
“Annyeong haseo, JinYoung hyeong”
Ini nyata, benar-benar nyata. GD berada di belakang Rain pas. Seakan telah disihir, Rain benar-benar seperti patung.
Mino mencoba menetralkan suasana “Hyeong, sedang apa disini?” masih berdiri
GD tersenyum “Tentu kami akan makan siang” lalu merangkul JooYeon
JooYeon ikut tersenyum “Wah lihat siapa yang berada disini” merangkul Rain “Apa kabarmu gadis kecil?” menunduk sedikit berusaha menyetarakannya dengan Rain
Rain terlihat sangat tidak nyaman “We’re not too close, take back your hand” Rain kembali mengeluarkan suara datar dan tegasnya membuat perempuan yang lebih tua darinya itu menyingkirkan tangannya dari bahunya *kita tidak dekat, singkirkan tanganmu
JooYeon berusaha menutupi rasa malunya dengan mencoba tersenyum “Bagaimana kalau kita gabung dengan mereka?” melingkarkan tangannya pada lengan GD
GD mengangguk “Kalau mereka tidak keberatan” meminta persetujuan Rain dan Mino
Mino ragu keadaannya sangat canggung, tapi sangat tidak sopan mengusir seniornya. Jadi..
“Tentu, kenapa tidak?” Mino tersenyum canggung, JooYeon dan GD tersenyum, sedangkan Rain kembali dengan wajah datarnya.
Posisi duduk mereka kini Mino berhadapan dengan JooYeon dan Rain berhadapan dengan GD, sebelah kanan Rain Joo Yeon dan sebelah kirinya Mino. Okay this is a akward seat guys.
Tak terasa kini mereka telah memiliki makanan masing-masing. Namun, ada sesuatu yang dapat merusak mata dan juga hati disini. Yaitu melihat JooYeon menyuapi GD begitu pula sebaliknya.
Mino asik berbincang dengan GD tetapi sesekali JooYeon ikut berbicara, beda halnya dengan Rain yang terus makan tanpa peduli sekitarnya.
“Bagaimana kalau musim gugur ini kita berempat piknik?” GD mengusulkan sebuah ide konyol untuk seorang Rain
__ADS_1
Wajah JooYeon tiba-tiba menjadi sedih “Aku tidak bisa, aku akan pergi dengan ayah ibuku” cemberut “ Apa kau lupa?”
GD mengusap pelan rambut JooYeon “ah, maj-a. Mianhae” lalu mengecup pelan puncak kepala JooYeon *ah benar, maaf
JooYeon melirik Rain “Rain-ssi apa kau akan bertemu keluargamu saat gugur nanti?”
Rain menatap datar “Ani. Oppa, jib-e gaja” menarik tangan Mino *tidak. Kak, ayo pulang
JooYeon menahan tangan Rain satunya “jamkkanman, kenapa buru-buru?” Rain menghempas kasar tangan JooYeon *tunggu sebentar
Mino memegang tangan Rain yang digunakan untuk menarik tangannya tadi, dan menganggukkan kepalanya pelan. Setelahnya Rain kembali duduk.
“Apa mereka tidak merindukanmu?” JooYeon melemparkan pertanyaan kembali kepada Rain
Terlihat GD memegang lengan JooYeon, dan menggelengkan kepalanya untuk mengisyaratkan berhenti bertanya. Namun JooYeon tak menanggapinya.
JooYeon tersenyum meremehkan “Ah, benar. Mana mungkin mereka merindukan anak yang kasar sepertimu” JooYeon tersenyum sinis
GD dan Mino terkejut mendengar penuturan JooYeon, itu menyakitkan untuk Rain.
“Geurae”
GD dan Mino terkejut yang kedua kalinya akibat jawaban Rain, yang seakan menyetujui perkataan JooYeon.
Seakan belum puas dengan pertanyaan dan pernyataan menyakitkan itu dia kembali melontarkan pernyataan.
“Kudengar Orang tuamu meninggal setelah bercerai dengan ayahmu. Ya wajar saja mereka bercerai, mereka pasti jenuh memiliki anak sepertimu yang kasar, dan brutal. Pasti tidak ada orang yang ingin dekat denganmu. Atau jangan-jangan mereka bercerai karena perselingkuhan? Oh my god, this is not my style” JooYeon membuat wajah-wajah tidak suka dengan mengibas-ngibaskan tangannya dibahunya sendiri *yatuhan, ini bukan gayaku
__ADS_1
Muka Rain sudah sangat merah, sampai ketelinganya.
Dengan gerakan cepat Rain mencengkram kerah baju yang dipakai JooYeon membuatnya susah bernafas “Shut up your mouth!” menciptakan derit kursi yang sangat keras “Juggo sipda?” suara tajam penuh ancaman keluar dari mulut Rain *tutup mulutmu * ingin mati
GD dan Mino berusaha memisahkan mereka, beruntung Cuma ada mereka ber-empat di Cafe itu sehingga tidak terlalu menarik perhatian kecuali staf Cafe. Naas, Rain sudah kelewat emosi terpancing karena penuturan JooYeon.
Rain semakin mencengkram kerah baju JooYeon saat perempuan itu berusaha melepaskan diri “Kau tahu apa tentang keluargaku?” suara itu menusuk masuk ke telinga JooYeon
JooYeon terus berusaha melepaskan diri, dibantu dengan tarikan GD dan Mino yang menarik Rain.
Rain kembali buka suara “Kau kira aku tidak tahu tentang keluargamu? Aku lebih tahu keluargamu dari pada kau” Rain tersenyum sinis
GD dan Mino terkejut dengan perubahan mendadak Rain, dia benar-benar dibawah pengaruh emosional. Mereka tidak tahu cara menghentikannya, salah langkah sedikit, JooYeon bisa terluka. Itu yang dipikiran mereka.
“Apa yang kau mau tahu? Ayah pemabuk dan koruptor? Atau ibu seorang *******? Atau sang anak yang memberikan tubuhnya hanya untuk debut sebagai artis?"
Telak, JooYeon kalah. Rain mengungkap rahasia keluarganya. Staf yang bekerja disana pun terkejut dan mengeluarkan ponsel mereka sibuk mengambi gambar dan video. Tak lain halnya dengan GD dan Mino yang terkejut dengan penuturan Rain, ‘bagaimana ia tahu begitu banyak’ itu pertanyaan yang tengah menelisik pikiran mereka.
“Rain, geumanhaela” sela Mino menarik tangan Rain pelan namun dengan cepat ditepis Rain pelan
“Dasar ******, lepaskan tanganmu!” JooYeon akhirnya berhasil melepaskan tangan Rain dari kerah bajunya
‘Plakk!’
Suara tamparan keras itu membuat semua orang tegang. Rain kembali menampar wajah JooYeon dengan tangan kirinya.
“Siapa yang kau sebut ******?!” Rain memegang dagu JooYeon “Perhatikan dengan siapa kau bicara!” lalu menghempasnya kekanannya
__ADS_1
‘Plakk!’