
" kenapa kau bawel sekali old man?" ucap Leo sinis.
" This little brat" umpat Adrian.
" Adrian! jangan mengumpat di depanku" ucap kiarra tajam.
" Tapi anak ini membuat emosiku naik" ucap Adrian.
" apa maksudmu anak ini? dia adalah anakku" ucap kiarra.
" anak kita baby, ingat. aku turut menyumbang ****** - ku" ucap Adrian.
" selalu saja seperti ini" ucap Diandra sembari memutar kedua bola matanya. sedangkan Aurora yang melihat interaksi sepasang suami istri itu hanya bisa tertawa pelan.
" mommy sangat merindukanmu Aurora" ucap kiarra.
" ayolah mom, kau baru bertemu dengan Aurora dua hari yang lalu" ucap Leo.
" dua hari terasa seperti dua tahun untukku" ucap kiarra.
ibu dan anak memang sama persis ucap batin Aurora.
" Aurora juga merindukan mama. apalagi masakan mama, paling enak deh" ucap Aurora.
" Ah.....kalau begitu ayo kita makan siang. mommy sudah banyak memasak banyak makanan kesukaanmu" ucap kiarra sembari menggandeng lengan Aurora dan Diandra, meninggalkan kedua pria di belakang.
__ADS_1
inilah alasan Leo tidak mau membawa Aurora kerumahnya. pasti akan dimonopoli oleh sang ibu berujung Leo yang tidak bisa berdekatan dengan Aurora. Leo baru saja ingin menyusul ketiga wanita di depannya itu, sebelum sebelum sang ayah menepuk pundaknya.
" How about we have some chit- chit son?" ajak Adrian.
Leo mengangguk kemudian duduk di atas sofa berwarna coklat sambil meminum teh yang disajikan pelayan tadi.
" jadi, bagaimana dengan perusahaan mini mu itu?" tanya Adrian menekankan kata mini tersebut.
" semuanya berjalan dengan baik, dan yang pasti aku tidak membutuhkan bantuan dari mu" ujar Leo sambil tersenyum bangga.
" cih... sombong sekali kau bocah. akan ku pastikan kau akan berlutut meminta bantuan dari ku" ucap Adrian.
" in you dreams old man" ucap Leo.
keduanya pun tertawa. meskipun percakapan mereka terdengar kasar di telinga orang lain, namun begitulah cara mereka saling peduli. Adrian yakin dengan kemampuan putranya, dan mendukung semua hal yang dilakukan putranya selagi tidak membahayakan dirinya sendiri.
" rencananya Minggu depan, semuanya telah selesai kuurus, tinggal memilih baju dan dekorasi saja yang masih dalam pengerjaan" ucap Leo.
" meskipun Aurora sekarang berada dalam tanggung jawabmu, tetap saja Margareth adalah wali sah gadis itu. kau memang bisa membawa Aurora tinggal bersamamu, tapi kau harus menunggu Aurora tamat dari sekolahnya baru kau bisa menikahinya " ucap Aidan.
" entahlah, aku tidak bisa menjamin " ucap Leo.
Adrian menghembuskan nafasnya. memang sudah tidak heran lagi ia melihat tabiat anaknya yang merupakan keturunan darinya. Adrian tahu betul apa yang Leo lakukan diam - diam di belakangnya, hanya saja ia memilih diam dan membereskan kekacauan yang anaknya perbuat.
sebab ia yakin jika sang anak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri dan tidak akan mengecewakan keluarganya.
__ADS_1
" Leo, apa pun yang kau lakukan kau harus ingat bahwa ada resiko yang harus kau terima. jangan bertindak bodoh" ucap Adrian.
" ya, aku mengerti Daddy " ucap Leo.
" Duh, kalian mau sampai kapan ngobrol disitu? mommy udah marah marah tau!" ucap Diandra.
" sepertinya akan ada yang tidak dapat jatah malam ini" ejek Leo.
" dasar anak dakjjal!"
flashback
" mommy akan merindukanmu " ucap kiarra memeluk Aurora.
" tenang saja ma, Aurora pasti akan mengunjungi mama" ucap Aurora membalas pelukan kiarra.
" ayo pergi baby" ucap Leo. mungkin terdengar seperti sebuah perintah. mau tidak mau Aurora melepaskan pelukan kiarra dan masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkan mereka manuju ke penthouse.
" bye ma, pa, Diandra " ucap Aurora.
" sampai ketemu di sekolah Ra!" teriak Diandra.
Aurora tersenyum dan memandangi mereka yang mulai menjauh. Aurora menghembuskan nafasnya sejenak lalu menutup matanya. Aurora tahu bahwa ia tidak bisa mengunjungi kiarra dan Margareth lagi.
sebab mulai hari ini. seluruh hidup Aurora milik Leovan.
__ADS_1
guess like dong biar aku semangat nulis novelnya ☹️🥺😔