Pria Bar Bar Yang Kesepian

Pria Bar Bar Yang Kesepian
Semua Sudah Tahu


__ADS_3

[Dirga: kenapa ibu tidak tanya kepada sintiya?]


[Ibu Halimah: ibu hanya ingin tahu dari kamu nak.]


[Ibu Halimah: seperti nya kalian sangat dekat?]


[Dirga: iya buk, kami dekat.]


[Ibu Halimah: apakah kamu menyukai anak saya, sintiya, nak?]


*Deg*


(Dirga: bagaimana ini? apakah sintiya sudah menceritakan hubungan ini kepada ibunya?) batin dirga.


[Ibu Halimah: nak, sintiya dekat sekali sama ibu. Dia bahkan menceritakan semua nya.]


[Dirga: iya bu, saya menyukai sintiya.]


*beberapa menit*


[Ibu Halimah: ibu percaya sama kamu nak. Tolong jagakan sintiya ya. didik dia secara perlahan. Dia masih masa pubertas.]


[Dirga: iya buk. In syaa allah.]


[Ibu Halimah: kalau ada apa apa, ceritakan sama ibu nak. Saling membagi keluh kesahmu]


[Dirga: iya buk, terima kasih banyak]

__ADS_1


Setelah beberap hari kemudian, semua orang disini, pondok, sekolah dan sebagian teman kuliah sudah tau hubungan kami. Jadi tidak ada yang perlu di tutup tutupi. Bahkan buk nyaih dan pak Kyai pun sudah tahu.


Rasanya sangat bahagia sekali, walau jarang berkomunikasi tapi bisa saling bertemu. Itupun walau sebentar, kadang mencuri pandang .


Bahkan ibu sintiya kerap sekali membantuku disaat ke sulitan, bahkan, Biaya jika aku tidak mempunyai sekali, ibu nya kerap sekali memberi uang. Sudah ku tolak, sebenarnya tidak enak sekali. Tapi karena di paksa, maka terpaksalah. Setiap dikirim (semacam kunjungan orang tua kepada anak nya). Pasti tidak pernah ku lewat kan. Malah jika aku sibuk, kerap sekali teman temanku menggantikan pekerjaanku karena di cari oleh kedua orang tuanya sintiya.


Sintiya mempunyai adik, yang bernama Hilma yang berumur 11 kelas 5 SD . Mereka sangat dekat sekali denganku, dan menganggapku seperti anak nya sendiri.


Sudah beberap bulan kami lalui.


bertengakar, baikan terus seperti itu sampai tidak ada kata pisah.


Namun dari keluargaku.


Ibuku meminta agar aku bisa membawanya ke desa ketika menikah nanti. Sedangkan sintiya tidak bisa.


[Dirga: dek.]


[Sintiya: iya bang?]


[Dirga: ada suatu hal yang ingin aku bicarakan.]


[Sintiya: iya bang, silahkan]


[Panggilan Whatsapp dari Bang Dirga]


[Dirga: Hallo assalamu'alaikum]

__ADS_1


[Sintiya: walaikum salam]


[Dirga: langsung pada inti nya dek]


[Sintiya: iya bang]


[Dirga: dek, apakah kamu suatu saat nanti bisa ikut denganku ke desa? ketika menikah.]


[Sintiya: .......]


[Dirga: hallo, dek ?]


[Sintiya: bang.. ini berat bagiku]


dengan suara berat sintiya, ya dia sangat berat untuk menentukan pilihan nya ini .


[Dirga: dek, jika aku berhubungan kepada seorang gadis, dia harus bisa ku bawa ke desaku untuk tinggal disana. Karena ibuku bilang akulah pengganti dari ayahku nanti.]


[Sintiya: bang, ibuku adalah anak tunggal. Dia tidak mempunyai adik maupun kakak, saudara seperti sepupu pun sangat jauh. aku tidak rela meninggalkan ibu. apa lagi ibuku kalau ada apa apa pasti ke aku dan adikku]


Dirga: (ya allah, bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan?)


Disisi lain semua keluarga dirga sudah tahu bahwa, dirga sedang menjalin hubungan dengan sintiya, sebagian keluarga setuju dan sebagian tidak. Mereka akan setuju jika sintiya benar benar bisa dibawa pulang ke kampung nantinya.


Bahkan akhiran dari telfonpun, dirga sempat merenung sendiri. Bagaimana tidak? Dia sangat mencintai sintiya dan berharap, bahwa sintiya bisa di bawa ke kampung nanti. Tapi apalah daya. Semuanya ada di keputusan sintiya. Dirga tidak bisa memaksa sintiya. Apapun keputusan nya sintiya. Dirga akan menerima nya .


Dan ke esokan harinya, sintiya kerap mengabaikan ku. entah apa perasaanku sendiri, tapi nyata nya seperti itu. Bahkan teman nya melakukan hal gilapun, dia ikut ikutan. Sebenarnya aku sudah menasihati nya, namun dia tidak menanggapi . Jadi terserah dia sudah. aku tidak bisa memaksa seseorang.

__ADS_1


__ADS_2