Mengejar Cinta Dr. Hana

Mengejar Cinta Dr. Hana
4. Hubungan gelap


__ADS_3

"kenapa wajahmu berubah begitu, Ar?" tanya Aminah.


Arya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Menyimpan kembali ponselnya lalu menatap ke arah depan dengan tangan yang memegang stir.


"Kamu jangan bohong sama mama, Ar! Hana sering giniin kamu?" tuntut Aminah pada putranya. Sedangkan Arya hanya diam dan memendamnya.


"Jangan dipendam, Ar! Kamu itu laki-laki!" bentak Aminah.


"Kamu kepala rumah tangga, Ar. Kalau istri kamu terus terusan berada di luar dan tidak punya waktu untuk kamu, kapan kalian punya momongan?"


"Ingat, Ar! Perempuan itu harusnya di rumah dan melayani suaminya. Bukannya bekerja sampai lupa waktu dan mengabaikan kewajibannya."


"Ma, sudahlah!"


Aminah heran dengan putranya. Perasaan dulu Arya selalu menerima masukan darinya. Tetapi sekarang dia memilih mengalah dan terlalu patuh pada istrinya.


Arya teringat akan ucapan Aminah kemarin padanya. Di dalam mobil yang dia kendarai, Arya menghela napas berat. Ia memang mencintai Hana dan tidak keberatan jika istrinya itu harus bekerja. Namun, mendengar ucapan Aminah tiba-tiba saja membuat dirinya merasa apa yang dilakukan Hana tidaklah benar.


Omongan Aminah berputar di dalam benaknya. Hingga tanpa sadar ia sudah berkata kasar pada Hana. Di tambah lagi keinginan mereka untuk memiliki momongan belum mendapatkan hasil. Itu membuat Arya semakin terperangkap dalam ucapan Aminah.


Sesampainya di tempatnya mengajar, Arya menenteng buku dan berjalan ke ruangannya. Tepat di depan pintu menuju ke ruangannya, Arya berhenti. Matanya menangkap sosok gadis dengan rambut lurus tergerai sedang berdiri di dekat pintu. Gadis itu sadar dengan kehadiran Arya yang membuat keduanya saling menatap.


"Pak Arya," panggil Susan gugup. Arya mendekat dan melihat raut wajah Susan yang gelisah. Tidak menanggapi, Arya membuka pintu.


"Masuklah!" kata Arya mempersilahkan Susan masuk.


Susan menurut, berjalan pelan masuk ke dalam ruangan Arya. Begitu Susan sudah berada di dalam, Arya menutup pintu lalu menguncinya dari dalam. Susan menoleh dan mendapati Arya yang sudah berada dekat dengannya.


"Ada apa menungguku?" tanya Arya dengan memegang pundak Susan. Tidak hanya itu tangan kanannya juga menyibak anak rambut milik gadis itu dan menyelipkannya ke sela telinga.


Susan menatap mata Arya dalam juga sedikit takut lalu menghela napas. Dia merogoh ke dalam tasnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebelum memberikannya pada Arya benda itu dia kepal kuat kuat.


"Susan hamil, Pak." Susan menyodorkan tes kehamilan ke hadapan Arya.

__ADS_1


Wajah Arya yang semula menatap Susan pun ia alihkan dan menunduk. Menatap benda kecil bergaris merah dua yang diulurkan Susan. Tangannya tergerak mengambil benda itu.


"Kalau Pak Arya tidak bisa bertanggungjawab, Susan akan gugurkan sebelum kandungan Susan besar," imbuhnya.


"Siapa saja yang tahu masalah ini?" tanyanya dengan tetap fokus melihat benda bergaris itu.


"Tidak ada, hanya kita saja," jawab Susan.


Arya menyimpan benda itu lalu mengalihkan pandangannya menatap Susan. Wajah Susan sudah terlihat berkabut juga takut. Arya menariknya lalu memeluknya dan juga menenangkannya.


"Terimakasih, Susan. Aku tidak menyangka aku akan mendapatkan hadiah ini darimu." Susan menangis di pelukan Arya mendengar ucapannya.


"Jangan sesekali berpikir menggugurkannya. Aku akan bertanggungjawab dan membahagiakan kalian."


"Tapi ... bagaimana dengan istri Pak Arya?" tanya Susan lirih.


