
“Jadi ini kendaraan yang akan kita pakai dalam misi ini?”
Tanyaku sambil mengusap-usap daguku dan menilai kendaraan yang ada di depan kami.
“Yoi, bagaimana? Keren kan?”
Tristan menjawab dengan senyum bangga ke arahku.
Yang ada di depan kami ialah sebuah kendaraan jenis van hitam yang mana body-nya telah dimodifikasi dengan logam khusus hingga sangat kuat dan kokoh.
“Hebat juga kau bisa dipinjamkan oleh mereka.”
Van ini adalah sebuah van yang mana bagian bagasinya dipenuhi instrumen-instrumen khusus yang membantu para perburuan yang akan dilakukan oleh para Awakener.
Instrumen-instrumen seperti Radar magis yang memindai dan menganalisis frekuensi magis, mendeteksi tanda magis, dan gangguan energi magis.
Dan masih banyak lagi instrumen-instrumen yang berguna lainnya.
Akibatnya banyak berbagai jenis antena yang terpasang di atas atap van ini, membuat kendaraan ini mencolok.
“Terimakasih untuk Zetto memperkenalkanku ke salah satu kenalan miliknya, dan juga dengan statusku sebagai kadet khusus di [Arcane Academy], jadi aku dapat meminjam van ini dari mereka.”
Sepertinya kenalan Zetto ini ingin berinvestasi dengan melakukan hubungan yang baik dengan kadet jalur khusus karena mereka dapat dipastikan akan menjadi orang ‘besar’ di kemudian hari.
“Jadi, siapa partner kita yang akan mengoperasikan instrumen-instrumen itu dalam perburuan ini?”
Tanyaku kepada Tristan penasaran dengan orang yang akan menemani kami dalam perburuan yang akan kami lakukan.
Omong-omong aku sendiri dapat mengoperasikan instrumen-instrumen dalam van tersebut akibat apa yang aku lakukan sebelum menjadi kadet akademi.
Tristan lalu terlihat membuka pintu bagasi kendaraan tersebut yang mana di dalamnya memperlihatkan seorang pemuda yang terlihat tengah sibuk dan gembira menginspeksi instrumen yang ada di dalam bagasi ini.
"Jadi bagaimana? Bagus-bagus saja peralatan-peralatannya?"
Dikarenakan sibuk dengan dirinya sendiri, ia tidak sadar bahwa kami masuk ke dalan van sehingga pemuda itu kemudian tampak kaget dengan suara Tristan.
Wajah beserta gestur tubuhnya nampak sangat senang lalu dengan cepat menjawab pertanyaan Tristan,
"Semuanya benar-benar canggih dan lengkap! Aku tidak menyangka bahwa aku akan melihat instrumen indah ini dalam hidupku atau bahkan sampai dapat mengoperasikannya dengan tanganku sendiri!"
ujarnya sangat energik dan bersemangat, melihat ini Tristan hanya bisa tersenyum masam.
Lalu pemuda itu akhirnya sadar akan keberadaanku di belakang Tristan.
"Dia…"
"Oh iya, Max perkenalkan ini Ian. Dan Ian perkenalkan dia adalah Max Goldwel.”
Mendengar ucapan Tristan, aku dengan santai mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan pria yang bernama Ian ini.
“Uhm, ee… Perkenalkan namaku Ian, uh… seperti kamu, aku juga adalah siswa [Arcane Academy] dari departemen [Arcane Intel Network].”
Ia dengan canggung memperkenalkan dirinya sendiri kepadaku dan menerima permintaan jabat tangan dariku.
[Arcane Intel Network] adalah sebuah departemen yang melatih siswa-siswa dengan pengajaran yang komprehensif tentang berbagai metode untuk membantu Awakener dalam tugas mereka dengan memberikan informasi-informasi yang dibutuhkan saat Awakener beroperasi.
Departemen ini dapat dimasuki oleh Awakener maupun non-Awakener, dan dengan melihat aliran magis pada pria yang ada di depanku ini, ia dapat dipastikan seorang non-Awakener.
“Perkenalkan namaku Max Goldwel dan aku adalah kadet di [Arcane academy], senang berkenalan denganmu.”
Balasku dengan senyum kecil dan membalas perkenalan Ian yang kaku itu. Namun sepertinya karena telah melihat perkenalanku yang santai, matanya seakan-akan bersinar lalu membuka mulutnya.
