
Duar
Tabrakan beruntun
"Unit gawat darurat rumah sakit Baharu. Dengan suster Susi di sini," kata seorang suster penjaga tengah berbicara dengan seseorang di sambungan telepon.
"Baik, kami akan bersiap!"
Begitu panggilan terputus, semua yang berjaga di UGD malam ini menatap ke arah suster tadi. Seolah paham tanpa suster itu katakan, semua orang mengerti dan mengambil posisi mereka masing-masing.
"Di mana dokter Hana?" tanya suster tadi pada seorang perawat lain.
"Dokter Hana sedang sidak pasien, suster Susi." Perawat tadi menjawab sambil melewati suster Susi dengan membawa nampan berisi beberapa peralatan medisnya.
"Terimakasih perawat Anita," ucapnya dengan buru-buru menghubungi seseorang.
Cukup lama menunggu panggilan terjawab, suster Susi menatap seluruh ruangan dengan gelisah. Bagaimana tidak di sana hanya ada dua dokter jaga dan tiga perawat. Sedangkan dia mendapatkan panggilan dan informasi bahwa ada empat korban kecelakaan yang akan dibawa ke sana.
"Hallo dokter Hana," katanya begitu suara dokter yang dimaksud menyapa telinganya. "Segera kembali ke UGD karena kita akan kedatangan empat korban kecelakaan!"
Tatapan horor suster Susi dapat dari rekan-rekannya. Mendengar ucapan suster Susi membuat mereka kalang kabut. Semuanya bergerak cepat mempersiapkan tempat dan keperluan yang dibutuhkan.
Sampai pintu UGD dibuka lebar, semua yang berjaga di sana menuju ke arah pasien yang baru diturunkan dari ambulance. Semua perawat dan dokter yang berjaga menghampiri pasien yang didorong masuk ke dalam UGD. Ada empat pasien dengan luka yang sangat parah.
**
Ceklek
"Baru pulang, Han?"
Hana yang baru saja menutup pintu dikejutkan dengan suara Aminah, ibu mertuanya. Hana tidak tahu jika Aminah datang dan Arya juga tidak memberitahunya jika Aminah akan datang. Sebagai menantu yang baik Hana mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Aminah.
"Iya, ma. Tadi nunggu teman yang gantiin shift sedikit terlambat," jawab Hana. "Mama kapan datang?"
"Sedikit gimana sih, Han. Sudah jam satu pagi ini loh," timpal Aminah dengan nada yang tidak begitu senang.
"Enggak apa-apa, ma. Sudah biasa juga soalnya jadi dokter memang harus seperti ini. Pasiennya juga suka datang tiba-tiba."
"Ya, jangan jadi kebiasaan. Kamu enggak kasian sama Arya tidur sendirian terus." Aminah melenggang pergi kembali ke dalam kamarnya. "Pantas sampai sekarang belum punya anak."
__ADS_1
Hana jelas tidak tuli, suara Aminah membuat denyut jantungnya seakan terhenti. Matanya panas dan berkaca-kaca siap menurunkan air. Tetapi menagis bukan pilihan yang tepat sekarang, Hana dengan kasar mengusap dadanya dengan terus bergumam menguatkan hatinya sendiri.
Hana pun segera pergi ke kamarnya sendiri dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Begitu sampai di kamar Hana meletakkan jas kerjanya dan bergerak ke atas ranjang. Menghampiri sosok yang sudah terlelap di bawah selimut lalu memeluknya.
"Mas, mama kapan datang? Mas kok tidak bilang sama Hana?" tanya Hana lirih.
"Mas kan sudah bilang mau jemput tadi pagi tapi kamu enggak bisa. Ya sudah mas jemput mama sendiri tadi sore," jawab Arya dengan suaranya yang serak.
"Maaf ya, mas. Hana beneran enggak tahu kalau mama datang," sesal Hana dengan memeluk tubuh Arya dari belakang.
"Memangnya kalau mas bilang kamu bakal ninggalin giliran kamu jaga?" ketus Arya. Hana sedikit tersentak mendengar ucapan Arya yang dingin dan menyudutkannya.
"Sudahlah, Han? Ganggu aja," lirih Arya yang membuat Hana lebih tersentak. Pria itu menggulung selimut semakin menutup tubuhnya.
Air mata yang sudah dia bendung turun tanpa ampun. Kehadirannya ternyata begitu mengganggu bagi suaminya sendiri. Baru kali ini Hana merasakan perbedaan pada suaminya. Terlebih saat dirinya pulang larut malam karena giliran jaga.
Kalau dulu Arya selalu menunggu dirinya pulang dan menghabiskan waktu setidaknya untuk mencoba mendapatkan hasil dari hubungan mereka. Sekarang jelas sekali berbeda, seperti sekarang saat dirinya pulang Arya sudah tertidur.
Dengan rasa sakit Hana hanya bisa mengusap air matanya. Berulang kali diusap liquid bening itu terus menetes mengiringi perjalanannya ke alam mimpi.
Esok paginya, Hana terbangun tepat pukul lima pagi. Dia segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat. Hana melirik Arya yang masih terlelap dan tidak membangunkannya. Hana ingat jelas, semalam kata-kata Arya begitu menusuknya dan Hana pun takut saat akan membangunkan suaminya itu justru kemarahan yang dia dapat.
