
Aurora dan Leo telah sampai di penthouse yang Leo persiapan untuk mereka berdua. beberapa pelayan telah menyambut setibanya mereka di lokasi.
" selamat datang tuan, nona" ucap salah satu pelayan yang Aurora yakini sebagai kepala pelayan di tempat tersebut.
" mulai hari ini calon tunanganku akan tinggal disini bersama ku, jangan biarkan Aurora mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. apakah kalian paham?" tanya Leo dengan tegas.
" paham tuan" ucap pelayan tersebut serempak. Leo memperkerjakan pelayan di penthouse nya agar Aurora tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah, mereka hanya bekerja dari jam 6 sampai jam 8 malam. Leo benar benar memperlakukan Aurora selayaknya seorang ratu.
memang benar bukan? hanya Aurora yang mampu menjadi ratu mendampingi seorang Leo.
Leo dan Aurora memasuki penthouse tersebut. tidak hentinya Aurora berdecak kagum melihat kemegahan penthouse ini, ia ragu apakah ini penthouse atau Mension mengingat benar benar luas dan mewah dengan penendangan langsung ke kota.
" kamu suka disini?" tanya Leo.
Aurora mengangguk " pemandangannya bagus banget" ucap Aurora sembari berjalan menuju jendela kaca.
Leo tersenyum, tidak sia sia ia membeli penthouse ini dengan harga yang tinggi. Aurora menyukainya dan Leo akan melakukan apa saja untuk membuat Aurora bahagia.
" baguslah kau menyukainya, sekarang ayo kita ke kamar. kamu butuh istirahat" ucap Leo.
" tapi, aku masih mau melihat pemandangannya lagi " ucap Aurora.
" kita bisa lihat nanti, aku gak mau kamu sakit " ucap Leo.
baru saja Aurora ingin berbicara lagi, Leo mencegahnya " dan aku tidak menerima penolakan sayang " ucap Leo membuat Aurora pasrah dan menuruti perintah laki-laki tersebut.
mereka berjalan menuju lantai kedua, dan memasuki kamar yang akan mereka berdua tempati. Aurora memekik senang ketika mendapati pemandangan kamarnya yang mengarah langsung ke gedung - gedung tinggi.
" indahnya" ucap Aurora.
Leo memeluk Aurora dari belakang " khusus untukmu" ucap Leo.
" benarkah?" tanya Aurora.
__ADS_1
" tentu saja, aku meminta arsiteknya untuk mendesain sesuai keinginanmu" ujar Leo.
perlahan Aurora menampilkan ekspresi kecewanya, Leo tentu saja menyadari kelakuan gadisnya " ada apa?" tanya Leo.
" kak Leo yakin kita tidur berdua disini?" tanya Aurora.
Leo kemudian menampilkan raut wajah yang datar " tentu saja, kenapa?" tanya Leo.
" Em... boleh gak Aurora punya kamar sendiri?" tanya Aurora dengan suara yang sangat pelan, namun bisa didengar oleh Leo.
Leo mencengkram pinggang Aurora membuat gadis itu meringis kesakitan " tidak boleh" ucap Leo dengan penekanan.
" tapi-"
" menurut Aurora, atau kamu aku hukum" ucap Leo datar.
Aurora mengangguk pasrah. lihat, tidak ada yang bisa ia lakukan bukan?
" apakah aku bisa mengunjungi Margareth dan mama lagi?" tanya Aurora hati - hati.
"ingat, mulai hari ini kau adalah milikku Aurora, jangan pernah menolaknya. aku bisa gila tanpamu" ucap Leo sambil mengusap Surai hitam milik gadisnya.
