Only 200 days Mr.Mafia

Only 200 days Mr.Mafia
O200DMM – BAB 06


__ADS_3

MELARIKAN DIRI


Nadine sudah siap siaga untuk kabur dari ruangan tersebut. Sementara Maxi, pria tanpa rasa malu itu sudah bertelanjang dada menunjukkan tatto yang begitu banyak di area dada kirinya serta perut bagian kiri juga punggung kirinya.


“Tebakanmu hampir benar penulis. Akan aku beritahu sebutan orang-orang ketika memanggilku!” Maxi melangkah perlahan sehingga aura menakutkan darinya ikut di rasakan oleh Nadine.


“Mereka memanggilku Killer Monster!” Nadine sudah mulai ketakutan, nafasnya memburu, detak jantungnya meningkat. Tak butuh waktu lama, gadis itu langsung berbalik dengan cepat dan berlari menuju pintu, berusaha membuka tapi ternyata pintu tersebut terkunci.


“BUKA PINTUNYA-- ” Teriak Nadine sambil menggedor keras sampai dia berhenti dan menjadi bungkam ketika sebuah tubuh keras menempel di punggungnya.


Maxi begitu dekat dengan Nadine, dia menghirup aroma memabukkan yang keluar dari sang gadis. Sementara Nadine memejamkan mata saat merasakan nafas panas di area lehernya ketika tangan Maxi mulai menyingkirkan rambut panjang yang menutupi area leher jenjangnya.


“Don't touch me!” pinta Nadine penuh penekanan. Dia sangat ketakutan saat pria itu meniupkan angin kecil di telinganya membuat seluruh tubuhnya seperti terkena sengatan listrik.


Berusaha bergerak saja tidak bisa, ketika tubuhnya harus di tekan di pintu membuat Nadine tak bisa melakukan perlawanan.


“Kamu sudah memancingku penulis.” Bisik Maxi sedikit mendesah.


Nadine benar-benar gemetar saat tangan lainnya dari seorang Maxi mulai menggerayai punggungnya yang masih tertutup mantel. Tangannya ia gerakan agar bisa lepas dari pria sialan itu, tapi malangnya, Maxi malah mencengkram lengannya kuat-kuat.


“Jadilah betina yang tenang.” Ucap Maxi.


“Aku tidak akan mau dan aku tidak akan pernah mau merendahkan diriku sendiri kepada orang sialan seperti mu.” Tantang Nadine.


Maxi mulai menggeram ketika harus menahan emosinya sendiri, sampai pria itu memilih melepaskan Nadine tiba-tiba. Rasanya sangat menegangkan bagi Nadine, gadis itu merasa tenang untuk sejenak saat dia dan pria itu kembali ada jarak.


“Aku akan pergi. Sementara kamu, bersikaplah baik sebelum aku lepas kendali.” Bukankah peringatan dari Maxi sudah sangat jelas.


pria itu menarik Nadine untuk menjauh dari pintu. Hanya satu tarikan saja Nadine sudah tertarik seperti terbang.


Saat pria itu melangkah keluar dan kembali menutup pintunya serta menguncinya. Nadine langsung menggedor pintu tersebut sambil berteriak kencang. “AKU BILANG BUKA PINTUNYA. KALIAN TIDAK DENGAR HAH! BUKA PINTUNYA.” Brakkk! Brakk! brakk! Suara kasar dari pintu terus saja berbunyi.

__ADS_1


para penjaga di sana tak memperdulikannya meski dia orang tengah berjaga di luar pintu tepat.


“Jaga wanita itu, jangan sampai kabur. Dia cukup cerdik.” Ujar Maxi kepada seluruh anak buahnya yang berjaga di mansion tersebut.


Saat ia berjalan menuju mobilnya. Ponselnya berdering.


[“Aku akan datang Paman.”] Ucap Maxi datar dan langsung mematikannya tanpa banyak bicara. Jujur saja dia sedikit malas meladeni pamannya.


“Zero, antar aku ke Forexzo.” Pinta Maxi.


.


.


.


Nadine mulai menangis ketika tangannya sudah memerah akibat gedoran keras yang dia lakukan. Gadis itu mulai merosot dan bersandar di pintu, menangis sesenggukan dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.


Di sisi lain, di bandara CG. April beserta Dita masih berusaha menelpon Nadine, mereka tidak tahu kalau ponsel temannya sudah di buang di jalan.


“Ponselnya tidak aktif sejak tadi.” Balas April yang sama khawatirnya.


Ternyata Maxi menyuruh anak buahnya untuk mengantar kedua wanita itu kembali ke bandara dengan selamat, meski begitu perasaan keduanya tak luput khawatir pada temannya yang masih menjadi tahanan.


