
Bening keluar dari kamar mandi. Ia keluar masih memakai gaun pernikahannya. Rambutnya yang basah ia balut dengan handuk. Aslam menatapnya semakin tajam, membuat Bening salah tingkah.
"Maaf..." Bening nyengir. "Aku pinjam handuknya." Sepertinya ia mengerti arti tatapan Aslam padanya. "Mas, gak akan bersih-bersih?" tanyanya kemudian. Dia duduk tanpa canggung di sofa yang berada di kamar.
Sebenarnya, apa yang dirasakan istrinya saat ini? Sungguh Aslam tak bisa menebak isi hatinya. Sebagai orang yang tiba-tiba mendadak dinikahkan seharusnya Bening memberontak. Aslam beranjak dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Saat ia masuk, Aslam melupakan handuknya. Kemudian ia keluar kembali dari kamar mandi bermaksud ingin mengambil handuknya.
Saat itu, pemandangan pertama yang Aslam lihat adalah perempuan yang menjadi istrinya itu sedang memijat betis kakinya sendiri. Aktivitas Bening terhenti, seperti maling yang ketahuan.
"Hehe...tadi kelamaan berdiri, kakiku pegal," tutur Bening. "Mas, udah selesai bersih-bersihnya?"
Aslam mendekati Bening tanpa mau menjawab pertanyaannya. Aslam mengulurkan tangan, meminta handuk yang sedang Bening pakai di rambutnya.
"Ah, handuk ya?" Lagi, seperti bisa mengerti seorang Aslam, Bening hendak melepaskan handuknya dan memberikan padanya. Aslam hendak menerima, tapi Bening menarik kembali handuknya. Aslam merasa dongkol dan kesal!
"Mas, gak punya handuk lain? Ini basah lho, Mas," ucapan Bening benar. Handuk itu basah.
Tanpa berbicara Aslam melangkahkan kakinya menuju ruang baju dan mengambil handuk yang baru di lemari. Kedongkolan yang bercokol dihatinya, Aslam enggan memperhatikan perempuan yang sudah sah menjadi istrinya itu. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dibalik pintu Aslam bersandar.
Mengapa jantungku berdebar-debar ketika melihat rambut basah istriku yang tergerai saat ia melepaskan handuknya? Dia begitu seksi, cantik dan...segar. Sungguh pikiran halal yang terkutuk!
***
Entah berapa lama Aslam di dalam kamar mandi. Ia melamun tak karuan. Harus bagaimana ia menghadapi situasi yang terjadi saat ini. Terlebih ada orang asing yang tiba-tiba saja menjadi istrinya. Ia gugup ataukah malas berhadapan dengan Bening?
Seseorang mengetuk pintu kamar mandi. "Mas, Mas gakpapa, kan? Mas pingsan?" Itu Bening yang menyahuti. Aslam terdiam dan tak ingin menjawab. "Mas! Mas baik-baik aja, kan? Mas!" ketukan pintu itu berubah menjadi gedoran.
Karena tak ingin ada kegaduhan di tengah malam, Aslam segera membuka pintu kamar mandi. Keluar dari sana, tak ingin ia menyahuti dan hanya melewati Bening yang memang sepertinya khawatir padanya.
"Mas, gakpapa, kan?" Bening bertanya sambil mengikuti Aslam ke ruang ganti.
Aslam tetap cuek dan tak menanggapinya. Ia sibuk memakai kaos dan celana pendek untuk tidur. Sekilas Aslam melihat Bening membalikkan tubuhnya, membelakangi Aslam ketika ia berpakaian. Entah mengapa tindakan tersebut membuat Aslam menarik sudut-sudut bibirnya.
"Mas, aku mau bicara," ujar Bening ketika Aslam selesai berpakaian.
"Udah malem, aku capek," ketus Aslam melewati Bening tanpa mau menanggapi.
"Ah, ya. Mas benar. Oke kalo gitu, besok kita bisa bicara, kan, Mas?" tanya Bening merasa tak enak.
