
Di sebuah ruangan V.I.P di stadion, seorang pria paruh baya menatap arena tempat dimana kadet berduel dengan matanya yang menyala.
“Aku tahu kalau mereka itu luar biasa, namun melihat mereka secara langsung benar-benar memberikan sensasi yang berbeda.”
Seorang eksekutif [Arcane Academy] berkata kepada pria paruh baya itu, pria itu tersenyum seakan bangga dan berkata,
“Ya kan? Mereka adalah kadet-kadet yang telah kuamati dan yang ku pilih dari jauh-jauh hari.”
Sekretaris pria itu terlihat muak dengan atasannya yang terus menerus membanggakan kadet yang ia pilih.
Ia lalu membuka mulutnya,
“Sekarang tersisa Zetto Longbow untuk menunjukkan kemampuannya dalam evaluasi ini.”
Pria yang bernama Thomas Leonhert itu mendengar perkataan sekretarisnya, kemudian ia membangkitkan punggungnya dari sandaran kursi dan mencondongkan tubuhnya kedepan.
“Zetto Longbow, putra dari Zephyr Longbow, seorang Awakener kelas-A yang juga pemilik dari salah satu perusahaan pertambangan batu magis terbesar di dunia.”
Gumam Thomas kepada dirinya sendiri, lalu akhirnya pengumuman untuk kadet yang akan berduel pada sesi keempat diumumkan melalui layar lebar.
Melihat isi dari pengumuman itu, Thomas tersenyum dan membuka mulutnya,
“Haha! ini akan menarik.”
Apa yang dilihat oleh Thomas ialah nama Zetto yang akan melawan kadet yang bernama Zheng Shen, seorang kadet yang harusnya masuk dalam kadet yang melalui jalur khusus di [World of Magic and Might].
Namun, akibat Max memasuki [Arcane Academy] kadet Zhen Shen akhirnya tidak terkualifikasi untuk masuk lewat jalur khusus.
Kemudian perhatian Thomas tertuju pada seorang kadet pria dengan rambut panjang ponytail yang hampir mencapai pinggangnya.
Dengan ekspresi dingin, kadet itu menatap Zetto yang hendak ke ruang tunggu dari kejauhan dan akhirnya pergi ke ruang tunggu dengan tombak panjang yang ada di punggungnya.
Selang beberapa waktu,
“Kadet Zetto Longbow vs Kadet Zheng Shen, harap yang bersangkutan untuk menuju arena no. 1.”
Dua kadet itu lalu dengan santai menuju arena tersebut dan menatap satu sama lain.
“Kadet Zetto Longbow, Apakah kamu siap?”
Mendengar hal itu Zetto menggenggam erat busur panahnya, tato yang ada di wajahnya menyala, lalu dengan segera mengambil sikap tempur dan berkata,
“Saya siap!”
Mendengar pernyataan Zetto, wasit itu menoleh ke arah Zheng Shen.
“Kadet Zheng Shen, Apakah kamu siap?”
Zheng Shen memutar tombaknya dari tangan kanan ke tangan kiri berulang-ulang kemudian akhirnya mengambil kuda-kuda yang kokoh.
“Kalau begitu, duel antara kadet Zetto dan kadet Zheng dimulai!”
-BOOM!
Sebuah anak panah yang terbuat dari magis tiba-tiba melesat dan meledak di tempat dimana Zheng Shen berada, akibatnya debu-debu berserakan dimana-mana.
Seperti yang diduga, Zheng Shen berhasil melindungi dirinya dengan aura yang ia kerahkan dari magis di sekitar.
__ADS_1
Melihat ini Thomas Leonhert, kepala akademi [Arcane Academy] meletakkan tangannya di dagunya kemudian berkata,
“Awakener yang berasal dari pengungsi dari asia timur memiliki atribut magis yang unik, mereka memanggil magis mereka dengan sebutan ‘chi’ atau yang lebih kita kenal sebagai ‘aura’.”
Chi atau lebih dikenal sebagai aura adalah sebuah jenis magis yang banyak terdapat pada Awakener yang berasal dari asia timur.
Jenis magis ini memiliki keuntungan seperti tipe magis ini harmonis dengan alam, membuat pemiliknya memiliki tubuh, pikiran, dan jiwa yang stabil, dan masih banyak lagi.
Tentu saja terdapat kerugian yang dialami pemilik jenis magis ini, seperti sangat bergantung kepada lingkungan sekitar sebagai sumber magis mereka, waktu dan latihan yang lebih signifikan dibanding tipe magis lainnya dan lain-lain.
Zheng Shen kemudian terlihat menghindari serangan-serangan dari anak panah yang Zetto tembakkan dan mengumpulkan magis di sekitar dan maju ke arah Zetto.
Melihat hal tersebut, Zetto menembakkan lebih banyak anak panah dan berusaha untuk menjaga jarak dari Zheng Shen.
Zheng Shen berhenti di tempat dan memutar-mutar melingkar menggunakan tombaknya untuk memusnahkan anak panah yang melesat ke arahnya.
Ditengah-tengah ia mengayunkan tombaknya, Zetto telah berpindah tempat ke belakang Zheng Shen dan kembali menembakkan anak panah ke arahnya.
Disaat itulah Zheng Shen berbalik dan meluncur menuju Zetto dengan kecepatan yang menakutkan, secara instan ia berada di depan Zetto dan mengayunkan tombaknya.
Merasa bahwa tidak ada waktu untuk menghindar, Zetto mengambil dua pisau berukuran 30cm yang ada di masing-masing pinggangnya dan menangkis tombak yang menuju ke arahnya.