Aurora mengangguk pelan, ia adalah milik Leo. Tepat sepuluh tahun yang lalu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
selesai bersih bersih diri. Aurora pun menyusul Leo ke ruang makan, disana sudah ada pelayan yang menata berbagai macam makanan. Leo tersenyum melihat Aurora sudah rapi dengan pakaian santainya. ia mendekap tubuh Aurora kemudian menghirup aroma sabun yang menjadi kesukaannya. wangi mawar dengan cologne yang dibuat oleh suruhan Leo. ya, semua keinginan Aurora terpenuhi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Leo, tentu saja ingin yang terbaik untuk gadisnya termasuk yang melekat di tubuh gadisnya, pakaian Aurora dirancang dengan senyaman mungkin, rambut Aurora dipakaikan sampo yang kualitas terbaik. oh, tidak lupa dengan perawatan kulit. para gadis - gadis pasti akan memekik iri melihat skincare yang Aurora pakai, bukan pakai skincare yang biasa dibeli di Indomarket.
dua piring steak dengan sup tomat tersaji di depan mereka, aromanya tentu saja menggugah selera membuat perut Aurora berteriak minta di isi. keduanya makan dengan khidmat, tidak ada percakapan sebab Leo menerapkan tidak ada percakapan ketika makan.
Aurora menyelesaikan makan malamnya, seorang pelayan menyodorkan nampan beri susu hangat, segelas air putih, dan beberapa macam vitamin yang harus Aurora minum dengan rutin.
" Aurora libur minum vitamin nya kak" ucap Aurora.
__ADS_1
" enggak ada libur Aurora, minum vitamin. bagus untuk kesehatan kamu" ucap Leo. Huh....mau tidak mau Aurora meminum vitamin yang rasanya tidak jelas itu, setelah berhasil meminumnya Leo menyodorkan segelas susu hangat yang langsung ia teguk.
" mau tidur atau baca - baca di ruangan kerja kakak" tanya Leo.
" baca- baca aja dulu kak, Aurora belum ngantuk" jawab Aurora.
Leo membawa Aurora ke ruangan kerjanya, kebetulan ada beberapa berkas yang harus ia tanda tangani dan ia pelajari terkait perusahaannya. sedangkan itu, sibuk memilih novel sembari bermain ponsel.
" Aurora, kemarikan ponselmu" ucap Leo.
Aurora kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah Leo.
Aurora kemudian memberikan ponselnya guna dicek oleh Leo. selalu seperti ini dan Aurora sudah terbiasa, Leo akan mengecek ponsel gadis nya seminggu sekali, meskipun tidak ada gunanya juga sih sebab Leo bisa mengetahui apa yang gadis itu lakukan di ponselnya.
" Gavino William, siapa itu?" tanya Leo .
" Aurora gak tau kak, kayaknya orang iseng yang follow Aurora" jawab gadis itu jujur.
Leo mengangguk dan menekan tombol block pada akun bernama Gavino tersebut, lain kali ia akan meningkatkan keamanan di semua akun sosial media gadisnya agar tidak sembarang orang bisa memfollow Aurora.
perlahan Aurora menguap lalu mengucek matanya " kak Leo, tidur yuk. Aurora ngantuk" ucapnya.
" Jangan dikucek sayang, nanti jadi merah" ucap Leo, Aurora menempel ke dada bidang kekasihnya. " peluk" ucapnya manja.
Leo terkekeh pelan,ia suka ketika Aurora menjadi manja kepadanya. Leo akan melakukan apa saja untuk membuat gadis itu bergantung padanya.
Leo menggendong Aurora bak koala, posisi favorit Aurora. gadis itu menempatkan kepalanya di ceruk leher pria tersebut. Leo mematikan lampu ruangan kerjanya dan pergi ke kamar mereka berdua. sebelum itu, ia meminta Hendrick untuk meningkatkan penjagaan di sekitar penthouse nya. akhir - akhir ini terlalu banyak tikus kotor yang mencoba mendekati sarangnya, Leo tidak suka itu.
sesampainya di kamar, Leo merebahkan tubuh Aurora dengan hati - hati seakan gadis itu terbuat dari porselen yang mudah hancur kemudian ia membaringkan tubuhnya sendiri di samping Aurora. tak lupa Leo memeluk tubuh mungil kekasihnya.
tiga tahun lagi, ia tinggal ia menunggu Aurora lulus dari sekolahnya maka Leo akan menjadikan gadis itu sebagai istrinya, miliknya.
Ah.... memikirkan nya saja membuat Leo bersemangat, ia tidak sabar mengikat Aurora ke jenjang pernikahan.
__ADS_1
Aurora miliknya, miliknya yang paling berharga.