Only 200 days Mr.Mafia

Only 200 days Mr.Mafia
O200DMM – BAB 05


__ADS_3

MAFIA VS PENULIS 2


Bibir Nadine bergetar, dia tidak tahu dan tidak mengenal siapa sebenarnya pria di sampingnya saat ini, siapa dia?


Melihat gadis di depannya sudah sedikit tenang dan ketakutan. “Good!” Maxi menjauhkan kembali pisau yang hendak menyayat leher Nadine. Memasukannya kembali ke dasbor mobil.


Nadine bisa membuang nafas lega, dadanya naik turun tak karuan, mungkin kini dia terlihat berantakan dengan rambut yang menempel di kulit leher serta wajahnya akibat keringat dingin bercucuran. Nadine memilih diam sambil menunduk, sekarang dia bingung dan khawatir dengan keadaan sahabatnya? Dan bagaimana keadaan keluarganya di rumah panti, terutama Kakak Melvi-- sosok wanita yang sudah Nadine anggap seperti kakak kandungnya sendiri. Wanita itu cacat dan terus duduk di kursi roda tanpa bisa menggerakkan tangan atau kakinya di karenakan kecelakaan yang sempat menimpanya dulu, namun untungnya ia masih bisa berbicara meski agak sedikit susah.


“What your name?” suara berat nan serak membuyarkan rasa bingung Nadine, namun gadis itu tetap enggan menatapnya.


“Aliya.” Jawab Nadine berbohong karena dia tidak ingin pria asing itu mengetahui dirinya lebih dalam. Meski itu hal yang sia-sia.


“What your name?” Maxi mulai menekan suaranya sendiri dan fokus ke depan. Sementara anak buahnya yang tengah menyetir hanya bisa diam tanpa berkutik saat bosnya tengah berbicara, jika tidak maka lidahnya bisa hilang dalam sekejap.


“Aliya.” Nadine masih berani meski tubuhnya gemetar, namun dia tidaklah gadis lemah seperti wanita pada umumnya. Dia takut, tapi dia juga marah dengan pria bernama Maxi tersebut.


Tangan Maxi mulai mengepal ketika dia tidak suka kebohongan, namun apa ini? Seorang wanita dengan polosnya membohongi dirinya tanpa rasa takut.


“Aku katakan sekali lagi, siapa namamu?” Maxi menoleh ke Nadine dengan wajah berkerut marah seolah dia memberikan peringatan keras.


Nadine menoleh dan menatap lekat penuh kemarahan. “Sudah aku bilang, namaku ALIYA!” sentak Nadine di akhir kalimatnya.


“BOHONG!” sentak balik Maxi yang kini langsung meremas rambut Nadine dan menjambak nya sampai kepala Nadine mendongak.


“Kamu tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?” suara seram itu keluar. Maxi menekannya dengan tatapan tajam bak silet.


Bukannya takut, Nadine malah tersenyum miring penuh keberanian. “Dan kamu juga tidak tahu sedang berurusan dengan wanita seperti apa?!”


Melihat senyum miring dan keberanian Nadine sudah membuat Maxi terpikat bahkan semakin penasaran dengan gadis di depannya saat ini. “Aku pastikan kamu akan menyesali semua ucapanmu.” Ujar Maxi.


“Aku akan menunggunya.” Balas Nadine seperti sudah pasrah. Sudahlah hidupnya begitu susah saat pertama kalinya dia ingin hidup tenang sebagai seorang penulis. Dan kini, saat semuanya berjalan sempurna, sosok pria asing malah menculiknya paksa.


Perlahan Maxi mulai melepaskan remasan di rambut Nadine, lalu kembali duduk bersandar sambil menyalakan cerutunya. Tak peduli meski asap memenuhi isi mobilnya, toh jendelanya juga bolong. Sementara Nadine masih menatap datar ke depan dan air matanya sudah mengering.

__ADS_1


“Kamu cukup berani.” Ucap Maxi masih fokus dengan cerutu dan jalanan.


“Thank you.” Maxi langsung menoleh ke arah Nadine dengan seksama hingga gadis itu juga ikut menatapnya datar.


“Aku akan menghilangkan keberanian mu itu. Camkan baik-baik.” Ancam Maxi berusaha menahan pitam nya sendiri. Dia menginginkan gadis itu, jangan sampai dia kelewat marah hingga membunuhnya.


Ancaman Maxi tidak membuat Nadine goyah sedikitpun, malahan dia masih sibuk memikirkan keadaan teman-temannya yang saat ini entah di bawa kemana mereka.


-‘Ya Tuhan, tolong aku.’ Batin Nadine sembari menatap keluar jendela.


...***...


Mansion Maxi (CG)


Nadine melihat pria pembunuh tadi turun lebih dahulu tanpa bicara lagi dengannya, sampai dua anak buah Maxi mulai menyuruh dan memaksanya turun dari mobil.


