Menikahi Bening

Menikahi Bening
Bukan Retak!


__ADS_3

"Bu-buat apa penghulu itu ada di sini? Siapa yang mau menikah?" Ada nada bergetar dalam suara Erina. Dia terlihat gugup dan memucat.


"Hon, kamu sadar gak sih dari tadi manggil aku apa?" kesal Aslam.


"Hah? Kenapa, Lam?" Sumpah! Bagi Aslam, Erina ngeselin banget hari ini. Sudah kesekian kalinya ia memanggil nama Aslam.


Apa ini? Erina kayak orang bego yang tak tau arah.


"Hon, kamu gak lupa, kan?" Aslam terus bertanya. "Lihat deh, Hon. Kamu lihat sekeliling kamu. Menurutmu gimana?" Aslam bermaksud menanyakan pendapat Erina tentang dekorasi pesta hari ini.


"Apanya sih, Lam?" Huft, oke kali ini biarkan Erina memanggil Aslam semaunya dia saja.


"Hon, kamu kenapa sih?"


"Lam, beneran deh bapak itu menuju ke sini sekarang!" Erina panik.


"Lha, ya wajar pasti ke sini. Kamu tenang aja, rileks dan jangan gugup, oke?!" Aslam menenangkan Erina.


Aslam mengira Erina sangat gugup akan pernikahan ini. Satu hal, Aslam belum resmi melamarnya. Apa Erina mengharapkan lamaran yang romantis? Ya, Aslam harus melakukannya sekarang!


"Lam, aku ke toilet dulu ya." Tepat di saat Pak Penghulu di hadapan kami, Erina malah bergegas pergi ke toilet - seperti menghindar.


Aslam bersalaman dengan penghulu yang akan menikahkannya dengan Erina. Tak lupa papa Alex dan mama Eugene juga berhambur untuk mengenalkan diri. Aslam memberitahu pak Penghulu untuk menunggu karena ia harus melakukan ritual yang namanya lamaran terlebih dahulu.


Jika ada yang bertanya bagaimana persiapan Aslam soal kelengkapan dokumen pernikahan, tentu saja ia ahlinya. Tanpa Erina, Aslam mempersiapkan segalanya sendirian. Toh, Erina juga sudah menyerahkan segalanya kepada Aslam tanpa peduli. Termasuk izin restu dari orang tua Erina yang sudah berpisah dan tinggal di luar negeri.


Bangga? Tentu saja. Dengan mudah Aslam mendapatkan segalanya. Sepertinya Dewi Fortuna masih memihaknya sehingga memuluskan semua jalan yang Aslam tempuh.


Cukup lama Erina pergi ke toilet. Saat ini Aslam sudah berdiri di atas panggung di mana tempat MC berada. Tangannya berkeringat dingin memegang microphone dengan gugup. Tak lama kemudian, Erina datang. Wajahnya terlihat bingung. Pikiran bodohnya tetap membuat Aslam yakin jika Erina merasa gugup, sama seperti dirinya. Walau begitu, bagi Aslam perempuan itu Erinanya. Malam ini Erina begitu cantik dengan balutan dress yang selama ini diinginkannya jika menikah. Apa Erina menyadarinya? Mengingat ia tak berkomentar mengenai pakaian yang mereka kenakan saat ini.


Ah, biarlah. Lagi-lagi aku berpikir mungkin Erina terlalu gugup sehingga tidak memperhatikannya -Aslam-


"Mohon perhatiannya!" Suara Aslam menggema, menghentikan aktivitas orang-orang yang berada di pesta.


Termasuk Erina yang seketika menoleh pada suara itu. Aslam mengulurkan tangannya dari kejauhan agar Erina mendekat. Tapi, sepertinya Erina enggan mendekatinya. Aslam mengalah hingga akhirnya ia yang menghampirinya.


Erina yang sedang berdiri, Aslam langsung berlutut di hadapannya.


"Erina Honey-ku. Terima kasih, selama dua tahun ini kamu selalu mengisi hari-hariku. Kamu wanita tercantik yang aku miliki. Kamu keberuntunganku. Kamu adalah segalanya untukku," suara Aslam tercekat, ia terharu!