"Hm," responnya.
Aslam naik ke tempat tidur, mengibas kelopak bunga mawar yang menghiasi tempat tidurnya. Kemudian ia menyelimuti seluruh tubuhnya, tenggelam dalam selimut yang hangat. Aslam memejamkan mata meninggalkan Bening yang masih berdiri menatap pergerakannya.
Satu menit...
Lima menit...
Tak ada tanda-tanda yang terguncang di sebelah tempat Aslam berbaring. Aslam membuka perlahan selimut yang membungkus tubuhnya, gerah. Ia mencoba mengintip untuk memastikan di sebelahnya ada seseorang atau tidak. Namun ternyata...kosong.
Seketika Aslam membuka selimut lebar-lebar. Seperti ada sesuatu yang hilang, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari sosok yang telah menjadi istrinya. Rasa bergemuruh dari dalam dada tak bisa ia kendalikan. Padahal sosoknya baru saja hadir beberapa saat yang lalu, di sini.
Konyol sekali, kenapa juga aku menyisakan ruang kosong di sebelah tempat tidurku? -Aslam-
Rasa lega langsung menyelimuti kalbu saat Aslam menangkap sosok yang ia cari ternyata tertidur di sofa kamar. Tubuhnya meringkuk dengan gaun resepsi pernikahan tadi sebagai selimutnya. Tangannya dilipat memeluk dirinya sendiri. Malam ini memang terasa dingin. Beruntung hujan turun di saat pesta tadi berakhir.
Aslam beranjak dari tempat tidur, menghampiri Bening yang sedang tertidur lelap di sofa. Ia tak terusik sama sekali ketika Aslam berjongkok di dekatnya. Mata Bening yang terpejam rapat membuat bulu mata lentik itu terlihat indah. Tangan Aslam terhenti bahkan sebelum menyentuhnya karena Bening tiba-tiba meluruskan kaki yang awalnya ia tekuk. Tak lama kemudian, seperti mencari sesuatu Bening menarik-narik gaun yang ia kenakan untuk menutupi kakinya. Tanpa permisi Aslam memegang telapak kaki Bening yang terasa dingin.
__ADS_1
Apa ia kedinginan? Apalagi ia tertidur di saat rambutnya masih basah.
Entah ada apa dengan naluri yang Aslam rasakan kini. Tiba-tiba saja ia membungkukkan badan lalu tangannya bergerak mengangkat tubuh Bening dari sofa. Perlahan Aslam berjalan membawa Bening yang lunglai dalam dekapannya menuju tempat tidur.
"Nak, apa kalian sudah ti..." suara dorongan pintu yang tiba-tiba itu menghentikan langkah Aslam dan seketika ia menjatuhkan Bening yang berada dalam gendongannya. "...dur?" Tanya mama Eugene terjeda.
"AWW!" Bening memekik karena tubuhnya membentur karpet bulu. "Ah," dia berusaha bangun.
"Ups, maafin mama. Abis ini beneran deh mama gakkan ganggu," mama Eugene tersenyum geli.
"Ini gak seperti yang mama kira," ucap Aslam datar lalu dengan santai ia berjalan meninggalkan Bening yang sedang mengaduh serta mengusap bokongnya.
"Lha, dasar bocah tua! Itu istrinya kesakitan bukannya ditolongin malah ditinggalin! Gimana sih kamu?!" Omel mama Eugene, membantu Bening untuk berdiri. "Kamu gakpapa kan, Sayang?"
"Aku gakpapa kok, Bu."
"Dasar anak bandel!" Mama Eugene langsung mendaratkan pukulannya di punggung Aslam, membuatnya berjingkat dan otomatis melindungi diri sebagai tameng jika mama Eugene memborbardir tubuhnya. "Kalo malu gak usah nyakitin istrimu sendiri!"
"Apaan sih, Mama. Aku gak ngapa-ngapain," Aslam mengelak.
"I-iya kok, Bu. Kami tidak melakukan apa-apa. Ini salah paham aja." Bening menyahut.
