Menikah Di Dunia Lain

Menikah Di Dunia Lain
Diperebutkan


__ADS_3

'Lebih baik aku sibuk dengan kerjaan dari pada harus memikirkan tentang wanita itu,' batin Gerald lalu fokus untuk mengerjakan kerjaannya.


Ponselnya berdering dan memperlihatkan nama Vania tertulis di layarnya. Gerald sangatlah malas mengangkat telpon dari istrinya tidak terkecuali, namun dia harus mengangkatnya.


"Ada apa?" tanya Gerald dingin.


"Saya hanya ingin memastikan Tuan. Apakah Anda marah kepada saya karena Saya mengundang kak Celine?" tanya Vania yang pertanyaan seharusnya tidak perlu dijawab. Siapapun yang melihatnya saat pertama kali mendengar tentang undangan tersebut akan mengetahui kalau Gerald marah. Namun, Vania hanya menggunakan alasan tersebut agar dapat berbincang dengan Gerald.


"Tidak! Kalau tidak ada yang ingin Anda tanyakan saya tutup telponnya," jawab Gerald lalu mematikan telponnya.


Gerald saat ini sangat tidak ingin mendengar tentang wanita itu karena hanya akan membuka luka lama dihatinya. Membuka kembali kenangan tentang wanita yang ingin dia nikahi.


'Elyne,' batin Gerald.


***


Celine dengan antusias mendengarkan semua cerita dan penjelasan yang Mira sampaikan. Mulai dari bagaimana kehidupan di Mansion Vallencio dan bagaimana karakter keempat istri dari Gerald.


"Hanya itu yang saya tahu Nyonya, Saya harap Nyonya mengerti apa yang Saya sampaikan barusan," ucap Mira setelah menyelesaikan penjelasannya.


"Begitu ya? Jadi keluarga dari suami Saya tidak menyukai saya," ucap Celine sambil mengangguk paham akan situasinya.


"Tenang saja Nyonya Tuan Gerald tak pernah mencintai satu pun dari keempat istrinya. Itu yang Saya ketahui Nyonya. Karena yang saya ketahui itu semuanya lah pernikahan bisnis," jelas Mira kepada Celine. Sekali lagi Celine mengangguk paham.


"Karena jarak dari sini ke Mansion Vallencio cukup jauh lebih baik kita bersiap-siap dari sekarang Nyonya," saran Mira kepada Celine.


"Biasanya di mana Saya memesan Gaun?" tanya Celine kepada Mira.


"Nyonya biasanya memesan di salah satu butik terkenal. Saya akan segera memanggil desainernya, Nyonya"


"Laksanakan lah! Pestanya seminggu lagi dan sepertinya tidak sempat untuk menjahit gaun yang Saya inginkan. Saya akan memesan gaun yang sudah jadi saja," jelas Celine namun ada satu hal yang baru saja dia sadari.


'Aku tidak pernah berbicara seperti ini sebelumnya! Apakah kebiasaan dari wanita yang memiliki tubuh ini tetap melekat? Apakah ingatan wanita ini juga akan kembali?' batin Celine.


Celine tidak ingin memikirkan hal itu yang hanya membuat dirinya tambah pusing. Celine baru ingat bahwa dia belum sarapan.


"Sudah pukul 8 pagi. Mana sarapanku?" tanya Celine dan Mira baru saja ingat bahwa dia lupa mengambil makanan untuk Celine.


"Mohon maaf Nyonya akan saya ambilkan," ucap Mira lalu bergegas lari ke dapur dan menyiapkan makanan untuk Celine.


***

__ADS_1


7 hari kemudian...


"Nyonya sangat cantik hari ini," ucap salah satu Maid kepada Vania.


Vania menatap dirinya di pantulan cermin yang memperlihatkan dirinya sedang mengenakan gaun berwarna putih dengan mutiara yang melekat di sekitar pinggangnya.


"Lita, Apakah Aku akan menjadi wanita paling cantik nanti?" tanyanya.


"Tentu saja Nyonya," jawab lita, Maid itu.


"Ayo pergi!" ucap Vania diikuti oleh Lita menuju ruangan yang telah di dekor untuk pesta Ulangtahunnya.


Vania turun dari tangga bersama dengan Gerald tidak lupa menggandeng tangannya. Vania mendapatkan banyak sorakan 'Selamat Ulangtahun' kepadanya. Vania tersenyum lebar dan Cassandra dan Syella berharap mulutnya akan robek karena tersenyum terlalu lebar


"Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada tamu undangan semuanya telah hadir pada hari ini...," ucap Vania panjang lebar tentang ucapan terimakasihnya.


Acarapun dimulai. Banyak acara yang membuat banyak orang tertawa namun Celine yang berada diujung ruangan bersama dengan Mira hanya bisa tersenyum kecil sambil memegang gelas berisi wine.


