Petualangan Sejarah

Petualangan Sejarah
Pertempuran Sengit Di Stalingrad


__ADS_3

Saat pukul 11 siang, peleton Teja pun sudah sampai di kamp tahanan perang milik tentara Soviet. Teja menyuruh semua prajurit di peleton nya untuk siap siap memasuki area musuh,


Teja: Freitag! Kamu dan anak buah kamu ke arah timur. (Freitag ini adalah pasukan baru yang di tugaskan bersama Teja.)


Freitag: siap pak, laksanakan.


Sisa dari peleton tersebut mengikuti Teja. Saat sudah memasuki area musuh, Freitag mulai menembaki tentara Soviet yang terlihat di matanya.


Disaat freitag meng-cover pasukannya, Teja mulai lari ke kamp tahanannya untuk memastikan prajurit prajurit yang ditahan itu lengkap dan masih hidup. Disaat mengecek Teja tertembak di tangannya, tetapi dia tetap maju untuk melaporkan ke Freitag.


Teja: aghhh, tanganku.


suara tembakan dimana mana, dan sniper musuh sudah memantaunya dari kejauhan.


Teja: hello, apa ada orang disini.


pasukan yang disandera: hello, kami disini.


pasukan yang disandera: kami mohon tolong kami.


Teja: oke kami akan menolong kalian, tolong pasukan, kalian jaga mereka dari serangan musuh aku akan melaporkan ke Freitag untuk menelpon kantor pusat.


pasukan: oke pak.


Teja pun berjalan sambil tangannya bersimpuh darah dan menemui Freitag.


Teja: hei Freitag, tolong kabarkan ke markas, bahwa sandera aman disini.


Freitag: oke siap.


Freitag: pak tangan anda tertembak ya?


Freitag: pak ayo ke pasukan medis untuk di obati.


Freitag yang tiba-tiba merasa kasihan terhadap Teja pun langsung mengantar Teja ke tempat yang aman, namun Teja tidak mau, saat ditanya kenapa tidak mau. Teja menjawab "walaupun saya sudah tertembak, saya masih mau berjuang bersama kawan² saya yg masih hidup, ingat "penderitaan itu bukan nasib!".

__ADS_1


Teja yang semangat tempur nya membara itu langsung menembakkan mp40nya ke tentara-tentara Soviet itu.


Teja: aghhhh, mati kalian semua. ( menembaki lawan dengan mp40 secara semangat yang membara).


Teja yang masih menembaki tentara-tentara Soviet tersebut, lalu mendengar suara rentetan senapan mesin dari dalam gedung yang sudah hancur lebur. Benar saja itu adalah bala bantuan tentara Soviet yang semakin banyak.


Tau bala bantuan tersebut semakin banyak, Teja memanggil operator radio yang sudah stand by di belakang nya. Teja meminta bala bantuan bomber Luftwaffe untuk mengebom gedung² tersebut agar bala bantuan Soviet itu mengurang.


Teja: hello, hello.


Pilot Luftwaffe: hello, apa yang bisa kami bantu?


Teja: tolong kami, ada bala bantuan Soviet datang dari arah timur.


Pilot Luftwaffe: tolong berikan koordinat geografis di sana.


Teja: oke sebentar.


Teja: hei Freitag!


Freitag: siap pak, ada apa?


Freitag: oke pak, kita ada di koordinat 48.696688,44.499188


Teja: hello, koordinat kami berada di 48.696688,44.499188.


Pilot Luftwaffe: oke kami sebentar lagi menuju ke sana.


Teja: oke terimakasih.


25 menit kemudian, teja mendengar suara Pesawat Stuka dari kejauhan, tau suara itu mendekat, Teja pun menyuruh Peleton nya untuk mencari tempat berlindung agar tidak terkena serpihan-serpihan batu dan beton dari gedung tersebut.


Teja: ayo semua, pergi mencari tempat yang aman.


pasukan: oke pak.

__ADS_1


Saat pesawat Stuka tersebut mulai mengebom gedung gedung tersebut. Teja berharap agar dia dan peleton nya masih bisa melihat matahari terbenam nanti, tak lama kemudian suara bom tersebut sudah berhenti. Dan Teja pun mengecek gedung gedung tersebut dengan teleskop nya.


Teja dan peleton nya mulai maju kembali untuk memastikan semua tentara Soviet itu sudah mati, saat peleton Teja sudah memastikan area tersebut sudah aman. Mereka langsung ke tempat tahanan lainnya yang dimana tentara Jerman ditahan. lalu mereka semua mengecek ruang tahanan tersebut, saat mereka memasuki ruang tahanan tersebut mereka hanya melihat mayat-mayat tentara Jerman yang sudah membusuk, tetapi ada satu prajurit Jerman yang masih hidup.


Teja: oh tuhan, kasian sekali mereka, semoga mereka di terima disisinya.


Teja pun bertanya kepada sisa tahanan ini.


Teja: apa yang terjadi kepada mereka ini.


pasukan yang selamat: dua hari lalu mereka di interogasi dan mereka mendapatkan penganiayaan hingga akhirnya mereka mati akibat tak mau menjawab.


pasukan yang selamat: saya bisa bertahan di karenakan saya bukan pemimpin para pasukan, dan hanya prajurit biasa, jadi saya tak di interogasi.


Saat dilihat, prajurit tersebut ternyata masih sangat muda, yaitu sekitar 15 tahun. Dengan rasa prihatin, Teja dan Peleton nya langsung menuju kamp nya kembali. Dan saat mereka sampai di kamp mereka kembali, mereka langsung beristirahat dan Teja bertemu Meiko dan Akiko yang sedang duduk, akiko terkejut melihat lengan Teja yang penuh dengan darah. Akiko pun langsung membawakan perban untuk menutupi luka nya Teja, Meiko yang melihat kakaknya sibuk mengobati lengan Teja pun merasa cemburu.


Akiko: ada apa Meiko, wajah mu masam sekali saat melihat ku.


Meiko: tidak, tidak apa apa.


Akiko: yasudah kau pergi ke tenda ambil perban.


Meiko: oke kak.


Teja: apa kau tak terlalu tegas ke adikmu?


Akiko: tidak kok, aku hanya melatihnya disiplin.


Meiko: ini kak perbannya.


Akiko: terimakasih banyak.


Meiko: oke kak.


Akiko: ah sudah selesai, abis ini kau istirahat dulu.

__ADS_1


Teja: oke terimakasih.


Teja: sampai jumpa besok pagi semuanya.


__ADS_2