Mengejar Cinta Dr. Hana

Mengejar Cinta Dr. Hana
2. Alasan melindungi


__ADS_3

Semua yang berada di ruang aula itu hanya bisa diam. Menyaksikan betapa beraninya anak koas atau calon dokter muda itu bersitegang dengan Dion yang jabatannya adalah sebagai kepala rumah sakit Husada.


"Kamu tahu sekarang jam berapa? Punya jam, kan?" tanya dion dingin dan ketus. Pemuda itu tidak gentar sedikit pun. bahkan jika dilihat wajahnya juga sama tegangnya seperti Dion saat ini.


"Apa ada hubuganya punya jam dan kedatangan saya?" salaknya ketus, "saya tahu kalau jam operasional di rumah sakit ini tepat jam delapan pagi."


"Dan sekarang pun masih kurang lima menit. Jadi saya pikir itu hanya aturan yang anda ciptakan sendiri," sambungnya.


Tidak hanya dion yang urat di wajahnya terpampang nyata karena emosi mendengar pemuda itu yang terus menyalak. Hana yang berdiri di baris terdepan justru terganggu dengan sesuatu di dalam hidungnya. Ada sesuatu yang ingin keluar rasanya.


"Kau! KELUAR dan ..."


HACIM


"Alhamdulillah," bisik Hana setelah bersin.


Hana mengangkat wajahnya dan melihat semua orang menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti. Hana pun tahu kesalahannya dan hanya menunduk malu.


"Menyebalkan."


Mendengar kalimat itu, Hana pun mendongak dan melihat ke arah pemuda yang tadi di marahi. tidak memiliki takut sama sekali pemuda itu berjalan dengan santainya kembali keluar.


Semua pasang mata melihat ke arahnya berjalan. semua yang sudah senior di rumah sakit ini memiliki firasat buruk saat melihat raut wajah Dion yang masih menegang tanpa sepatah kata.


"Malam ini tidak ada yang boleh pulang!"


Damn!


Helaan napas panjang terdengar bersamaan begitu perintah itu keluar dari mulut Dion. Semua menjadi lebih parah saat dion melangkah keluar dari ruangan. karena semua yang ada di sana serentak mengeluh.


"Gimana nih? Padahal nanti malam ada acara sama pacar."


"Iya, aku juga sudah janji sama anakku mau ke pasar malam.''


"Malam ini juga hari ulang tahunnya mamaku."


Sebenarnya masih banyak keluhan yang lain. Tidak hanya itu hana pun ikut bergumam dalam hatinya. Meski begitu Hana hanya bisa mengucapkan istighfar di dalam hatinya.


Tidak ada yang bisa melawan saat perintah sudah Dion turunkan. Semua bubar dan mulai menjalankan kembali aktivitas serta tugas mereka masing masing. Tidak terkecuali juga dnegan hana.


**


Sebelah tangan, Hana ketukkan di atas meja dengan satu tangan lagi dia angkat dan menggigit kecil kukunya. Hana gelisah karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan satu jam lagi adalah waktunya pulang.


Di depannya tergeletak ponsel yang hanya hana diamkan tanpa menyentuhnya. tetapi yang sebenarnya adalah wanita itu tengah berdiskusi dengan pikirannya. Dia teringat dengan ucapan Arya tadi pagi yang akan menjemputnya. Dia jelas ingat betul perintah dari Dion juga yang melarang semua dokter dan staff agar tidak pulang malam ini.


"Gimana, ya? Kasih tahu mas arya atau enggak, ya? Kalau dia marah gimana?" gumam Hana.


Drttt drttt


Mendengar getaran, Hana melihat ke arah ponselnya berada. Matanya melotot melihat nama suaminya terpampang di layar yang menyala tanpa nada dering di hadapannya. Dengan ragu Hana mengangkat ponselnya dan menggeser tombol hijau.


Benda itu beralih ke telinganya dan terdengar suara merdu Arya yang mengucapkan salam di seberang sana.


"Assalamualaikum, Han."

__ADS_1


"Wa'allaikumsalam, Mas," jawab Hana halus.


"Mas ke rumah sakit sekarang, ya? Kamu tidak ada jadwal lagi, kan?"


Pertanyaan ini yang Hana tidak tahu harus bagaimana mengatakan jawabannya. Hana terdiam dengan gelisah menggigit kukunya. Dia ingin sekali bicara pada Arya kalau dia tidak bisa pulang tetapi rasa tidak enak menyeruak dan membungkam mulutnya.


