
POV AL**IRA**
Bolak-balik kartu nama di tangan gue liatin, “Ini orang, beneran dokter ya? Kok, gue kaya kenal ini nama. Siapa ya?”
Mencoba menggali ingatan di kepala, yang ternyata buntu. Mungkin isi kepala ini butuh asupan Rujak Petis (Rp), baru bisa jalan. Sampai suara bariton Ibunda Maryam terdengar di balik pintu. Sangat menggelegar, seperti biasanya.
“Ali! Kamu jadi berangkat kerja lagi atau enggak? Ibu mau ke pasar dulu, kamu jangan lupa kunci rumah, jangan lupa kuncinya ditaruh dalam sepatu butut Bapak kamu. Hati-hati, cek semua pintu dan jendela sebelum berangkat, takut ada maling. Ali! Kamu dengar tidak!”
“Ya Salam, perlu banget teriak. Iya Nyonya! Inem, nanti simpan di tempat yang Nyonya perintahkan, Inem juga akan kunci semua pintu dan jendela, tidak lupa mengunci brankas kita, yang sangat kosong sekali isinya. Ada lagi, Nyonya?!”
“Gila kamu Ali, buka-buka aib keluarga”
“Salah lagi gue”
Terdengar pintu yang ditutup. Hening. “Ckckck. Lama-lama penghuni kebun ragunan pindah ke rumah ini kali. Cocok banget buat olah vokal Tarzan”
Melihat lagi pada kartu nama. Mengangguk. “Sudah gue pilih. Ini kartu nama bisa jadi Golden ticket. Gue, harus gunakan ini dengan bijak. Hahaha. Dia nggak tau aja kemarin gue kibulin. Ckckck cakep-cakep nggak menjamin IQ tinggi berjalan ternyata?”
Akhirnya, dengan perasaan riang gembira, bakal gue susul ke tempat kerja dia. “Pake baju yang mana ya, yang pas? Hmmm. Yang hijau ulet keket, atau kuning ngambang di kali? Ya ampun. Baju gue sama semua modelnya ternyata. Masa Bodo lah, yang penting pake baju.”
Setelah persiapan yang memakan waktu kurang dari sepuluh menit, dan perjalanan yang tidak lebih dari satu jam. Kaki ini akhirnya, sampai di depan gedung yang tertera di kartu.
“Gede juga gedungnya, roman-romannya nih orang tajir melintir, berputar-putar”
Melihat sekeliling. Area parkir gedung, “tanya siapa ya? Eh, ada satpam tuh. Coba, gue tanya dia ah”
Semakin mendekati area pos satpam, mata gue memicing pada tayangan tv yang ditonton si satpam. “Hati-hati minum minuman bersoda, mengandung boraks. Jangan di kocok, nanti dia goyang-goyang terus bikin video di Tok-tok. Awas Viral!” Gue geleng-geleng kepala. Berita hari ini semakin berkualitas saja
“Permisi, Pak”
Satpam balik badan. Melirik gue dari atas sampai bawah. Dengan buka datar dan ingus yang setia menemani. Apakah dia sangat terharu dengan berita hari ini?
“Mau minta sumbangan ya? Ckckck. Masih muda, banyak banget modusnya. Gimana Negara ini mau maju, rakyatnya aja modelan begini semua”
Lah, dia geleng-geleng kepala, dikira gue pengemis kali. Asem!
“Pak, saya bukan mau-”
“Ya. Ya. Ya. Saya tahu. Kamu mau minta keikhlasan saya kan? Nggak ada, saya bukannya nggak mau ngasih, beli nasi di warteg aja masih ada kasbon. Saya nggak punya uang, lain kali aja. Sana kamu pergi. Hush”
Dikira gue kucing. Pake diseret segala.
“Pak. Pak. Pak. Dengar dulu Pak, saya bukan pengemis saya-”
“Halah, pakai bohong segala lagi kamu. Saya enggak bakal ketipu, cepat kamu pergi. Perlu saya laporkan kamu pada pemilik gedung ini?”
Dengan sisa kekuatan yang di punya, gue mencoba bertahan dari seretan satpam ini. Dan menyentakkan tangannya. Berkacak pinggang. Emangnya gue takut?!
“Pak, dengar. Tindakan Bapak ini justru yang bisa saya laporkan. Bapak nggak tahu saya ini siapa? Hah?”
“Memangnya kamu siapa? Anak Presiden? Hahaha, mau nipu pakai banyak alasan kamu. Cepat, ayo pergi!”
Lah di seret lagi, emang nih satpam kudu gue kasih peringatan sedikit. Maaf, pak harus saya beri sedikit tambahan ilmu hari ini. Tangannya gue pelintir sedikit, dan dia pun berhenti menyeret gue.