"Ngapa-ngapain juga gakpapa, kok. Tenang aja." Mama Eugene mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Bening merona. "Gak usah malu," ucapannya mama Eugene membuat Aslam salah tingkah.
"Mama ngapain ke sini? Aku mau istirahat," tanya Aslam ketus.
"Judes amat sih. Ngambek ya Mama ganggu?" Mama Eugene terkekeh, Aslam sudah memasang ekspresi siap mendebat mamanya lagi.
"Oke-oke, mama gakkan ganggu kalian lagi. Ini, mama mau kasih baju ganti buat mantu mama. Pernikahan ini mendadak, jadi Bening belom nyiapin semuanya. Ayok, cepetan ganti gaunnya. Gak nyaman kalo tidur pake gaun. Kebetulan mama ada piyama tidur yang masih baru. Kayaknya ini pas buat kamu," tutur mama Eugene perhatian.
Bening menerima bajunya dengan riang. "Gakpapa, Bu. Makasih buat bajunya."
"Mama! Panggil aja seperti Aslam manggil Mama. Kamu juga putriku sekarang," sanggah Mama Eugene membuat Bening terpaku.
"I-iya, M-ma."
"Ya udah, cepetan ganti. Trus istirahat. Ini juga, keringingin dulu rambutnya sebelum tidur. Gimana sih kamu, Nak? Istrimu bisa sakit nanti!" Bawel mama Eugene membuat Aslam semakin jengkel karena ia yang selalu disalahkan.
Bagi Aslam Bening sudah dewasa untuk melakukan hal itu tanpa harus diberitahu. Segala hal ada di atas meja riasnya, termasuk hair dryer yang bisa digunakan dengan bebas.
"Aku gak enak, nanti Mas Aslam terganggu tidurnya karena suara hair dryer," tutur Bening membuat Aslam tertegun.
Bagai paranormal, Bening seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Aslam.
"Perhatian banget sih mantu mama..." Mama Eugene menguwel sayang pipi Bening. "Kamu beruntung punya istri kayak Bening, Nak." Aslam tak peduli.
"Ya udah mama pergi dulu. Maaf udah ganggu, kalo mau lanjutin, lanjutin aja... Awas! Yang lembut sama istrimu. Pelan-pelan aja. Tapi cepet kasih mama cucu." Mama Eugene pamit dengan godaannya yang menjengkelkan.
Aslam berjalan mengikuti mama Eugene dari belakang. Kemudian cepat-cepat ia mengunci pintu setelah mama Eugene keluar dari kamarnya.
"Kok dikunci, Mas?"
Aslam berjalan menaiki tempat tidur. "Kamu mau, kejadian kayak tadi terulang lagi? Orang lain bisa salah paham!" kesalnya kemudian.
"Ya lagian kenapa, kok tadi Mas bisa jatohin aku? Seingatku, aku tadi tidur di sofa lho," tutur Bening membuat Aslam tak bisa bicara. "Mas? Mas!"
__ADS_1
"Udah, ganti baju sana! Aku capek, mau tidur!" Menenggelamkan kembali seluruh tubuh ke dalam selimut.
"Aku kan cuma nanya, jutek amat sih!" Bening menggerutu pelan, tapi masih terdengar oleh Aslam.
Kenapa aku bisa sekesal ini padanya? Padahal ia memang gak salah apa-apa. Sejujurnya aku begitu malu...
***
Aslam Pov
Keesokan paginya.
Entah berapa lama aku tertidur, mengingat semalam aku tak bisa tidur sama sekali. Semalaman aku menahan diri dalam selimut yang bikin aku gerah. Aku tak bisa membuka bajuku karena tak ingin Bening melihatku tanpa baju ketika kutidur. Mengingat hal itu, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan. Berharap kejadian kemarin hanya mimpi. Tapi ternyata mimpi ini belum berakhir. Lihatlah, kamar yang disulap seperti kamar pengantin ini masih belum berubah.
