
Seperti biasa, setelah anak majikannya tidur ia langsung melakukan pekerjaan rumah tangga. Mencuci, memasak, menyapu ia mengerjakan semuanya tanpa ada sesuatu yang menarik pagi itu. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya. Di rumah itu, ia hanya berdua dengan anak majikannya yang sedang tidur. Bosnya seperti biasa sibuk bekerja, sedangkan keponakan bosnya itu sudah pergi dari tadi untuk mencari lowongan pekerjaan.
Sudah hampir setengah bulan sejak kedatangannya, ia sama sekali belum mendapatkan pekerjaan. Centini agak merasa kasihan dengannya, apalagi selama ini keponakannya memiliki sifat yang baik. Ia terlihat sangat ramah kepada semua orang dan juga tingkahnya yang bisa membuat orang yang melihatnya tertawa , dia punya bakat untuk membuat orang lain terhibur.
Saat sedang asyik menyapu, dari belakang ia merasakan ada seseorang yang sedang menyumbat mulutnya dengan kain. Ia tak mampu berteriak atau menoleh kebelakang. Setelah menyumbat mulutnya, orang itu segera menyeret Centini dengan paksa. Walaupun ia melawan bagaimanapun kuatnya, Centini tetap kalah dengan orang itu.
Ia diseret masuk kedalam kamarnya. Setelah tangan kakinya diikat, ia melihat wajah orang yang telah menyeretnya dengan paksa. Ia sangat terkejut sekali, orang itu ternyata adalah Dani, keponakan bosnya. Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya, namun mulutnya yang disumpal dengan kain itu tak bisa.
__ADS_1
Perlahan, Dani membuka bajunya . Ia memamerkan tubuhnya yang tanpa sehelai benang menempel ditubuhnya itu. Setelah itu, ia membuka baju Centini satu persatu dengan paksa. Centini berusaha melawan, namun ia tak bisa . Ia hanya bisa menangis saja sambil menahan amarah yang amat sangat.
"Jangan gitu dong , santai saja. Semuanya akan baik-baik saja kok," Dani dengan santainya berkata kepada Centini. Ia kemudian memeluk tubuh Centini yang pakaiannya sudah dilucuti.
"Jangan melawan, nikmati aja rasanya," katanya lagi. Ia mulai meraba seluruh tubuh wanita yang berada didepannya itu .
Centini begitu jijik saat mendengar suaranya Dani mendesah, ingin rasanya ia membunuh pria yang sedang menodainya itu. Centini tidak paham mengapa ia menjadi korban hawa nafsu, padahal selama ini ia tak pernah menggunakan pakaian yang sangat menggoda. Ia bahkan di tempat kerja biasa menggunakan daster yang memang umum dipakai oleh wanita.
__ADS_1
"Maaf aku terlalu bernafsu kepadamu. Aku tidak tahan melihat wajahmu yang begitu indah, rasanya aku ingin memilikimu . Aku tidak mau kamu dimiliki oleh orang lain. Walaupun aku belum bekerja, aku akan menikahi mu secepatnya," sambil terus melanjutkan aksi kejinya itu , Dani berkata.
"Setelah itu, hidup dan mati ku menjadi milikmu. Aku tidak peduli jika setelah ini kamu membunuhku, aku justru merasa sangat bahagia jika kamu yang membunuhku," ia melanjutkan kata-katanya. Centini tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Dani, ia hanya ingin agar Dani berhenti melakukan aksinya itu.
"Aku sudah ada di puncak, sebentar lagi aku akan menghentikan ini," Dani berkata seperti itu dan kemudian bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Sambil berteriak kenikmatan, ia mengakhiri apa yang diperbuat.
Setelah berpakaian kembali, ia kemudian mengubah ikatan tangan dan kakinya Centini.
__ADS_1
"Aku tidak akan lari dari tanggungjawab. Aku akan menikahi mu," katanya sebelum ia pergi dari kamar itu.