
...Apakah ini bisa disebut 'kencan?'...
...—————...
...———...
...——...
...—...
"Kalau emang pengen main main aku nggak ada waktu, aku disini buat belajar bukan main main sama kalian" Sekali kali aku tegas kayak gini. Mereka kalau di baikin ngelunjak kadang kadang.
Aku orangnya bukan tipe emosian gini sebenernya, tapi baru kali ini, aku dibuat kesel sama makhluk yang bahkan udah beda dunia. Emang di sana nggak ada kerjaan apa, isengnya sampai kebangetan gini.
#Author POV
Sepulang sekolah, Renata langsung merebahkan tubuhnya di sofa dan melempar tas nya di dekat sofa yang berada di ruang tamu tersebut.
"Heh heh heh?!! Kenapa tas nya di taro sini?!!"
"Bentar maa... Nata capek"
"Kenapa? Ada masalah di sekolahan?"
"Nggak, cuma kebanyakan PR sama tugas"
"Ya kan emang kewajiban kamu sebagai murid, ngerjain tugas, belajar, dan belajar"
"Em"
"Kenapa sih... Kayaknya nggak masalah PR ini mah, masalah cowok kan?"
"Ih! Nggak lah, emang siapa yang mau sama Nata, lagian Nata juga males buat pacaran"
"Bagus, nanti nggak usah pacaran, langsung nikah aja kali ya?"
"Ih, nggak gitu ma"
"Yaudah cepet ke kamar, kerjain tugas nya cepet! Mama nggak mau ya, di panggil ke sekolah cuma gara gara kamu nggak ngerjain tugas"
"Iya ma iyaa...." Ucapnya lesu, yang kemudian bangkit dari posisi nya dan menyeret tas nya menuju kamar yang tak jauh dari posisi Renata sekarang. Yeah, itu kamar Renata.
'cklak' Ia langsung menutup serta mengunci pintu kamar nya dan kembali merebahkan tubuh nya di tempat tidur miliknya sembari melempar tas nya di sembarang tempat.
"Hahh... Di pikir pikir capek juga ya sekolah. Gurunya juga ngeselin. Cuma dikasih tugas, tapi nggak pernah dikoreksi, apa lagi di kasih nilai" Gumamnya pelan sembari memejamkan matanya.
Setelah beberapa menit matanya terpejam, ia sedikit terusik dengan suara ketukan pintu yang tak hentinya berbunyi.
'tok tok tok'
"Hah... Iya maa... Bentar" Ia langsung membuka pontu kamar nya dan mendapati Kevin yang sedang berdiri di depan kamar nya.
"Loh? Kok kamu?"
"Tadi bunda telpon, aku suruh nemenin kamu belajar"
"Ih, apaan si mama, aku juga bisa sendiri kali!!" Ucapnya sembari menggembungkan pipi nya yang membuat Kevin gemas hingga mencubit pipi Renata.
"Sakit, Nat" Renata langsung menendang kaki Kevin menggunakan lutut nya karena kesal.
"Aduhh... Iya iya, aku tungguin di ruang tamu aja. Nggak enak kalau di kamar"
"Terserah, aku mau ambil buku dulu, bye"
'brak' Renata membanting pintunya lumayan keras karena kesal dengan mama nya yang menyuruh Kevin untuk datang dan juga Kevin yang datang tiba tiba.
"Hahh... Anak nya bunda gemes banget si" Gumam Kevin sembari tersenyum tipis.
5 Menit kemudian...
"Kok masih di sini?"
"Nggak jadi, nungguin kamu"
"Ihh, apaan sihh?!! Duluan sana!!" Ucapnya sembari mendorong tubuh Kevin kuat kuat.
"Eh eh eh?!! Santai dong"
"Ribut lagi..." Tegur mama Renata sembari memijit pelipis nya pelan.
"Lagian mama juga kenapa malah nyuruh Kevin ke sini? Kamu juga, kenapa nggak ngomong dulu kalau mau ke sini?!!"
"Itu biar kamu nggak males belajar"
"Padahal aku juga bisa kan belajar sendiri..." Gerutunya kesal.
__ADS_1
"Yaudah kerjain sana, nggak usah banyak ngeluh. Mama dulu aja-"
"Cukup ma, Nata mau belajar"
"Ayok Vin, cepetan" Lanjutnya sembari menarik baju Kevin dan berjalan ke arah sofa ruang tamu.
"Jadi-"
"Eh, tadi fisika kan?" Ia langsung memotong ucapan Kevin sembari mengambil beberapa buku yang ada di dalam tas nya.
"Ish, dengerin dulu, aku mau ngomong!" Rengek nya sembari menatap kesal Renata.
"Kenapa?"
"Nanti keluar gimana? Kebetulan aku lagi nggak ada kerjaan di rumah"
"Tumben"
"Ya nggak sih, cuma pengen keluar aja"
"Terus ngapain aku nya di ajak?"
"Ya... Karena nggak ada temen"
"Terus si Reza? Ferdi? Adnan? Devan? Kamu juga punya temen cowok kan?"
