
Garis satu, iya garis satu itu terpampang jelas dibenda persegi panjang itu. Arinipun sudah terbiasa setiap bulan harus menerima kenyataan kalau dirinya belum dikarunia momongan. Sedih ? Sudah pasti namun adakala ia harus bangkit dari keterpurukannya.
"Aku gak boleh sedih terus, kasian mas Rio nanti dia kepikiran" gumam Arini
Arinipun membuang alat persegi panjang itu ke dalam kotak sampah, ia mencuci tangan lalu keluar dari kamar mandi. Hari masih pagi, tepatnya jam 10 pagi, sang suami tercinta sudah berangkat kerja. Tinggallah ia seorang diri dirumah tanpa adanya seorang ART, karena ia sudah biasa dari kecil mengurus rumah seorang diri. Ia pun menyibukkan diri dengan membaca novel ataupun menonton televisi.
Derrtt dertt bunyi suara panggilan masuk dari suaminya, ia bergegas langsung mengangkat telpon itu tanpa menunda lagi.
"Halo mas assalamualaikum" Ujar Arini
"Waaalaikumsalam sayang, nanti sore siap-siap ya kita mau kerumah mama" jawab Rio.
"Wah ada acara apa mas?" tanya Arini
"Mama kangen menantunya yang paling cantik" Gombal suaminya
"Hehe kamu mah bisa aja mas bikin aku GR terus deh" Omel Arini
"Gak percayaan amat sih dengan suami sendiri" Jawab Rio pura-pura kesal.
"Iya deh, iya aku percaya kok" Jawab Arini mengalah.
"Yasudah teleponnya mas matiin ya sayang, assalamualaikum" Ujar Rio
"Iya mas, waaalaikumsalam" jawab Arini kemudian.
__ADS_1
Setelah panggilan telepon itu berakhir, Arinipun bersiap-siap supaya nanti ketika suaminya jemput, Ia telah cantik.
"Pakai baju yang mana ya ?" Ujar Arini kebingungan.
"Yang ini nanti gak cocok lagi" gumamnya lagi.
"Ah yang ini aja deh" Ujar Arini sumringah.
Tak lama kemudian suaminyapun telah pulang, Arini sebagai istri yang baik, ia akan menjalani perannya sebagai seorang istri yang patuh dan taat. Rio pun pamit mandi dulu sebentar sebelum dia membawa Arini kerumah kedua orangtuanya.
Diperjalanan sepasang suami istri itu bergurau didalam mobil, Rio senang lihat istrinya bisa tertawa lepas begitu setelah beberapa bulan ini merenung bahkan melamun. Tak lama akhirnya merekapun telah sampai dirumah mewah itu.
Tok tok tok
"Eh ada tuan Rio" ujar inem, pembantu mereka.
"Ada tuan, silahkan masuk." Inem memberikan mereka jalan.
"Pa ma kami sudah sampai" Teriak Rio.
"Apa sih ini anak datang-datang malah teriak-teriak kayak dihutan aja" Omel bu Ratih.
"Hehe maaf ma" Ujar Rio cengengesan.
"Aduh menantu ibu apa kabar nak ? kamu sehat ? apa Rio selama ini sering menyakiti kamu ?" Tanya Bu Ratih.
__ADS_1
"Alhamdulillah tidak pernah bu" Jawab Arini
"Syukurlah" Jawab Bu Ratih lagi.
Sekeluarga besar itupun akhirnya menikmati makan malam bersama. Disela-sela makan Rio tak pernah berhenti untuk selalu memandang wajah cantik sang istri. Baginya kebahagiaan istrinya merupakan kebahagiaan dia juga.
Setelah makan malam, mereka pada kumpul diruang tamu untuk berbincang-bincang.
"Gimana sudah ada hasilnya belum"tanya Bu Ratih
"Belum ma, doakan saja" jawab Arini
"Iya nggak apa-apa nak, mungkin belum rejeki kalian saja" jawab Bu Ratih menenangkan hati menantunya.
Tak terasa hari sudah larut malam, merekapun pergi kekamar masing-masing untuk beristirahat. Arini dan Rio mereka segera merebahkan diri.
"Mas" panggil Arini
"Iya sayang" jawab Rio
"Maafin aku ya sampai sekarang belum bisa kasih kamu anak" jawab Arini sedih.
"Tidak perlu minta maaf sayang, semua sudah ada rejekinya masing-masing" jawab Rio.
Arinipun langsung memeluk tubuh kekar sang suaminya, ia merasakan sebuah kehangatan didalam pelukan itu. Tak terasa mereka pada ketiduran semua.
__ADS_1
#Bersambung