
Pagi telah menyinari, efek alarm membangunkan Jinie nona. Ia membuka mata, juga menatap jam 5 pagi. Jinie segera mungkin membersihkan diri dan meregangkan segala otot dipergelangan tangan, kaki, dan punggungnya. Bahkan ia lupa saat diujung, menatap Oppa Ran yang tertidur kedinginan setelah memeluk guling, dimana Jinie saat ini membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, berolahraga di depan cermin, melupakan aksi malam indah. Dimana ia mendekat ke arah Ran, yang meringkuk.
"Oppa kamu tampan sekali." lirih Jinie.
Jinie mendekat menyelimutinya, dan tak sadar jika Ran oppa sudah meliriknya. Ran sudah bangun, ia telah terbangun dan mendengarkan Jinie berbicara menatap dalam.
"Benarkah, kamu memujiku Jinie sayang?"
Ah.
Jinie terkejut, karena Ran sudah terbangun.
"Kamu sejak kapan sudah bangun?" ucap Jinie.
"Entahlah."
Dan Ran pun membalas, jika ia sudah bangun ketika seseorang memberi pujian dan nama baru untuknya.
Ran bangkit, ia memakai kamar mandi dimana masih membuat deguban jantung Jinie.
Hingga dimana Ran keluar, di saat sedang berjongkok mengambil sesuatu, membuat Jinie kaget.
Jinie pun berusaha mundur dan Ran terbangun menoleh sudah ada Jinie, saat Jinie membalikan tubuhnya. Ran yang nakal, ia menarik lengan Jinie hingga ia berada di bawah sofa, dan Ran memeluk diatasnya.
"Kamu mau apa, jangan seperti ini, aku malu aku akan memakai kamar mandi lebih dulu untuk merapihkan alat mandi." tapi Ran menahan Jinie.
__ADS_1
"Baiklah, tapi jawablah pertanyaanku atau tidak akan aku lepaskan."
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Ran pun membalas dan berbisik.
"Maukah kita membuatnya lagi seperti semalam, ini masih pagi dan suasana dingin aku ingin dihangatkan."
Mata Jinie membulat, hatinya tak menentu. Bahkan berusaha ingin menghindar namun pegangan erat tubuh Ran Oppa, benar benar lebih kuat darinya.
"Bisakah kita bicara nanti, mengapa kamu tak sabaran, aku belum mandi Oppa. Bukankah kita semalam sudah ..."
Cup!!
"Aku mandi dulu ya, rasanya tidak nyaman aku masih bau Oppa."
"Baiklah."
Jinie masuk kedalam kamar mandi. Meski begitu, di dalam Jinie tersenyum sendiri menatap cermin, ia membersihkan diri selama beberapa menit, dan selesai memakai piyama handuk.
Sehingga Jinie semakin tersenyum ketika mendengar.
Saat Jinie membuka pintu, Ran sudah di depan, namun kaki Jinie pun kepleset. Ran kilat menyangga hingga berputar, dimana air keran tersenggol bahu Ran, membuat mereka berdua mengucur air dari shower.
Byur!
Wajah mereka basah, dimana mereka saling menatap dan ranum mereka hanya sejengkal saling melirik, bahkan pegangan Ran erat setelah mematikan keran air.
"Maaf, semua basah karena aku." lirih Jinie.
__ADS_1
"Ada cara agar kamu aku maafkan."
"Heum. A- apa ..?"
Ran yang mengeringkan dengan handuk rambut wajah Jinie, begitu pun dirinya. Ran merengkuh leher Jinie hingga menengkuk.
Jinie hanya bisa diam, bahkan detak jantungnya benar benar seperti terketuk lebih cepat.
Ran melangkah maju, ketika wajahnya mengeringkan leher Jinie dan rambut belakangnya, dimana ranum Ran tersentuh jenjang leher putih Jinie. Jinie merasakan geli ketika hembusan hidung mancung Ran, yang menggesek ke arah lurus.
Mendekat .. Amat dekat membuat ranum mereka saling bertemu, dimana tangan mereka saling merengkuh, bahkan pinggang Jinie kini telah menempel hingga Jinie syok ketika sesuatu yang tercetak, terasa dan mungkin sangat big.
Cup.
Beberapa saat, mereka berhenti dan saling memeluk saja. Ran sudah naik turunkan bendanya, sehingga merengkuh benda kenyal Jinie, dengan tersadar beberapa tanda merah, tercetak dibeberapa bagian tubuh Jinie.
Sreth!
Jinie menarik nafas, menutup mata ketika Ran Oppa sudah memasuki dan membuat pemanasan, dimana Jinie tak kuat dan hanya pasrah kala Ran Oppa sudah mengatur gaya dengan banyak seperti malam malam itu.
Hingga menjelang siang, Jinie sudah lemas di kasur, dimana letak makanan dan buah sudah ada disampingnya, benar benar membuat Jinie lemas. Malam setelah pengantin, si pria tidak memberi ia nafas dan terus saja membuatnya lemah, dengan alasan enak dan syahdu, meski kenyataan wanita merasa takut dan melangkah saja perih gemetar.
'Semoga kebahagian kita selamanya, dikaruniakan anak anak lucu sayang.' kecup Ran Oppa saat itu juga, memeluk Jinie menyamping.
"Aku berharap sayang, semoga kita bahagia terus menerus, tanpa adanya kesedihan dan perpisahan."
TBC.
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca kisah novel pendek Jenie Nona dan Ran Oppa. Endingnya mereka happy terus ya all.
End.