Pindah Lapak

Pindah Lapak
Sinopsis Remarried with Mr. President


__ADS_3

Bab 3


Tiga tahun kemudian.


Riuh suara kendaraan bising mulai memenuhi dunia. Bunyi klakson mobil dan motor saling bersahutan. Orang-orang berjalan di trotoar dan terlihat beberapa orang menaiki kendaraan umum. Mereka mulai sibuk dengan aktivitasnya di pagi hari dengan udara yang masih terasa dingin.


Kriiiiiinnnnngggggg...


Bunyi alarm jam, mulai memenuhi kamar berukuran besar sekitar 30x30 meter persegi, dengan dekorasi ruangan yang sederhana yang tercantum foto serta piagam penghargaan. Diatas ranjang tidur, terlihat seorang pria yang sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi semua tubuhnya.


Sontak, ia terbangun seketika. Ia terduduk diatas ranjang, karena suara alarm yang berbunyi nyaring. Ia begitu terkejut, matanya yang merah membelalak lebar. Segera ia menoleh kearah kanan dan melihat jam yang berada di atas nakas ranjang tidurnya.


“Astagaaaaa ... udah telat ini!!” teriak sang pria.


Pria itu pun menyingkapkan selimutnya yang berwarna putih senada dengan seprai ranjang itu. Kakinya bergegas melangkah menujh kamar mandi. Dan mencuci muka serta menyikat giginya. Selesai itu, ia kembali berjalan masuk kedalam kamar tidur tadi. Lalu, tangannya meraih sebuah pintu lemari yang berada tepat di sebelah ranjang tidur.


Setelah memilih pakaian, ia berusaha keras memakai pakaiannya dengan tangan gemetar. Sambil memakai celana panjang yang ia masukan hanya sebelah kanan kakinya, kemudian ia di kejutkan kembali dengan dering ponsel miliknya.


Prima pun berjalan menuju nakas samping tempat tidur, dimana ponsel itu di letakan. Dengan jalan tergesa-gesa, dan pakaian yang acak-acakan yang belum ia selesaikan. Ia segera berusaha meraih ponsel itu. Terlihat


“Hallo ... ya, gua nyampe bentar lagi!!” sahut pria itu pada seseorang yang menghubunginya itu.


Setelah panggilan itu ditutup, pria itu pun bergegas merapikan bajunya serta rambut yang ditata sedemikian rupa. Pria itu pun telah siap untuk berangkat. Kaki panjangnya berjalan menuju pintu dan keluar dari sebuah apartemen besar. langkahnya menghampuri sebuah lift untuk dapat turun ke ruang basement dimana mobilnya disimpan.


Lift pun terbuka, sampailah ia di sebuah basement. Dengan langkah tergesa, sang Pria itu mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Karena ia lupa dimana mobil hitamnya itu. Dia berjalan melewati banyaknya mobil yang terparkir disana. Ternyata mobilnya, terparkir tepat di sebelah jalan keluar. Ia kemudian menekan tombol kunci otomatis mobilnya. Dan kemudian masuk serta duduk di kursi pengemudi untuk bergegas pergi.


Namun, ia tak lantas menghidupkan mesin mobil. Karena pandangannya menunduk kearah lengan kiri dan terlihat jam menunjukan pukul 08.10, pastinya ia akan sangat terlambat untuk sampai tujuan. Akhirnya ia memutuskan untuk tak memakai mobilnya dan kemudian membuka pintu mobil hitam itu kembali.


“Kamprett ... Ini bakalan telat banget nih!” sambil membawa sebuah tas kertas yang bertuliskan logo sebuah baju.


Lantas ia berjalan keluar dari basemen. Karena basemen gedung itu, pintu keluarnya tepat mengarah langsung dengan jalan raya. Setelah sampai di pinggir jalan, Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel lalu menghubungi seorang ojek online. Setelah menunggu beberapa saat, tibalah sang ojek online di hadapannya.


“Bang, cepet yeh. Ane nih telat bangett...,” ucap pria itu.