Sampai selesai sholat, Hana baru memberanikan diri membangunkan Arya. Hana mendekat dan duduk di tepi ranjang dekat suaminya tidur. Mengusap pelan rambut Arya dan memandang wajahnya.
"Nanti, Han. Masih ngantuk aku!"
"Tapi ini sudah pagi, mas. Nanti sudah tidak ada waktu sholat subuh loh mas."
"Kamu tuh cerewet banget, ya!" bentak Arya dengan posisi bangun yang membuat Asmara sangat terkejut. "Awas minggir!"
Hana menarik bokongnya memberikan akses pada Arya untuk turun dari atas ranjang. Bukan tidak sakit, Hana sangat sakit hati mendengar kata-kata Arya. Lima tahun rumah tangganya dan baru kali ini dia mendengar Arya meninggikan suaranya.
Dengan gemetar Hana mengurut dadanya sambil melihat Arya yang masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu. Tetapi sebagai seorang istri, Hana tidak ingin semakin salah. Dengan menahan rasa sakit hatinya dia bergerak mengambil baju ganti dan menyiapkannya untuk Arya.
Setelah menyiapkan baju, Hana pergi ke luar kamar. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk Arya. Tetapi sampai di dapur Hana melihat Aminah sedang berkutat dengan penggorengan.
"Jadi perempuan jam segini kok baru bangun!" sinis Aminah begitu Hana tiba di sana.
"Maaf, ma. Hana kesiangan terus tadi langsung sholat."
__ADS_1
"Alasan aja kamu, Han. Pantas kalau Tuhan enggak percaya sama kamu buat kasih keturunan. Takutnya nanti malah enggak keurus."
"Ya, Allah, ma. Kok mama bisa mikir begitu?"
"Jelas, kan? Kamu tiap hari pulang malam bangun kesiangan nelantarin suami sendiri!"
"Hana kan jatah jaga, ma. Biasanya kalau enggak jaga juga pulangnya enggak terlalu malam," bela Hana.
Bukannya terima dengan pembelaan menantunya, Aminah justru terlihat sinis. Menuangkan makanan yang dia buat ke dalam wadah dan melewati Hana begitu saja. Hana yang diperlakukan seperti itu merasa sangat terluka. Kedua matanya seakan tak kuasa menahan bendungan air mata yang mendesak keluar.
"Arya, kamu sudah siap?" tanya Aminah yang melihat putranya keluar dari dalam kamar. Hana yang mendengar Aminah menyebut suaminya pun menoleh dan mendapati Arya yang menggulung lengan kemejanya mendekat ke arah meja makan.
"Iya, ma. Ada kelas pagi dan pertemuan para dosen jadi Arya harus berangkat pagi," jawab Arya dengan singkat lalu duduk.
"Mas, mau aku bikinin kopi atau teh?" tanya Hana.
"Enggak perlu nanti saya beli saja. Kamu ngapain jam segini masih di rumah? Bukannya kamu sibuk banget, ya?"
Jleb
Ucapan Arya begitu sangat menusuk ke dalam hati Hana. Berkali-kali dia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Arya. Hana heran kenapa suaminya bisa berubah seperti ini dan menyalahkan dirinya.
"Mas, kamu kok ngomong gitu? Bukannya kita sudah sepakat, ya sebelum menikah?"
"Kamu tidak keberatan jika aku memang bekerja apalagi ini cita cita Hana, mas."
"Iya, itu dulu, Han. Kamu sudah jadi dokter dua tahun ini, apa kamu enggak bisa berhenti dari kerjaan kamu dan mikirin tentang rumah tangga kita?"
"Mas, kamu kok berubah begini? Apa salahnya sih aku kerja?"
"Hana! Hana! Jadi istri kok melawan terus sama suami," timpal Aminah yang ikut menyaut.
Hana seketika diam begitu juga dengan Arya. Dengan tidak peduli Arya justru menyantap makanannya dan tidak peduli pada perasaan Hana yang mengharapkan perhatian darinya sedikit untuk menghadapi Aminah.
"Arya itu mampu menghidupi kamu, Han. Apa salahnya sih menurut sama Arya dan berdiam diri di rumah. Siapa tahu dengan begitu Tuhan bisa kasih kalian kepercayaan. Mama pingin banget gendong cucu," imbuhnya.
"Hana juga mau, ma. Tapi pekerjaan yang Hana ambil ini bukan karena Hana tidak percaya pada kemampuan mas Arya tetapi sudah sejak awal memang keputusan Hana ya bekerja dan menjadi seorang istri," jelas Hana dengan lembut.
"Sudahlah, ma. Tidak perlu dibahas lagi," sela Arya membuat Aminah menghela napasnya pasrah. "Arya berangkat dulu."
__ADS_1
"Mas, enggak bawa bekal?" tanya Hana.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya Arya malah melenggang pergi begitu saja. Hana kembali menelan kekecewaan dari sikap Arya padanya. Apalagi melihat Aminah dengan ketus menatap padanya membuat Hana hanya bisa menahan rasa sakitnya sendiri.