
Aku melihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Waktu menunjukkan pukul 17.42. Hari sudah semakin senja. Suara lantunan ayat suci Al-Quran serta sholawat yang berasal dari masjid maupun mushola saling bersahutan menandakan adzan maghrib segera berkumandang.
Dan di sinilah aku berada. Di dalam Bugatti LVN hitamku, aku menatap serta mengamati aktivitas seorang perempuan yang berada di seberang sana. Tepat di dalam toko, dengan satu tangannya yang bebas perempuan itu sedang asyik merangkai bunga yang sudah ia susun dan tertata rapi. Tak lupa ia juga menata kue yang sudah ia hias lalu memasukkannya ke dalam cake showcase. Ia menurunkan roller blind, menutup kaca jendela toko yang sebentar lagi akan di tutup -- tepatnya pukul delapan malam nanti.
Senyuman ini sepertinya tetap melekat pada bibirku tatkala menatap perempuan itu dari kejauhan. Perempuan dengan wajah polos berseri bak bidadari yang turun dari kahyangan dengan senyuman paling indah yang terukir di wajahnya. Wajah bersinar yang memancarkan kecantikan luar biasa saat aku memandangnya dari kejauhan ini. Dan aku tidak merasa bosan sama sekali.
Aku mengalihkan pandanganku pada bagian perutnya yang menonjol itu. Dengan langkah riang ia berjalan, tak peduli seberapa berat beban yang ia bawa, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa lelah. Aku yang melihatnya saja merasa penat sendiri. Apalagi ia beraktivitas dengan menggunakan sebelah tangannya yang masih di gips.
Tidakkah kau merasa berat membawanya di perutmu dengan berbagai rutinitas sehari-hari? Tidakkah kau merasa kesulitan menggunakan sebelah tanganmu itu? Lebih baik kau diam saja!
Rasanya ingin sekali berucap tegas padanya seperti itu. Namun, tak bisa dipungkiri semua hal yang terjadi padanya itu adalah ulahku sendiri.
Bagaimana tidak, bercocok tanam terus menerus dan menebar benih di setiap waktu membuahkan hasil yang memuaskan terbukti dari betapa sehatnya ia tumbuh dalam perut itu. Walau pada awalnya aku tidak mengetahui akan adanya buah hati kami yang sedang bertumbuh.
Sedang tangannya, sampai detik ini aku akan terus dihantui rasa bersalah yang mendalam karena memang ulahku pula tangannya menjadi seperti itu.
Maka, bukan tanpa alasan aku ingin sekali melindunginya. Sesekali, bahkan mungkin tiap kali jantungku hampir lepas dari tempatnya karena begitu mencemaskan dirinya. Kecerobohan akan tingkahnya yang selalu membuat aku benar-benar merasakan sport jantung.
Contohnya saat ini, tubuh mungil dengan perut membuncit itu nekat menaiki kursi plastik hanya untuk membenarkan roller blind yang macet saat ia menariknya. Dan hampir saja ia terjatuh karena kursinya sedikit oleng. Beruntung tangannya yang tidak di gips dengan sigap memegang sisian roller blind tersebut sehingga ia bisa menahan dirinya agar tidak terjatuh. Aku bisa melihat dia shock sekaligus merasa lega.
Beruntung dia selamat dan berhasil turun dari kursi dengan nafasnya yang terengah-engah. Tangannya bergetar, seketika wajahnya langsung memucat. Ingin rasanya saat itu juga aku berlari dan memarahinya. Karena kejadian yang bisa membahayakan dirinya terjadi bukan kali ini saja. Tidak, aku marah bukan berarti membencinya, tapi aku begitu mengkhawatirkannya. Aku takut terjadi sesuatu pada dirinya dan...calon anak kami.
Aku begitu sangat sangat mencintai dan menyayanginya. Sangat! Tak terhitung berapa jumlah sangatnya!
Ya, perempuan manis itu berpredikat sebagai istriku. Dan ia sedang mengandung anakku. Usia kandungannya saat ini menginjak enam bulan. Dia sungguh terlihat cantik luar biasa. Apa efek kehamilan membuatnya cantik seperti itu? Tidak, dia memang cantik dari awal, dan aku yang bodoh ini baru menyadarinya sekarang.
Aku memejamkan mataku seraya menghembuskan nafas dengan kasar. Aku merebahkan tubuhku, bersandar pada jok mobil. Tak ingin perempuan itu melihatku pada titik terlemahku. Padahal jelas saja ia takkan melihatku. Kaca jendela mobilku yang gelap takkan terlihat dari luar. Sungguh pemikiran yang konyol, bukan? Aku seperti orang bodoh yang bersembunyi dari kenyataan.