“Adududu, kamu mau apain saya. Sakit aduh. Kamu mau rampok ya. Tol-”
__ADS_1
“Heh! Diem, malah teriak maling lagi. Gue, bukan pengemis ataupun maling ya, gue cuma mau ketemu dokter Kali- Siapa ya namanya? Lupa lagi gue, Kali…” Ciliwung? Kali-selokan, atau Kalimantan ya? Gila, bisa-bisa di saat genting gini malah lupa. Bujubuneng.
“Hmmppt, th mmp,” melirik. Si satpam masih gue bungkam mulutnya. Lupa, bisa-bisa dia mati, gue beneran masuk penjara.
“Saya lepasin nih Pak, asal Bapak diem. Ok?”
Satpam mengangguk. Dan sedikit membungkuk setelah lepas satu tangan di mulutnya, mungkin kekencengan gue bekap dia. “Hah, hampir saya mati karena kamu ya. Lepasin tangan saya juga donk yang ini, nanti dikira saya suka sama kamu lagi. Saya nggak mau ya, istri saya salah paham nanti”
Secepat kilat gue lepasin. Amit-amit, selingkuh sama modelan nih satpam, ganteng, tajir juga engga. Jadi istri pertama juga ogah. hiii..
“Jadi, kamu ada apa kemari? Mumpung saya lagi baik nih, kalau minta sumbangan, di sini tidak memberikan sumbangan secara tidak ilegal.”
“Ya, ampun Pak. Siapa juga yang mau minta sumbangan. Dari tadi Bapak nuduh saya terus, saya bisa melaporkan balik Bapak ke Komnas HAM, loh,”
Gue liat si satpam malah misuh-misuh. Sabar Alira, demi rezeki lo lima juta. Jangan sampai hilang, cuma karena perkedel jagung ini.
“Jadi kamu mau apa ke sini?”
“Nih, saya mau nyari orang di kartu nama ini,” karena gue beneran lupa, akhirnya gue sodorin ke tangannya dia. Terlihat si satpam raut mukanya kek cilok, bulat-bulat tidak berbentuk. Terkejut.
“Kamu dari mana punya kartu nama Tuan Andra? Ini asli kan, bukan imitasi?”
Dia bolak-balik liatin tuh kartu. Ampun, dikira perhiasan imitasi.
“Beneran, Pak. Kalau Bapak nggak percaya bisa cek, di situ ada nomor Teleponnya. Saya mau ketemu dia orang. Kira-kira saya harus kemana ya?”
Si satpam kelihatannya masih belum percaya, dia nyodorin lagi balik kartu nama.
“Tuan Andra praktek di lantai tiga. Dia sibuk, perlu membuat janji temu dulu kalau ingin bertemu beliau. Tanya aja ke resepsionis di lobi gedung.”
“Yaudah makasih, Pam”
“Hmmm”
Idih, jutek banget. Gue sumpahin, kena racun soda boraks loh.
Mencoba mengikuti saran satpam yang menggemaskan minta di jitak, akhirnya gue menyusuri lagi area parkir, dan siap masuk ke area dalam gedung. Namun, belum juga kaki yang berbalut sepatu kanvas kesayangan ini sempurna melangkah di dalam lobi. Tiba-tiba, pundak ada yang menyenggol cukup keras, akhirnya dengan sangat tidak elegan, pantat mendarat di ubin yang licin, dan terasa sekali saudara-saudara sakitnya.
“Aw! Gila, sakit banget. Aduh, siapa sih yang nabrak?”
Melihat ke atas. Seorang perempuan dengan dandanan super hedon sedang menepuk-nepuk area bandan depannya dengan gerakan keras sambil menggerutu.
“Aduh, baju gue kena noda. Heh! Kalau jalan liat-liat. Dasar rakyat fakir lo. Nggak liat ada orang secantik gue lewat? Atau mata lo emang buta? Dasar kampungan.”
Lah, dia nyolot. Yang nabrak duluan dia? Kenapa gue yang di salahin? Engga bisa di biarkan nih.
Berdiri. “Heh, Non! Lo yang liat-liat. Jelas-jelas lo yang nabrak duluan. Gue liat lo, ya, tadi jalan cepat ke arah gue. Dan asal lo tau, attitude gue lebih oke dari mulut lo, yang harusnya minta maaf, malah menghina orang lain.”
Dia berkacang pinggang. Membulatkan mata. Sudah lebih serem aja dari si Mr pemilik batu giok. Kalau bisa di bilang, nih orang lebih cocok disebut temennya hantu Jembatan Ancol.
