
"Jeje, gimana rasanya nikah sama berondong?" tanya Melati—salah satu teman satu divisi dengan Jelita.
"Ya, enggak gimana-gimana," jawab Jelita cuek.
"Ah lo enggak asik banget." Melati berdecak kesal.
"Lagian ngapain lo nanya begitu? Kalo lo pengen tahu, gih sana nikah sama berondong biar lo tahu rasanya gimana," tukas Jelita.
"Yaelah, Je. Apa salahnya lo jawab pertanyaan Melati? Lagian gue juga kepo nih gimana rasanya. Gimana? Apa dia bisa muasin lo di ranjang? Berondong 'kan punya jiwa muda gitu 'kan ya." Teman Jelita yang bernama Jessika itu pun ikut nimbrung, bahkan kekepoannya lebih parah dari Melati tadi.
"Pertanyaan lo sama sekali enggak ada akhlak, Jess. Udah enggak usah ngurusin urusan rumah tangga gue, lebih baik kalian kerjain aja tuh pekerjaan kalian," ujar Jelita ketus.
Jelita memang terkenal paling ketus dan judes di antara mereka, tak heran jika ia berani berbicara seperti itu dengan temannya. Beruntung temannya itu sudah paham dengan sifat Jelita, jadi mereka tidak akan merasa tersinggung.
"Pelit amat sih lo, Je? Kita nih 'kan penasaran. Secara lo belum cerita ke kita gimana bisa lo dilamar sama Roni tapi ujungnya lo malah nikah sama berondong. Ayolah, kita nih butuh penjelasan dari lo, Je, hitung-hitung pajak nikah lo buat kami." Jessika terus membujuk Jelita agar wanita itu mau cerita, Melati pun tak mau kalah, ia mengangguki perkataan Jessy sambil menatap Jelita penuh harap.
Melihat kedua temannya yang sangat keukeh mendengar ceritanya, Jelita menghela napas. Sepertinya ia tidak bisa menyembunyikan semua kejadian beberapa hari belakangan ini pada kedua temannya itu.
"Ya udah nanti pas kita istirahat jam makan siang gue cerita. Sekarang kalian balik kerja, gue nggak mau ya kalo Pak Noto negur gue karena kalian yang dari tadi rusuh di meja gue," ujar Jelita akhirnya.
"Nah gitu dong, Jeje yang cantik. Kita tunggu deh sampai jam istirahat, kami mau balik kerja dulu, bye!" Melati melambaikan tangannya, menarik tangan Jessika agar ikut dengannya untuk kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Waktu makan siang telah tiba, sesuai janjinya, sambil makan siang Jelita akan bercerita mengenai hubungan asmaranya yang telah kandas dan semakin buruk saat harus dipaksa menikah dengan berondong SMA yang sangat menyebalkan. Mereka bertiga tengah berada di kantin kantor, pesanan makan siang mereka sudah ada di atas meja. Tinggal menunggu Jelita memulai ceritanya barulah makan siang kali ini akan sempurna.
"Jadi, gimana ceritanya?" tanya Melati.
__ADS_1
"Ceritanya akan jadi panjang, soalnya agak rumit juga sih ini," ujar Jelita.
"Ya tinggal lo singkat-singkat aja asal agak detail gitu, ayo cepat dimulai. Gue udah penasaran ini," desak Jessika tak sabaran.
"Sebenarnya gue sama dia itu udah dijodohin lama almarhum kakek gue dan kakek dia. Mama sama Papa juga enggak pernah setuju hubungan gue sama Roni selama ini, tapi mereka mencari waktu yang tepat supaya gue dan Roni bisa pisah. Gue sama si cecunguk itu bisa nikah karena—"
Tereretet tereretet .....
Cerita Jelita harus terhenti ketika ponselnya berdering dengan cukup nyaring, pertanda ada sebuah panggilan masuk.
"Sebentar, gue angkat telepon dulu," ujarnya pada Melati dan Jessika.
"Yaah." Kedua wanita itu langsung memasang wajah bete-nya saat cerita yang teramat seru itu terhenti.
Jelita mengernyit ketika yang menelponnya adalah nomor asing, nomor yang tidak terdaftar dalam kontaknya. Karena penasaran, wanita itu langsung mengangkat teleponnya.