Adzan maghrib berkumandang, seketika aku tak bisa menahan air yang selalu menetes di kedua sudut mataku ini. Dia pergi dan masuk ke dalam ruangan di toko itu, punggung mungil itu kian lama menghilang tanpa bisa aku pandangi lagi dari kejauhan.
Aku sangat merindukanmu, Istriku...
- King Aslam Dewantara -
__ADS_1
***
Sebenarnya, apa yang kalian sesali dalam hidup selama masa usiamu sampai saat ini?
Mungkin banyak. Termasuk bagaimana kalian ingin memperbaiki hidup, bahkan cinta sejati. Ada pula hal-hal yang ingin kalian lakukan selama masa hidup kalian dengan sangat menyenangkan, bukan?
Seperti halnya diriku yang cukup menyesali diri karena sempat tak bisa mengenal siapa cinta sejatiku yang sebenarnya. Bahkan di saat kondisiku saat ini. Padahal, ia berada tepat di depan mata dan ia dekat sekali denganku.
Namun, aku bersumpah! Tak pernah aku sesali dalam hidupku karena menjalin hubungan bersama dirinya yang sangat aku sayangi seumur hidupku.
Tak pernah aku bayangkan, memang. Karena pernikahan yang tiba-tiba ini membuatku tak bisa berkutik. Pasrah? Ya, awalnya mungkin seperti itu. Apalagi ketika kita dinikahkan dengan pria yang tak pernah kenal dekat sebelumnya. Rasanya seakan dunia kita jungkir balik.
Namun, mungkin itulah yang disebut dengan suratan takdir Tuhan. Katanya, jodoh takkan ke mana. Ya, pernyataan itu apabila diteliti lebih dalam lagi maknanya, artinya sangat cocok dengan yang aku alami saat ini.
Karena aku yang tak bisa ke mana-mana ini, begitu pun dengan dirinya yang aktivitasnya itu-itu saja, maka kiasan jodoh takkan ke mana itu membuat kami pada akhirnya bersatu. Konyol, bukan?
Pujian ini akan terdengar seperti kisah tokoh utama pria dalam novel. Katakanlah seperti itu. Karena bagiku dialah memang tokoh utama yang sempurna.
Dia, pria dingin dan terlihat kaku itu sebenarnya begitu hangat. Pria sejuta pesona hanya dengan sedikit senyumannya saja bisa meluluhkan kaum hawa manapun.
Lebay? Ya, mungkin kedengarannya seperti itu. Tapi itulah kenyataan yang hakiki. Pada dasarnya aku begitu menyesali, mengapa pria itu menjadi suamiku. Menjadi suami dari perempuan yang tidak sempurna sepertiku.
Ups, maaf. Tapi aku bersyukur sangat banyak kepada pria tuaku yang ganteng maksimal itu ☺
Terima kasih, karena sudah mencintaiku, Suamiku...
- Crystal Bening Aurellya -
***
"Hei! Kalo rindu kenapa gak bilang rindu dan menghampiriku?"
"Kamu manggil aku 'hei'? Di mana sopan santunmu itu? Kalo cinta kenapa gak bilang cinta?"
__ADS_1
"Sepertinya kamu ngatain dirimu sendiri."
"Aku? Jangan konyol!"
"Ya ya terserah Mas aja lah...Orang aku baru inget, suami akutuh kamu."
"Dasar gadis bodoh!"
"Dasar suami gengsian!"
"Hei, siapa yang gengsian?"
"Tapi...ganteng."
"Ke marilah!"
"Mau ngapain? Mas yang ke sini donk. Akutuh dari tadi ngikutin Mas Aslam jalan ke sini. Pengap tau! Lihat, telapak kakiku udah segede gajah gini. Tapi kata dokter Rita sih baik-baik aja. Anak kita...- Baiklah baiklah, aku akan ke situ. Tunggu aku dan jangan bergerak sedikit pun, oke?"
Aslam berjalan cepat, segera memeluk sang istri yang sedang kepayahan berjalan ke arahnya. Hatinya bergemuruh. Dengan nafas yang tersenggal ia memeluk dan mengecup pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.
"Aku merindukanmu."
"Aku gak rindu."
"Aku mencintaimu."
"Aku gak cinta."
"Aku gigit kamu."
"Mauuuu..."
Dan, inilah kisah Aslam dan Bening di mulai...
__ADS_1
***
Happy Reading 💕