“Max Goldwel ya? Uhm… Aku telah mendengar banyak rumor yang keren darimu. Seperti rumor bahwa kamu menaklukkan kontraktor iblis bersama dengan senior Ragnar, Tristan, dan juga kadet khusus lainnya.”
“Oh, benarkah? Sepertinya aku cukup terkenal di [Arcane Academy].”
Jawabku tertawa kecil, Ian kemudian melanjutkan,
“Tak hanya di Akademi saja! Bukankah kamu orang yang mengalahkan kawanan Nightprowler dengan hanya menggunakan senjata api, banyak yang melihatnya lho di internet!”
Mendengar hal itu, aku sedikit terkejut untuk beberapa saat.
-Clap
__ADS_1
Lalu sebuah suara tepukan tangan terdengar dari luar van, asal dari suara itu adalah Tristan.
Kemudian ia berkata,
“Baiklah, sepertinya sudah cukup perkenalannya. Dan juga kebetulan sopir kita telah datang, jadi langsung saja kita bergerak sesuai rencana.”
Terlihat seorang pria paruh baya memperkenalkan dirinya pada kami dengan singkat kemudian masuk ke tempat duduk untuk sopir pada van.
“Sesuai rute yang tadi saya bilang ya pak.” ucap Tristan ke pak sopir itu.
“Siap gan.”
-Vroom
Tak lama kemudian, mesin van ini terdengar menyala dan Tristan bergabung ke bagasi van bersama aku dan Ian.
“Ayo bersiap-siaplah, cek semua perlengkapan.” ujar Tristan kepadaku dan Ian.
Akupun membuka tas yang berisi perlengkapan-perlengkapan berburuku. Tristan yang berada di sampingku juga melakukan hal yang sama.
Sedangkan Ian terlihat mengotak-atik dan mengaktifkan instrumen yang ada pada van ini.
Rompi anti-magis, sarung tangan dan sepatu militer, serta berbagai aksesoris yang berguna dalam perburuan ini terpajang di seluruh tubuhku.
Dan juga jangan lupa dengan revolver Colt Anaconda yang berada di pinggangku.
Tidak seperti perlengkapan Awakener yang dulu, yang mana terlihat seperti prajurit abad pertengahan. Sekarang aku dan Tristan terlihat seperti tentara modern akibat desain perlengkapan kami.
Kemudian Tristan memanggil kami untuk memberikan arahan ringkas tentang perburuan yang akan kami lakukan.
“Seperti yang sudah kalian tahu, bahwa kita akan berburu monster tipe laba-laba yaitu Arachnor di sebuah bangunan terbengkalai di kota Eldoria yang mana populasi Arachnor disana naik drastis.” jelas Tristan.
Pertama-tama perburuan ini adalah sebuah misi yang diberikan oleh [Arcane Academy], dan normalnya kadet tahun pertama tidak dapat mengambil misi ini sebelum semester pertama selesai.
Namun ini adalah salah satu manfaat menjadi kadet jalur khusus, jadi Tristan dapat mengambil misi yang diberikan oleh akademi.
Hadiah dari penyelesaian misi ini adalah kredit juga tak jarang sebuah item magis yang berharga, tetapi pada misi ini hadiahnya hanyalah berupa kredit.
Tristan mengatakan bahwa ia mengambil misi ini untuk menambah pengalaman dan kredit hanyalah sebuah bonus padanya.
Aku menebak bahwa ia mengincar sesuatu yang lebih, seperti item magis atau bahkan sebuah event akan terjadi pada lokasi tersebut.
Perhatianku lalu kembali tertuju pada Tristan yang masih menjelaskan.
“Max, seperti yang kita rencanakan, kamu akan menggunakan sihir api mu untuk membakar jaring-jaring dan sarang Arachnor itu.” ujar Tristan kepadaku
“Siap boss.”
Dan dengan begitu arahan dari Tristan selesai dari sini.
-Satu menit.
Suara Sopir terdengar yang menandakan setelah satu menit kami akan sampai pada tempat tujuan.
Kami lalu dengan sigap mengecek ulang segala perlengkapan dan persenjataan kami masing-masing.
lalu aku memegang sebuah tongkat yang panjangnya sekitar 40 cm dan dengan menekan sebuah tombol, tongkat itu lalu memanjang dan berubah menjadi tombak dengan panjang lebih dari dua meter.
Aku memilih senjata ini karena aku tidak ingin berurusan dengan cairan menjijikkan yang akan dikeluarkan oleh Laba-laba raksasa itu saat aku menyerang mereka dengan tangan kosong.