"Mbak, ini gue Raga." Mata Jelita melotot ketika mendengar suara bocah tengik yang tak lain adalah suaminya si Ragata Sadewa.
"Ngapain lo nelepon gue!?" tanya Jelita terkejut.
"Mana pakai nomor baru lagi!" ujarnya lagi.
Jelita sama sekali tidak menyimpan nomor Raga, tetapi laki-laki itu sangat sering menghubungi Jelita dan itu membuat Jelita jadi hafal nomor yang sering menghubunginya meskipun tanpa username. Ia agak terkejut ketika Raga meneleponnya dengan nomor baru, jangan-jangan bocah tengik itu hanya ingin mengganggunya saja dan memang berganti nomor karena panggilan dengan nomor Raga yang biasanya tidak pernah ia angkat.
"Ini gue pake hape temen gue, Mbak. Hape gue ketinggalan di kelas," jelas Raga menjawab semua pertanyaan Jelita.
__ADS_1
"Terus ngapain lo nelepon gue!?" tanya Jelita.
"Gue minta tolong banget lo ke sekolahan gue, Mbak. Guru BK mau ketemu sama lo," ujar Raga.
"Wah, kalo udah urusan sama guru BK lo pasti habis cari masalah. Ngaku lo!" sentak Jelita galak.
"Hehehe, kok lo tahu aja sih, Mbak? Benar-benar istri pengertian." Raga menyengir.
"Benar-benar ya lo! Ya udah lo telepon aja Bunda lo, minta beliau ke sana biar beliau tahu anaknya ini suka cari masalah kalo di sekolah," ujar Jelita.
"Gue enggak mungkin minta Bunda ke sini, Mbak, soalnya gue udah sering ngerepotin Bunda. Berhubung sekarang gue udah nikah dan jadi suami lo, jadi enggak ada salahnya 'kan lo jadi wakil gue? Please, datang ke sekolah ya, Mbak? Gue butuh banget kehadiran lo, gue udah bilang sama guru BK kalo yang akan datang itu kakak sepupu gue dan bukannya Bunda. Please mau ya, Mbak?" pinta Raga penuh harap.
Seluruh keluarga baik itu dari sebelah Jelita dan Raga memutuskan untuk menyembunyikan pernikahan mereka dari beberapa pihak tertentu. Terutama dari teman-teman Raga karena Raga masih sekolah SMA. Sedangkan dari sebelah Jelita, hanya teman-teman baik Jelita saja lah yang tahu mengenai pernikahan mereka.
"Enggak! Kalo gitu gini aja, biar gue yang hubungi Bunda dan kasih tahu tentang hal ini biar lo tahu rasa!" ujar Jelita.
"Jangan dong, Mbak. Please, nangis nih gue kalo sampe lo kasih tahu Bunda." Jelita memutar kedua bola matanya malas, memang ia akan percaya kalau Raga benar-benar akan menangis kalau ia mengadu pada mertuanya itu? Yang ada pasti laki-laki itu sibuk menyengir sambil mencari pembelaan, khas sekali Raga si bocah tengil biang masalah.
Sebenarnya bukan sekali dua kali Raga meminta bantuan Jelita saat dipanggil guru BK, melainkan beberapa kali dan bódohnya kerap kali Jelita mau-mau saja hadir di sekolah Raga dengan status sebagai kakak sepupu laki-laki itu.
"Kalo lo bantu gue hari ini, gue akan ngelakuin apapun yang lo minta, Mbak. Please." Raga kembali bersuara.
Jelita terdiam, tawaran dari Raga cukup menggiurkan. Sepertinya hal ini bisa ia manfaatkan untuk memberi pelajaran pada Raga si bocah biang masalah, baik dalam hidupnya yang damai maupun di kehidupan sekolah.
"Oke, gue datang sekarang!" ujar Jelita akhirnya.
__ADS_1
"Guys, ceritanya gue pending ya, gue mau pergi ke sekolah tuh bocah tengil. Si biang masalah itu lagi cari masalah lagi kayaknya." Jelita berdiri dari duduknya, wanita itu mengambil tas yang ada di atas meja.
"Bayarin dulu ya ini, nanti gue ganti." Setelah mengatakan itu, Jelita langsung pergi meninggalkan kedua temannya yang berdecak kesal karena harus menahan rasa penasaran mereka lebih lama lagi.