"Honey, kamu tau? Betapa besar kumencintaimu. Sangat! Aku bahkan rela melakukan apapun demi kamu. Demi kebahagianmu. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu," lanjutnya kemudian.


Suasana menjadi hening saat ini membuat Aslam mantap mengatakan, "Will you marry, me?" Menyodorkan sebuah kotak cincin bermatakan berlian pada Erina.


Erina menatap lekat-lekat kotak beludru berwarna merah yang masih berada di tangan Aslam.


"Terima!"


"Terima!"


Suara sorak sorai agar Erina menerima lamarannya membuat Aslam begitu semangat. Pasalnya keringat dingin sudah menjalar di sekujur tubuhnya.


Erina mengambil kotak cincin berliannya, lalu ia menutup kotak kemudian menggenggamkannya kembali pada tangan Aslam tanpa mau mengambilnya. Aslam kegirangan, Erina menerimanya!


Tunggu! Di mana sorak sorai para tamu undangan dan teman-temannya?


Dan...apa ini? Cincinnya masih di tanganku? Erina menutup kotak cincinnya?


"H-Hon...ini..." Aslam mendadak bodoh di usianya sekarang.

__ADS_1


"Maaf, Lam." Erina menangkup jemari tangannya di telapak tangan Aslam, bersamaan dengan kotak cincin yang ia tolak secara terang-terangan.


"Maafkan aku," menarik tangannya.


Apa ini? Seolah dunia berputar dengan hebatnya, Aslam tak bisa mendengar suara Erina dengan jelas.


"Maafkan aku, Lam. Aku tak bisa menerima lamaranmu sekarang!" Ketegasan Erina kali ini menyadarkan Aslam.


Ya, Erina menolak lamaran Aslam. Tidak, ini bukanlah sinetron atau drama dalam novel tentang pria keren yang ditinggal kekasihnya!


"H-hon, kenapa?" Aslam segera berdiri. Ia menatap Erina yang tingginya hampir setara dengannya.


"Bukankah selama ini yang kamu mau? Kamu bilang mau menikah denganku tepat di usiaku yang ke-30?" suaranya mulai bergetar.


Aslam menggenggam tangan Erina. Memaksa menarik jari tangannya. Dengan bergetaran Aslam membuka kotak cincin dan memaksakan diri untuk menyematkan cincin itu pada jari manis Erina.


Cincin berlian itu terlempar dan menggelinding entah ke mana ketika Erina dengan kasar menghempaskan telapak tangannya. Aslam terpaku. Semua orang yang menyaksikan drama itu pun tak bersuara. Hanya beberapa orang yang terdengar sayup-sayup membicarakan kejadian itu.


"Kamu bercanda 'kan, Hon? Bi-bilang kalo ini cuma prank!" Nafas Aslam memburu, dadanya bergemuruh. Aslam berharap ini bagian kejutan yang Erina rencanakan.


"Aku gak bercanda, Lam. Aku serius!" tegas Erina. Sorot matanya mengatakan kejujuran.


"Ngga, Hon. Ini gak benar." Aslam menggelengkan kepala. Rasanya tak percaya.


"Kamu benar-benar mencintaiku 'kan, Lam? Kamu bilang kamu mau melakukan apapun demi kebahagiaanku. Jadi sekarang aku mau kamu kabulin permintaanku."


"Ya, tentu aja. Aku pasti kabulin permintaanmu. Apapun! Tapi tolong, sebelum itu, menikahlah denganku hari ini, hm?"


"Aku mau nikah sama kamu. Tapi gak hari ini! Timing-nya gak pas. Kamu tau kan apa impianku?"


"Ya, tentu aja aku tau. Kamu mau jadi model go international, kan? Ayok, aku bantu wujudin impianmu. Aku akan selalu support kamu. Kita bangun sama-sama, impianmu, impianku juga. Impian kita."


"Impian kita?" Erina tertawa garing.


"Apa? Memangnya apa impianmu?!" Erina memekik.


