
Cup ...
Prima pun melayangkan kecupan, pada sang wanita tadi dan semua orang bertepuk tangan, seraya bersorak-sorai ikut bahagia atas pernikahan itu. Ia berpikir bahwa semua hal, telah baik-baik saja sekarang. Akan tetapi, ia lupa bahwa sang wanita telah mabuk serta ia tak mengetahui dimana sang wanita itu tinggal?
'Astaga! Gua bego ... Terus mesti gimana ini sekarang? Udah malem juga! Aish...,” batin Prima yang kemudian menepuk jidatnya sendiri.
Akhirnya, ia membawa sang wanita ke penginapannya. Dan untungnya, hari sudah malam. Semua orang telah tertidur termasuk ayah dan ibunya dikamar hotel. Sambil berjalan memapah sang wanita itu, Prima berusaha sekuat tenaga untuk tetap terjaga. Agar ia tak melakukan hal yang di luar kendalinya.
Karena dikejadian sebelumnya setelah kecupan itu, Sang wanita mengambil minuman beralkohol. Yang kemudian ia meminta Prima, untuk meminumnya juga. Karena hari ini adalah, pernikahan mereka yang harus dirayakan.
Prima memang tak bisa untuk meminum bir atau hal semacam itu, hanya satu teguk saja ia bisa tak sadarkan diri. Karena itu, ia sangat menghindari minuman yang membuatnya ketergantungan. Akan tetapi hari ini ia terpaksa meminumnya.
Semua orang memandang kearahnya tadi, sebab sang wanita merengek memintanya harus meminum itu. Dan mau tak mau, Prima harus meneguknya agar ia tak di keroyok masa. Karena telah menolak permintaan sang istri palsunya.
“Ish, mengapa kau cukup berat? Padahal pinggangmu dan badanmu saja kecil? Hei, ayo sadar lah!” ucap Prima membangunkan wanita itu.
Langkah kaki sang wanita terhuyung-huyung. Prima terpaksa untuk membatunya berjalan dengan benar. Dengan erat Prima memegangi pinggangnya. akhirnya tiba di depan lift yang kemudian masuk kesana. Hingga sampailah di kamar hotel miliknya.
Prima merogoh saku celananya, untuk mengambil kartu kunci kamar itu. Setelah membuka pintu kamar, ia sangat terkejut ketika melihat ranjang tidur yang dihias dengan banyak kelopak bunga yang di bentuk membentuk hati disana beserta lilin yang ditata rapi siap untuk dinyalakan.
Ia pun melemparkan sang wanita ke atas ranjang tidur. Sambil menggerutu betapa berat wanita itu, hingga bahunya pun terasa sakit. Prima mencoba memijit bahunya. Ia segera meninggalkan sang Wanita itu. Terlihat Sang wanita menggeliat diatas ranjang.
Prima pun membuka lemari pakaiannya dan mengganti baju pernikahannya. Karena ia rasa wanita itu sudah terlelap, dan tak mungkin untuk melihatnya bertelanjang. Prima berbalik dan memunggungi sang wanita yang sedang terbaring di atas ranjang.
Namun, sesuatu hal terjadi ketika ia mulai membuka pakaiannya. Sang wanita bergeliat kepanasan diatas ranjang. Ia mulai membuka seluruh pakaiannya termasuk pakaian dalamnya itu. Dan tak ada sehelai pun yang menutupi tubuh wanita itu. Merasa ada suara dari arah belakangnya. Prima pun berbalik.
Dengan memegang baju ganti ditangannya, Prima terbelalak melihat eloknya tubuh sang wanita itu. Mulutnya menganga melihat tubuh sint'al sang Wanita itu. Namun, ia mengedipkan kelopak mata dan menyadarkan dirinya. Prima menelan ludah. Lantas ia menutup matanya dengan tangan kiri dan berusaha meraih selimut untuk menutupi tubuh sang Wanita.
Tetapi tetap saja, wanita itu menendang selimutnya. Alhasil tubuh yang molek terlihat begitu jelas dihadapan Prima. Seketika itu, Prima tak kuasa lagi dan lantas pergi ke kamar mandi untuk menyadarkan dirinya sendiri. Ia membasuh mukanya agar tersadar. air mukanya terlihat begitu terkejut dan pipinya memerah. Namun, kadar alkohol yang tidak bisa ia tolak, telah membuatnya tak sadarkan diri.
Terdengar suara sang wanita dari arah ranjang kamar. Prima berjalan kembali menghampirinya, karena ia takut terjadi hal yang tak diinginkan seperti ia terjatuh dari atas ranjang tidur. Namun, sang wanita itu bergeliat kesana kemari, dan bersuara lirih.
Lantas, sang wanita tiba-tiba terbangu.
__ADS_1
Wanita itu menatap Prima yang bertelanjang dada karena memang ia tak sempat mengganti pakaian gara-gara wanita itu. Lama-kelamaan wanita itu terus mendekat kearah Prima yang berdiri dihadapannya.
Sontak dengan kesadaran yang tersisa Prima mundur perlahan. Tetapi suara sang wanita yang menggoda membuat Prima tak tahan dengan keadaanya sekarang.
“Tolong ... tolong, aku ingin ... Tolong aku tak sanggup lagi,” ucap suara wanita dengan suara nafas yang memburunya.
Sang wanita mendaratkan lumatannya, Prima hanya terdiam karena tak tahu harus berbuat apa. Namun, tubuhnya mulai menghianati logika dan pikirannya. Lambat laun, Prima mulai mencumbunya dengan nafsu egonya.
