Possessor'S Memory

Possessor'S Memory
Ch. 23 - Misi (2)


__ADS_3

-KRIEEK!!


Teriak seekor Arachnor yang dengan cepat merayap di dinding ke arahku, melihat hal itu aku dengan sigap mengangkat tombak milikku yang diselimuti oleh kobaran api dan secara tangkas menusuk kepala monster ini.


Bersamaan dengan hal itu, tubuh Arachnor ini terjatuh dari dinding dan tidak bergerak sama sekali. Melihat mayat monster yang ada di depanku, aku menghela napas sambil tersenyum kecil.


“Fyuh, ini yang ketiga belas.”


-Sring!


-KIEEK!


Lalu suara tajam terdengar, yang membuat perhatianku tertuju ke arah datangnya suara itu. Tristan terlihat membelah dua seekor Arachnor dengan potongan yang cepat dan bersih.


Terlihat api masih menjilati dinding dan mengobrak-abrik isi dari bangunan ini.


Terlihat banyak mayat-mayat Arachnor yang tergeletak sepanjang mata memandang mati akibat serangan kami,terbakar hidup-hidup atau bahkan kombinasi antara keduanya.


Tatapan Tristan lalu bertemu denganku, kemudian ia membuka mulutnya,


“ini yang kesembilan.” ujarnya padaku.


“Jika begitu totalnya adalah dua puluh dua.”


Yang mana berarti jika kawanan monster sebanyak ini, maka terdapat seekor monster yang memimpin semuanya.


“Melihat besarnya kawanan monster ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ratu dari kawanan ini ancamannya berada diatas kelas-D.” ucapku, sedang berasumsi.


Arachnor adalah monster dengan ancaman rata-rata berada pada kelas-E, memiliki karakteristik layaknya laba-laba juga panjang tubuh yang mencapai satu meter, dan bisa yang mematikan pada taring mereka.


Ditambah juga dengan jaring mereka yang dapat disemprotkan dari mulut sekokoh sebuah baja.


Ratu kawanan Arachnor biasanya memiliki ancaman kelas-D.


Sebuah kawanan Arachnor sangat jarang menyentuh angka puluhan, jadi aman untuk berasumsi bahwa ratu pada kawanan ini melebihi ancaman kelas-D.


Percikan-percikan api jingga yang sebelumnya melahap segala sesuatu yang ada pada bangunan ini mau tak mau mengecil akibat tidak ada yang dapat ia bakar lagi pada bangunan kosong ini.


“Sepertinya lantai lima ini telah bersi-”


Bersamaan dengan ucapan Tristan yang belum selesai, bangunan ini tiba-tiba bergemuruh dan bergetar hebat yang diiringi oleh teriakan kawanan Arachnor.


-Tristan! Max! Entah mengapa ratu dari kawanan ini malah terlihat bergerak ke arah kalian!


Terdengar suara Ian yang terkejut dan juga panik di telinga kami, ia lalu melanjutkan,


-Dan dari jumlah magisnya sendiri, ancaman ratu ini mencapai kelas-C! Dan ditambah ia membawa banyak Arachnor bersamanya! Pokoknya kalian harus keluar dari sana sekarang juga!!


Lalu kaca jendela yang berada di belakang kami terdengar pecah, dan dengan insting bersama dengan reflek cepat, aku meraih Colt Anaconda dan menembakkan dua peluru ke arah jendela itu.


Dan yang benar saja, seekor Arachnor yang tampak berasal dari lantai atas terlihat menerima peluruku yang melesat dengan cepat.


Akibatnya tubuh monster itu terjatuh dari bangunan sebelum masuk ke ruangan kami.


“Tristan! Urus monster yang akan masuk lewat jendela-jendela, aku akan mengurus yang akan datang dari tangga!”


Tanpa basa-basi aku meninggalkan Tristan dan dengan cepat berlari menuju tangga dan aku lalu mengeluarkan beberapa lembar kertas yang berisi lingkaran sihir dan memasangnya pada tangga.