"I-impianku..." Aslam tak bisa berkata-kata.


Memangnya apa impiannya? Menikah dan hidup bahagia bersama Erina? Ya, mungkin itulah impiannya selama ini.


"Kamu sendiri bingung apa impianmu, bukan?" ucapan Erina terhenti ketika dering ponselnya berbunyi lalu tanpa ragu ia menerima panggilan tersebut.


"Ya, oke. Tunggu aku." Erina menutup panggilannya.


Hati Aslam terasa begitu sakit ketika melihat tindakan Erina yang dengan cepat menjawab panggilan seseorang yang menghubunginya. Sedang tadi, berkali-kali Aslam meneleponnya, tak ada satupun yang dijawabnya. Bahkan, pesan WhatssApp yang ia kirim tidak dibalasnya sama sekali. Bila dipikir-pikir, sering sekali panggilan juga pesan yang diabaikan Erina padanya selama berpacaran.


"Maaf, Lam. Aku harus pergi. Kamu mendukung karirku 'kan, Lam? Kamu mencintaiku, kan?" Erina memurus telapak tangan Aslam. Aslam yang masih tak percaya hanya bisa menatapnya dengan nanar.


"Aku janji, setelah aku sukses, aku akan menikah denganmu. Hanya dua tahun kok, Lam. Kontrakku dengan agensi di Paris berakhir. Kamu bisa nunggu aku kan, Lam?" Erina menatap Aslam yang hanya menundukkan kepalanya.


"Lam, jawab? Kamu mau nunggu aku, kan?" Lidah Aslam terasa kelu. Ia hanya bisa mengangguk.


"Pergilah kalau kamu gak mau nikah sama anakku!" tiba-tiba mama Eugene menghardik.


"Ma..." Aslam menatap wajah mamanya yang terlihat murka. Saat itu ia menghampiri Aslam yang menjadi pusat perhatian para tamu undangan.


"Maaf, Bu, Den. Bagaimana dengan acara pernikahannya? Soalnya saya sudah ditunggu jam sembilan nanti mau menikahkan calon yang lain juga." Pak Penghulu menginterupsi.


"Gak ada pernikahan di sini! Maafkan kami sudah mengganggu dan menyia-nyiakan waktu Bapak. Bapak bisa pergi sekarang untuk menikahkan pasangan yang benar-benar akan menikah." Kali ini papa Alex bersuara. Nada suaranya bergetar menahan amarah.

__ADS_1


Pak penghulu pamit undur diri. Dibantu Mario, sahabat baik Aslam yang sempat ia lupakan keberadaannya, membantu untuk membubarkan para tamu undangan dengan sopan.


Tak lupa papa Alex merendahkan diri hanya untuk meminta maaf kepada para tamu undangan yang sebagian besar kolega bisnisnya. Sungguh, Aslam merasa sangat tak enak hati.


Kali ini Aslam melihat amarah papanya yang memuncak. Selama ini ia yang badung dan gak bisa di kasih tau, papa dan mamanya hanya biasa menanggapinya. Tapi tidak saat ini, Aslam bisa melihat kekecewaan, rasa malu dan sedih sekaligus dari keduanya.


"Pergi dan jangan pernah ganggu hidup anakku lagi! Selama ini kurang baik apa Aslam padamu?" mama Eugene murka, ia menahan gemertak giginya.


"Tante, tolong maafin Erina. Erina janji, Erina akan menikah..."


"Silahkan pergi dan raih cita-citamu itu!" usir mama Eugene menahan emosinya.


Erina langsung bergegas pergi ketika mama Eugene mengusirnya. Tanpa ada rengekan pada Aslam untuk menahannya pergi. Tak mau repot-repot untuk menoleh lagi, Erina benar-benar tidak peduli pada Aslam.


Erina pergi, meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan Aslam. Aslam berlari mengejar Erina. Sampai di gerbang depan ia menahan Erina untuk masuk ke dalam mobil yang sedang menunggunya. Mobil itu milik Frendian - kepala agensi Erina.


