
POV : Andra
Suara-suara bising itu mulai mengganggunya : Teriakan, pukulan, darah, hujan, silih berganti mengisi tiap melodi di kepala.
Deringan telepon yang tergeletak di atas kasur langsung membuka kedua kelopak matanya yang baru lima menit terpejam. Terdengar memaksa untuk segera diraih. Terlihat nama si penelpon yang langsung melengkungnya kedua sudut bibirnya ke atas.
“Halo, Mar. Kenapa? Kamu masih kangen sama aku? Kita kan-” Ucapannya langsung berhenti, mendengar suara di seberang teleponnya, yang bukan dijawab dengan kalimat balasan serupa. Namun, oleh suara tangisan yang terdengar begitu memilukan.
Sudah bisa dipastikan, hatinya langsung ikut bergemuruh. Baru lima belas menit lalu dirinya bertemu orang di seberang telepon dengan wajah berseri. Tanpa, ada gurat-gurat kesedihan muncul.
“Halo. Halo. Mar? Are you, ok?”
“Ndra, aku… Hiks. Takut. Tolong.. hiks. Hiks. Ndra,...”
“Mar. Kamu kenapa? Kamu tenang, ya. Aku segera kesana sekarang. Tunggu.”
Segera di raihnya, jaket yang tersampir di atas sofa pupus warna hijau tua. Menjalankan mobil dengan kecepatan gila. Pikirannya terasa kalut. Tidak merasa peduli pada pengendara lain yang mengkalsonnya beberapa kali. Hingga tubuhnya sampai di lokasi tempat yang dituju. Matanya langsung menjelajah seisi apartemen yang terasa berbeda saat dirinya tinggalkan beberapa puluh menit lalu.
“Mar. Kamu di mana? Marina.”
Ruang tamu, dapur, balkon semua sudah dirinya cari namun nihil. Hingga terdengar suara kucuran air dari arah kamar mandi langsung mengantarkannya untuk segera berbelok. Dan disanalah orang yang dicarinya sedang mengguyur diri dengan air shower hingga membasahi seluruh pakaian yang masih lengkap. Segera di raihnya tubuh itu ke dalam pelukan.
“Are you ok? Kamu kenapa?”
Wanita dalam pelukannya masih menangis, menelungkupkan wajah tanpa berniat mendongak sama sekali. Dia menggeleng. Tidak berniat bersuara juga. Hingga sepuluh menit lamanya, baru dia menengadah menyejajarkan wajah. Terlihat mata yang sembab, hidung merah, dan rambut yang tidak lagi bergelombang seperti terakhir kali kami bertemu karena guyuran air shower telah menghempaskan keindahannya.
“Ndra. Aku. Hiks. Aku. Kotor. Hiks. Hiks. Hiks”
“Maksud kamu apa? Kamu nggak kotor, Mar. Ini kamu lagi mandi,” mencoba bergurau di saat yang tidak tepat. Karena wanita di depannya masih berekspresi yang sama. Dia menggeleng. Tangisan kembali pecah.
“Aku kotor. Aku ingin mati aja. Hiks. Ndra. Aku ingin mati aja.”
“Kamu ada apa sih, Mar? Jangan bikin aku bingung. Kamu kenapa?”
Diraihnya wajah wanitanya untuk mencari jawaban. Dengan bibir yang terlihat bergetar hebat. Dia merapalkan satu kalimat yang telah menghancurkan jiwanya, juga.
“Aku.. hiks. Hamil. Hiks. Ndra, aku hamil”
“Hamil?” ucap bibirnya lirih, kembali mengulang kalimat yang sama. Dan lepaslah kedua kedua jari-jari tangan, di wajah wanitanya.
Dunianya seakan ikut runtuh. Wanitanya. Marina Saras Ningtyas. Hamil.
“Ndra. Aku mau mati aja, Ndra. Hiks. Kamu juga pasti jijik sama aku, `kan? Aku nggak bisa hidup dengan membawa aib keluarga dan cinta tulus kamu ke aku”
Dunianya masih belum menjejak sempurna ke bumi. Dirinya terlalu kaget. Hingga, pukulan tangan dari kaca kamar mandi menyadarkannya kembali. Marina sedang menghukumi dirinya sendiri. Dia memukul-mukul kaca dan perutnya.