“Berani lo ya balas gue? Lo, nggak tau siapa gue, hah?! Sujud di kaki gue sekarang, atau gue tendang lo ke kolong jembatan. Rakyat fakir kaya lo, nggak pantes menginjak gedung mewah ini, lebih cocok jadi penerima bantuan BPJS. Se-le-vel,” dia tersenyum culas.
Mata gue membulat. Kemudian menautkan kedua tangan. Hah? Sulit dipercaya, masih ada Orang Utan jaman sekarang yang lebih Orangutan, ketimbang di Utan sendiri.
“Sorry, Mba? Situ, ngomong ke saya? Atau ngomong ke harga diri lo sendiri yang selevel? Mulutmu itu loh, Mba. Gue rasa, lebih cocok buat di periksa. Kali aja ada tusuk gigi nyangkut di tenggorokan. Hati-hati radang. Permisi, gue masih ada urusan mau lewat.”
__ADS_1
Baru juga, kaki ini dua langkah pergi, tiba-tiba badan udah terpelanting lagi aja ke belakang. Gila, cengkraman nih si penghuni Jembatan Ancol kenceng juga. Mana kukunya panjang-panjang lagi. Menyentakan dengan keras.
“Heh, mau ke mana lo? Minta maaf dulu ke gue. Lo tau? Baju yang lo senggol ini berapa harganya? Nggak akan sebanding sama ginjal lo meskipun lo bayar.”
Pake bawa-bawa harga diri lagi, sumpah pengen gue gampar. “Ha. Ha. Ha. Ha. Mba, udah gue bilang, yang nabrak duluan itu bukan gue. Jadi, asal lo tau juga, yang harusnya punya otak buat minta maaf itu siapa? Dan lagi..” Gue liatin, model bajunya dari bawah sampai atas. Mengangguk, “cocok sih buat lo itu baju, keliatan mahal. Tapi sayang, kemahalan di baju lo, nggak sebanding sama IQ, kayaknya, uang lo kebanyakan pemborosan di badan, ketimbang tambah di ilmu biar rada pinter. Dikit”
Muka dia makin merah padam. Orang model begini memang harus dilawan, nggak selamanya yang miskin harus tertindas. Lagain nih orang siap sih? Songong banget.
“Lo, dasar kaum Sudra! Kurang aj-”
“Mona!”
Tangan dia udah siap melayang di pipi. Sebelum suara bariton, menghentikannya di udara. Kami berbalik serempak, pada pemilik saura. Si Dokter yang gue cari ternyata sedang berjalan mendekat dengan langkah lebar. Dan, si Kunti langsung bergelayut manja, mirip ulet keket.
“Andra. Dia jahatin aku”
“Lepas, nggak usah pegang-pegang. Lagian lo ngapain masih di sini sih? Bukannya dari tadi udah pergi?”
Gue melirik pada dua orang yang sekarang sedang bertengkar kecil. Malas.
“Dra, kok kamu gitu sih sama aku? Aku abis di jahatin dia loh”
Si Kunti malah membalikan fakta. Makin malas aja. Memutar bola mata kemudian melirik pada Kaliandra. Dari raut mukanya sih, keknya Dokter Andra ini nggak suka dengan si Kunti.
“Yang gue liat tadi lo, yang mau nampar dia, Mon. Lepasin! Mending sekarang lo, pulang. Atau gue bener-bener ngga mau datang ke acara ulang tahun Papah lo.”
“Tapi, Ndra…”
“Mon, pergi atau-”
“Emangnya dia lebih penting dari aku? Sampai kamu engga mau datang ke acara ulang tahun papah?”
“Cuk-”
“Kenapa? Jawab aku, rakyat jelata kaya dia nggak perlu dibela, Ndra.”
“Mona. Berhenti! Lo, nggak berhak menghina orang lain, cuma karena masalah sepele”
“Dra, tega kamu lebih belain dia daripada aku. Siapa dia? Emang dia lebih penting daripada aku?”
“Cukup, Mon. Omongan lo mulai ngelantur ke mana-mana.”
“Ndra, Dia ini Babu baru kamu di sini, kan? Pegawai Cleaning servis ? Tega-”
“Dia pacar baru gue. Puas lo.”
Kaget. Menengok ke samping. “What?!” the hell?
“Apa?!!” Si kunti ikutan melotot, “kamu bercanda? Dia…”
“Ya, dia pacar baru gue, namanya Alira” Kaliandra menengok, sambil merangkul bahu. Mulut gue masih belum mingkem.
What the hell? Kenapa bisa jadi kaya gini?
“Sekarang kita pacaran” Jawabnya.
__ADS_1
Apakah ini karma yang kedua? Please, tolongin gue!