Petualangan Sejarah

Petualangan Sejarah
Bertemu Dengan Sang Singa Eropa


__ADS_3

Disaat Meiko beres memberi perban kepada Teja, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. Di keesokan harinya Teja dan anak buahnya, di beri surat oleh seorang tukang pos di tenda nya.


Surat itu berisi perintah kepada peleton Teja untuk pulang ke Berlin, untuk di berikan penghargaan medali oleh para komandan batalyon.


Pada pukul 6 pagi, peleton Teja sudah bersiap-siap untuk pergi ke stasiun kereta terdekat. Meiko dan Akiko pun ikut dengan Teja, beberapa jam kemudian peleton Teja sampai di stasiun kereta. Pada saat mereka mau naik keretanya, ada sekelompok bintara Waffen-SS yang sedang mabuk.


Perwira tersebut pun berhasil menghindari pukulan prajurit tersebut, dan Perwira tersebut mengeluarkan pistol dan mengarahkan nya ke kepala prajurit tersebut, dengan cepat Teja pun mengarahkan Mp40 nya ke perwira tersebut.


Teja: sialan kau, mau apa kau disini.


Anggota SS: apa kau! mau ku hajar disini.


Teja: silahkan saja kalau kau mengajakku untuk bertarung.


Teja: amankan semua warga sipil, kita akan bertarung disini.


Anggota SS: ayo kita berduel kalo berani.


Teja: ayo saja kalau kau mau, kau berjanji tak akan melaporkan kejadian ini kepada polisi militer.


Dan terjadilah keributan di stasiun tersebut, sekelompok tentara Waffen-SS itu pun ikut mengarahkan senapan mereka ke Peleton Teja.


Lalu, seorang prajurit dari peleton Teja menembakkan senapan nya ke seorang bintara ss yang mabuk, tembakan dia tepat mengenai dada bintara tersebut. Dan terjadilah baku tembak yang menegangkan


Pada saat itu seluruh batalyon tentara yang ada di stasiun tersebut mencoba untuk membubarkan baku tembak tersebut. Dan seorang Jenderal Polizei pun mencari pelaku dari baku tembak tersebut.


Jendral: angkat tangannya semua (dengan mengacungkan pistol ke arah atap stasiun)


Jendral: siapa disini yang memulai keributan.


Perwira SS itu pun langsung berteriak bahwa pelaku nya adalah Teja, dan pada saat itu Teja merasa kesal kepada perwira mabuk tersebut, Teja pun adu mulut dengan perwira tersebut.

__ADS_1


Teja: hei kau pengecut, maksudmu apa menuduhku sebagai pemulai disini.


Anggota SS: kau yang pengecut, kau tak mau bertanggung jawab atas kekacauan yang kau lakukan.


Teja: maksudmu apa? kau mau ku bunuh disini!?


Beberapa menit kemudian, jenderal Polizei itu pun memerintah kan pasukannya untuk menangkap para prajurit Waffen-SS yang mabuk itu, dan 10 menit kemudian jenderal Polizei itu meminta maaf kepada peleton Teja, jenderal tersebut pun mempersilahkan peleton Teja untuk menaiki kereta yang sudah siap untuk berangkat.


Jendral: anda tamu besar di Berlin ya?


Teja: betul pak.


Jendral: mohon maaf atas keributan yang dibuat oleh anggota yang mabuk.


Teja: yasudah tidak apa, kalau begitu kami berangkat dulu, sampai jumpa.


Jendral: selamat jalan.


Disaat mereka sedang menuju ke Berlin, Teja duduk di sebelah Meiko dan Akiko duduk di sebelah Freitag, di dalam kereta tersebut ada seorang anak kecil yang menangis dengan suara yang amat keras


Teja pun melihat tidak ada siapapun di sebelah tempat duduk anak perempuan tersebut, Teja pun menanya kepada anak tersebut, "kenapa kamu menangis?" Dan anak tersebut menjawab bahwa orang tuanya hilang saat dia berada di stasiun kereta, Teja pun merasa kasihan dan menggendong anak perempuan tersebut kembali ke tempat duduknya. Meiko pun terkejut melihat Teja melihat dia membawa seorang anak perempuan yang masih sangat muda.


Teja pun duduk di tempat semula, Meiko pun bertanya kepada Teja siapa anak tersebut. Teja pun menceritakan bahwa anak tersebut kehilangan orang tuanya, Meiko pun merasa kasihan juga kepada anak tersebut. Dan di tengah perjalanan, Meiko pun tertidur dan Teja masih bangun untuk berjaga-jaga.


15 menit sebelum peleton Teja sampai di Berlin, Teja membangunkan Meiko yang tertidur.


Saat anak perempuan itu terbangun, Meiko bertanya kepada anak perempuan tersebut, "siapa nama mu? ", anak perempuan tersebut menjawab, namaku Maria kak. oh Maria ya? kamu jangan bersedih ya, nanti kita cari orang tuamu.


Sesampainya mereka di Berlin, Meiko masih tetap menggendong Maria layaknya seorang ibu.


Pada saat peleton Teja turun dari kereta, mereka merasa senang karena disambut oleh para perwira tinggi, Teja pun di ajak oleh seorang kolonel untuk bertemu dengan Para Jenderal di markas besar Wehrmacht.

__ADS_1


Peleton Teja pun pergi dengan truk tentara yang sudah disediakan, tetapi Teja sendiri diajak menaiki mobil bersama kolonel tersebut.


kolonel: ayo Teja, mari naik ke mobilku.


Teja: terimakasih banyak pak, kami akan menerimanya dengan senang.


Meiko, Akiko, dan Maria ikut bersama Teja menaiki mobil Staff milik kolonel tersebut, sesaat nya mereka sampai di markas besar Wehrmacht. Teja terpukau dengan banyaknya prajurit yang menyambut kedatangan peleton Teja.


Kolonel tersebut pun mengajak Teja kedalam gedung markas tersebut untuk bertemu dengan para Jenderal.


kolonel: ayo Teja, mari masuk.


Teja: terimakasih banyak atas sambutannya pak.


Salah satu Jenderal itu bilang kepada Teja bahwa mereka sedang menunggu 1 orang lagi untuk memulai acaranya.


Lalu Teja pun merasa penasaran dengan satu orang yang para Jenderal ini tunggu.


20 menit kemudian ada laporan dari seorang letnan yang melaporkan bahwa "dia" Sudah datang. Pada Jenderal pun berdiri tegap.


Dan Teja pun ikut berdiri tegak, dan pintu ruangan tersebut pun terbuka, dan terlihat dari pintu tersebut ada seorang laki-laki, yang menggunakan jas, berkumis kotak, dan rambut klimis, berbadan tegap.


Ia pun merasa familiar dengan orangnya, dan seketika semua orang yang ada diruangan memberi salam ala tentara Jerman dan berteriak "HEIL!", Teja pun baru sadar ia baru saja memberi salam kepada Adolf Hitler. ialah sang kanselir Jerman serta Führer yang amat di hormati.


Satu persatu Jenderal di ruangan tersebut pun bersalaman dengan Hitler, dan ketika saatnya Teja untuk bersalaman dengan Hitler, Dia merasa sedikit takut.


Namun, saat Hitler menjabat tangan Teja, Hitler tersenyum dan memeluk Teja.


Pada saat itu Hitler merasa bangga kepada Teja yang sudah berjuang mati-matian di Stalingrad.


Teja pun berterima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh sang Führer walau badannya bergetar dengan penuh keringat grogi.

__ADS_1


__ADS_2