
Pagi yang cerah, membuat Tania bersemangat untuk melakukan kegiatannya hari ini. Dengan penampilan yang selalu modis, Tania terlihat cantik dan anggun setiap harinya. Ia bergegas turun dari apartemen dan menemui Arga. Pria yang beberapa hari menghilang tanpa kabar. Sedari lima menit yang lalu Arga sudah menunggu di bawah. Tania melambaikan tangan kearah Arga setelah menemukan sosok pria yang tak asing baginya di balik mobil yang terparkir di pinggir jalan.
"Hem ... sepertinya ada yang rindu!" celetuk Arga tiba-tiba dengan penuh percaya diri.
"Siapa?" tanya Tania pura-pura tidak merasa. Hal itu membuat Arga hanya tersenyum kecut.
Setelah memasuki mobil, keduanya segera pergi meninggalkan apartemen Tania.
"Sorry, kemarin aku nggak ngabarin kamu. Sebenarnya pengen ngabarin, sih! Cuma ... aku pikir sekalian aja pengen tahu reaksi kamu." Arga to the point dengan perkataannya sambil fokus menyetir.
Tania memanyunkan bibir mendengar pernyataan Arga yang cukup mengejutkan baginya.
"Oh ... jadi acara menghilang kemarin cuma akal-akalan kamu saja karena pengen ngetes aku doang nih, ceritanya?" ujar Tania kesal.
"Ya gimana ya? Sebenarnya enggak juga, emang lagi sibuk beneran kok. Cuma aku pikir apa salahnya godain kamu biar mikirin aku. Eh ternyata mikirin juga, khawatir juga. Seneng deh jadinya!" seru Arga yang jauh lebih pede dengan perasaan yang dia punya.
"Dasar nyebelin ...!!" ucap Tania seraya mencubit lengan Arga. Sementara Arga malah ketawa lepas.
Hari ini keduanya memang akan melakukan meeting dengan beberapa vendor untuk launching produk mereka dan memikirkan strategi pemasarannya. Setelah tiba di kantor Arga, mereka langsung menuju ruang kerja Arga di lantai tiga. Semua karyawan di kantor melihat keduanya. Bukan karena hal ini pertama buat Arga mengajak Tania ke kantornya, tapi Arga menggandeng tangan Tania dengan erat. Seolah tak ingin membiarkan gadis cantik dan anggun itu lepas dari genggaman tangannya. Pemandangan itu mampu membuat semua karyawan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Sesampainya di ruang kerja Arga yang cukup besar dengan nuansa modern klasik, Tania duduk di sofa panjang. Sementara Arga tanpa basa basi mengeluarkan bunga dan cokelat dari dalam laci meja kerja.
__ADS_1
"Nih, untuk kamu." ucap Arga penuh perasaan.
Tania kaget melihat Arga tiba-tiba duduk disebelah dan menyodorkan setangkai bunga mawar putih juga cokelat kepadanya.
"Buat aku?" tanya Tania bingung.
"Bukan, buat setan! " jawab Arga santai.
Tania yang melihat ekspresi Arga tak kuasa menahan tawa. Ia tertawa lepas. Meskipun bukan pertama kalinya ia mendapat bunga dari Arga, akan tetapi dirinya tetap selalu senang. Merasa bahwa Arga adalah sosok pria romantis meskipun tidak seromantis itu tutur katanya. Tania mencium bunga mawar itu dan kemudian tiba-tiba memeluk Arga yang kini posisi duduknya membelakanginya. Sontak Arga kaget dibuatnya.
"Thanks," ucap Tania sambil memeluk Arga.
"Makasih karena udah selalu ngasih hadiah," terang Tania masih asyik menciumi bunga mawar yang diberikan Arga beberapa menit lalu.
"Sama-sama, Tania. Sudahlah, jangan terharu seperti itu. Jangan menangis, aku tak ingin semua mengira jika aku sudah berbuat tidak baik kepadamu. Kita mau meeting, takutnya orang berpikir yang tidak-tidak." Arga kembali mengingatkan Tania agar tidak mengeluarkan air mata, pasalnya Arga selalu merasa sakit jika melihat air mata yang menetes dari mata indah gadis itu.