Dan Tristan juga terlihat memiliki pikiran yang sama denganku dengan melihat ia menggunakan pedang katana yang lebih panjang dari yang biasa ia pakai.
-Tok Tok
Ketukan terdengar dari kursi sopir yang menandakan kami telah sampai ke tujuan.
“Jadi bagaimana situasinya Ian?”
Aku lalu merangkul Ian yang sedang duduk di kursi dan pandanganku fokus pada sebuah monitor yang menunjukkan sesuatu seperti radar.
“Seperti yang diduga, area ini merupakan sarang mereka.”
Dalam layar monitor menunjukkan titik-titik berwarna merah berkumpul dalam beberapa tempat.
__ADS_1
“Max, ayo.” ajak Tristan kepadaku
“Ok ok, mohon bantuannya Ian.” ucapku sambil menepuk pundak Ian dan dengan cepat mengikuti Tristan keluar dari van.
Sebuah bangunan terbengkalai dengan bentuk T terbalik terlihat menjulang tinggi dan megah dan juga ditambah keadaan cuaca yang mendung membuat bangunan ini seperti tempat para kriminal beroperasi.
Jaring-jaring tebal dari Arachnor juga tampak dari luar bangunan.
Dinding-dinding bangunan ini dipenuhi dengan grafiti-grafiti dan terlihat kaleng-kaleng dari cat semprot berserakan dimana-mana.
Dan lucunya, orang-orang yang membuat grafiti itulah yang menjadi korban pertama dari Arachnor yang menghuni bangunan ini.
Akibatnya sebuah klien meminta [Arcane Academy] untuk membersihkan bangunan ini.
Aku dan Tristan lalu melihat satu sama lain sampai akhirnya aku mengangguk kecil dan akhirnya kami tanpa ragu menuju bangunan tersebut.
-Tes tes
Suara Ian terdengar dari earbuds-ku
“Ada apa?” tanyaku kepada Ian.
-Menurut instrumen-instrumen ini, tampaknya Arachnor terfokus pada lantai lima hingga lantai delapan.
Disaat aku akan membalas Ian, seekor Arachnor muda terlihat turun dari lantai dua ke lantai yang kami tempati.
Aku tanpa ragu melempar tombakku ke arah monster itu yang mana menancap pada kepalanya.
Alhasil ia pun tanpa daya terjatuh ke lantai.
“Baiklah, terimakasih atas infonya.”
Dengan begitu aku mengambil tombakku yang menancap pada mayat monster itu.
lalu sebuah cairan hijau lengket terlihat ketika aku menariknya, sepertinya menggunakan tombak benar-benar pilihan yang tepat pikirku.
Singkat cerita kami sekarang ada pada tangga antara lantai empat dan lima, terimakasih dengan informasi yang diberikan oleh Ian, kami dapat dengan mudah mengatasi monster-monster itu.
Sekarang tampilan lantainya berbeda, banyaknya jaring-jaring Arachnor membuat kami susah bernavigasi di lantai ini.
-Kriek!
tanpa disangka, seekor Arachnor melihat kami.
Namun, dengan tangan kilatku aku mengambil revolver dan menembak Arachnor tersebut.
-DOR! DOR! DOR!
Dalam sekejap monster itu menjadi mayat, Tristan memberikanku ekspresi yang bertanya-tanya.
-Krieek!!
-Kiekk!!
Sepertinya para Arachnor lainnya menyadari akan keberadaan kami.
“Sepertinya sudah saatnya.” gumamku dengan tenang
Mendengar hal itu, Tristan mundur satu langkah dan mengangguk kepadaku.
Aku kemudian meletakkan kedua tanganku di depan dadaku dan menyuntikkan magis dengan jumlah yang gila dan api berangsur-angsur menari di kedua telapak tanganku itu.
Meluruskan dan melebarkan kedua lenganku ke kedua sisi, aku lalu dengan keras menepuk kedua tanganku yang berkobar.
-Plakk
Akibatnya si jago merah yang megah dengan santap melahap jaring-jaring Arachnor.
Tak perlu waktu lama hingga api menyebar di segala sisi, suhu pada bangunan naik dengan drastis, teriakan para Arachnor juga bergema di bangunan ini.
-Krieekkk!
-Kiyaakk!
__ADS_1
Melihat pemandangan yang ada di depanku, aku lalu tersenyum puas dan memutar-mutar tombakku dan menggenggamnya dengan erat.
Sekarang perburuan sesungguhnya telah dimulai.