Suara gemuruh dan getaran terasa semakin dekat, aku memfokuskan diriku dengan apa yang akan datang.


-KIEEK!


-KRIEEK!


Tak lama kemudian, Arachnor itu berdatangan dan dengan sigap aku mengaktifkan kertas sihir tersebut.


-Swooosh

__ADS_1


Api lagi-lagi melahap bangunan ini dari dalam, dan suhu ruangan ini yang tadinya telah mendingin kembali menjadi sangat panas.


Beberapa Arachnor terlihat terbakar hidup-hidup, namun tak sedikit pula yang selamat dari api itu dan dengan cepat merayap ke arahku.


Aku kemudian memasang sikap tempur, mengalirkan magisku di sekujur tubuh dan mengaktifkan skill favoritku, yaitu [Overclock].


[SPD: 7,52 >>> 8,65]


[AGI: 8,04 >>> 9,24]


Merasakan tubuhku menjadi lebih cepat dan tangkas aku maju dan menusuk tombakku ke arah monster-monster ini.


Lalu seekor Arachnor melompat ke arahku, melihat tidak ada ruang untuk menghindar, aku mundur selangkah, kemudian menikam menggunakan tombakku pada Arachnor di depanku dan menancapkannya pada dinding di sebelah kananku.


Tak berhenti sampai disitu, terdapat dua Arachnor yang juga melompat ke arahku. Dengan tangkas aku melakukan turning kick yang mengenai dua-duanya yang berakibat dengan mereka terlempar ke arah api yang berkobar.


-Rumble


Kemudian bangunan ini kembali bergetar dengan hebat, dan disaat itu pula suara Ian dapat terdengar.


-Ratunya! Ia tepat di atas kalian!


Mendengar hal itu aku dan Tristan secara reflek mengangkat pandangan kami ke atas.


-Krakk


Melihat hal itu, akupun melempar seluruh kertas sihirku yang tersisa pada lantai.


Terlihat langit-langit pada lantai yang kami tempati berangsur-angsur retak dengan cepat dan pada akhirnya,


-BRUAAAK!


Langit-langit tersebut tidak dapat menahan stress yang diberikan kepadanya sehingga menjadi hancur berkeping-keping.


Debu-debu bertebaran kesana dan kesini, puing-puing terlempar ke segala penjuru ruangan.


Dengan begitu aku tanpa ragu mengaktifkan kertas magisku tadi.


“Ku panggang kau b*ngsat!” seruku sambil tersenyum lebar.


Bersamaan dengan seruanku, api yang tak kalah besarnya melahap ratu Arachnor yang berada ditengah.


-KIEEEKK!!!


Suara yang memekakkan telinga lalu terdengar dan sebuah kaki ratu itu melesat dengan cepat ke arahku.


Aku dengan tangkas menangkis serangan itu, namun terpaksa mundur beberapa langkah akibat gaya yang besar pada kaki itu.


“Cih”


Sepertinya api itu tidak memberikan kerusakan yang signifikan pada ratu Arachnor ini.


Kemudian ratu itu membuka taring dan mengeluarkan jaringnya padaku.


Pada saat itu juga Tristan layaknya kilat berdiri di depanku dengan pedangnya yang diselimuti oleh air yang berputar pada kecepatan yang tinggi.


Ia lalu memotong jaring-jaring yang lebih kokoh dari baja itu seperti memotong tahu.


Melihat hal ini ratu itu menghantam kedua kaki depannya ke tempatku dan Tristan, yang mana kami menghindar dengan gerakan tangkas kemudian mundur untuk memberi jarak di antara kami dan ratu Arachnor itu.


“Seharusnya kita ajak juga Zetto.” ucapku setengah bercanda


“Kau pikir aku nggak pernah coba ngajak dia?”


