Mengulang Rasa

Mengulang Rasa
Bab 17 - Kejutan Untuk Tania


__ADS_3

Keesokan harinya, Tara sudah berada di butik Tania untuk melakukan fitting baju. Sedangkan pegawainya, Fara dan Ningsih yang sedari tadi membantu Tara untuk berganti pakaian dari satu baju ke baju selanjutnya. Tara puas dengan hasil karya Tania beserta pegawai butik yang membuat baju sesuai keinginannya. Tara mengucapkan terimakasih kepada Tania, dan sebagai bentuk rasa puas itu Tara mengajak Tania untuk lunch bersama. Untuk menghormati kebaikan Tara, Tania menyambut dengan senang hati ajakannya. Keduanya lalu pergi meninggalkan butik dan menuju salah satu restoran mewah yang sengaja dipilih Tara.


Setelah tiba di restoran, keduanya duduk dan memesan makanan. Keduanya memesan menu yang sama kepada pelayanan restoran yang beranjak dari mereka setelah mencatat orderan. Kini mereka berbincang dengan santai dan sesekali tertawa. Tania dan Tara terlihat begitu akrab meski baru dua kali bertemu.


"Terima kasih, Tara. Karena kamu sudah traktir aku makan siang," ucap Tania dengan tulus.


"Sudahlah, anggap saja ini sebagai tanda pertemanan yang aku berikan sama kamu," balas Tara santai.


"Seharusnya aku yang traktir kamu, kan kamu udah pesan beberapa baju ke aku," imbuh Tania sambil tersenyum simpul.


"Next time mungkin bisa kali ya kan ... aku senang sekali dengan semua hasil karya yang kami buat, itu benar-benar keren! Makin lama aku jatuh hati untuk pakai karya kamu," terang Tara. Lalu ia kembali melanjutkan perkataannya, "Gimana kalau aku kontrak kamu buat jadi fashion design aku, itupun kalau kamu mau. Masalah harga aku nggak masalah, yang penting kamu setuju. Bagaimana?" tanya Tara penuh harap.


Mendengar pernyataan Tara, Tania berpikir beberapa saat sebelum memberikan jawaban. Tidak lama kemudian Tania berkata, "Beri aku waktu, ya? Kamu tahu sendiri banyak sekali pekerjaanku, dan aku juga masih fokus pada ujian di kampus untuk ambil lulus cepat. Tapi bukan berarti aku nolak kamu, Tara." Tania menata setiap kata yang terucap agar Tara tidak sakit hati.


"Tenang saja, aku suka jawaban kamu. Aku akan tunggu sampai kamu siap!" seru Tara sungguh-sungguh.


Tidak lama setelah itu pelayan datang dengan membawa makanan mereka, kemudian keduanya menikmati makan siang bersama.


***


Hampir tiga jam Tara dan Tania makan siang bersama, kini keduanya berpisah. Tara mengantar Tania ke butiknya lagi, sementara Tara pamit untuk kembali ke hotel karena ada pemotretan lagi untuk malam nanti.

__ADS_1


Tania bergegas kembali mengecek semua pekerjaan dan meminta Fara asistennya untuk membuat list beberapa orderan yang belum selesai.


Satu bulan ini ada puluhan baju dan gaun yang sangat menyita waktu dan perhatiannya sehingga dirinya merasa lelah. Namun Tania tahu ini merupakan rezeki dari Tuhan untuk dia dan semua karyawannya. Setiap karya baru yang ia launching selalu diminati banyak orang, tak ayal tidak sampai satu bulan semua sudah habis terjual. Tania berencana untuk mengembangkan usahanya itu di Jakarta. Membuka butik dan sekolah design ketika kembali ke Jakarta. Semua Tania persiapkan sedari awal, karena dirinya tidak tahu sampai kapan dirinya tinggal di negara orang. Lagi pula dirinya ingin menjadi designer internasional yang terkenal di semua negara.


Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Tania yang sedang asyik menggambar beberapa sketsa gaun di note-nya.


"Masuk!" seru Tania dari dalam.


