan ini"


Setelah Francesca berucap, isakan Anastasia tidak bisa di bendungnya lagi. Ingatan Anastasia tentang pria tua bermata abu-abu yang selalu tersenyum ramah itu membuat dada Anastasia semakin sesak. George pria tua ramah dan hangat yang selalu mengusapi rambutnya dengan lembut, membuat perasaan Anastasia semakin berkecamuk, terlebih saat dirinya membayangkan jika pria tua itu sekarang sedang terbaring sakit. Hanya bisa terbaring tanpa bisa melakukan apapun, bahkan mungkin George sekarang hanya bisa bernafas sambil menunggu mautnya. Oh Tuhan... Anastasia sangat menyayangi pria tua itu, dirinya harus bagaimana sekarang?


Isakan Anastasia yang semakin kuat membuat Ferdinand langsung membawa Anastasia ke dalam dekapannya. Arah pandangnya menatap Francesca yang mulai bergerak untuk pergi.


Dengan sangat lekat Ferdinand menatap Francesca, mencari-cari kebohongan yang mungkin bisa di temukannya di wajah saudari kembarnya. Tapi, bahkan dirinya sendiripun sekarang tidak bisa menemukan kebohongan apapun di wajah penuh topeng saudarinya. Jadi, apakah ini semua berarti benar? Tidak mungkin kan... mana mungkin pria jahat seperti George akan cepat mati! George setidaknya harus hidup selama seratus tahun lebih! Gapa mereka tidak boleh mati! Ohh Tuhan... perasaan Ferdinand sekarang terasa sangat kacau dan cemas


"Dinand... George...."


"Sstt... semua akan baik-baik saja An. George akan baik-baik saja sayang"


Tangan Ferdinand terus mengusap kepala Anastasia dengan arah pandangnya yang sudah menatap punggung Francesca yang mulai menghilang dari pintu.


--000--


Bernadeth meletakkan cangkirnya saat melihat Anastasia yang mengajaknya untuk bertemu dan berbicara, tidak juga membuka mulutnya. Anastasia hanya terus diam dengan termenung, arah pandangnya hanya terus menatap buku-buku yang ada di atas meja Bernadeth. Hingga akhirnya, Benadeth membuang nafas panjang dan memulai percakapan


"Katakan saja An. Katakan saja semua yang sedang kau rasakan sekarang"


Akhirnya, arah pandang Anastasia kembali menatap Bernadeth yang terus menatapnya dengan lembut. Bibir Anastasia tersenyum tipis dan mulai membuka suaranya


"Aku bingung Bernadeth. Aku sangat bingung"


"Apa yang membuatmu bingung?"


"Aku-" Anastasia menjedah sambil mengigit bibirnya dengan gelisah. "Aku bingung, apakah aku harus kembali atau aku harus bagaimana?"


Kepala Bernadeth kembali memanggangguk singkat sambil kembali tersenyum lembut


"Ceritakan dan katakan saja semuanya nak, ada apa?"


Akhirnya, Anastasia mulai menceritakan semua hal yang sudah di katakan Francesca sore tadi. Dirinya juga menceritakan tentang kebingungannya yang akan kembali atau tidak, serta kegelisahannya tentang keadaan George.


Bernadeth yang akhirnya mengerti kembali tersenyum lembut sambil mengangguk.


"Aku tahu Ana, kau tidak ingin kembali karna merasa rendah diri untuk kembali kan? kau juga tidak berani menghadapi keluarga His Highness karna masalah keguguranmu?"


Kepala Anastasia tertunduk sambil memainkann jari-jarinnya. Perasaannya kembali terasa campur aduk, bibirnya yang mulai bergetar, berucap lirih


"Aku... aku merasa sangat tidak pantas dan sangat bersalah Bernadeth. Aku... aku malu"


Melihat kedua bahu Anastasia yang mulai berguncang, Bernadeth langsung berdiri dari kursinya dan langsung memeluk Anastasia. Tangan hangat Bernadeth mengusapi kepala Anastasia dengan lembut sambil bersuara.