Namun sebagai gantinya, Zetto terpaksa mundur beberapa langkah dengan posturnya yang terguncang.
Zheng Shen dengan cepat memutar tombaknya dengan kecepatan tinggi untuk mengguncang pertahanan lawannya, tapi Zetto dengan tangkas menghindari dan menangkis serangan-serangan itu.
Hingga akhirnya Zetto mundur dan berhasil menjaga jarak dari Zheng Shen, melihat itu, Zheng Shen mengumpulkan aura di tombaknya.
Aura pada tombaknya yang berwarna merah memberikan kesan ganas dan berbahaya.
Zetto terkejut dengan serangan jarak jauh yang diluncurkan oleh Zheng Shen, dan dengan terburu-buru ia membuat perisai magis di depannya.
-Krakkk!!
Namun, akibat dari pembuatan perisainya yang terburu-buru, perisai itu dengan cepat hancur dan serangan Zheng Shen mengenai Zetto dengan telak.
Akan tetapi layaknya orang profesional, Zetto dengan cepat bangkit meskipun terluka, memperbaiki postur, dan Zetto menembakkan panah-panah sihir yang menyilaukan yang menghujam ke arahnya dengan cepat.
Zheng Shen mengerahkan auranya lagi dan memusnahkan panah-panah tersebut dengan mudah.
Namun itulah yang Zetto incar, debu-debu yang terangkat dapat menghalangi pandangan Zheng Shen walaupun untuk sepersekian detik.
Zetto lalu melakukan tindakan yang paling tidak diduga dari seorang marksman, yaitu maju kedepan mendekati lawannya.
Meskipun merupakan seorang marksman, ia sangat mahir bertarung menggunakan dua pisau.
Ia tampak memadatkan magisnya pada kedua pisau tersebut, dan dengan lihai melempar salah satu pisaunya ke arah Zheng Shen.
Zheng Shen yang walaupun terkejut, ia dengan tangkas menangkis pisau yang datang tersebut, Zetto yang memanfaatkan momen tersebut segera mengayunkan pisaunya.
Dikarenakan jarak mereka berdua yang sangat dekat, Zheng Shen tidak bisa menggunakan tombaknya dengan efektif.
Sehingga ia hanya dapat menghindari serangannya dan berusaha menjaga jarak dari Zetto.
Max yang melihat hal tersebut tersenyum dan menyindir dalam benaknya,
‘Ironis, Zetto yang seharusnya menjaga jarak malah mendekat ke Zheng Shen. Sebaliknya Zheng Shen yang harusnya mendekat malah berusaha menjauh.’
__ADS_1
Zetto terlihat menusuk ke arah Zheng Shen, namun tangan Zetto dengan mudah ditangkap olehnya.
Melihat ia tidak dapat menggerakkan tangannya yang ditangkap, dan juga Zheng Shen berusaha menendang ke arahnya.
Zetto memutuskan untuk melepaskan pisaunya dari tangan kanannya kemudian mengambil pisaunya kembali menggunakan tangan kirinya, ia lalu berputar dan menyayat paha Zheng Shen.
“Ugh.”
Darah segar terlihat bercucuran di lantai, Zheng Shen mundur dan mengayunkan tombaknya dan Zetto dengan lihai menghindarinya lalu menendang Zheng Shen.
Ia terpaksa terhempas beberapa meter akibat tendangan yang diberikan, Zheng Shen dengan cepat memperbaiki posturnya.
Namun, apa yang ia lihat adalah panah-panah menghujani dirinya.
-BOOM! BOOM! BOOM
Namun, Zheng Shen berhasil bertahan meskipun dipenuhi oleh luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya.
Sikap tempurnya yang gagah dan matanya yang tajam yang seakan-akan sedang mengamati mangsa yang ada depannya.
Kemudian ia mengumpulkan magis di sekitar sehingga membentuk aura yang menyelimuti tubuhnya, Zheng Shen tanpa basa-basi maju ke arah Zetto.
“Haaa!”
Suara ayunan tombak, bunyi anak panah yang dilepaskan, suara menggerutu, mengerang dan lain lainnya bergema di arena itu.
Sampai pada akhirnya,
-BOOM!
Sebuah anak panah mengenai Zheng Shen dengan telak hingga membuatnya terjatuh dan tidak bergerak.
Melihat hal itu, wasit naik ke arena dan mengecek keadaan Zheng Shen.
Setelah selesai, ia kemudian mendekati Zetto yang terengah-engah dan mengumumkan,
“Dengan strategi yang brilian dan ketangguhannya yang tak tergoyahkan, gelar pemenang dalam duel ini diraih oleh kadet Zetto Longbow! Berikan tepuk tangan yang meriah.”
Para penonton kemudian berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah dengan penampilan mereka dalam duel ini.
Namun, tak lama setelah wasit mengumumkan hal itu, Zetto langsung tersungkur ke lantai kehilangan kesadarannya.
***
“Max!”
Ketika hendak keluar stadion, terdengar suara pria memanggil Max Goldwel. Max kemudian menoleh ke arah datangnya suara tersebut.
Wajah yang lembut namun maskulin beserta lengan kirinya yang diperban terlihat mendekati Max.
“Ada apa?”
“Aku mempunyai permintaan.”
Lalu tanpa basa-basi Tristan menjelaskan permintaannya.
Dan Max, Max tersenyum lebar dalam benaknya ketika mendengar isi dari permintaan tersebut.
__ADS_1