
Remarried with Mr. President
Terlihat beberapa orang sibuk menata dekorasi, merapikan latar panggung dan para pelayan yang berpakaian lengkap, sibuk berlarian kesana kemari. Diatas meja panjang tertata Kue pernikahan, beberapa makanan, kursi yang tertata rapi serta, semua pernak pernik pesta telah selesai di pasang.
Ditempat lain. Didalam ruangan bernuansa pesta pula, berdiri seorang pria yang sedang menghadap cermin. Pria bertubuh tinggi dengan jas dan kemeja, serta warna yang senada putih. Ia menarik nafas panjang dan berbicara pada cermin yang ada di depannya dengan air muka yang tegang.
'Gua harus bisa, ini selangkah lagi di depan mata,' batin Prima dengan sorot mata tajam.
Tangan kanannya, menepuk dada seraya menenangkan diri. Beberapa kali ia meneguk air putih, di dalam kemasan botol yang ada diatas meja sampingnya. Hingga seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
Tok...Tok...Tok
Pintu terbuka, dan seseorang masuk ke ruangan itu. Dengan pakaian jas rapi berwarna hitam la pelayan di restoran elit. Ia membungkuk menyampaikan salam selamat paginnya dan mulai berbicara serius.
“Tuan, semua orang sudah menunggu anda,” ucap sang pelayan.
“Oh ... Iya,” sahut Prima.
Pria dengan pakaian pernikahan itu, merogoh saku celananya. Terlihat ponsel yang ia raih dari sana. Jari-jemarnya mulai mengetikan sesuatu di ponsel. Lalu, terdengar suara nada sambung dari ponsel itu.
Tuuuttt...Tuuutt...
Kesekian kalinya ia mencoba untuk menghubungi seseorang. Namun tak ada jawaban, yang ditunggu dari dalam ponselnya. Pria itu terus mencobanya hingga berpuluh-puluh kali. Tapi tetap saja, tak ada jawaban dari ponselnya sekali pun.
Ia beranjak dari ruangan itu, dan bergegas berjalan keluar dari ruangan itu. Lalu langkah kakinya mulai ia secepat. Dan tibalah disebuah taman yang begitu luas. Disana terdapat dekorasi pernikahan, altar dan juga terlihat para tamu undangan yang telah hadir dan duduk di kursi yang tertata rapi.
Dengan langkah cepat, Kaki panjang sang Pria mengarah pada kedua orang yang duduk di dekat altar. Ia membisikan sesuatu pada mereka. lalu kedua orang itu menatap padanya dan terlihat begitu terkejut. Sangat jelas tersirat dari raut wajah mereka.
Sang mempelai pria itu berkata bahwa, ia tak dapat menghubungi calon pengantin wanitanya. Padahal tadi malam, ia masih berkomunikasi dengannya. Namun pagi tadi, ia berkata untuk mencari kalung peninggalan kelurganya. Agar bisa dikenakan dihari pernikahannya ini.
“Aku tak tahu harus bagaimana? Aku sudah menghubunginya beberapa kali dan sopir pergi untuk menjemputnya,” gugup Prima.
“Kau harus bersabar, mungkin ia masih mempersiapkan penampilannya atau mungkin, ia sedang berada dijalan menuju kesini. Kita tunggu saja dulu,” ucap sang Ayah menenangkan.
Mereka pun duduk menunggu kedatangan sang mempelai wanita. Dengan wajah risau, Prima tetap tak bisa untuk diam menunggu dengan tenang. Ia berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat ponselnya itu.
Hingga satu jam berlalu, tetap tak ada tanda kedatangan sang mempelai wanita. Prima menghubungi sang sopir yang akan menjemput kekasihnya. Namun sang sopir berkata bahwa dirumah itu sudah tak ada siapa pun disana.
__ADS_1
Hingga, sang sopir bertanya pada para tetangga sekitar sana. Kemana perginya keluarga Arksen? Salah satu tetangganya berkata bahwa, memang sudah satu minggu yang lalu rumah itu telah di tinggalkan oleh pemiliknya. Dan tetangganya itu pun, tak mengetahui kemana perginya sang penghuni rumah. Karena begitu mendadak.
Keluraga Arksen dikenal begitu ramah, dan beliau selalu menolong pada orang-orang yang membutuhkannya. Namun disuatu malam tepat pukul dua belas malam, terdengar suara gaduh dari rumah itu seperti barang-barang yang berjatuhan.
Dan pagi harinya, sudah tak ada tuan Arksen atau pun kelurganya yang lain. Tak terlihat lagi seseorang keluar dari rumah tersebut. Mungkin sejak malam itulah mereka pergi dan membawa seluruh barang mereka.
Setelah panggilan itu di tutup. Raut wajah Prima pucat pasih. Ia terduduk dengan putus asa. Orang tuanya menanyakan apa yang terjadi, tetapi Prima hanya menggelengkan kepala. Lalu, ia mencoba menghubungi nomor Eugine sang kekasihnya kembali.
Tak terasa waktu pun berjalan cepat, langit cerah tergantikan dengan datangnya senja. Para tamu dan kerabat akhirnya, satu persatu pergi dari sana. Prima beserta kedua orang tuanya meminta maaf pada orang-orang yang telah hadir saat itu.
Setelah semua orang pergi, Prima berjalan meninggalkan tempat itu. Untuk menenangkan dirinya. Semua rasa bercampur dalam hatinya, terlebih rasa kecewanya yang begitu sangat menyakitkan. Dimana dihari pernikahannya ini, seharusnya menjadi hari yang bahagianya.
