
Hari ini hari dimana Acara Perpisahan Sekolah (Acara kelulusan Siswa siswi kelas 12 tahun ajaran 2014/2015) di laksanakan. Hari yang penuh dengan suka cita, hari yang sangat mengharukan dan juga awal dari sebuah masa depan.
Ia tengah duduk di salah satu kursi dari sekian banyaknya kursi yang ada di ruangan tersebut, ia tertawa terkadang hanya tersenyum mendengarkan candaan dan celotehan dari Kania. Hingga tawa dan senyum itu se akan hilang dan sirna seketika saat ia mendengar suara yang begitu ia kenal. Ya itu Suara Rendi Mantan kekasihnya yang baru saja putus beberapa Minggu lalu tentu saja ia masih menyimpan rasa sayang dan luka yang mendalam.
Rendi ia tengah duduk di atas panggung ditemani dengan satu gitar di tangannya yang di letakkan pangkuannya.
"Lagu Ini mungkin bisa menggambarkan perasaan saya saat ini, teruntuk dia aku tau kau pasti mendengar akan mendengarku menyanyikan lagu ini..." ujar nya dengan tatapan senduh.
*Tak pernah kusesali
apa yang terjadi di dalam hatiku
karena semua tak lagi bisa ku mengerti
tinggallah rasaku
cinta yang kini tersisa
akan sia-sia
tak mampu bertahan
kehilanganmu, ku tak mengapa
melepaskanmu bukan berarti tak cinta
__ADS_1
namun bersama bukan takdir kita
lebih baik kita akhiri saja
tak pernah kusesali
apa yang terjadi di dalam hatiku.,..
takkan terulang lagi
tak mungkin ku kembali
jalani kisah dengan dirimu ohh,,
kehilanganmu, ku tak mengapa
melepaskanmu bukan berarti tak cinta
namun bersama bukan takdir kita
Lagu yang di berjudul "Takdir" se akan mengerti dan paham akan apa yang tengah terjadi diantara mereka berdua.
Rendi turun dari panggung dan berkeliling mencari sosok yang belakangan ini sangat ia rindukan, namun hasilnya nihil ia tak menemukan gadis tersebut hingga akhirnya ia memutuskan untuk bergabung dengan teman sekelasnya yang lain.
lain halnya dengan Naila, saat ini ia tengah menangis di toilet, ia merasa tak sanggup mendengarnya, memandangnya dan mengingat apa yang terjadi di antara mereka, hatinya terasa sakit, semuanya seakan baru saja terjadi beberapa detik yang lalu.
__ADS_1
3 tahun bukan lah waktu yang singkat bukan, tak mungkin rasa itu dengan mudahnya hilang, ia ingin saja mengingkari apa yang terjadi kepadanya dan Rendi namun apalah daya takdir mempertemukan mereka dan takdir jugalah yang memisahkan mereka.
"Kenapaaaa....kenapa ini harus terjadi tuhannn..." Teriak Naila tak kuasa menahan jeritan-jeritan luka yang ada di hatinya.
"Kenapa kau ambil semuanya yang ku sayang..., kakak ku, nenek ku sekarang Rendii... kenapa tuhan apa salah Nai...." Isaknya.
"Udahlah Naiii, jangan kek gini..." Ucap Kania yang sedari tadi mencoba menenangkan Naila. "Kita masih sekolah loh...ntar aja kalo mau nangis-nangisnya, nunggu di rumah aja..." ujarnya lagi dengan polos.
"loh bukan nya nyemangatin gue buat lupain tuh cowok, malah nyuruh gue nangis...." Gerutuh Naila.
"Ya habis gimana, gue udah nyuruh loh buat Ndak nangis tapi loh nya tambah nangis histeris kek gitu, kan w nya bingung Nanaii....."
Naila hanya berdengus kesal dengan Kania, ia belum puas menangis tapi hatinya sudah lelah.
"Udah yuk!! kita ke dalem lagi nangisnya udah ya, ntar Adek beliin ice krim..." bujuk Kania seperti membujuk anak kecil yang sedang merajuk.
"Loh kira gue bocah apa...hweehwee...." Isak Naila tak terima.
"Ya udah ayoooo hapus air mata loo..." Seru Kania.
Naila menghapus air mata yg ada di pipinya dan kembali menata pakaiannya dan jilbabnya yang sudah berantakan.
"Sembab nggak mata gue?" Tanya Naila.
"nggak juga..."
__ADS_1
Kania dan Naila kembali lagi keruangan Acara melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.