
Berdiri di depan batu nisan, mata merah air mata sudah kering, menatap linglung ke kuburan didepannya.
Masih sulit menerima, istrinya, pegangan terakhirnya untuk menjalani hidup, meninggalkannya tanpa kata.
Meski dendam dan amarah tersulut pada si pembunuh, namun mengingat isi sekumpulan vidio porno istrinya yang diterima kemarin, membuatnya semakin hampa.
Semangat disiram oleh masa depan suram yang tidak ingin dia jalani lagi.
Tiga puluh dua tahun hidup ini sangat sulit, melelahkan, dan menyakitkan, tanpa keluarga, keberuntungan buruk yang selalu merenggut nyawa di setiap kesempatan, pengkhianatan teman yang dipercaya, sekarang istri yang paling dia cintai meninggal.
Masih meninggalkan pisau pengkhianatan yang memotong jiwa.
Tangan mencengkram isi saku jaket lusuh, kebencian dialihkan pada dunia, dunia yang tidak mendukung pekerja keras, dunia penuh kebohongan, dunia yang selalu mengecewakannya setiap saat.
Benda itu diambil, sebotol racun yang tadinya untuk si pembunuh.
Keraguan menghilang, tutup botol di buka, dengan tegas meminum seluruh botol. Rasa pahit dan menyengat bahkan tidak mengubah wajah kaku.
Penonton yang melihatnya sedih, dan penasaran, karena jelas ini baru lima belas menit waktu penayangan, jauh dari berakhir.
Disana bahkan penulis terbawa suasana. Sampai penulis menemukan, waktu seolah berhenti, film berhenti, orang-orang diam seperti patung, bahkan udara berhenti bergerak.
Hanya dia yang bergerak.
__ADS_1
Ketika penulis itu, Adam Stone, bingung dan bahkan takut dengan kejadian aneh ini, kebencian tak berujung seolah mengunci tubuhnya.
Ketakutan muncul dari lubuk hati, dia mendengar suara, seolah persis bicara di sampingnya.
"Aturan!, ingat aturannya!" Suara wanita itu takut dan khawatir.
"Jangan menentang batasku!, atau perjanjian dibatalkan!" suara wanita itu muncul lagi, kali ini perintah tegas dengan suara penuh keagungan.
Tidak ada jawaban, tubuh adam masih kaku karena ketakutan dan ketegangan, detik seperti selamanya, ketika Adam ingin mencari cara untuk kabur, penglihatan menjadi gelap, rasa pingsan sangat jelas.
Ketika dia bangun lagi, itu bukan lagi tubuhnya yang sehat, tapi tubuh kurus, lemah, dengan rasa sakit di seluruh tubuh.
Terutama lidah, kaku dan rasa pahit masih tersisa di mulut.
Adam masih bingung dengan apa yang terjadi, mencoba mengingat alasan dia pingsan, tapi dia tidak bisa ingat sedikitpun.
Hanya tau sedang berbaring di permukaan dingin dan keras, suara berisik terdengar samar, bau obat menyengat hidung.
Dengungan semakin dekat, rasa tajam semakin menyengat, membuat bulu kuduk merinding.
Refleks pertama adalah menghindar, tapi kelopak mata sangat berat diangkat, apalagi bagian tubuh lain.
Tekanan semakin dekat, perasaan kematian yang akrab kembali muncul.
__ADS_1
Adrenalin melonjak, namun hasilnya bukan tubuh yang bergerak, tapi ledakan di bawah tubuh.
Duuuuddd.
Suara kentut mengagetkan petugas otopsi, lagi pula dia sendirian disini, jelas dia tidak kentut?, tapi suara dan bau ini nyata!.
Bahkan adam sangat sesak dengan bau ini, seolah tidak tahan.. akhirya tubuh bergerak, kelopak mata terbuka, menunjukan pupil hitam kusam, tangan bergerak, menutup mulut dan hidung.
Petugas otopsi ketakutan, ditambah bau memuakan, respon tubuh adalah langsung pingsan.
"Sialan!, siapa yang kentut di bioskop!" Pikir Adam dengan kesal, sampai ingatan asing muncul dibenaknya.
Ingatan ini dibeberapa tempat sangat akrab, terutama nama, dan penampilan orang-orang yang terlibat.
Ini bukan tubuh Luke itu.. Kan?. Kemungkinan ini membuat wajah kurus semakin pucat.
Takut dengan apa yang terjadi, lagi pula kelahiran kembali cocok untuk cerita, tapi untuk dialami sendiri bukan hal baik.
Belum lagi dia sangat jelas, pengaturannya untuk protagonis sangat busuk!.
Maafkan dia, tulisannya hanya menarik jika protagonis mengalami pasang surut.
Apa yang paling membuat pasang surut selain keberuntungan yang buruk ditambah tidak bisa mati?.
__ADS_1
Belum semenit dia menempati tubuh Luke, hanya dengan menerima ingatan saja, dia sudah gemetar, frustasi dan ketakutan.
"Masa depan... Apakah akan semakin Suram?" gumaman pelan, tapi sangat terngiang di telinga dan pikiran.