My Beloved Ghost

My Beloved Ghost
Episode 3


__ADS_3

...Nonton...


...—————...


...———...


...——...


...—...


"Vin"


"Apa?"


"Akunya kamu bonceng gini malah kelihatan kek aku adek nya tau nggak?"


"Kan aku pengen jadi kakak" Keluhnya pada Kevin.


"Oh, kakak adek ya?"


"Iya, cuma kamu keliatan kek abang ku malahan"


"Pantes banget kek nya aku jadi abang" Jawab Kevin santai.


Kevin mendadak mengurangi kecepatan motor nya perlahan.


"Kenapa jalan nya lambat banget? Udah mau sampai ya?"


"Belum sih, emang kamu belum pernah nonton di sini?"


"Belum sih, aku pernah nya di Jalan XX"


#Renata POV


"Eh?"


"Kenapa?" Aduh, aku keceplosan lagi. Aku tadi salah liat nggak sih? Kok aku liat ada orang eh, hantu di sekitar jembatan? Dan mukanya agak familiar. Lah? Dia yang di perpus itu kan? Kok bisa sampe sini? Se-kuat itu dia sampe pindah jauh banget? Padahal sekolah sama kita sekarang udah jauh banget. Kalau sampe rumahku mungkin bisa, rumah ku kan lumayan deket sama sekolah. Tapi ini udah jauh banget.


Karena aku nggak mau digangguin lagi, aku langsung meluk Kevin kuat banget. Karena bisanya kalau ada orang, mereka gak berani ngeganggu. Apalagi jalanan rame gini.


"Nahh... Gitu dong, aku kan nggak khawatir lagi kalau ngebut"


"Ngebut ya ngebut aja, aku kan di belakang kamu, kenapa harus khawatir?"


#Author POV


"Kamunya susah banget ya dibilangin" Kevin langsung memegang tangan kiri Renata yang memeluk perut nya.


"Fokus nyetir nya, pake tangan dua! Kalau kecelakaan terus mati gimana?!! Kalau kamu nggak papa, aku masi pengen hidup"


"Ih tegaan banget si, kamu mikir nya kejauhan!"


"Intinya nyetir harus pake tangan dua!"


"Iya deh iya..." Jawab Kevin pasrah.


'Heh, aku menang' Monolognya dalam hati.



"Loh? Kita kok ke sini? Nggak jadi nonton?" Kevin langsung


"Jadi lah, aku laper. Kesini dulu bentar. Aku nggak terlalu suka makanan yang di sana"


"Em... Okay"


"Ayokk... Cepetan, lelet bener"


"Ih, kok aku nya ditarik tarik gini sih"


"Kamu nya lelet sih"


"Sabar dong!"


"Iya deh iyaa..." Balas Kevin sembari menghela napas nya dan mengacak rambut Renata.


"Ih, rambut ku udah rapi loh tadii!!" Ucapnya kesal sembari memperbaiki rambut nya yang diacak acak oleh Kevin.


"Udah... Gausah dibenerin lagi gitu aja udah cantik kok"


"Ih apaan sih Kevin?!"


"Udah... Ayok masuk" Ucapnya sembari menggenggam tangan Renata dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Cafe tersebut.


"Halo selamat malam, selamat datang di Cafe XX" Ucap seorang pelayan wanita yang menyambut keduanya tepat di samping pintu transparan yang terbuat dari kaca tersebut. Sedangkan Renata dan Kevin hanya membalasnya dengan senyuman.


"Mau pesen apa? Aku aja yang pesenin. Kamu duduk di sini aja" Ucap Kevin sembari menarik kursi yang ada di sampingnya. Bermaksud menyiapkan tempat untuk Renata duduk.


"Nggak usah, barengan aja. Aku belum pernah ke sini, jadi nggak terlalu hapal menu di sini. Kamu juga baru pertama kali kan?"


"Eee... Ngga sih, ini udah kedua kalinya"


"Emang sama siapa?"


"Sama temen. Udah ayok" Balasnya sembari menggenggam tangan Renata dan berjalan ke arah kasir di Cafe tersebut.


Renata dan Kevin tampak membolak-balikan buku menu yang ada di meja kasir tersebut.


"Ngomong ngomong kita lagi ada promo untuk pasangan kak. Diskon 15% untuk paket pembelian 1 dan paket 3" Ucap salah saru pelayan wanita di depan mereka sembari menunjukkan menu yang dimaksud nya. Ia tersenyum ramah ke arah Kevin dan Juga Renata.