10 jam lagi penerbangan menuju negara (ID) dan tanda-tanda kehadiran Nadine masih tidak ditemukan. Bagaimana mereka bisa pulang tanpa temannya?


...***...


Sempat putus asa. Nadine mulai memikirkan sesuatu untuk bisa kabur di saat pria pembunuh tadi pergi.


Dia adalah seorang penulis, imajinasi luas di miliki oleh Nadine. Gadis itu langsung mengeluarkan sebuah gincu merah darah milik Dita yang di titipkan di saku celana Nadine. Dengan cepat Nadine mulai melumurinya di area pergelangan tangan kirinya hingga menetas seperti darah.

__ADS_1


Nadine segera mengusap jejak air matanya. Lewat 2 jam, Nadine mulai mengetuk pelan pintu. “Aku lapar. Aku mau makan, aku belum makan sejak tadi-- ” teriak Nadine berharap ada penjaga di luar sana.


“Apa kalian dengar? Aku-- ” Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah satu pelayan dan satu penjaga. Sajian yang cukup cepat.


Nadine melihat sebuah hidangan di nampan yang saat ini dibawa oleh pelayan cantik berambut blonde. Sementara si penjaga berkulit hitam botak itu menatap Nadine sedikit curiga lalu berjalan pergi meninggalkan pelayan tadi bersama Nadine.


“Ini makan malam anda.” Pelayan itu masih berdiri lalu meletakkan nampan tadi di atas meja dan berjalan menuju pintu sampai Nadine memukul lehernya menggunakan vas bunga yang cukup berat sehingga pelayan tadi jatuh pingsan.


Tubuhnya bergetar saat pertama kalinya dia terpaksa melukai seseorang apalagi seorang wanita sepertinya. “Aku minta maaf!” lirihnya dan mulai memecahkan vas bunga tadi hingga suaranya terdengar sampai ke luar.


“Cepat kau periksa.” Pinta salah satu anak buah bertopi kepada pria berkulit hitam tadi.


Dengan sigap pria berkulit hitam tadi mulai masuk dan terkejut ketika melihat wanita bosannya sudah tergeletak penuh darah di pergelangan tangan beserta pecahan vas dan pelayan tadi yang masih tergeletak tanpa ada noda darah seperti Nadine.


“Rob! Cepat panggil dokter!” Teriak pria kulit hitam tadi mulai panik. Dengan segera, pria bertopi yang seharusnya menjaga di depan pintu, langsung pergi untuk memberitahu yang lainnya agar segera mendatangkan seorang dokter sebelum bosnya datang.


Ketika pria bertopi tadi sudah pergi, Nadine berusaha menahan nafasnya ketika penjaga tadi mencoba memeriksa hembusan nafasnya. dengan ketakutan yang luar biasa, tangan kanan Nadine mulai meraba-raba sisi sampingnya yang sudah dia siapkan sebuah asbak rokok dari kaca.


Bruak! Satu pukulan berhasil mengenai kepala penjaga tadi hingga darah keluar dari pelipisnya lalu pingsan. Nadine memejamkan matanya sejenak, berusaha menahan tangisannya yang merasa berdosa ketika harus melakukan kekerasan kepada seseorang.


Nadine berdiri dan menatap pria tadi. “Im sorry. Aku benar-benar minta maaf hikss.” Ucapnya mulai gemetar dan segera keluar dari pintu.


3 jam lewat. Nadine mengendap-endap dan mencoba mencari jalan keluar. Sudah di duga, rumah itu seperti labirin, untung Nadine sudah menghafalnya meski sedikit.


Dia berlari kecil sambil terus waspada. Setiap lorong terdapat penjaga di sana, para pelayan juga tertawa riang ketika dia tidak punya pekerjaan. “Aku mohon selamatkan aku.” Gumam Nadine bersandar di tembok sejenak.


“CEPAT CARI WANITA ITU!” suara keras membuat Nadine mulai panik dan cepat-cepat pergi. para penjaga di sana segera mencari keberadaan nya.


Nadine berlari cepat menuju ruang tamu, dia terkejut saat melihat beberapa penjaga dan para pelayan di sana, menatapnya dengan bingung. “Ada musuh masuk lewat jendela.” Ucap Nadine tergesa-gesa. Seketika para penjaga tentu saja percaya.


Mereka semua segera bersiap, sementara para pelayan masih menatap Nadine curiga.

__ADS_1


“Apa yang kalian lihat. Cepat bantu mereka sebelum bos kalian datang.” Tipu Nadine benar-benar membuat ricuh semuanya.


Dia sangat senang saat orang-orang di mansion begitu bodoh karena tertipu olehnya.


__ADS_2