Motor sang ojek online pun melaju di jalanan kecil dan gang-gang sempit, untuk lebih cepat sampai di tujuan. Tak perlu waktu lama, lima belas menit kemudian, mereka pun tiba di sebuah gedung Opera dengan Billboard tulisan yang bergerak.


Sang pria pun turun. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada sang sopir ojek online itu. Dengan langkah cepat, yang kemudian berlari masuk ke dalam gedung Opera tersebut, hingga ia menghampiri sebuah ruang di sudut gedung itu.


Ia berlari kencang sekuat tenaga, menembus keramaian orang dengan masih menenteng tas kertas di tangannya. Hingga berhentilah di depan pintu yang bertuliskan ruang ganti. Ketika memasuki ruang tersebut, terlihat seorang pria dengan tubuh tinggi dan berpakaian rapi bak pangeran kerajaan inggris yang berwajah kesal menyapanya.


“Hei bro Prim ... lama amat lu? Makanya semalem gue bilang jangan ada ronde ke 2, jadi kan lu telat sekarang?” ucap pria itu.

__ADS_1


“Halah ... Ini gara gara tuh si kadal yang ajakin ronde 2 lanjut karaoke,” jawab Prima.


Segeralah ia bersiap mengganti pakaian dan didandani oleh penata rias. Setelah selesai, lantas Prima berjalan ke belakang panggung dengan kostum seorang bajak laut.


Ia menunggu disana beberapa saat, dengan perasaan tak karuan dan terlihat wajahnya yanh khawatir. Hingga namanya pun di panggil, untungnya Prima adalah kontestan terakhir yang akan tampil. Berjalanlah ia menaiki tangga teater. Prima membungkuk memberi hormat pada sang dewan juri serta para menonton yang menyaksikan.


Perlahan namun pasti ia melangkahkan kakinya, tangan serta tubuhnya mulai menari dan suaranya yang begitu mengalun bersama iringan musik. Penampilannya membuat semua yang melihat terpana oleh aksinya.


Termasuk sang dewan juri yang sedang duduk menyaksikan dengan wajah serius. Dan diantaranya adalah seorang aktris terkenal Leah Krisnim. Ia adalah aktris berbakat yang membintangi banyak film layar lebar dan drama televisi yang ia perankan di umurnya yang masih belia.


Pertunjukan Prima pun selesai. Lalu setelah berdiskusi para dewan juri. Akhirnya pembawa acara mengumumkan pemenangnya. Dari seribu orang yang akan terjaring masuk, untuk dikontrak berperan dalam pertunjukan Opera.


Agar nanti di latih menjadi sebuah tim dan akan pentas di berbagai negara dan hanya beberapa orang saja yang terpilih.


Sang pembawa acara pun, memanggil nama-nama yang telah di berikan dewan juri. Hingga nama yang terakhir disebutkan, tak ada nama Prima altezza diantaranya.


Dibelakang panggung, seketika tubuh Prima lemas, pandangannya kosong. Ia hanya terdiam seribu bahasa.


Terlihat dari wajahnya ia begitu kecewa, sedih dan juga emosi. Prima duduk di belakang panggung dengan mendekapkan tangan di depan. Matanya sayu, sangat jelas ia menahan tekanan batinnya, seolah semua telat berakhir.


Mereka, para kontestan yang berada di belakang panggung yang tak terpilih pun, raut wajahnya terlihat persis sama dengan Prima. Raut wajah mereka begitu mewakili kepadanya saat ini. Emosi. Kesedihan. Kekecewaan. Hingga seseorang memanggil namanya dari kejauhan.


“Bro ... Prim ... Prima,” teriak seseorang dari arah pintu masuk panggung.


Sontak, Prima pun tersulut emosi. Karena usaha dan kerja kerasnya selama ini hanya sia-sia belaka. Prima berkata bahwa memang kontes ini sejak awal hanya formalitas saja.


Setelah para pemenang itu turun dari pentas Opera. Tiba-tiba, Prima menarik kerah pakaian salah satu pria yang turun dari atas pentas. Dengan wajah marah dan bengis, Prima berkata sambil berteriak teriak pada orang itu.