Arya melepaskan pelukannya dan sedikit terdiam. Menatap wajah Susan dan terlihat kekhawatiran di sana. Arya mengambil kedua tangan Susan dan membawanya ke depan dadanya.


"Aku akan bicara padanya, kamu tidak perlu khawatir, ya. Sekarang yang terpenting kamu harus jaga kesehatan bayi kita," ucap Arya dengan mengusap usap telapak tangan Susan lembut.


Hubungan gelap yang dia jalani dengan Susan selama beberapa bulan ini membuahkan hasil. Susan yang menjadi anak didiknya dapat mewujudkan harapannya. Saat ini Arya tersenyum senang juga haru bertolak belakang dengan apa yang Hana rasakan di rumah sakit saat ini.


Hana menangis di pelukan Mawar. Menumpahkan rasa sedihnya yang teramat karena mengingat perlakuan dari Arya.


"Sudahlah, Han. Kamu enggak salah kok. Pekerjaan ini kamu dapatkan dengan susah payah jangan hanya karena ucapan Arya kamu jadi berpikir untuk melepaskan impian yang sudah kamu bangun sejak lama," tutur Mawar.


"Tetapi mas Arya menyalahkan aku, War. Aku tidak menyangka jika mas Arya akan berkata sekasar itu padaku," keluh Hana.


"Arya mungkin sedang kesal saja, Han. Sudah, ya. Jangan menangis lagi kalau kamu nangis terus bagaimana nasib pasienmu?" kata Mawar.


Mendengar itu Hana menarik tubuhnya dari Mawar. Benar, dia adalah dokter dan pekerjaannya di rumah sakit ini untuk mengobati pasien. Menagis seperti ini tidak akan menyelesaikan masalahnya.


"Kamu benar, War. Aku harus mengunjungi pasienku dan memberi mereka obat," ucap Hana dengan mengusap air matanya lalu bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku pergi dulu, ya War."

__ADS_1


Ceklek


Saat Hana hendak keluar dari ruangan istirahat itu dia berpapasan dengan Aji. Hana mengalihkan pandangannya saat matanya bersitatap dengan Aji dan melewatinya. Aji sendiri masuk ke dalam ruangan itu yang di sana masih ada Mawar.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan Arya," gumam Mawar. Mawar melirik Aji yang mungkin saja mendengar ucapannya.


"Lihat apa kamu?" tanya Mawar dengan sinis.


"Tidak ada," jawabnya.


"Lalu, buat apa kamu kemari? Ini bukan tempatmu!"


"Sudah tahu," balas Aji lebih dingin, "cuma mau ambil jas Dokter firman."


Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Aji keluar lagi dari sana. Menyisakan Mawar yang menatapnya dengan geram. Sementara di luar, Aji berjalan dengan pikirannya yang beberapa saat lalu melihat wajah Hana yang sembab. Ditambah lagi dia juga dengan apa yang dikatakan Mawar.


"Lama banget sih, Ji. Kamu ngambilnya ke planet mana?"


"Berisik, nih!" Aji menyerahkan jas yang tadi dia ambil kepada fajar. "Lain kali kalau bisa jangan nyuruh orang lain."


"Sensi amat. Tadi ketemu senior galak ya, di sana?"


Aji tidak menanggapi dan terus berjalan dengan fajar di dekatnya. Rasa penasaran muncul di hatinya. Aji tanpa sadar menghentikan langkahnya membuat fajar menabraknya dari belakang.


"Ngapain berhenti sih, Ji!" Fajar mengusap kepalanya yang membentur tubuh Aji.


"Kamu tahu dokter Hana?" tanya Aji yang sudah keluar dari topik.


"Dokter Hana? Tahulah. Kenapa?" timpal fajar.


"Arya itu siapanya?" tanya Aji penasaran juga takut.


"Arya? Enggak pernah dengar. Suaminya mungkin," terka fajar dengan menggedikkan bahunya.

__ADS_1


Aji terdiam di tempatnya, sementara fajar sudah berjalan kembali. Aji tahu dia hanya penasaran tetapi mendengar jawaban fajar membuat sesuatu dalam dirinya tidak terkendali. Rasanya sesak saat tahu jika dokter Hana sudah menikah.


"Ngapain bengong, Ji. Ayo! Ditunggu dokter firman kita nanti kalau telat nilainya dikurangi loh."


__ADS_2