"Mereka sekarang adalah keluargamu Ana. Mereka sekarang adalah rumah barumu, tempat di mana kau sudah terikat bersama orang-orang itu. Orang-orang yang aku yakini sangat menyayangi dan sangat menginginkanmu untuk kembali"


"Tapi aku bersalah dan tidak pantas Bernadeth. Aku terlalu gagal untuk ada di keluarga luar biasa itu. Aku tidak yakin mereka bisa menerimaku yang sangat tidak berguna ini"


Bibir Bernadeth kembali tersenyum sambil terus mengusap kepala Anastasia dengan lembut.


"Aku tidak yakin mereka menganggapmu seperti itu An. Aku tidak yakin sebuah keluarga yang selalu mencari tahu keadaanmu menganggap kau adalah seseorang yang tidak berguna dan gagal. Bahkan dari jauhpun, mereka selalu berharap jika kau bisa bahagia dan selalu baik-baik saja tanpa berani memaksa agar kau merubah keputusanmu"

__ADS_1


Di tengah-tengah isakannya, Anastasia yang baru bisa mencerna dengan baik ucapan Bernadeth langsung melepaskan pelukan mereka. Arah pandang Anastasia menatap Bernadeth dengan lekat


"Apa maksutnya 'mencari tahu' Bernadeth??"


Dengan senyum hangat yang terus tercetak di bibirnya, Bernadeth mulai bangkit berdiri dari kursi. Langkahnya langsung menuju ke lemari untuk mengambil sesuatu. Saat apa yang di carinya sudah ketemu, Bernadeth langsung menyerahkan sebuah kotak kayu kecil pada Anastasia. Anastasia dengan bingung, menatap kotak kayu dan Benadeth secara bergantian


"Ini apa?"


"Bukalah nak"


Dengan perlahan, Anastasia mulai membuka penutup kotak kayu itu. Tangannya langsung meraba-raba banyak amplop surat yang banyak menumpuk di sana.


Bernadeth kembali tersenyum dan mulai berdiri dari kursinya.


"Aku akan meninggalkanmu untuk melihat semua surat-surat ini"


Tangan Bernadeth menepuki pelan sebelah bahu Anastasia, lalu mulai beranjak pergi.


Saat melihat pintu yang sudah tertutup, tangan Anastasia mulai membuka dengan perlahan satu surat dengan tertera tanggal terlama dari semua surat. Setiap tanggal yang menunjukkan jika surat di kirim setiap dua minggu sekali. Bahkan tanggal terbaru adalah tanggal dua munggu lalu, yang berarti jika surat masih terus berlanjut saling membalas.


Anastasia mulai membaca surat pertamanya, di sana tertera nama from: Riri to: suster Bernadeth. Nama Riri adalah nama kecil seseorang yang akhirnya bisa di ingat Anastasia. Dan nama yang ada ingatan Anastasia itu, mulai membuat bibir Anastasia tersenyum sendu.


Anastasia mulai membuka amplop-amplop. Surat pertama, kedua, ketiga dan seterusnya tetap berisi isi hati yang sama. Isi yang hanya selalu menanyakan bagaimana cuaca African, keadaan African, dan yang terpenting adalah, jika isi utaman setiap surat-surat kiraman adalah pertanyaan tentang bagaimana kabar Anastasia.


Banyak pertanyaan di setiap surat seperti bagaimana kehidupan Anastasia? apakah Anastasia bahagia? apakah Anastasia sehat? apakah Anastasia merasa kekurangan sesuatu? Hingga tangan Anastasia membuka surat yang tertera tanggal tidak jauh dari tanggal hari kegugurannya.


Di sana, jelas tertulis jika 'Riri' sangat mengkhawatirkan dan sangat sedih karna takut terjadi sesuatu pada Anastasia. Hanya itu, tidak ada yang lain, bahkan Riri juga tidak pernah menanyakan kenapa dirinya bisa keguguran, atau bahkan hanya ingin sekedar menanyakan tentang berapa usia kadungannya. Yang artinya, jika setiap surat itu hanya tertuju tentang Anastasia, isi surat hanya selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan hidup Anastasia.


