
"Guys, gue balik dulu ya. Ceritanya gue pending, besok aja gue cerita," ujar Jelita berpamitan pada Melati dan juga Jessika.
"Yaah, kok dipending lagi sih? Kan lo udah janji tadi kalo kita mampir ke tempat biasa kita kumpul sambil lo ceritain semuanya sama kami," protes Jessika.
"Gue harus cepat-cepat pulang soalnya mau mampir dulu ke rumah mertua gue, janji deh beneran besok gue akan ceritain sedetail-detailnya sama kalian. Kalo sekarang gue enggak bisa, tadi keburu janji sama Bunda. Enggak enak juga 'kan kalo nolak ajakan orang tua," ucap Jelita.
"Jadi, gue sama Jess harus jadi orang tua dulu gitu biar lo tepatin janji lo?" tanya Melati agak sarkas.
"Enggak gitu, Sayang-sayangku. Kalo enggak nanti kita video callan deh, semisal kalian keberatan nunggu sampai besok." Jessika dan Melati saling pandang, seakan dua wanita itu tengah berkompromi.
"Oke lo jelasin aja lewat VC nanti," ujar Melati akhirnya.
"Kadang gue heran sama kalian, apa yang menarik dari kisah pernikahan gue sampai-sampai kalian kepo banget." Jelita menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran dengan kedua temannya yang super duper kepo dengan kehidupan pernikahannya.
"Soalnya kisah lo sama berondong lo itu pasti seru banget, Je," ujar Jessika sambil menyengir.
"Ada-ada aja kalian. Ya udah gue duluan ya, bye!" Jelita melambaikan tangannya kemudian segera keluar dari ruangan kantor.
"Lo ngapain ada di depan kantor gue!?" tanya Jelita terkejut ketika melihat keberadaan Raga yang masih dengan seragam SMA-nya yang lengkap berdiri di depan kantornya dengan motor yang terparkir agak sembarangan.
"Yang jelas gue nunggu istri gue pulang, Mbak. Mana ya istri gue? Kok lama banget keluarnya padahal gue udah nungguin dari tadi." Raga celingukan, seakan mencari-cari keberadaan seseorang.
"Enggak usah aneh-aneh lo!" Jelita menoyor kepala Raga.
"Aduh, sakit Mbak. Ternyata istri gue udah ada di depan gue, bidadari cantik yang udah nganiaya suaminya," ujar Raga sambil mengusap kepalanya.
"Lo mau gue pukul lagi!?" ancam Jelita sambil menunjukkan kepalan tangannya.
"Ampun Mbak Cantik yang pukulannya sama sekali enggak cantik karena sakit!" ujar Raga sambil menutupi kepalanya.
"Ish gemes gue sama lo!"
__ADS_1
"Gemes pengen nyium gue ya, Mbak? Sabar, Mbak, ini masih ada di jalan. Nanti aja kalo kita udah di kamar, lo bisa ngapa-ngapain gue sesuka hati lo. Mau lo perkosa gue juga, gue ikhlas lahir batin, Mbak." Lagi, Raga mendapat hadiah pukulan cantik dari Jelita karena kata-kata absurd bin vulgar yang ia katakan.
"Lo tuh memang minta dibasmi kayak hama ya!" ujar Jelita yang merasa kesal dengan Raga.
"Aduh, jangan dibasmi dong, Mbak. Gue enggak bisa, gue enggak mau. Nanti gue enggak bisa mencintai lo lagi kalo gue dibasmi." Jelita menghela napas panjang, menyabarkan hatinya yang tidak bisa sabar jika sudah berurusan dengan Ragata Sadewa.
"Percuma ngomong sama orang stres, yang ada gue ikutan stres," gumam Jelita kemudian berjalan meninggalkan Raga menuju parkiran mobil.
"Mbak! Lo mau ke mana!? Gue ikut!" teriak Raga kemudian seperti anak ayam yang takut kalau diterkam oleh hewan buas, Ragam terus mengintili langkah Jelita hingga akhirnya mereka tiba di area parkiran mobil kantor.
"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Jelita.
"Mbak Cantik mau ke rumah Bunda 'kan? Gue ikut ya, Mbak. Biar sekalian kita berangkat ke sana bareng," ujar Raga.
"Terus motor lo gimana? Lo 'kan bawa motor. Bawa motor lo aja sana sendiri," balas Jelita.