“Hentikan. Mar! Aku bakal tanggung jawab. Aku akan nikahin kamu. Berhenti!”
“Lepasin. Ndra! Lepasin. Ini bukan anak kamu. Ini bukan anak kamu. Ini… bukan anak kamu.. hiks. Aku… pernah di perkosa orang lain, Ndra. Hiks. dua bulan lalu...”
__ADS_1
Marina di perkosa. Darahnya langsung terasa mendidih. Siapa yang berani memperkosa wanitanya? Wanita lembut yang bahkan tidak berani membunuh seekor semut pun. Biadab orang itu. Segala kalimat umpatan langsung datang di kepala. Siap dilontarkan oleh lidahnya, namun. Sebisa mungkin dirinya tahan. Demi wanitanya, yang saat ini hancur bersamaan dengan dirinya.
Semuanya terasa pupus. Hingga rentetan kejadian lain ikut menjatuhkan pertahanan tubuhnya. Marinanya bukan lagi miliknya, dia sudah pergi.
“Hah… hah.. hah..”
Mimpi itu lagi. Mimpi buruk yang seperti bom waktu. Melirik pada jam yang menempel di dinding. Pukul 08.30 pagi. Ternyata gue baru saja tidur hanya tiga jam saja. Setelah semalaman di sibukan di balik meja operasi. Tidur adalah waktu emas bagi seorang dokter. Apalagi gue. Mimpi yang seperti terasa seperti penyakit, selalu datang di saat gue lelah.
Deringan telepon mengalihkan pikiran yang beberapa detik lalu gue pakai untuk melamun. Melihat pada nama yang tertera di layar. Alis gue terangkat satu. Seperti biasa dua kupret yang selalu jadi pengganggu ketenangan batin baru saja menelpon.
“Kenapa?” Dengan malas gue menggeser ke icon hijau. Dan beranjak dari kasur empuk yang sangat sayang sekali sebenarnya gue tinggalkan. Mengambil handuk dan mulai melangkah ke tempat keramat untuk menyegarkan otak yang terasa keruh.
“Lo dimana, Man?”
“Di apartemen” Jawab gue singkat sambil menekan tombol loudspeaker. Dan mulai menyalakan shower mandi. Berbicara dengan berteriak terasa cocok untuk kami berdua saat ini seperti penghuni Kebun Binatang Ragunan, karena kucuran air shower lebih mendominasi melodi di bathroom ketimbang suara Dion di seberang telepon.
“Man. lo bisa ke sini, `kan? Ke markas. Ada yang mau gue sama si Bagas obrolin”
“Hmmm..”
“Lo, ngomong apa sih, Ayam. Gue nggak denger. Lo lagi mandi ya? Sumpah suara lo yang kedengaran cuma lagi horni.”
****** si Dion. Sejak kapan gue horni karena denger suara dia telepon.
“Gue lagi sikat gigi kupret. Bentar lagi gue on the way. Gue harus mandi dulu. Subuh tadi gue habis operasi langsung tidur, Ion. ”
Terdengar suara Dion yang tertawa lepas. Rasanya, gue jadi ingin mutilasi nih anak. Otak sama mulut terlalu dekat jadi nggak ada bedanya.
“Si anj-” Tutt. Telepon lebih dulu mati, sebelum ucapan manis gue keluar. Mendengus. Kemudian menaruh asal telepon di meja wastafel. Melanjutkan aktifitas mandi yang butuh effort lebih, untuk menangkal segala hal-hal mistis yang mungkin akan terjadi saat gue pergi ke markas. Melirik sekali lagi pada cermin. Wajah gue juga udah kinclong dari hutan rimba.
Waktu antara mandi dan persiapan juga perjalanan ke lokasi memakan waktu satu jam lebih. Hingga kedua kaki gue mendarat dengan sempurna di markas. Dan menemukan dua kumpert yang telah lebih dulu asik dengan mainan billiard mereka.
“Ko. Lo ngga jadi pake kolor sih. Man? Padahal gue udah posting di social media. Di cari bini untuk dokter Kaliandra, syarat yang penting body oke. Siap menerima suntikan tiap hari. Dan kuat di-” Plak. Satu pukulan berhasil mendarat di kepala Dion. Emang bener nih kupret perlu gue jeblosin ke RSJ. Mulutnya sebelas-dua belas kotoran kuda.
“Hahaha. Canda. Man. Lo sensi banget sih. Apa karena cewe baru lo?”