"Eh? Tapi kita-"


"Ah, iya. Yaudah ini aja ya mbak" Potong Renata sembari mengedipkan matanya pada Kevin dan tersenyum canggung.


"Sudah? Tidak ada tambahan lagi? nggak sama Green Tea nya sekalian kak?"


"Boleh, satunya taro ya mbak"

__ADS_1


"Terimakasih, silahkan di tunggu ya kak" Renata langsung membalasnya dengan senyuman dan langsung menggandeng tangan Kevin menuju meja yang dipilihnya tadi.


"Gak apa, manfaatin dulu, lagian lumayan kan lagi promo"


"Iya deh iya..."


'Boleh nggak sih kalau gue ngarep ini beneran?' Keluhannya dalam hati sembari tersenyum pahit


"Kenapa?"


"Nggak kok"



"Gimana? Kita sebelahan kan duduk nya?"


"Ya iya lah... Emang kamu mau duduk agak jauhan? Berani?"


"Y-ya... Enggak sih"


"Yaudah ayok" Ia langsung menggandeng tangan Renata dan melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.


Beberapa saat kemudian...


"Vin" Bisik nya sembari menepuk bahu Kevin pelan.


"Kenapa?" Renata hanya membalasnya dengan menatap Kevin dengan tatapan aneh sekaligus takut.


"Oh, Yaudah tukeran aja, kamu di sini"


"Tapi kan-"


"Biarin aja, yang penting nggak ngeganggu"


"Em"


"Kamu mau liat film horror?"


"Iya. Kenapa? Takut?"


"Nggak lah, lagian aku udah pernah liat yang asli juga"


"Ih, nggak seru" Ucapnya sembari memalingkan wajahnya dari Renata.


"Yaudah, kamu juga tau aku bisa liat malah ngajakin nonton film horror"


"Ya... Abisnya nggak ada pilihan lain. Mau nonton action kamu anti sama genre itu"


"Genre romantis dong"


"Aku nggak suka"


"Kan..."


beberapa saat setelah film di putar...


"Makin ke sini kok mereka makin iseng" Lanjutnya


"Dia nggak ngisengin kamu kan?"


"Nggak, masalah nya ada yang duduk di pundak nya ibu ibu itu" ucapnya sembari menunjuk seorang wanita yang duduk di depan nya.


"Biarin aja, yang penting nggak ngeganggu kamu" Jawabnya santai sembari melirik tajam ke arah wanita yang ditunjuk oleh Renata.


"Kita keluar aja gimana? Perasaan ku nggak enak sumpah"


"Yaudah ayok" Ajaknya sembari beranjak dan menggandeng tangan Renata. Mereka membungkukkan tubuh mereka agar tidak terlalu mengganggu orang lain yang duduk di kursi belakang nya.



"Vin, aku mau ke toilet dulu" Ucap Renata sembari berlari menuju toilet yang tak jauh dari tempat mereka duduk sekarang.


"Iya..." Ucap Kevin pasrah sembari berdecih pelan.


"hahh... Aku udah mikir sih kalau akhirnya gini" Gumamnya sembari memijit pelan pelipisnya.


Beberapa menit setelahnya...


"Mual?"


"Kok kamu tau?" Tanya Renata bingung.


"Dari ekpresimu pun aku udah tau liat aja, mukamu pucet gitu" Jawab nya sembari menghela napas pelan.


"Terus sekarang gimana?"


"Mau pulang?"


"Em... Aku sih terserah aja, lagian nggak terlalu parah kok"


"Muter muter di sini dulu gimana?"


"Capek dong kalau muter muter" Ucapnya sembari memanyunkan bibirnya kesal.


"Ih, nggak gitu. Kamu nggak mau beli apa gitu? Cuma keluar nonton terus udah? Lagian ini baru jam 8"


"Terserah kamu aja"


"Emang kamu mau apa?"


"Nggak ada sih"


"Yaudah ayok"


"Kemana?"


"Ke sana sebentar gimana?"

__ADS_1


"Eh? Ngapain?"


"Aku mau beliin temen"


"Em... Oke pelan aja jalan nya, aku agak capek"


"Hm... Siniin" Ucap Kevin sembari menundukkan tubuhnya


"Apanya?"


"Katanya capek. Yaudah sini, aku gendong, lagian kamu juga biasanya juga gini pas SD sama SMP dulu"


"Ish... Beda lagi kali, aku kan sekarang udah gede, lagian di sini banyak orang. Kamu nggak malu?"