Isakan kecil Anastasia mulai terdengar saat surat mengabarkan bagaimana kabar Ferdinand. Bagaimana kabar mengenaskan Ferdinand saat dirinya sudah meninggalkan Francia selama beberapa bulan. Dan yang samakin membuat isakan Anastasia menguat adalah, jika Riri mengatakan, bahwa Riri sangat menyesal karna sudah menjadi seorang ibu yang gagal mendidik putranya dan seorang ibu yang gagal menjaga putrinya, menantunya, Anastasia.


"Ohh Your Majesty..."


Anastasia berguman di sela-sela isakannya, dengan kedua mata yang terus meneteskan air mata hingga tinta di surat-surat memudar karna cairan bening yang terus mengalir deras dari kedua matanya.


"Anda jangan seperti ini, anda tidak salah apapun. Aku yang salah. Maafkan aku"


Tangan Anastasia berhenti pada surat ke enam belas, tangannya langsung memeluk surat sambil terisak kuat dengan kedua mata terpejam kuat. Surat yang berisi tentang, ucapan selamat ulang tahun untuk Anastasia, surat yang mengatakan jika Riri sangat merindukan dan jika mungkin, Riri sangat ingin memeluk Anastasia untuk mengucapkan selamat hari lahir. Bahkan Riri berharap jika dirinya bisa membuat perayaan ulang tahun yang meriah untuk menantu tersayangnya, Anastasia.


Semua isi hati Riri benar-benar membuat tangis Anastasia meledak. Ternyata selama ini Anastasia sudah salah besar, sangat salah karna meninggalkan orang tua yang selalu merindukan dan memperhatikannya. Anastasia terlalu egois pada perasaannya sendiri hingga melupakan jika mungkin saja ada orang lain yang terus merasa bersalah dan gagal, sama seperti dirinya, atau mungkin jauh lebih merasa lebih kecewa pada dirinya sendiri. Kepergiannya yang ternyata menyayat hati seorang ibu karna merasa gagal menjalankan perannya untuk menjaga menantunya.


Tangan Anastasia mulai memasukkan kembali semua surat ke dalam kotak. Dengan cepat Anastasia menyimpan kembali surat-surat dengan rapih dan langsung beranjak menuju pintu.


Dengan kedua mata yang masih berderai air mata, Anastasia langsung berlarian mencari seseorang. Langkahnya segera menuju ke tenda Ferdinand, di mana di sana, Francecsa sedang duduk diam sendirian sambil membersihkan pedangnya


"Frances"


Gerakan tangan Francesca terhenti, kepalanya terangkat untuk melihat arah suara. Tapi, belum sempat Francesca bisa melihat dengan jelas wajah Anastasia, pelukan kuat langsung menabraknya


"Aku minta maaf Frances. Aku minta maaf Frans"


Anastasia terisak kuat sambil memeluk Francesca yang hanya diam dalam bingung. Tapi Francesca dengan hangat tetap membalas pelukakkan sedih Anastasia.


"Aku salah Frans, aku menyakiti His Majesty, terlebih Her majesty. Aku pikir selama ini hanya akulah yang sangat menderita"


Dalam diam, Francesca terus mengusapi punggung Anastasia. Dirinya yang masih bingung, sekarang sedikit banyak sudah bisa mengerti arti tangisan Anastasia. Meski Francesca tidak tahu kenapa Anastasia bisa menjadi seperti itu.


Bibir Francesca tertarik tipis saat melihat Ferdinand bersama Solar yang seperti baru saja akan masuk kedalam tenda, tapi langsung menghentikan langkah mereka saat mendengar isakan Anastasia.


Alis Ferdinand mengerut dalam sambil menatap Francesca dengan bertanya 'Kenapa?'. Francesca yang di beri pertanyaa tidak kasat mata itu, hanya menjawabnya 'Entahlah' dari tatapannya.


\=\=\=💚💚💚💚

__ADS_1


Silahkan jejaknyaa....


__ADS_2