Tania menetralkan perasaannya kembali yang sebelumnya melankolis. Mendengar perkataan Arga ia hanya bisa mengerutkan dahinya. Kini mereka menuju ruang meeting yang terletak di lantai dua.
***
Jadwal meeting dengan beberapa vendor telah usai, Arga mengajak Tania makan siang di kantornya. Karena Tania males makan diluar dan lebih nyaman makan di kantor, untuk itu Arga meminta sekretarisnya memesan makanan untuk mereka berdua.
__ADS_1
Arga mampu membuat Tania nyaman meskipun terkadang kelakuannya juga membuat ia sakit kepala. Meskipun kedekatan mereka masih berjalan selama delapan bulan, Tania merasa bahwa Arga adalah pria baik dan bertanggung jawab. Tania cukup mengenal pribadi Arga yang hangat selama ini. Itu membuat Tania tidak bisa menampik bahwasanya Arga cukup kuat untuk menjadi kandidat pria yang mampu membuatnya jatuh cinta walaupun tidak terlalu yakin.
Tak beberapa lama, sekretaris Arga datang membawa makanan yang dipesannya tadi. Arga tahu semua menu kesukaan gadis yang ia cintai itu. Tak cukup lama mereka menikmati lunch romantis di kantor. Tania sangat senang karena Arga tahu apa yang ia sukai, artinya Tania merasa bahwa Arga benar-benar memperhatikan semua tentang dirinya. Dari hal terkecil sampai yang paling besar sedikit banyak Arga tahu.
Tania tersenyum sambil menikmati makanannya. Arga tidak tahu jika Tania memperhatikan dirinya sedari tadi. Pria yang aneh dan menyebalkan namun sangat perhatian dan penuh kasih. Setelah selesai menghabiskan makan siang, mereka langsung pergi meninggalkan kantor. Tania merasa cukup lelah dan butuh beristirahat di apartemen. Arga mengantarnya pulang.
Arga begitu khawatir jika sampai Tania sakit, untuk itu saat Tania memintanya untuk mengantar pulang, Arga sedikit cemas takut gadis yang dicintainya itu kurang enak badan. Selama perjalanan menuju apartemen Arga selalu bertanya apakah tidak sebaiknya pergi ke dokter untuk periksa, akan tetapi Tania mengatakan jika dirinya baik-baik saja dan dia hanya ingin tidur agar segera pulih kembali.
Sesampainya di depan kamar apartemen Tania, Arga segera pamit karena Rebecca tiba-tiba menelepon dan meminta dirinya untuk segera menemui di kantor kakaknya itu. Padahal Arga ingin sekali menemani Tania karena ia khawatir, tapi lagi-lagi Tania mengatakan jika dirinya bisa menjaga diri. Arga pun pergi meninggalkan Tania meski terpaksa.
Setelah kepergian Arga, Tania merebahkan tubuhnya. Menarik napas panjang dan mengurut dahi dengan tangannya, tak begitu lama Tania tertidur.
Sementara Arga sudah berada di sebuah butik yang bertuliskan nama Kakaknya yaitu 'Rebecca Dreakel Boutique'. Arga segera menemui Rebecca yang sudah berada di ruang kerja. Setelah keduanya bertemu mereka membicarakan hasil meeting dengan vendor tadi, selain itu Rebecca juga menanyakan perihal kedekatan sang adik dengan Tania.
Rebecca selalu mengingatkan Arga untuk tidak main-main dengan Tania. Pasalnya Arga sampai saat ini belum pernah menyatakan keseriusannya dengan Tania walaupun keduanya sudah cukup dekat. Hal itu membuat Rebecca sedikit cemas karena mengetahui tabiat adik kesayangannya itu yang mendapat predikat 'Casanova'. Arga sendiri memang entah kenapa masih tidak berani membicarakan hal serius soal kedekatan mereka. Padahal sebenarnya Rebecca tahu jika Arga begitu menyukai Tania.
"Mau sampai kapan kamu akan menjadi pria bodoh seperti ini?" tanya Rebecca kepada Arga.
"Sampai aku yakin jika Tania juga memiliki perasaan yang sama kepadaku, Kak." jawab Arga dengan santainya.
Mendengar jawaban dari Arga, Rebecca hanya mengangguk setuju.
__ADS_1