Aku menoleh ke sebelah kananku. Sudah banyak sekali kado yang masih terbungkus rapi dan menggunung. Entah sejak kapan kado-kado itu berada di sudut ruangan? Membuat kamar ini semakin berantakan saja. Untungnya ukuran kamar ini begitu luas.
"Pagi..." Seseorang menyahut. "Baru bangun, Mas?" Senyuman cerah itu membuatku memandangnya lekat. "Ke air dulu, Mas. Nih, aku udah bikinin sarapan," ucapnya kemudian meletakkan satu nampan sarapan yang ia bawa tadi. Ada susu hangat dengan nasi goreng. Dan kurasa itu bukan bikinan mama. Aku tak tertarik sama sekali!
Aku melihat tampilan Bening saat ini. Dia memakai baju yang ia kenakan kemarin saat tak sengaja menguping pembicaraan kami. Dress sederhana dengan roknya yang menjuntai di bawah lutut. Rambutnya diikat tinggi. Warna peach itu membuat kulit putihnya semakin terekspos, apalagi sinar matahari yang menembus jendela kamar membuatnya berkilauan. Sungguh pemandangan yang indah ketika kau terbangun dari mimpi burukmu. Tidak! Ini bukan mimpi buruk. Aku seharusnya bersyukur karena mempunyai istri semanis dia. Dan...apa-apaan ini? Junior, kenapa kau straight di saat yang tidak tepat? Sungguh memalukan!
Aku bergegas pergi ke kamar mandi. Tak ingin istriku tau apa yang terjadi di antara selangkanganku. Aku harus mengguyur diriku dengan air dingin. Kulihat Bening menatapku dengan bingung.
*
"Mas, di minum dulu susunya, mumpung masih anget." Bening menyodorkan segelas susu itu kepadaku saat selesai berpakaian. Aku meneguk susunya sampai habis. Bening tersenyum. Dengan sabar ia menungguiku.
"Nasi gorengnya, Mas." Menyodorkan satu piring nasi goreng. Aku enggan memakan masakan orang lain selain mama.
"Ini enak kok, Mas. Dijamin, Mas pasti ketagihan," ucapnya kemudian seolah tahu apa yang aku pikirkan.
"Ayo, duduk dulu deh, Mas. Mas harus sarapan, dari kemarin Mas belom makan," ajaknya menarik tanganku untuk duduk.
Aku melirik tangannya yang menarik tanganku. Sebenarnya aku kesal. Kenapa aku bisa menurutinya. Erina, aku harus mengingat Erina agar hatiku ini tak goyah!
Langkah kami terhenti ketika ada sesuatu yang membuat aku terfokus pada tangannya. "Apa ini?" dengan gerakan refleks aku mengangkat tangannya, bernodakan memar yang sudah membiru.
"I-ini..."
***
EPILOG
Bening Pov
Rasa lelah membuat aku tidur tanpa memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hari ini. Sesungguhnya banyak hal yang ingin aku bicarakan dengan pria yang sudah sah menjadi suamiku. Suami dadakanku.
Tapi melihat keadaanya yang sepertinya kelelahan juga, aku mengalah dan tak ingin mendebatnya. Besok, ya, masih ada hari esok, bukan?
*
Saat ini aku berada di dalam kamar mandi. Aku menangis sambil mengelus lenganku yang sudah mulai memar akibat cengkraman kuat Mas Aslam tadi siang ketika ia mengira aku menguping pembicaraannya. Ia mencengkram tepat pada tulang lenganku yang terdapat pen. Lenganku semakin terasa sakit ketika mas Aslam menjatuhkan aku yang entah mengapa ia melakukannya. Semalaman, setelah mama Eugene pergi, bukannya terlelap, aku menahan rasa ngilu pada lengan dan bokongku ini. Sungguh, saat ini aku harus meminta tolong pada siapa? Bang Iyo...tolong aku...hiks...
Tanpa mau mengganggu mas Aslam yang sedang terlelap, aku menangis tanpa suara...
TBC
__ADS_1