“Dasar lu, ****** ... Kampret lu yeh ... Lu ngasih apaan ke juri, sampe mati kutu mereka hah?” teriak Prima pada pria yang memakai selempang bertuliskan pemenang utama Aktor pemeran Opera De Mityh.


“Apa ... Maksud lu...,?” sahut pria yang di cengkam oleh Prima.


Suasana pun memanas, mereka di lerai oleh semua orang yang ada disana saat itu. “Udah ... Udah ... Prim! Klo lu gini, lu gak bisa ikut audisi lain lagi ... Sabar ... Sabar...,” ucap pria temannya yang bekerja sebagai kru disana.


Setelah pertengkaran itu, Prima kembali pulang ke rumahnya. Dan karena hari ini weekend ia libur untuk bekerja. Ia tiba di depan pintu dengan wajah kusutnya dan amarahnya masih meluap karena pertengkaran tadi. Seketika, Prima membuka pintu apartementnya, kemudian masuk dan merebahkan tubuh di atas ranjang tidur yang berukuran lumayan besar.


Terlihat jam di dinding pukul empat sore, dan tiba tiba dering telepon mengagetkannya. Ketika ia mencoba untuk menutup mata.


“Haish ... siapa sih? Ganggu aja!” sambil meraih ponsel dalam saku celananya.


Ia pun membuka ponsel dan tertulis di layar ponsel sebuah nama yaitu Dad. Prima berjalan ke arah jendela dan menjawab panggilan itu, dengan raut wajah yang masam.

__ADS_1


“Ya, kenapa?” jawab Prima malas.


“Dad ingin memintamu untuk hadir makan malam hari ini karena ada seseorang yang ingin dad kenal kan pada mu.”


“Ah ... aku malas dan aku sedang sibuk hari ini...,” tegas Prima dengan mengerutkan alisnya.


“Ya ... Baiklah ... Jika kau tak hadir mungkin adik mu tak bisa melanjutkan pengobatnnya.”


“Apa kau mengancam ku dad?” dengan nada emosi.


“Tidak ... Dad tak mengancam mu, hanya saja keadaan keuangan kita saat ini tak stabil.


Dan ini satu satu nya jalan agar adik mu bisa terus melakukan pengobatannya.


Prima pun menutup panggilan itu dan membuka batterai ponsel serta melemparkan nya ke atas ranjang tidur.


“Sialan ... Ergh ...,” sambil mengacak rambutnya.


Prima mengerang emosi, namun disisi lain ia harus menolong adiknya karena selama ini ayahnya tak pernah sekalipun serius meminta padanya untuk datang makna malam. Prima berpikir bahwa ayahnya memang berkata yang sebenarnya tentang keadaan keuangan keluarga nya.


***


Prima Altezza adalah laki laki sempurna di mata wanita, tubuhnya tinggi tegap, dengan kulit cokelat kecokelatan yang eksotis. Wajahnya tampan dan garis dagu yang tajam, serta hidung yang mancung membuat dirinya, bak model pria yang sering terlihat di sampul majalah atau pun media massa lainnya.


Ia memutuskan tinggal sendiri di sebuah apartement, karena sang ibu telah tiada dan ayahnya menikah kembali dengan wanita lain. Itu yang membuatnya terpukul, ia pun bertekad untuk menunjukkan pada ayahnya bahwa ia bisa hidup tanpa pertolongan orang tuanya dan sukses dikemudian hari.


Hingga ia pun mempunyai sebuah Coffee Shop. Dengan kerja keras dan seluruh usahanya, ia bisa menghidupi dirinya sendiri. Namun, sang adik menderita penyakit yang serius sampai ia harus rutin dan teratur berobat ke rumah sakit.


###


-Keberhasilan seseorang tidak di ukur dengan seberapa ia sukses atau seberapa ia menduduki banyak jabatan didunia ini. Tapi seberapa ia pedulinya, terhadap orang lain- Prima Altezza


To be continued ...


Ingin mengetahui kelanjutannya? Silahkan lergi ke lapak sebelah, Lapak Kuning ****


Terima kasih untuk oara Readres tercinta


Salam Kecup merah darinku


Author Red First Kiss

__ADS_1



__ADS_2