“Lepaskan aku, jangan menyentuhku.” Teriak Nadine berusaha meronta ketika Maxi mulai berjalan mendekat tepat di hadapannya. Sementara kedua lengan tangannya di pegang erat oleh anak buah Maxi.


“Tutup matanya.”


Seketika Nadine mulai panik mendengar arahan Maxi untuk anak buahnya. Sebisa mungkin ia meronta meminta dilepaskan, hingga pada akhirnya kedua matanya mulai di tutupi oleh kain merah lalu orang-orang tadi mulai memaksanya berjalan dan mengunci kedua lengannya tentunya.


Nadine merasa bahwa rumah yang saat ini dia masuki sangatlah luas dan besar. Nadine juga berusaha mengingat setiap langkah yang dia lewati, belokan yang sangat ribet seperti sebuah labirin. Apakah dia berada di sebuah rumah atau labirin?


Beberapa menit kemudian, orang-orang tadi mulai mendorong paksa Nadine untuk masuk ke dalam ruangan, menutup pintu di belakangnya rapat-rapat. Dengan cepat Nadine mulai melepaskan tali di matanya saat tangannya sudah terbebas.


sangat kasar ia membuang kain merah tadi ke sembarang arah, lalu menatap ke depan dimana sosok pria tampan dengan pakaian yang sama hanya saja jasnya sudah terlepas.


pria itu duduk di sofa hitam melengkung dengan sebuah meja kaca juga sebuah anggur merah di atas meja.


Nadine masih berdiri canggung ketika sorot mata Maxi terus memandanginya dari atas kebawah seakan menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Memang, Nadine tidaklah gadis pemilik tubuh sexy, kurus dengan p******a montok karena suntikan, lebih tepatnya dia pemilik tubuh ideal dengan bulatan yang alami sehingga tubuhnya tanpa sadar sudah membuat para pria hidung belang di luar sana terangsang. Termasuk Maxi.


Merasa risih, Nadine terus menggerakkan kedua tangannya agar mantel coklat yang dia kenakan bisa lebih menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Tiba-tiba Maxi terseringai sambil menuangkan wine di gelas. Nadine berpikir bahwa pria itu sudah sangat gila.


“Nadine Chysara! Usia 28 Tahun, seorang yatim piatu dan penulis buku anak-anak. Sangat di sayangkan gagal menjadi seorang dokter karena takut dengan darah. CK, sangat menarik!” jelas Maxi yang mengetahui semua kehidupan Nadine.


Gadis cantik yang saat ini menatapnya heran, membelalakkan matanya karena terkejut ketika pria di depannya tahu soal kehidupannya. Bagaimana mungkin?


“Ba-bagaimana kamu bisa tahu? Siapa kamu sebenarnya? Jika kamu pembunuh maka bunuh saja aku sekarang juga.” Balas Nadine seolah berani padahal dia bertanya-tanya dalam benaknya sendiri dan getir.


Maxi masih tersenyum miring menatap Nadine yang hanya berdiri saja, sementara dia duduk sambil menikmati segelas wine di tangannya.


“Menurutmu siapa aku?!” pria itu mulai meletakkan tangan kanannya di atas sandaran sofa.


Lagi dan lagi Nadine mulai panik karena dia takt salah menebak apalagi menebaknya dengan benar, semuanya sama saja.


“Kau seorang penjahat. Kau pembunuh, dan orang-orang seperti kalian pantas mendapatkan hukuman.” Ucap Nadine memperjelas.


Maxi tertawa mendengarnya, lalu pria itu berhenti dan menatapnya kembali sambil beranjak dari sofa setelah meletakkan gelas dari tangannya. Sementara Nadine mulai mengambil langkah mundur dan waspada saat pria pembunuh tadi sudah berdiri tegap.


“Bagaimana jika tebakan mu benar?” Nadine semakin getir mendengarnya, jika tebakannya benar maka.... Tidak salah lagi, pria di depannya itu adalah seorang pembunuh kaya dan tampan seperti--- Mafia.


Nadine melangkah mundur dengan sangat pelan sebelum pria itu melakukan hal yang tidak-tidak.


Maxi mulai melepaskan satu persatu kancing kemejanya lalu membuka kemeja putih tadi dan membuangnya ke lantai. Nadine berpaling ketika dia menyadari bahwa pria itu sudah bertelanjang dada. Sebuah tatto gambar tengkorak, belati, tulisan bahasa Latin serta gambaran seperti monster yang memenuhi tubuh sebelah kiri Maxi hingga ke tukang selangka nya. Tatto tadi seperti gambaran sebuah Monster yang tersiksa. Mungkin.


...°°°...


Hai! Saya kembali dengan cerita baru. Kali ini tentang Mafia monster yang ternyata memiliki kisah kelam dengan keluarganya sehingga si gadis penulis ikut sedih melihatnya.


Semoga kalian suka dengan cerita ini. Dan mohon dukungan kalian, saya sangat membutuhkannya 🙏😔


Don't forget to Like and Coment


Thanks and See ya ^^

__ADS_1


__ADS_2