
Butir Air Mata, entah sampai kapan. Kala sebelum pernikahan Jinie nona dengan Oppa Ran, sempat terhambat karena luka Jinie pada mantannya dahulu membuatnya trauma, saat itu mereka ada di suatu tempat sebelum benih benih cinta mereka hadir.
"Jinie, aku datang kembali, Apa kamu mengharapkan aku kembali. Aku sudah datang sayang."
Seseorang berbicara, suara yang tak asing. Hal itu membuat Jinie nona, menoleh dan berdiri tegap. Bahkan ia terkejut apa yang ia lihat adalah benar nyata. Jinie memeluk erat kekasih yang ia sangat rindukan.
'Kenapa kau begitu lama pergi. Kamu jahat, jahat ... sekali, meninggalkan aku sendiri Oppa.'
Jinie memukul bidak depan tubuh prianya. Lalu ia merangkul pundak amat erat, yang ia inginkan adalah kembali bersama dan memulai hidup janji menikahi bersama di cintai.
"Jinie, Jinie sayang. Ayo bangun!" ujar Eoma membangunkan ku.
Jinie tersadar dan menoleh ke sekeliling. Jinie mengucek mata dan berfikir nyata. Sayangnya ia tersenyum paksa, bangun dan membenarkan dirinya untuk bangun.
"Eomma, Ah. Rupanya Jinie tertidur ya. Maaf."
"Eomma buatkan teh ya, lihat calon suami kamu datang." terdiam Jinie, begitu ibu berlalu.
"Oppa Ran, dari tadi di sini?"
"Ya, benar kamu ketiduran di taman sambil memeluk buku Jinie, apa tidak pegal?" tanya Ran.
__ADS_1
Jinie merunduk, ia ternyata mimpi. Sudah amat bahagia ketika benar ia bertemu Jinie. Tapi benar saja ia membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. Sudahlah Jinie, dia tidak akan kembali. Kehilangan dalam jurang sudah pasti ia telah tiada.
Oppa andai kamu tahu, aku akan menikah dengan Ran Oppa jika kamu tidak kembali. Dan rasanya kosong dan hampa. Meski kedua orangtua kita sepakat dan membenarkan jika kamu sudah di surga, menggantikan pertunangan yang telah tersebar. Meski ia kembaran mu mencintaiku, tapi hatiku terukir namamu kalian tetaplah beda.
Ketika kehilanganmu aku terasa sadar, begitu sangat mencintaimu.
"Sayang, kok melamun?"
"Hah, ya .. nyawaku masih belum kumpul Ran oppa."
Mereka pun tertawa setelah banyak bicara, dan Ran menatap saling memandang.
"Ran oppa .. jangan bicara begitu, aku.. "
Jinie terhenti bicara karena bingung apa yang akan ia katakan, lalu ia memeluk Ran oppa, berharap di sisa hidupnya adalah membahagiakan orang yang begitu benar mencintainya dan tak akan menyianyiakan.
"Tenanglah Oppa Ran, jika hari bahagia itu ada. Aku yakin kita memang telah di takdirkan!"
"Syukurlah, aku bahagia kamu mengatakannya ini Jinie."
Menjelang malam hari, Jinie masih memandang gaun yang bertabur kerlip payet nan indah. Ia menatap bintang, esok pagi aku telah menjadi kekasih istri seorang Ran oppa.
__ADS_1
Pewaris Yang corp satu satunya. Tapi apa aku bahagia, aku mendasari semuanya karena ketulusan. Aku mendasari semuanya karena balas budi kedua orangtuaku. Sudah di rencanakan tapi gagal, sedangkan telah di atur semua olehnya, hanya berharap kedepannya semakin baik.
"Aku ikhlas, dan menerima semuanya!"
Jinie pun menangis di kursi panjang, ditepi balkon. Tapi dia tidak melihat seseorang yang menatap dan memperhatikannya, dibalik celah atap balkon seseorang sedang tersenyum lebar dan bahagia.
"Maafkan aku Jinie, aku melakukan semuanya karena ingin kamu jadi istriku." batin lirih Ran oppa yang berlalu pergi.
Jinie berjalan di taman, ia menghirup udara. Namun di balik semak pohon air mancur, ia melihat seseorang berjas hitam. Jinie menghampiri sekedar ingin tahu, tapi nahas Ran oppa memanggilnya.
"Sayang, sedang apa?"
"Ran Oppa, aku .. tadi disana."
"Ada apa, disana ada siapa?"
"Sepertinya aku salah lihat." balas Jinie, yang terlihat ada seseorang berdiri.
Tiba saja Jinie tak melihat seorang pun, sehingga ia melupakan dan mengajak Ran Oppa untuk masuk kedalam rumah. Kesehatan dan cuaca tidak baik diluar, bagi pengantin seperti mereka tidaklah baik di luar karena karena angin terlalu kencang.
TBC.
__ADS_1