Semakin lama, kecupan itu semaksim dalam dan mulai turun kearah leher jenjang sang wanita. Suara yang keluar dari bibir sang wanita, membuatnya semakin menggila. Terdengar desahan yang membuat Prima semakin, terus dan terus melancarkan kecupannya semakin dalam.
Hingga, bibirnya sekarang berada diarea sensitif wanita itu. Lidahnya mulai menjilati puncank area gunung kembar, yang sudah menegang. Tangan kirinya tak hanya diam. Ia mulai mencari area yang paling sensitif lainnya yang berada dibawah sana.
“Ahhhh ... sshhh...,” desah sang wanita itu yang sesekali menggigit bibir bawahnya.
Selesai dengan itu, kini sang tombak mulai menegang dan siap untuk melancarkan aksinya. Segera Prima melepaskan celana panjangnya. Perlahan tapi pasti, sang tombak masuk kedalam goa tubuh dari wanita itu.
Prima menghentakkan perlahan, tombak miliknya ke dalam tubuh wanita itu. Dan kedua tangannya tak hanya diam, mereka meremaass kedua gunung kembar tadi. Yang sesekali Prima mendesis, menutup kedua matanya, karena menikmati permainan itu. Mereka pun melewati malam yang panas diatas ranjang hotel.
***
“Astaga! Semalam gua ngapain?”ucap Prima yang mengedarkan pandangan ke sekelilingnya itu.
Ia mulai mengingat kembali hal yang ia lakukan, karena keadaanya sekarang ia bertelanjaangg. Namun, ingatannya buyar karena rasa sakit kepala yang ia rasakan efek dari meminum alkohol semalam. Ia mulai menyingkapkan selimut dari badannya.
Dan terlihat ceceran darah diatas seprai putih itu. Ia mulai berpikir kembali, apakah ingatan semalam itu mimpi atau benar terjadi? Karena ia tak menemukan siapa pun disana. Namun, ingatannya tiba-tiba menampilkan pundak seorang wanita yang terdapat tanda lahir disana.
“Tunggu! Apa gua pernah lihat tanda lahir itu? Tapi dimana? Apa semalem gua cuman mimpi basah?”
Namun, Prima yakin ia merhubungan badan dengan seorang wanita karena darah yang tercecer diatas seprai dan sebuah anting mutiara yang ia temukan juga di atas bantal.
Prima pun berjalan menuju kamar mandi untuk dibersihkan dirinya dan agar pikiranya tersadar dari ingatannya semalam. Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terketuk oleh seseorang dari luar.
Tok...Tok...Tok
__ADS_1
Prima pun bergegas memakai handuk mandi dan keluar membuka pintu kamarnya. Ternyata itu adalah sang pelayan kamar hotel yang berkata bahwa sang ibu terjatuh ketika ia sedang olahraga di taman hotel.
“Maaf pak, saya menyampaikan pesan dari ayah anda, karena ponsel anda tidak aktif dan istrinya sekarang sedang di larikan ke rumah sakit,” ucap sang pelayan sambil mengangguk pamit.
Prima pun segera bergegas memakai pakaiannya. Lalu, ia berjalan menuruni lift sambil menghubungi sang ayah. Namun, tak ada jawaban dari sang ayah. Prima menanyaka pada pagawai hotel yang ada di lobby. Dan salah saru pegaeai mengatakan, bahwa seorang wanita yang lanjut usia itu, dibawa oleh ambulans ke rumah sakit terdekat di sebelah barat.
Langkah kakinya berlari menuju jalan raya dan menghentikan sebuah taksi disana. Dan taksi pun bergegas pergi menuju rumah sakit itu. Tak berapa lama. Ia telah sampai didepan rumah sakit besar.
Setelah Prima membayar ongkos jalan pada sopir taksi. Kemudian ia berlari masuk kedalam gedung rumah sakit itu. Dan bertanya kemeja informasi disana. Setelah tahu keberadaan ibunya, Prima pun berjalan melewati lorong untuk sampai ke ruang ICU.
Prima berlari menuju sang ayah, yang sedang duduk di kursi tunggu ruangan itu. Ia terlihat begitu khawatir dan gugup. Prima mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi dengan sang ibu.
“Ibu mu terjatuh ketika sedang berjoging. Dan ayah sedang membelikannya minum, ketika itu terjadi ibu sudah tak sadarkan diri dan orang-orang telah mengerumuninya,” lirih sang ayah sambil menahan tangisnya.
Prima pun menepuk punggung sang ayah dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Hingga, sang ibu siuman. Mereka pun merasa bersyukur atas itu. Namun, satu hari berlal kou setelah Prima lega karena kesehatan sang ibu.
Mereka pulang kembali dari hotel didaerah pantai itu, menuju ke ibu kota setelah tragedi Prima, yang batal akan Pernikahannya. Suatu ketika sang ibu mendadak terkena serangan jantung. Padahal tak pernah ada riwayat jantung padanya.
Namun Tuhan berkata lain, sang ibu pun meninggalkan dunia ini. Prima begitu sangat terpukul. Bahwa ia belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Padahal selama ini sang ibu hanya ingin melihat dirinya menikah dan memberikan seorang cucu untuknya.
###
-Hal yang buruk akan selalu terjadi pada hidup kita. Tergantung diri sendiri untuk menerimanya atau akan seberlarut dalam kesedihan- Prima Altezza
To be continue...
Jika ingin mengetahui kelanjutannya silahkan pindah lapak ke N*O*V*E*L*M*E
Masih gratis sampai bab 20han.
Salam kecup merah dariku
Author Red First Kiss 💋💋
__ADS_1