Ia terus berjalan menatap kosong kearah depan. Sampai langkah kakinya tiba di bibir pantai. Ia tersadar ketika, melihat sebuah pesta pernikahan juga disana. Karena dekorasi dan altar serta tempat duduk yang tertata masih rapi.
Lokasi gedung yang ia sewa untuk pernikahannya itu, sangat dekat dengan bibir pantai. Dari kejauhan ia melihat punggung seorang wanita, dengan gaun pernikahan putih dan buket bunga yang ia pegang ditangannya.
Namun, wanita itu terduduk di atas pasir tanpa alas. Terdengar suara tangisan dari orang itu. Sesenggukan dan amat begitu memilukan. Dari penampilannya, ia sudah melalui banyak hal yang membuatnya begitu menyedihkan.
Terlihat gaun putihnya kotor, tatanan rambutnya sudah acak-acakan dan riasnnya luntur karena air mata. Hingga, wanita itu berdiri dan melemparkan semua yang ada di depannya. Ia merusak tatanan dekorasi, altar dan semua yang ada disana.
Sang wanita itu pun terduduk kembali, lalu berjalan pergi dari tempat itu. Prima yang penasaran pun mengikutinya dari belakang. Wanita itu berjalan tanpa alas kaki, padahal sedari tadi ia sedang menenteng heels ditangan kanannya.
Karena hari semakin gelap, orang-orang tak akan mengetahui betapa hancurnya penampilan wanita itu. Wanita itu terduduk di bangku jalanan. Beberapa saat ia Kembali berjalan. Hingga sampailah ia ke sebuah bar.
Prima yang semenjak tadi mengikutinya, terus memperhatikan sang wanita itu. Ia meneguk minuman beralkohol, tegukan demi tegukan. Tiba-tiba, seorang pria mendekatinya. Pria itu memeluknya dan merangkul pinggang wanita tadi.
Namun, sang wanita menepis tangan pria yang mendekatinya. Melihat itu, Prima, bergegas menuju meja bar dimana sang wanita itu duduk. Prima mengatakan bahwa ia mempelai wanitanya karena jelas terlihat bahwa ia dan wanita itu memakai pakaian pernikahan.
Prima sekuat tenaga untuk membujuknya keluar dari sana. Namun, wanita itu sudah begitu mabuk bahkan untuk berjalan pun langkahnya gontai. Prima merangkulnya pinggang sang wanita, untuk membantunya berjalan.
Mereka pun keluar dari bar itu dan berjalan menuju gedung tadi. Karena menuju gedung itu melewati pantai tadi. Tiba-tiba saja sang wanita menatapnya tajam sambil sesekali mengucek matanya itu.
“Kau, ah ... Akhirnya kau datang untukku? Ayo ... Ayo kita laksanakan pernikahan ini ok?” ucap sang wanita yang masih setengah sadar karena pengaruh alkohol.
“A-aku? Aku bukan pria yang kau cari! Dimana kau menginap?” sahut Prima.
“Apa kau tak ingin menikahiku?” teriak wanita itu yang kemudian terduduk lalu menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
Semua orang yang ada disana, menatap tajam ke arah Prima. Dan tiba-tiba saja, salah seorang pria berteriak ke arahnya, dengan wajah kesal dan marah.
“Hei kau! Apa kau benar seorang pria?”
“Jika iya, mengapa kau tak ingin menikahinya? Kalian bahkan sudah memakai baju pernikahan!” ucap pria yang sedang berdiri disamping pengantin, dengan lantang padanya.
Prima hanya diam dan bingung dengan keadaanya. Karena jelas saja, ia benar-benar tak mengetahui siapa wanita itu, bahkan ia baru bertemu dengannya hari ini. Bagiamana bisa ia tiba-tiba menikahi seorang wanita, yang bahkan ia pun tak mengetahui tentang dirinya?
Tangis wanita itu semakin kencang. Prima kebingungan karena ia benar-benar tak tahu harus bagiaman? Sampai semua orang yang sedang melihat ke arahnya berteriak dan meminta ia untuk menikahi wanita itu sekarang.
'Astaga? Apa salah gua? Gua mesti gimana ini? Ck ... Sudahlah toh dia lagi mabuk dan gak akan sadar malam ini,' pikir Prima.
Prima pun dengan gugup merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sana. Ia membuka dan mengucapkan janji sehidup semati pernikahan, di depan semua orang yang ada disana. Lalu cincin itu ia masukan ke dalam jari manis, sang wanita didepannya.
Dan benar saja, tangisannya terhenti. Wajah wanita itu berubah bahagia. Ia berkata bahwa ia pun mengucapkan janji pernikahan, sehidup sematinya dengan kata-kata yang masih tak jelas karena ia mabuk .
Lalu, sang Wanita itu merangkul kan tandanya pada leher Prima, untuk menciumnya pertanda resminya mereka dalam ikatan pernikahan. Namun, Prima ragu untung menciumnya, akan tetapi semua orang melihat kearahnya. Dan menyerukan untuk mencium sang wanita.
Cium...Cium...Cium
Suara lantang dari orang-orang di sekitar, membuat sang wanita begitu agresif terhadapnya. Dengan ragu Prima akhirnya, mendaratkan bibirnya ke atas bibir sang wanita itu.
Cup...
***
-Didunia ini terkadang ada hal yang terpaksa kita lakukan, meskipun kita tau bahwa nanti akan berakibat buruk untuk diri kita- Prima Altezza.
To be continue...
Aku pindahkan ke Lapak Kuning N*O*V*E*L*M*E
Salam kecup merah 💋
dari author Red first kiss
__ADS_1