-Max! Tristan! Sebuah kelompok Arachnor muda terlihat merayap ke lantai kalian!


Disaat kami berpikir bahwa situasi ini sudah cukup merepotkan, tiba-tiba kelompok Arachnor muncul dan merayap dengan gesit melalui lubang-lubang yang dibuat oleh ratu mereka.

__ADS_1


Raut wajah kami langsung berubah. Tetapi, tanpa waktu untuk berpikir panjang, insting pertempuran kami segera terpicu, dan kami bersiap untuk menghadapi Arachnor yang baru saja datang.


"Ah sialan," ucap Tristan dengan nada kesal, kami melihat kelompok Arachnor yang semakin mendekat dengan gerakan lincah mereka.


Aku dan Tristan kemudian otomatis membuat pola pertahanan, serangan, tangkisan, penggunaan magis, dan elakan terus terusan terjadi.


Waktu ketika kami bertemu dengan ratu Arachnor baru saja lebih dari sepuluh menit, namun bagi kami terasa seperti selamanya.


Terima kasih dengan informasi-informasi yang diberikan oleh Ian, kami dapat bertarung dengan lebih efektif dan efisien.


-Bruakk!


Aku berhasil menangkap kaki dari ratu Arachnor, karena itu aku berteriak kepada Tristan,


“Tristan! Kakinya!”


Mendengar seruanku, Tristan dengan cepat menebas pedangnya ke arah kaki ratu itu.


“[Tidal Cut]!!”


Kakinya yang telah terluka tanpa daya terpotong dengan bersih oleh pedang Tristan.


Akibatnya keseimbangannya goyah untuk sesaat, aku lalu melompat ke atas ratu itu dan menancapkan tombakku pada kepalanya.


Namun, sepertinya layak memegang gelar ratu dari kawanan yang besar ini, ia tidak terlihat berhenti meski telah menerima seranganku.


Tristan layaknya air yang mengalir, menghindari semua serangan ratu dan berhasil menyayat tubuhnya.


-KIEEEEK!!!


Serangan ratu itu menjadi semakin ganas dan nekat akibat dirinya yang sekarat, yang membuat Tristan terpaksa mundur dari hadapan ratu Arachnor ini.


Akan tetapi, aku tiba-tiba terpental menabrak dinding dan tertancap lengket disana.


“Ugh…”


Karena lengah aku jadi terperangkap pada jaring yang dibuat oleh ratu ini.


Aku lalu menyalurkan magis di seluruh tubuhku yang mengakibatkan api berkobar menyelimuti diriku.


Api tersebut kemudian membakar jaring yang memerangkapku.


-KIEEEEK!!!!


Seperti telah menjadi gila, ratu itu berlari ke arahku dengan kecepatan tinggi, sayangnya aku tidak dapat membebaskan diriku sebelum dia menabrakkan dirinya padaku


“Max!”


-BRUAAAK!!!


Dinding yang menahanku hancur berkeping-keping yang mana membuat tubuhku dan ratu Arachnor terjun bebas dari lantai lima.


Pada saat berada di udara, aku lalu mengkonsentrasikan magis pada tanganku, membuka tanganku yang berapi-api, dan melebarkan lenganku pada kedua sisi.


“Ku panggang kau b*ngsat!”


Bersamaan dengan teriakanku, aku menghantam kepala ratu Arachnor dengan keras.


-BOOOOM!!!


Suara ledakan bergemuruh di seluruh penjuru, api dengan brutal menyelimuti dan memanggang ratu Arachnor ini.


Tak lama kemudian, aku akhirnya mendarat pada tanah. Dan dengan cepat menjauhi tubuh ratu Arachnor yang terbakar.


-KIEEEEEK!!!


Tubuhnya terlihat bergerak, namun pada akhirnya tersungkur tanpa daya di tanah bersama dengan teriakannya untuk terakhir kali.

__ADS_1


__ADS_2