Pintu terbuka dan terlihat sosok yang begitu amat dikenalnya.


"Papa!" seru Tania kaget dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Tania lalu beranjak dari kursinya dan cepat-cepat memeluk pria paruh baya yang dipanggil papa itu. Herman sendiri tersenyum bahagia melihat putri kesayangannya setelah sekian lama tidak berjumpa. Keduanya lalu berpelukan.


"Hmmm ... jadi sekarang kalau mau ketemu sama anak Papa sendiri harus buat janji?" goda Herman pada putrinya.


"Bukan gitu juga, Pa. Maksudnya Tania itu, setidaknya Tania bisa jemput Papa di bandara, Papa kesini sama siapa? Tante Sarah?" ucap Tania bertanya karena penasaran dengan siapa mengunjunginya.


"Kalau Papa minta kamu menebak, kamu bisa nggak?" tanya Herman memberikan sebuah game kecil yang membuat senyum Tania mengembang. Tania sekilas teringat kembali akan masa kecilnya dulu ketika masih ada sang mama di sampingnya. Mereka bertiga selalu bermain tebak-tebakan. Entah itu tebak kata ataupun benda. Semua berubah setelah kepergian mama Tania. Karena tidak ingin membuat suasana hatinya tidak baik-baik saja, dia memilih akhirnya menjawab pertanyaan dari papanya.


"Ih, pasti sama istri Papa dong ... mungkin sama Risa juga kesini, iya kan?" jawab Tania menebak.

__ADS_1


"Gimana ya ... jawaban kamu ini benar, tapi sayangnya kurang tepat," kali ini Papa Tania seperti seorang guru yang sedang memberi pertanyaan kepada muridnya. Dan jawabannya kurang tepat.


"Kok gitu sih, Pa. Lalu sama siapa lagi dong? Masa iya sama bik Ijah dan pak Ujang, kan nggak mungkin," jawab Tania sembari memanyunkan bibirnya.


Melihat ekspresi putrinya itu , Papa Tania tertawa geli, kemudian meminta Tania untuk segera keluar ruangan. Betapa kagetnya Tania ketika mendapati seseorang yang amat sangat dia rindukan.


"BIK IJAH ... PAK UJANG ...." ucap Tania


berlalu menghampiri mereka dan cepat-cepat memeluk mereka dengan mata berkaca-kaca karena merasa sangat bahagia. Bik Ijah dan Pak Ujang tidak kalah bahagianya karena akhirnya bisa melihat Tania yang sudah dua tahun tidak pulang.


"Ya Allah, Non ... semakin cantik saja! Semakin dewasa juga ya, Pak?" ucap bik Ijah sambil mengelus rambut Tania.


"Bibik beneran disini? Ini nggak lagi mimpi kan?" Tania masih tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.


"Beneran, Non. Ini bibik sama Pak Ujang di sini. Kita berdua di London, luar negeri!" seru Bik Ijah dengan rasa haru. Dirinya sendiri juga masih tidak menyangka akan ikut serta bertemu dengan Tania.


"Ah ... bahagianya Tania bisa melihat kalian semua ada disini!"


Papa Tania tersenyum diikuti juga Mama Sarah, Risa dan semua karyawan butik. Kini Tania merasa bahwa hari ini adalah hari yang sangat istimewa. Orang-orang yang ia rindukan berada di dekatnya dan bisa ia peluk erat karena selama ini dirinya hanya menahan rindu itu sangat lama.


Tania lalu mengajak semua ke Apartemen miliknya, sementara sang Papa, Mama Sarah dan juga Risa harus pergi karena ada acara makan malam bersama rekan kerjanya. Harusnya Tania ikut, tapi ia sebelumnya sudah meminta izin untuk tinggal bersama bik Ijah dan pak Ujang di apartemennya. Dan pak Herman setuju dengan permintaan putrinya.

__ADS_1


Selama berada di apartemen, Tania sangat manja kepada bik Ijah, dia tidur dipangkuan-nya, sementara Pak Ujang sendiri sibuk memijat kaki Tania. Keduanya memperlakukan Tania dengan penuh cinta.


__ADS_2