Pantat yang beberapa menit lalu sudah mendarat di sofa, tiba-tiba terasa panas. Membuat kepala gue ikut menengok pada Dion dan melirik pada Bagas secara bersamaan dan menemukan keduanya yang sedang mengulum senyum menjengkelkan.
“Cewek baru mana? Gue masih free”
“Lo denger, Gas? Si Andra masih free. Padahal satu Benua udah pada tau dia kemarin menggemparkan seisi rumah sakit dengan toa-nya. Hahaha.”
Gue berdecak sebal pada Dion yang kini sedang menyandarkan badannya di meja billiard. Begitupun Bagas yang ikut menggelengkan kepala. Merasa tindakan impulsif gue kemarin seperti pengumuman virus yang akan mematikan orang-orang di seluruh Dunia.
“Lo denger di mana sih, Ion? Kemarin gue cuma lagi kesel aja ada si Mona di rumah sakit. Lo tahu kan kalau ada dia kepala gue kadang suka jadi overload.”
Gue melirik Dion yang mengangguk, dia mendekat kemudian duduk dan menyampirkan sebelah tangannya di punggung sofa.
“Gue kebetulan aja lewat ke rumah sakit Bokap lo. Dan. Melihat satu episode ftv yang cocok banget masuk jam tayang menjelang siang” Bisiknya sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
Gue mendengus, apalagi ditambah dengan si Bagas yang sekarang ikut tertawa. Ini semua gara-gara tindakan impulsif gue dua hari lalu. Tanpa pikir panjang langsung melakukan hal gila. Lagian si Mona juga bar-bar nya ngga ilang-ilang. Di tempat umum masih aja bikin senewen.
“Gue nggak ada apa-apa sama dia”
“Dia yang mana maksud, Lo?” Gue melotot pada Dion. Yang sekarang dia sedang mengulum senyum.
“Sabar. Man. Lo makin sensi aja deh punya cewe baru. Lagian cewe lo juga oke. Savage banget. Lo harus lihat, Gas. Orangnya. Widih, beda dari cewe-cewe yang biasanya si Andra pacarin. Cool banget, Man”
“Udah gue bilang, gue nggak ada hubungan apa-apa sama tuh anak. Cuma kenal karena dia mau nipu gue.”
“Nipu gimana, Bro?” Gue melirik Bagas berhenti menyodok bola billiard. Dan terlihat ikut penasaran.
“Tunggu. Tunggu. Tunggu. Apa dia cewek yang lo bilang memanipulasi lo soal Batu Giok itu?”
Mata Dion terlihat membulat. Dan kepalanya ikut menggeleng, kemudian berdecak takjub.
“Fiks. Dia cocok jadi cewek lo, Man”
Alis gue bertautan. Kenapa dia jadi cocok cewek gue? Kenal juga engga? Dua kali ketemu aja ngga ada kesan manis-manisnya. Malah pas si Mona berhasil di hempaskan, tuh cewek malah meracau dan bilang gue gila.
“Dia cocok jadi cewek lo, untuk menangkal virus si Mona. Dia adalah kandidat terbaik untuk jadi cewe lo. Lo tahu kan beberapa cewe yang kenal sama lo di apain sama si Mona?”
Gue nggak lupa, gimana Monalisa benar-benar sangat sangat mirip dengan Conjuring. Tuh cewek, tiap gue deket dengan lawan jenis atau cewek yang nggak salah apa-apa cuma karena melirik gue, menurut alasannya. Langsung besoknya undur diri, nggak berani curi-curi pandang lagi. Bahkan, kalau lewat papasan akan lebih memilih puter balik ketimbang bertatap muka. Berasa gue ini petugas satpol PP, yang mencari pedagang nakal.
“Inget anak Koass yang nganterin lo minum, besoknya gimana? End” ucap Dion sambil menggerakan tangannya ke leher. Gue mengangguk.
“Bener, Man. Gue rasa cewe yang ini cocok jadi pacar lo. Ya, paling nggak lo bisa minta bantuan dia buat lo bisa bernafas dengan lebih baik. Lo emang engga cape di kejar-kejar dia terus?”
“Maksud lo, kontrak pacaran?”
Gue melihat Dion dan Bagas bergantian. Mereka mengangguk serempak.
“That's right. Man”
__ADS_1