'Ini istri keempatnya? Bukankah seperti umur 16 tahun? Aku tidah berharap suamiku pedofil,' batin Celine sambil meminum winenya.


Acara hampir berakhir tiba-tiba Syella memegang mic dan berbicara, "Sebelum acara berakhir Saya sangat ingin melihat persembahan nyanyian dari Nyonya Vania. Apakah hanya Saya saja yang ingin?"


Semua orang bertepuk tangan menandakan mereka juga ingin melihat persembahan nyanyian dari Vania tanpa mengetahui bahwa Vania tidak bisa bernyanyi.


"Ibu juga menginginkannya! Ibu ingin mendengar Vania bernyanyi," pinta Diana, Ibu Gerald.


"Bukankah Nona Vania tidak bisa bernyanyi?" bisik salah satu tamu undangan.


"Benarkah? Saya baru mengetahuinya," jawab salah satu dari mereka.


'Sial! Aku harus mencari jawaban yang tepat,' batin Vania panik.


Vania berpikir sejenak namun para tamu disekitarnya sudah menunggu.


"Vania ada apa?" Tanya Diana seraya memegang bahu Vania.


"Aku baru ingat bahwa di acara ini Saya telah mengundang Istri ketiga suami saya yang selama ini berada jauh dari Tuan Gerald. Saya ingin memberikan kesempatan ini kepadanya," ucap Vania yang membuat banyak orang kebingungan.


"Dimana Nyonya Celine? Saya dari tadi tidak melihatnya," ucap salah satu tamu.


Semua orang menatap sekeliling mencari keberadaan Celine berada. Celine yang menyadari hal itu mempersiapkan dirinya dan berjalan ditengah kerumunan menuju tempat Vania, Gerald, Diana, Cassandra dan Syella berada.

__ADS_1


"Itu Nyonya Celine? Sungguh memukau," puji salah satu tamu.


"Saya sempat meliriknya tadi, namun saya yakin bahwa Nyonya itu dari keluarga terpandang," ucap salah satu dari mereka lagi.


Banyak pujian yang mereka lontarkan saking terkejutnya. Namun, yang lebih terkejut saat ini adalah Gerald.


'Dia Celine?' batin Gerald dan matanya tak bisa berkedip memandang Celine.


Vania menyadari bahwa suaminya tak bisa berkedip memandang Istri ketiganya. Ini pertama kalinya Vania melihat Gerald seperti ini.


Celine telah sampai dihadapan Vania dan dia berkata, "Selamat Ulangtahun untuk Anda, semoga Anda berumur panjang"


"Terimakasih," ucap Vania singkat karena dirinya sedang terbakar emosi melihat situasi ini.


"Aku memberikan kakak kesempatan untuk bernyanyi. Apakah kakak menolak?" tanya Vania menantang.


"Aku terima!" jawab Celine dan mengambil salah satu mic berjalan ke tengah kerumunan dan mulai bernyanyi tanpa menunggu musik mulai.


Celine mulai menyanyikan bait pertama dan semua orang terdiam mendengar suaranya.


Merdu


Itu kata yang pertama kali akan mereka ucapkan saat mendengarnya bernyanyi. Bukan hanya mereka Gerald saja tidak mengetahui bahwa Celine bisa bernyanyi dan kali ini Gerald benar-benar jatuh terhadap pesona yang Celine pancarkan malam ini.


Sudah sampai diakhir lagu, musik juga tidak kunjung terdengar untuk mengiringinya bernyanyi.


'Ternyata mereka tidak menghormati ku ya?' batin Celine yang merasa tidak dihargai saat dia bernyanyi tidak diiringi musik.


Setelah nyanyiannya selesai dia mendapatkan banyak tepuk tangan dan sorakan menandakan bahwa dia telah menampilkan penampilan yang memuaskan.


"Suara Anda sangat indah," ucap salah satu pria yang datang dengan mawar ditangannya menghampiri Celine.


Celine yang melihat hal tersebut tertegun karena dia tahu bahwa dirinya sudah punya suami sekarang dan itu ada di ruangan ini sekarang. Namun, dia mendapatkan bunga dari pria lain?


Saat Celine ingin meraih bunga tersebut tiba-tiba pinggangnya dipeluk oleh tangan kekar milik Gerald. Dan benar saja, semua orang sangat terkejut.


"Tuan Marchel, Bukankah Anda sedikit lancang berani memberikan setangkai bunga kepada Istri saya," ucap Gerald dengan sedikit amarah.


"Pernikahan tanpa malam pertama tidaklah sah," ucap Marchel sedikit keras namun semua orang disana mengetahui hal tersebut.


Gerald mengangkat alisnya dan berkata, "Kalau begitu kami akan mendapatkan itu malam ini"

__ADS_1


"Mendapatkan apa?" tanya Celine pelan namun hal tersebut dapat di dengar oleh Gerald.


Gerald mendekatkan wajahnya kearah Celine dan berbisik, "Malam pertama."


__ADS_2