My Wedding Dream

My Wedding Dream
39. Menuju Keabadian


__ADS_3

Centini tidak tahu harus berbuat apa. Dia sambil menangis memikirkan nasibnya yang sepertinya hanya menjadi mainan pemuas saja bagi laki-laki. Pria yang kedua melakukan hal yang menjijikkan itu walaupun mengeluarkan kata-kata manis tetap saja terasa menjijikkan.


Ingin sekali rasanya membunuh pria itu jika tak ada hukum yang mengikat. Ia tak ingin menghancurkan masa depannya yang sudah benar-benar hancur. Ia merasa benar-benar tidak pantas untuk dicintai lagi.


Ia mengingat hari dimana ia mendapatkan perlakuan serupa dari ayah tirinya. Walaupun sudah terasa lama tetap saja lukanya terasa masih menyakitkan, sebelum sembuh seseorang yang lain menambahkannya.


Padahal waktu ia pergi dari rumahnya, ia harap tak mendapat perlakuan yang sama. Dan lagi , ia tak mau menceritakan hal yang barusan terjadi kepada keluarganya Salma. Mereka yang telah membantunya, ia tak mau merepotkan mereka lagi. Untuk masalah ini, mereka tak ada kaitannya.


***

__ADS_1


"Suatu saat aku ingin sekali punya keluarga yang bahagia. Aku ingin menyerahkan keperawananku ini kepada seseorang yang menikahi ku dengan sukarela. Setelah itu, kami punya anak yang banyak, bahagia sampai kapanpun juga. Tidak ada yang spesial, tapi aku cuma ingin itu saja," Centini mengingat hari yang telah berlalu sangat jauh saat ia mengatakan impiannya itu .


"Aku juga , aku mengharapkan hal yang sama. Kayaknya nikmat banget ya walaupun keinginan kita enggak begitu spesial," kata Salma yang berada disampingnya.


"Menurutmu, orang yang memberi keperawanan mereka kepada selain kepada suami sah gimana? Soalnya kan udah banyak yang kayak gitu?" kata Salma lagi.


"Menurutku bodoh aja sih, lagian belum tentu kan pasangannya mau bertanggungjawab jawab."


Saat mengingatnya , Centini merasa dirinya tidak bisa memegang komitmen yang ia sendiri buat. Ia merasa gagal untuk hidup sekarang. Ingin rasanya pergi jauh menuju keabadian.

__ADS_1


***


Fiky tertidur di dekat adiknya. Rasanya sedetik saja ia tidak ingin berpisah dengannya . Rasanya ia juga tak ingin makan sesuatu sampai adiknya tersadar. Ia paham istrinya jengkel karena ulahnya, tapi memang ia sedang tidak berhasrat untuk makan sesuatu apapun.


Ia sebenarnya merasa sangat bahagia saat istrinya terus mengingatkan untuk makan. Dan juga ia benar-benar mau merangkul dirinya yang sedang merasa sangat sedih . Ia ingin kuat karena istrinya, tapi entah mengapa rasanya ia masih terus saja tak bisa melepas pandangan matanya untuk adiknya.


Ia berharap adiknya itu bisa sembuh, tapi kalau misalnya tuhan lebih memilih untuk mengambil nyawanya ia akan berusaha ikhlas walaupun berat. Mungkin saja , ada kebahagiaan yang lebih besar sedang menantinya di alam yang berbeda.


Saat sedang tertidur, didalam mimpi ia melihat adiknya sedang tersenyum kearahnya. Terlihat sekali senyumannya sangat lebar, nampaknya ia sangat bahagia. Dia juga meminta Fiky untuk tidak bersedih lagi, karena kesedihannya akan membuat adiknya ikut sedih juga.

__ADS_1


Setelah mengatakan banyak hal , adiknya berjalan menuju ke arah bapaknya yang terlihat samar-samar. Mereka berdua tampak bahagia sekali. Perlahan, tubuh mereka semua menghilang dari pandangannya Fiky .


Sambil teriak Fiky terbangun dari tidurnya itu . Ia kemudian memeluk dengan erat tubuh yang masih tak sadarkan diri itu. Walaupun di dalam mimpi ia telah diberitahu untuk tidak menangis, namun air matanya tetap keluar juga tanpa terkendali.


__ADS_2