
POV : Andra
Dra, lo d mana woy? Lama banget nyampe nya, ini si Bagas udah pengen beranak, nungguin lo kelamaan. Anji***, sakit Mahmudin kenapa lo pukul pala gue”
Gue menjauhkan telepon genggam yang cukup berisik karena pertengkaran Bagas dan Dion. Melirik waktu pada jam yang melingkar di lengan kiri, waktu janjian kami memang terlambat, lebih tepatnya gue yang agak ngaret karena kejadian tidak terduga yang mengharuskan gue kabur dari rumah secara sembunyi-sembunyi. Udah mirip nyuri ayam tetangga terus ketahuan yang punya rumah.
Gue tunggu sampai sepuluh detik lamanya, baru telepon genggam gue tempelin lagi ke kuping. Menunggu dua orang gigolo di seberang sana untuk tenang, yang pastinya sangat mustahil. Meskipun, artis Lucinta lima berubah jadi laki lagi.
“Bro, lo dimana sih? Ko, hening banget. Lo enggak lagi di gang Dolar kan? Anj*** lo, nggak ngajak-ngajak gue,”
“Eh, si Andra lagi di tempat itu? Sumpah brengsek tuh orang nggak ngajak-ngajak.”
“Gue masih di jalan bang***. Pikiran lo travelling kemana-mana.”
Gue melirik di balik dinding bata merah yang sekarang jadi tempat persembunyian.
“Di jalan ko sepi banget, gimana gue nggak curiga coba? Ayang, di mana sih aku kan kangen”
Gue mendengus mendengar obrolan Dion yang mulai gila.
“Jauh-jauh lo Ion dari gue. Jijik. Sumpah gelay gue . Andra lo, mesti cepat ke sini, selamatkan kesucian gue!”
“Sinting lo berdua. Udah gue tutup dulu teleponnya, ntar gue ceritain. Sekarang gue harus kabur dulu. Lo berdua main aja dulu, mungkin gua bakal lebih lama lagi agak terlambat” Tutt, telepon gue matikan, sebelum dua penghuni RSJ makin protes.
Bersandar di dinding bangunan tua, yang sekarang jadi persembunyian. Melirik kiri kanan---mengintip. Siapa tahu ondel-ondel Mona udah nggak ngejar lagi, sumpah ini bukan hari yang beruntung.
Mona alias Monalisa Sarasvanjava. Cewe setengah dedemit yang di jodohin nyokap benar-benar sangat mengganggu aktifitas. Kemana-kemana itu cewek ngintilin mulu.
“Sial, kenapa bisa ketemu pas di rumah, sih. Apa ini rencana nyokap lagi”
Gue mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ternyata, gue berada di dekat pasar yang banyak dengan ruko-ruko. Namun, terlihat sepi pembeli, “nih, tempat mistis banget. Aneh aja lagi, udah tau sepi pembeli masih aja itu ruko-ruko masih buka”
Gue keluar dari tempat persembunyian, mencoba mencari jalan keluar.
“Andraaa.. kamu di sana rupanya, aku nyariin kamu dari tadi loh! Aku cape ngejar-ngejar kamu”
Kaget, secepat kilat gue lari lagi. “Kenapa bisa ketahuan sih, lagian tuh orang udah tau capek bukannya balik kandang, malah ngintilin lagi”
__ADS_1
Gue melirik ke segala penjuru dan menemukan ruko satu-satunya yang kosong, entah kemana penjanganya, dan buru-buru masuk ke sana, sembunyi di balik etalase barang-barang jualan. Sedikit mata gue mengintip di balik etalase, semoga dia udah nggak ada.
“Heh! Mas, mau nyuri ya? Ayo, ngaku?”
Gue berbalik ke belakang. Kaget. Dan menemukan seorang perempuan dengan dandanan preman, atau sebenarnya dia laki yang menyamar? Entahlah, sedang menautkan kedua tangan di pinggang, siap menelan hidup-hidup.
“Malah bengong lagi. Lo maling ya? Kurang ajar, perlu gue sambit nih orang pake jurus kuda liar”
Gue mulai berdiri dengan tegak, dan melihat si preman sedang memasang gerakan yang sangat aneh. Kaki satu diangkat dan kedua tangan seperti sayap ayam yang terbang. Mulai mengayunkan tangannya ke badan otomatis gue melindungi diri buru-buru.
“Eh, gue bukan maling, sumpah! Gue, cuma numpang sembunyi doank sebentar, Mas!”
“Mas, Mas, Mas, Mulut lo ya, gue cewe”
Si preman mulai kembali ke posisi semula, gue mulai memperhatikan wajahnya lebih detail lagi, dan mengerjap. Benar dia cewe?
