
Sesampainya di sekolah Raga, Jelita langsung turun dari mobilnya kemudian berjalan menuju ruang BK. Sudah beberapa kali ke sini jelas saja Jelita sedikit hafal dengan arah ruang BK. Ada beberapa laki-laki berseragam SMA mencuri-curi pandang ke arahnya, tetapi Jelita hanya cuek saja. Ia tahu bocah-bocah SMA itu hanya ingin menggodanya saja. Lagipula fokusnya itu untuk menemui Raga, bukan meladeni bocah-bocah SMA yang tingkahnya itu sangat kurang ajar pada yang lebih tua. Jelita merasa kasihan pada guru BK karena memiliki murid seperti mereka-mereka ini yang pastinya sangat langganan sekali pergi ke ruang BK. Untung dulu dirinya saat dipaksa mengambil jurusan BK ia menolak dan lebih memilih mengambil jurusan bisnis, jika tidak maka ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hari-harinya jika harus bekerja mengatur murid-murid nakal itu.
"Mbak, cantik banget sih? Boleh minta nomor hapenya enggak?" Tiba-tiba saja ada tiga anak SMA menghalangi jalannya.
"Bocil-bocil yang ganteng dan imut, sebelum godain Mbak, belajar kencing dulu yang benar ya." Jelita mengusap salah satu kepala laki-laki berseragam SMA itu, ia tersenyum kemudian pergi meninggalkan tiga bocah SMA itu yang menggerutu kesal karena perkataannya.
"Mbak, gue udah bisa kencing yang bener kok. Terus kalo kita mau buat anak sekarang, hayuk aja! Pasti langsung jadi!" teriak bocah SMA yang ada di tengah-tengah tadi yang kepalanya Jelita usap.
Jelita menoleh sekilas, wanita itu memberikan kiss bye kemudian segera pergi dari tempat itu. Ada-ada saja kelakuan anak muda zaman sekarang, pikirnya. Karena setahunya semasa ia sekolah SMA dlu, mana ada yang berani menggoda seseorang yang lebih tua. Anak zaman now memang beda.
"Gue tungguin dari tadi ternyata lo sibuk ngegoda bocah-bocah itu ternyata, Mbak." Jelita terkejut ketika tiba-tiba saja Raga muncul di balik tembok koridor sekolah.
"Heh, ngagetin aja lo, Bocah!" ujar Jelita sambil mengusap dadanya karena terkejut. Raga hanya mencibir, wajahnya nampak kesal karena bisa-bisanya ia yang menunggu Jelita lama sedangkan wanita itu sibuk membalas godaan teman-temannya.
"Kenapa tuh muka lo kecut gitu?" tanya Jelita.
"Gue kesel lo ngeladenin mereka, Mbak, mana pake ngasih kiss bye segala lagi. Sama gue aja lo enggak pernah gitu." Raga sepertinya cemburu, meskipun itu hanya masalah sepele saja.
"Udah-udah, enggak usah dibahas. Ayo kita ke ruang BK, gue enggak sabar mau denger keluhan guru BK tentang kelakuan lo!" Jelita berjalan mendahului Raga menuju ruang BK.
"Untung gue cinta sama lo, Mbak, kalo enggak—"
"Kalo enggak apa!?" tanya Jelita galak sambil membalikkan badannya secara tiba-tiba.
"Kalo enggak, mau gue cium hehehe." Raga menyengir.
__ADS_1
"Sama kayak apa yang gue bilang ke tiga bocah tadi, gue akan bilang juga hal ini ke lo. Belajar pipis dulu yang bener, Dek, baru berani bilang macam-macam ke gue." Jelita mengatakan itu sambil mengusap kepala Raga kemudian pergi meninggalkan Raga menuju ruang BK.
"Pipis gue udah benar kok, udah lurus juga. Ini mau di gas punya anak juga bisa, ish ngeselin banget omongannya Mbak Cantik. Untung cantik, jadinya gue cinta," gerutu Raga kemudian segera menyusul Jelita yang sepertinya sudah berada di ruang BK.
"Habis lo, Ga," ujar temannya yang bernama Randi ketika Raga baru sampai di depan ruang BK.
"Habis kenapa?" tanya Raga mengernyit heran.
