Only 200 days Mr.Mafia

Only 200 days Mr.Mafia
O200DMM – BAB 25


__ADS_3

Wajah Nadine penuh akan kecurigaan, yang artinya gadis itu masih belum benar-benar percaya dengan cerita tentang pria bernama Maxi itu. Sangat mencurigakan, seorang mafia kejam sepertinya mempunyai cerita yang cukup wow.


Nadine meraihnya, melihat isi yang ada di dalam kantong tersebut. Ekspresi gadis itu menjadi kesal dan mulai mengeluarkan sebuah kain warna hitam, lebih tepatnya sebuah dress di atas lutut tanpa lengan dan hanya ada kain kecil yang melingkari lengan atasnya, hanya kecil.


“Kamu memberikan ku pakaian ini?”


“Hm.”


Nadine meletakkan kasar dress hitam tadi di atas meja. “Aku tidak akan memakinya dan tidak akan pernah.” Tolak gadis itu mentah-mentah. Maxi langsung berkerut alis mendengar tolakan langsung dari Nadine.


“Kamu harus memakainya, itu adalah perintah.”


“Aku tidak suka di perintah tuan Maxi Ed TOMASSO.” Ketus Nadine bersilang tangan ke depan.


Dari arah rumah Ericsson, terlihat Miia berdiri menatap ke luar jendela. Sebuah drama kecil putra tirinya dengan istri barunya.

__ADS_1


Tak ada ekspresi apapun di wajah Miia. Wanita itu masih diam dengan senyuman tipis hampir tak terlihat. Sementara Nadine sendiri masih tidak mau menuruti perintah Maxi.


”Jangan membuatku marah. Aku tidak suka itu.” Nadine menatap lekat pria di depannya yang sudah memasang wajah garang.


Dia jadi berpikir kembali tentang cerita bibi Doray mengenai keceriaan senyuman dari Maxi. Cih, rupanya itu omong kosong belaka, meski Nadine akui dia sangat percaya dengan kebaikan bibi Doray, tapi tetap saja dia tidak percaya dengan cerita masa kecil Maxi.


”Jika kamu tidak mau, maka baiklah.” Pria itu mengangguk beberapa kali sambil melangkah ke depan, ke arah Nadine yang kini mulai waspada.


Dalam satu gerakan, Maxi bisa meraih pinggang istrinya dan membawanya lebih dekat ke arahnya sehingga keduanya kini menempel bak lem. Matanya saling memandang kagum satu sama lain.


”Akan ku pastikan aku akan menyuruh Zero ke negara (ID) mengunjungi kakak dan temanmu.” Nadine membuka lebar matanya berusaha lepas namun pria itu semakin erat memegangi pinggangnya.


“Lepaskan aku. Jangan sentuh aku.” Ucap Nadine, namun Maxi masih memberikan tatapan dalam pada gadisnya.


“Kamu sungguh pria gila.” Puji Nadine jujur dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Thank you!” balasan tersebut malah membuat Nadine ingin sekali meremas wajah Maxi. Dengan paksa Nadine akhirnya terlepas dari cengkraman gila tadi.


“Cepat pakai jika tidak ingin melihat mayat.” Sebuah ancaman dengan seringaian licik.


Nadine masih diam, penuh emosi ketika melihat kepergian dari pria sialan itu. Sedangkan Miia melihat adegan tadi yang membuatnya berdebar, bukan karena iri, melainkan ketakutan lainnya.


Ketakutan yang tak seharusnya dia terus pikirkan, apalagi itu adalah kesalahannya yang tidak akan pernah bisa di maafkan.


“Pria semaunya sendiri.” Nadine meraih kasar dress tadi, menghentakkan kakinya dan pergi ke kamar. Mau tidak mau Nadine harus menerimanya walaupun dia tidak nyaman dengan pakaian yang Maxi berikan. Bodohnya lagi Nadine lupa bertanya, untuk apa pria itu menyuruhnya memakai dress?


...°°°...


Halo guysss! Maaf bangetttt, hari ini aku hanya nulis sedikit. Maaf sekali ya 🙏 sebenarnya saya sedih jika mengecewakan kalian my reading.


saya masih ada masalah dan ini benar-benar membuat saya lelah sekali, saya harap kalian mengerti. Dan terimakasih sudah mau menunggu cerita ini. Semoga kalian menikmati babnya walaupun kurang lega ༎ຶ⁠‿⁠༎ຶ

__ADS_1


Thanks and See ya ^•^


__ADS_2