“Lo, cewe? Sumpah sorry, gue nggak tahu”
Dia memutar bola mata, mungkin kesal dengan panggilan gue yang menyinggung perasaannya. Tapi beneran kalau dia nggak bilang cewek, dengan dandanan jeans sepaha longgar, kaos longgar belel, dan rambut pendek yang masih bisa diikat, siapa yang sadar nih orang perempuan?
“Ya, makannya, biar tau kenalan dulu. Gue Alira, pemilik. Eh-maksudnya pegawai ruko ini, nama lo siapa?”
“Gue Kaliandra sen-Aw!” tiba-tiba tangan gue dipelintir, nih cewe Samson juga.
“Hahaha, modus penipuan lo, ya? Berani bohong lagi, emangnya gue nggak tau lo mau nyuri, hah! Dasar maling nggak beradab, tampang aja cakep. Kelakuan minta disambit. Ngaku nggak lo mau nyuri? Atau gue teriak sekarang”
“Adududu, Ampun. Sumpah gue bukan maling. Aw! Sakit gila, lo mau matahin tangan gue ya?” sumpah sakit banget, tenaganya mirip kuda liar.
“Orang kaya lo, nggak bisa diampuni, perlu gue perjelas biar sadar. Tanggung jawab nggak lo”
“Aaaaa, yayaya gue tanggung jawab, lepasin dulu tangan gue ini”
“Bener lo, ya? Yaudah gue lepasin. Awas, kabur lo gue teriak”
“Iya” gue usap-usap tangan yang beneran merah gila, nih cewe makan barbel atau apa? Tenaganya, udah kaya kuli bangunan.
“Sekarang lo mau tanggung jawab gimana? Eh tunggu bentar” gue milirik dia yang mengambil secarik kertas dan bolpoin, yang entah sedang mencoret-coret apa di sana.
__ADS_1
Perasaan gue mulai nggak nyaman. Melirik ke sekitar jalan, takut-takut Mona mulai muncul lagi.
“Nih, tanda tangan. Cepet”
“Eh, apa nih?” seketika mata gue membulat, gila aja nih cewe suruh gue bayar denda banyak banget, nyuri juga enggak. “Ini, apaan lima juta? Gue aja nggak nyuri dan lagi apa nih. Saya akan bersaksi bahwa saya akan selalu belanja di sini setiap bulan saat produk dari toko Rubies launching, minimal tiga barang”
Gue mengacungkan kertas yang di pegang “Ini namanya pemerasan, lagipula emangnya lo punya bukti kalau gue nyuri?”
Alira terlihat santai, menggosok-gosok jari-jari tangannya, dan melihat ke arah gue “lo mau bukti? Gue punya buktinya, lo liat cctv di atas dan celana jins belakang lo”
Alis gue mengernyit dan mengecek saku belakang, dan menemukan satu batu giok antik. Ini kenapa bisa di sini?
“Sumpah, gue nggak nyuri ya. Lo pasti yang masukin. Nih, gue balikin!”
“Eh, sekali nyuri tetap nyuri ya, gue udah cek cctv. Lo emang nyuri, lo mau liat ayok! ikut gue”
Kedua kaki berayun, mengikuti tarikan tangan Alira dan melihat pada layar LCD yang diputar ulang. Mata gue melotot. Ini pasti di rekayasa. Sejak kapan tangan gue bisa masukin itu ke saku, tanpa sadar?
“Ini pasti penipuan. Lo mau meras gue kan? Gue nggak melakukan itu ya,”
Alira bersedekap,” Masih nggak mau ngaku lo ya, perlu gue bawa ke kantor polisi dulu, biar lo percaya?”
Jengkel sudah pasti, dua kali kena sial. Gue melirik ke arah jalan, siluet Mona mulai terlihat. Panik. Nggak ada pilihan lain, gue harus tanda tangan dan menyetujui persyaratannya.
“Nah, gitu dong. Lama banget sih lo. Yaudah, gue minta KTP lo sekarang sebagai jaminan”
“KTP gue nggak ada, ini adanya kartu nama” gue nggak bohong soal KTP, benar-benar tadi kabur tanpa persiapan cuma ada kartu nama yang masih tersisa di saku kemeja.
“Yaudah mana, nggak papa.” Alira mengambil kartu nama gue, alisnya terlihat mengeryit dan melihat ke arah gue “Dr. Kaliandra Atmajaya Sp. A. Lo, dokter? Ko, bisa nyuri sih? Nggak cukup gaji dokter?”
menurut ngana? Yakali, cuman buat beli bakmi pinggir jalan aja gue mesti nyuri.
“Andraaa…”
“Shit! Dia kesini lagi. Lo pegang dulu aja kartu nama gue, uangnya nanti gue transfer, lo tinggal pergi ke tempat praktek gue. Sekarang gue pergi dulu”
“Eh-”
__ADS_1
Buru-buru gue lari lagi, kesehatan jantung gue lebih penting, daripada dituduh mencuri.