"Malu kenapa?"


"Ah, pokoknya nggak usah. Aku masih bisa jalan"


"Kalau capek bilang, kita langsung pulang aja"


"Udah nggak papa, ayok buruan" Ucapnya sembari menggandeng tangan Kevin.


'Haduhh... Kek gini gimana bisa gue nggak baper?!' Keluhnya dalam hati.



"Nat, coba pilih"


"Apanya?"


"Ya bajunya lah. Kamu diajak ngomong ngeblank banget kek nya hari ini" Ucap Kevin gemas sembari mencubit hidung Renata.


"Yang ini gimana? Warnanya bagus juga. Eh, emang buat siapa sih? Kamu udah punya pacar? Kok tumben beli baju buat cewe?"


"Ntar aja, kamu pilih dulu, Mungkin cewe nya se ukuran sama kamu"


#Renata POV


Nggak tau kenapa, aku agak ngerasa kecewa gini sama jawaban dia. Ah, susah ngejelasin nya. Eh, dia emang udah punya pacar? Kok aku nggak pernah di kasih tau? Biasanya aja kalau ada apa apa Kevin langsung ngasih tau aku. Ini malah macem rahasia gitu. Emang cewek mana sih yang bisa naklukin Kevin yang kepalanya sekeras batu ini? Aku sendiri aja dulu pernah debat sama dia sampe nangis karena dia nggak mau ngalah.


"Kenapa?"


"E-eh, nggak kok, nggak papa" Mampus, bukannya milih sambil mikir tapi malah bengong.


"Ini sama yang pink itu gimana?"


"Coba siniin bajunya"


"Bagus si, tapi-" Harganya bahkan lebih gede dari uang jajan ku sebulan :)


"Nggak kemahalan ini?" Aku ngomong agak pelan aja, nggak lucu kalau mbak mbak yang kerja di sini denger.


"Kalau bagus si nggak masalah"


"Sejak kapan kamu boros gini?" Kevin tuh biasanya kalau nggak perlu perlu amat males beli. Walaupun keluarga nya bisa dihitung kaya, tapi dia layaknya bener bener macem orang melarat.


"Nggak sih, cuma pengen aja"


"Yaudah mbak, 2 ini bungkus"


"Baik, jadi totalnya 774 ribu. Untuk pembayaran bisa cash, bisa-" Gila si Kevin. Ini, ini cuma beli 2 baju. Sekali lagi, 2 baju. Dan totalnya... Ah, sudahlah. Jarang beli ini itu, tapi sekali keluar beli barang ginian langsung banyak tagihan nya :)


"Pake ini bisa kan?" Ih, Kevin nggak sopan. Mbak nya belum ngomong juga udah di potong.


"Bisa, terimakasih sudah berbelanja, selamat datang kembali"


"Thanks" Ini Kevin kenapa sih?! Kok kayak hari ini mood nya jelek banget sampe jawab nya singkat gini?


"Udah, ayok pulang"


"Langsung pulang?"


"Emang kamu mau beli apa?"


"Nggak ada. Langsung pulang aja"



"Nih, buat kamu aja. Aku nggak ada temen cewek lagi"


"Hah? Maksudnya?"


"Buat kamu"


"Vin"


"Apa?"


"Please, ini kamu tadi tau kan harga nya berapa? Terus langsung kasih aku gitu aja?" Walaupun udah sahabatan lama banget, aku juga tau diri lah ya. Aku cuma sahabat nya bukan siapa-siapa nya. Tetep aja kadang ngerasa nggak enak dia ngasih ini itu.


"Tau kok"


"Buat kamu aja"


"Vin? Seriusan? Kamu nggak lagi bercanda kan?"


"Nggak. Kan aku udah bilang, ini buat temen. Aku nggak ada temen, aku adanya sahabat, yaudah kasih nya ke kamu"


"Aku-" Bingung harus ngomong gimana lagi. Ini anak otak nya lagi error atau gimana?


"Gapapa, terima aja, itung itung ucapan makasih karena udah nemenin keluar"


"Em... Makasih" Gak tau gimana cara balesnya, aku langsung meluk Kevin aja lah. Biasanya sahabat gitu kan?


-//-


Maaf up nya agak lama. Akhir akhir ini saya nggak terlalu banyak ide buat ditulis.

__ADS_1


Makasih buat yang udah nungguin. Jangan lupa Like dan komentar nya ya. Like dan komentar kalian selalu jadi moodboster saya loh~


__ADS_2