"Mbak, lo lupa kalau Bunda bilang kalau kita harus berangkat bareng?"
"Hehehe." Raga hanya menyengir.
"Gue jalan duluan pake mobil, terus lo bawa motor lo terus ngintilin mobil gue dari belakang sampai rumah Bunda itu juga termasuk kita berangkat bareng. Udah gitu aja!" Jelita membuka kunci mobilnya kemudian segera memasukinya, belum sempat Jelita mengunci pintu mobil, Raga dengan tidak tahu dirinya langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Jelita.
"Gue mau semobil sama Mbak Cantik pokoknya!" ujar Raga seperti anak kecil yang akan menangis kalau tidak dituruti keinginannya.
"Ya udah deh." Jelita pasrah, daripada mereka terus berdebat dan menghabiskan waktu lama lebih baik ia mengiyakan.
"Terus motor lo gimana?" tanya Jelita.
"Gue udah ngehubungin temen gue, Mbak. Biar dia nanti yang ngambil motor gue," jawab Raga.
Jelita hanya mengangguk, wanita itu pun mulai menjalankan mobilnya. Suasana mobil tidak sepi seperti yang Jelita inginkan, karena dari mulai ja menghidupkan mesin mobil sampai mereka di tengah jalan, mulut Raga terus saja berkicau. Tidak bisa berhenti bicara barang sejenak, ada saja bahan yang dibicarakan oleh laki-laki itu. Hingga akhirnya Raga bisa diam saat Jelita sudah membentak.
__ADS_1
Hingga mereka akhirnya tiba juga di halaman rumah keluarga Raga yang berseberangan dengan rumah keluarga Jelita. Jelita memiliki niat setelah berkunjung ke rumah Raga, ia akan pulang ke rumahnya sebentar.
"Akhirnya kamu datang juga, dari tadi Bunda nungguin kamu." Saat memasuki rumah, Bunda Santi langsung memeluk Jelita seakan ia adalah seorang ibu yang sangat merindukan anaknya yang tidak pulang-pulang ke rumah karena merantau.
"Yang anak Bunda tuh Raga bukannya Mbak Cantik. Kok yang dipeluk mesra malah Mbak Cantik?" protes Raga.
"Kenapa? Kamu mau Bunda peluk juga?" tanya Bunda Sinta penuh ancaman.
"Iya, mau dipeluk Mbak Cantik aja tapi. Enggak mau dipeluk Bunda, bau balsem," ujar Raga.
"Dasar anak nakal ya kamu! Sini Bunda beri pelajaran dulu!" Bunda Sinta melepaskan pelukannya dari Jelita kemudian menghampiri Raga lalu menjewer telinga si anak nakal itu.
"A-aduh, sakit, Bunda." Raga meringis kesakitan.
"Lepas, Bunda. Malu sama Mbak Cantik, masa suaminya yang ganteng ini kena jeweran maut sama emak-emak berbalsem merah?" tanya Raga sesekali meringis.
"Raga!" Bunda Sinta semakin mengeraskan jewerannya.
"Ampun, Bunda. Enggak ngulangin lagi deh, tapi lepas. Sakit banget ini, Bunda." Bunda Sinta akhirnya melepaskan jewerannya.
Raga cemberut, laki-laki itu mengusap telinganya yang panas dan memerah. Ulah siapa lagi kalau bukan Bunda tersayangnya yang suka menyakitinya? Namun, biarpun begitu Raga tetap sayang pada bundanya yang cantik tetapi bau parfum balsem itu. Mengingat ledekannya itu membuat Raga terkekeh geli.
"Kenapa kamu ketawa!?" tanya Bunda Sinta galak.
"Enggak kok, Bunda." Raga langsung menggelengkan kepalanya, tak berani berbicara macam-macam lagi karena telinganya masih sakit.
"Oh ya tadi kata Bunda Ayah nyariin aku karena ada yang mau dibicarakan. Ayah mana, Bunda?" tanya Raga.
"Ada di ruang kerja, kamu ke sana aja langsung. Bunda mau ajak istri kamu ngobrol dulu," jawab Bunda Sinta.
"Istri Raga jangan diapa-apain ya, Bunda. Jangan galak-galak juga!" teriak Raga kemudian segera pergi dari hadapan bundanya dan juga Jelita.
__ADS_1
"Raga!" teriak Bunda Sinta merasa kesal dengan kelakuan putranya.