"Kenapa, diam? Kamu dapat giliran jaga lagi?"


"Mas, maaf. Sebenarnya ...."


Hana menceritakan apa yang terjadi pada Arya karena suaminya sudah lebih dulu menebak jika dirinya tidak bisa pulang lebih awal. Meski tidak mendengar Arya marah tapi Hana jelas tahu kalau suaminya sangat kecewa padanya.


"Hana minta maaf, ya, mas."


"Sudahlah, ini bukan salah kamu. Kalau begitu, mas langsung pulang saja."


"Mas tutup dulu, ya. Mas pulang sekarang," pamit Arya.


"Iya, mas. Maaf sekali lagi, assalamualaikum."


"Wa'allaikumsalam."


Tut


Helaan napas Hana keluarkan begitu panggilan suara yang dia lakukan dengan suaminya berakhir. Tidak bersemangat, begitulah yang Hana alami saat ini.


"Han, ke kantin yuk!" ajak Mawar. Teman Hana yang satu itu seakan tahu kalau Hana saat ini butuh dukungan nutrisi untuk membuat tubuhnya kembali semangat.


"Berangkat," timpal Hana dengan beranjak dari tempatnya duduk.


Byurr


Saat sedang asik berbincang dengan temannya, Hana dikejutkan dan sontak menghentikan langkahnya. Karena berjalan paling di ujung Hana bersenggolan dengan seseorang hingga orang itu menumpahkan minumannya. Semua teman Hana yang berjalan di sebelahnya melihat baju yang Hana kenakan sudah basah kuyup.


"Maaf," kata orang itu.


"Kamu enggak punya mata, ya! Enggak lihat sekarang baju Dr. Hana sudah basah kuyup seperti ini!" Mawar melihat ke arah baju Hana dengan terus marah.


"Oh, kamu yang tadi, kan? Sudah bikin kita enggak bisa pulang sekarang bikin kacau. Kayaknya memang kamu enggak punya mata!"


"Mawar, sudah," lerai Hana. "Aku enggak apa-apa kok. Ini cuma air."


"Tapi, Han. Ini anak baru ngeselin tahu, enggak!"


"Sudah aku enggak apa-apa," kata Hana tidak ingin membuat kekacauan lagi.


Mawar pun tidak melanjutkan lagi amarah yang menyala dalam dirinya dan memendamnya saja karena perintah Hana. Namun, tatapan nyalangnya tetap mengintimidasi pemuda itu sampai mengulitinya. Sayangnya yang ditatap seolah tidak memiliki respon dan hanya diam seolah tidak bersalah.


Bahkan dengan tidak bertanggungjawab sama sekali, pemuda itu berjalan melewati Hana dan Mawar. Meninggalkan mereka yang terlihat semakin kesal karena tingkah dan sikap pemuda itu yang tidak memiliki rasa hormat. Mawar sudah mengepalkan tangannya dan mau mengejar pemuda itu untuk memberinya tinjuannya. Tetapi lagi-lagi gerakannya dihentikan oleh Hana yang melarangnya.


"Kalian makan duluan saja, aku mau bersihin ini ke toilet."


"Mau aku temenin enggak?" tawar Mawar yang dibalas gelengan oleh Hana.


"Enggak perlu, kamu makan saja. Nanti aku nyusul kalau sudah selesai," jawab Hana.

__ADS_1


Hana pun menarik diri, kemudian berjalan ke arah toilet untuk membersihkan bajunya. Kemeja putih yang dia kenakan sudah berubah menjadi coklat karena minuman pemuda tadi. Di depan cermin di toilet Hana melihat pantulan dirinya yang berantakan.


"Masyaallah, bajuku jadi begini," keluhnya.


Tidak ingin terus mengeluh, Hana melepaskan kemejanya dan membasuhnya. Hingga dia hanya mengenakan bra hitam yang melekat di tubuhnya. Setelah mencuci dan memerasnya, Hana memakainya lagi dengan keadaan basah.


Dengan menarik napas berat, Hana keluar dari kamar mandi. Dan lagi lagi dia dibuat terkejut oleh orang yang sama. Pemuda tadi berdiri di depan toilet dengan tatapan anehnya.


"Astaghfirullah," lirih Hana dengan mengusap dadanya.