"Beda lagi ah, mereka nggak asik kalau diajakin keluar"
"Emang mau kemana?"
"Bioskop yok, udah lama nggak nonton" Ucapnya yang tiba tiba bersemangat.
"Hm... Kalau kamu yang bayar sih aku oke oke aja" Jawab Renata dengan senyuman tanpa rasa bersalah.
"Iya lah, masa bayar sendiri, dimana mana juga, kalau cowok sama cewek jal- eh, keluar barengan, pasti cowok yang bayar"
"Hm... Kapan?"
"Nanti Taa...." Jawab Kevin lemas.
"Oke, tugasnya dikit kan, jadi bisa cepet selesai lah ya" Ucapnya sembari membuka dan membolak-balikan halaman buku yang di pegang nya.
20 Menit kemudian...
"Aduh... Padahal soalnya cuma lima, aku nggak mikir panjang kalau soalnya bakal beranak gini" Ucap Renata frustasi.
"Udah?"
"Siniin buku nya"
"Buat apa?"
"Bakar!" Ucapnya kesal sembari melotot ke arah Renata.
"Ih Kevin kok gitu sih" Keluh Renata sembari memasang wajah memelas nya.
"Buat di koreksi lah"
"Nih nih, kalau perlu kerjain semuanya" Ucapnya sembari menyodorkan buku tulis nya dengan senyum tanpa dosa.
"Nggak mau ya, aku cuma koreksi, urusan jawaban itu terserah kamu"
"Yaudah deh, aku nggak jadi ikut nanti"
"Eh eh eh! Nggak bisa gitu dong"
"Yaudah, kamu tinggal gantiin jawaban yang salah aja, gampang kan?"
"Gampang sih gampang, kamu cuma bener dua soal ini gimana?!! Sama aja, Nata!!"
"Ya... Ya jangan salahin aku dong, aku kan emang nggak suka fisika"
"Yaudah siap siap gih!"
"Kamu mau pake itu aja?"
"Ya nggak lah, makannya kamu agak cepetan, abis ini aku mau pulang sebentar, ganti baju"
"Yaudah pulang sana!"
"Yang ngoreksi PR nya siapa?"
"Ya, yaudah cepetan dong"
"Em..."
Renata langsung berjalan ke arah kamar nya untuk mengganti baju, dan tak lupa memakai make-up setipis mungkin.
__ADS_1
20 Menit kemudian...
"Lama banget sih" Keluh Kevin sembari mendongakkan kepalanya dan langsung menatap Renata kagum.
"Udah kan koreksinya?"
"Daritadi"
"Yaudah. Maa... Nata mau keluar ya sama Kevin"
"Iya, jangan pulang malem malem"
"Tapikan Nata sama Kevin nonton"
"Yaudah, Kevin juga, jagain anak bunda baik baik. Nggak lucu kalau kamu pulang sendiri karena anak bunda satu satunya ini di culik"
"Siap bund"
"Yaudah ayok" Renata mendorong tubuh Kevin hingga pintu keluar rumahnya.
"Eh eh, santai dong"
"Cepetan"
"Elah, kalau gratis mah semangat gini"
"Ya iya lah, sekalian buat kamu bangkrut nanti"
"Ish, sabar"
"Naik" Lanjut Kevin sembari menaiki motor nya yang terparkir di depan rumah Renata.
"Kamu bawa motor?"
"Nggak, aku bawa jet private punya bapak ku, kenapa?"
"Ih, kok ngegas sih"
"Udah buru, cepetan naik"
"Iya iyaa..."
'cklak'
"Loh? Mama dimana?"
"Lagi keluar sama papa"
"Berati kamu nggak izin dulu dong?"
"Biarin. Toh mereka pulang nya pagi, terus siang berangkat lagi"
"Semenjak jadi sekertaris, papa juga sekarang jarang pulang. Dan mama lebih milih buat jagain toko nya"
"Emang kamu berani di rumah sendirian?"
"Yakali, aku yang udah kelas 3 ini, nggak berani tinggal di rumah sendiri"
"Oh, yaudah, kalau seumpama nya nggak berani ke rumah aja"
"Kan emang di rumah, gimana sih" Kevin mengacak-acak rambut Renata gemas.
"Ke rumah ku maksudnya. Ya itu pun kalau kamu mau"
"Gila" Kevin langsung menatap Renata tajam sembari membuka pintu kamar nya.
'Dia emang polos atau gimana sih. ya ampun' Keluhnya dalam hati.
"Vin"
"Apa?"
"Akunya kamu bonceng gini malah kelihatan kek aku adek nya tau nggak?"
"Kan aku pengen jadi kakak" Keluhnya pada Kevin.
"Oh, kakak adek ya?"
"Iya, cuma kamu keliatan kek abang ku malahan"
"Pantes banget kek nya aku jadi abang" Jawab Kevin santai.
-//-
__ADS_1
Hai, bab ini agak sedikit ya? Maapkan, nggak ada banyak ide soalnya, hehe.
Jangan lupa beri like dan saran nya di komentar ya, sampai jumpa di lain hari~