"Di dalam enggak hanya ada Mbak Cantik lo aja, tapi juga ada nyokap lo." Mendengar perkataan Randi, membuat wajah Raga langsung pucat.
"Serius, ada Bunda di dalam?" tanya Raga tak percaya.
"Iya, lo cek sendiri kalo enggak percaya," ujar Randi.
Raga mengangguk, antara takut dan khawatir kalau benar apa yang Randi katakan, Raga memasuki ruang BK.
"Raga ... Raga ... kamu enggak malu ngerepotin Jelita terus?" tanya Bunda Sinta.
"Kalau aja guru BK kamu enggak nelepon Bunda, Bunda mana tahu kamu cari masalah lagi." Mendengar perkataan bundanya membuat Raga menoleh ke arah guru BK-nya, guru BK-nya itu nampak tersenyum puas karena berhasil membuat anak nakal yang sering langganan masuk ruang BK itu mati kutu.
"Buat apa sih kamu itu tawuran? Apa ada gunanya tawuran itu? Kamu enggak bisa sekolah yang bener sampai lulus? Jangan terus-terusan bikin Ayah dan Bunda kena serangan jantung tiap dengar kelakuan kamu dari guru BK." Raga terdiam mendengarkan omelan Bunda Sinta.
"Maaf, Bunda." Raga menunduk, dari sekian orang yang ada di dunia ini, yang paling Raga takuti adalah bundanya.
"Bunda enggak butuh maaf dari kamu, Bunda maunya kamu bisa berubah jadi pribadi yang lebih baik lagi." Jelita yang sedari tadi melihat ekspresi Raga ketika mendapat omelan dari mertuanya pun hanya bisa menahan tawanya, seakan merasa sangat bahagia sekali atas penderitaan Raga.
__ADS_1
"Iya, Bunda. Raga akan usaha jadi lebih baik, tapi mohon dimaafkan ya kesalahan Raga hari ini." PUKKK .... Perkataan Raga barusan mendapat pukulan di kepalanya dari bundanya.
"Kamu ini! Awas aja kalo ngulangin lagi kesalahan yang sama! Bunda hapus nama kamu dari kartu keluarga!" ancam Bunda Sinta.
"Iya, Bunda Sayang, maaf. Jangan marahin Raga di sini, malu."
"Kamu cari masalah dengan tawuran aja enggak malu, kenapa pas Bunda omelin kamu malu!?" Raga langsung kicep.
"Pak, hukum saja anak saya ini sesuka Bapak biar dia kapok. Saya sebagai bundanya Raga meminta maaf atas kelakuan putra saya. Saya izin pamit ya, Pak. Jelita, ayo kamu ikut Bunda pulang." Jelita meringis mendengarnya.
"Eum, aku masih ada kerjaan di kantor, Bunda. Mungkin pulang dari kantor nanti aku main ke rumah," ujar Jelita.
"Ya sudah, sekalian aja kamu ke rumah sama Raga ya." Jelita hanya bisa mengangguk.
"Iya, Bunda."
"Bunda mau kamu sehabis pulang sekolah langsung pulang ke rumah Bunda, ada yang mau Ayah dan Bunda bicarakan!" Tatapan Bunda Sinta kini mengarah pada Raga.
"Iya, Bunda. Nanti sekalian bareng sama Mbak Cantik." Raga mengedip ke arah Jelita yang langsung memalingkan wajahnya karena merasa muak.
"Raga sama Mbak Cantik ini saudara yang dekat banget ya, Bu?" Guru BK Raga yang bernama Pak Supar itu bertanya dengan kekepoannya yang tinggi.
"Namanya tuh Jelita, Pak, bukan Mbak Cantik." Raga langsung meralat, tidak suka dengan panggilan Pak Supar yang sama dengannya.
"Loh? Bapak salah? Bukannya kamu sering manggil Mbak ini dengan nama Cantik?" tanya Pak Supar.
__ADS_1
"Itu panggilan khusus saya buat Mbak Cantik, Pak Supar jangan ikut-ikutan. Pamali loh, Pak. Panggil aja dengan nama aslinya, Jelita!" Bunda Sinta dan Jelita yang melihat perdebatan Raga dan Pak Supar pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, sepertinya tak hanya Raga saja yang aneh, ternyata guru BK Raga pun agak aneh.