Hana melihat wajah pemuda tadi yang menatapnya dengan tatapan yang aneh. Hana memperhatikan lebih jelas lagi lebih tepatnya pada jakun di lehernya yang bergerak naik-turun. Dan Hana melihat tubuhnya sendiri hingga sadar bahwa bajunya tembus pandang.


"Jangan keterlaluan kamu, ya! Lihat lihat sembarangan," gerutu Hana dengan menutupi dadanya menggunakan tangannya. Seolah sadar pemuda itu pun mengalihkan pandangannya.


"Saya tidak keterlaluan," bantahnya. "Kakak sendiri yang mengenakan baju basah."


"Ini semua karena kamu, ya! Jangan ngeles kamu!"


"Iya, iya. Nih! Baju ganti," balas pemuda itu dengan menyerahkan sebuah kemeja pada Hana.


Dengan ragu, Hana mengambil baju yang diberikan. Hana menoleh ke arah pemuda tadi yang sudah bergerak menjauh tanpa melihat ke arah Hana. Baju di tangan Hana itu dilihatnya dan dengan segera Hana pun masuk kembali ke dalam toilet.


Tidak lama setelah berganti pakaian, Hana kembali lagi ke kantin. Hana mendekat ke arah temannya yang ternyata di sana ada Dion. Hana memperlambat langkahnya sampai Mawar menawarkan dia untuk duduk di sebelahnya tepat di hadapan Dion.


"Kenapa ada Pak Dion di sini?" bisik Hana berbisik pada Mawar.


"Enggak tahu," balas Mawar dengan berbisik juga.


"Kenapa sih, war!" Hana terkejut bukan main karena bajunya ditarik oleh Mawar. Tidak hanya Hana tetapi semua yang ada di meja itu juga menoleh mendengar suara Hana yang keras.


"Aji," gumam Mawar dengan membaca nama yang tertera di baju yang dikenakan Hana. Mendengar itu Hana juga ikut melihatnya. Matanya langsung membulat saat melihat nama yang terukir di sana.


Semua menatap Hana dengan tatapan yang penuh kecurigaan. Saliva Hana ia telan dengan susah payah karena tatapan semua yang tertuju padanya. Seharusnya dia tadi memeriksanya sebelum memakainya. Bolehkah Hana menyesal sekarang?


"Ini baju bocah tengil tadi?" tanya Mawar. Hana menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan mengangguk pelan.


"Dia ganggu kamu?" tanya Dion. Yang segera dibalas Hana dengan melambaikan tangannya, membantah, "tidak, Pak."


"Lalu, kenapa kamu mengenakan pakaiannya?"


"Tadi kebetulan aja dia lihat bajuku kena tumpahan minuman, Pak. Jadi dia minjemin bajunya," kilah Hana.


Dion menatap Hana mencari adakah kebohongan di sana. Tetapi Hana menyikapi dengan tenang bahkan di bawah meja tangannya mencubit kaki Mawar. Saat Dion melihat ke arah Mawar, gadis itu tersenyum saja mengikuti permainan Hana.


Padahal Mawar kesal setengah mati saat nama Aji itu disebut juga dilindungi oleh Hana. Sedangkan Hana sendiri memilih mengalah dan melindungi Aji agar tidak ada masalah lagi yang berdampak pada teman-temannya karena emosi Dion yang labil.


"Ya, sudah kalau begitu. Kalian makanlah, setelah itu kalian boleh pulang." Dion berdiri dari duduknya.


"Yeyyyy!" Semua bersorak kegirangan.


"Pengecualian untuk Hana," imbuhnya membuat senyum Hana luntur. "Karena Dokter Fardhan sedang cuti jadi untuk Dokter Hana mulai malam ini sampai dua bulan kedepan yang akan menggantikannya jaga malam."


Tidak menunggu jawaban Hana, Dion melenggang pergi begitu saja. Sedangkan Hana membatu di tempatnya karena keputusan sepihak. Tubuhnya lemas tetapi di pikirannya yang terlintas hanya Arya, suaminya.


Dia berharap sisa malamnya bisa dia habiskan bersama dengan Arya. Dengan mencoba memperintens hubungan di antara keduanya agar apa yang diharapkan segera diberikan oleh Allah. Tetapi mendengar penuturan Dion tadi, sepertinya dia harus menunggu cukup lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2