"Hon, tolong jangan tinggalin aku. Oke, kalo kamu mau ke Paris, aku akan ikut nemenin kamu sekarang juga. Tunggu aku siap-siap. Aku akan mengantarmu. Tapi tolong jangan seperti ini, oke?" Aslam membujuk dan memohon pada Erina.


"Gak bisa, Lam. Kami gak punya waktu lagi buat nunggu elo. Penerbangan Erina satu jam lagi." Dian -begitu panggilannya- menyahuti dengan terburu-buru. Dari dulu Aslam memang tak suka padanya, sikapnya terlalu possesif terhadap Erina.


"Kalo lo gak mau nunggu, lo bisa pergi duluan. Erina biar nanti gue yang urus,"


"Maaf, Lam. Aku harus pergi." Tanpa mau mendengar lagi, Erina masuk ke dalam mobil.


Dan Dian sialan itu melajukan mobilnya dengan segera.


Aslam berlari menuju garasi, hendak mengejar Erina menggunakan motor gedenya. Namun mama menahanku, "Kamu mau ke mana, Nak? Udah, gak usah dikejar wanita seperti itu!"


"Lepas, Ma! ini semua gara-gara Mama! Coba aja dulu Mama sama Papa menikahkan kami. Mungkin Erina gak akan pergi ninggalin Aslam!" Hilang kendali Aslam membentak mamanya sambil menghempaskan tangannya dengan kasar.


Satu tamparan mendarat di pipi. "Jangan pernah kamu berkata dan bersikap kasar pada mamamu!" Papa Alex murka. Kali ini, papanya mendaratkan tangan hangatnya pada Aslam.


Entah setan apa yang merasuki Aslam. Ia benar-benar gelap mata. Tak peduli lagi mama Eugene yang menangis dan papanya yang sedang murka gara-gara sikapnya. Yang jelas di pikiran Aslam hanya satu, ia harus segera mengejar Erina!


Aslam menyalakan motornya, dan segera mengejar Erina.


"Lam, elo mau ke mana?!" Sayup-sayu terdengar ketika Mario memanggilnya.


Mama Eugene yang hampir terjatuh terlihat pada kaca spion motornya. Beruntung papa dan Mario dengan sigap membantu menopang mama Eugene. Tapi Aslam tak peduli.


Dengan kecepatan tinggi Aslam melajukan moge-nya, berharap dengan begitu ia bisa cepat-cepat menyusul Erina.


Hatiku terasa sakit. Hancur sudah semua rencana yang sudah aku persiapkan. Cairan hangat ini tak terasa menetes di sudut-sudut mataku. Aku benar-benar hancur dan berharap ini hanya sekedar retak yang masih bisa diperbaiki.


***


EPILOG


Bening Pov


Sebuah cincin menggelinding saat aku berjalan menyusuri orang-orang yang sedang berkumpul di dekat area panggung. Tepat di depan kakiku, cincin berkilauan permata berlian itu berhenti. Kuambil cincin itu dengan maksud ingin mengembalikannya kepada pemiliknya.


"I-ini bukan prank, kan, Hon?" Langkahku terhenti dibalik ke-kepo-an yang sedang aku telusuri. Pria itu -si ganteng- maksimal sedang memohon pada kekasihnya.


Aku menggenggam erat cincin berlian itu. Rasanya ingin aku remukkan cincinnya. Entah mengapa aku merasa sakit hati ketika pria itu memelas dan membujuk kekasihnya agar mau menikah dengannya. Jika bukan karena ingat cincin ini berlian, aku sudah melemparkannya dengan kekuatan super mengenai nenek sihir bergincu merah itu hingga meledak.


"Bey, kamu ngapain masih di situ?" seseorang memanggilku dan seketika aku menoleh ke arah sumber suara itu.


"Bang, i-ni..." aku malah memberikan cincin itu pada Bang Iyo. Bang Iyo mengambil cincinnya.

__ADS_1


Ah, sayang sekali cincinnya. Seharusnya aku umpetin aja. Lumayan juga kan, kalo dijual? (Yampun, pikiran terkutuk ini!) 🙈


TBC


__ADS_2